VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
07-Ghost Chapter 25

2016-07-25 - 07-Ghost

Like Halaman Facebook Versi Teks dan Cerita Karangan
untuk membaca versi teks dan update cerita karangan di Facebook

Baca Online Komik 07-Ghost Chapter 25 Bahasa Indonesia

Chapter 25.
Berangkat
Sebelumnya

Teito melihat pasukan militer yang tak sadarkan diri di dekat Frau.

"Itu karena ada orang yang menunjukkan mata Mikhael kemarin." Sahut Frau cuek seperti biasanya.

"Cepatlah, tidak ada waktu lagi." Pinta Frau.

"Jika kau lulus ujian, kau akan dibimbing oleh seorang uskup Senior, namun kau harus pindah dan melarikan diri dari Distrik 7." Ucap Frau disela larinya.

Di lain tempat, Labrador dan Castor tengah dikelilingi oleh pasukan militer bersenjata. Kembali ke tempat Teito.

"Dimana Hakuren dan semua orang?" Tanyanya.

"Semua peserta ujian sudah dievakuasi, kau yang terakhir." Jawab Frau.

"TEITO!!" Hakuren berlari ke arahnya bersama seorang administrator di belakangnya.

"Hakuren." Balasnya,

"Jujur kau seorang yang jahat. Lain kali jika bertemu, aku akan menjadi lebih kuat. Dan saat itu, aku akan mengerti betapa berat beban yang kau miliki." Hakuren tersenyum kepadanya dan mengulurkan tangannya.

"Aku tahu kau diam karena mengkhawatirkanku. Kau terlalu baik untuk bersama dengan pria yang bermasalah." Sambungnya.

-Aku bersyukur karena telah dipertemukan denganmu.-

"Hakuren . . Suatu hari nanti, aku akan memberi tahu semuanya." Jawab Teito sambil menyambut tangan Hakuren.

-Aku tidak mampu berkata-kata. Mataku terasa panas, itu karena terlalu bersemangat, sehingga matamu menjadi kabur.-

"Pergilah Teito." Hakuren melepasnya dengan senyuman.

-Teman kesayanagnku.kau adalah cahayaku.-

Teito pun meninggalkan Hakuren dengan senyuaman dan bergegas menyusul Frau yang berlari di hadapannya.

The Story.

KYYYAaaa . . Suara jeritan terdengar oleh beberapa pasukan militer. Buugghhh perlahan mereka jatuh dan tak sadarkan diri. Seorang berpakaian hitam tengah berdiri tegak diantara mereka semua dengan benang-benang tak kasat mata mengelilinginya. Hanya tersisa satu orang di dekatnya. Seorang pendeta yang berdiri ketakutan dengan keringat dingin yang mengalir dari pelipisnya.



" . . .S-siapa k-kau?" Tanya pendeta itu.

"Untuk pemeriksa sepertimu." Sebuah suara berasal dari belakang pendeta itu.

Yang berdiri di belakang pendeta itu adalah Labrador dengan senyum khasnya dan berpakaian hitam. Sedangkan yang berdiri diantara pasukan militer yang terbaring itu adalah Castor. Sebuah zaiphon berada di belakang Labrador, zaiphon itu menyerupai sebuah mulut monster yang siap menerkam.

"Keluar dan menjadi mata-mata tentara kerajaan, sangat disayangkan." Sambung Labrador.

** **

Waktu terus berjalan, di depan sebuah pintu beberapa orang berdiri disana. Ada sebuah Hawksile.

"Tempat ini adalah?" Gumam Teito melihat ke dalam pintu itu. Dia berdiri memegangi hawksile itu.

"Di tempat ini ada seribu jalan." Ucap Labrador sambil mengangkat tangan kanannya dan seketika kelopak bunga mengintari tangannya itu.

"Jika kau membuat satu putaran yang salah, kau tidak akan bisa keluar, jadi berhati-hatilah." Sambungnya sambil melepaskan kelopak bunga yang ada menuju lorong itu. Kelopak bunga itu terus bertebaran sepanjang lorong sebagai pembimbing mereka.

"Hari ini aku akan menjadi petunjuk jalanmu. Teito-kun, sejak kau datang ke gereja, sebelumnya telah terjadi kegelapan di dalam hatimu. Di matamu ada seseorang yang memegang dua mata di tangannya, yang membawa perlindungan dan yang membawa kehancuran.

Jika kau tidak menghadapinya, maka kegelapan akan menguasaimu, mungkin akhir dari hidupmu. Dalam waktu dekat ini, kau sudah melintasi jembatan kesengsaraan bukan. Kau sudah memutuskan untuk maju bukan?" Ucap Labrador panjang lebar sambil menatap Teito dengan lembut.

"Aku akan mengikuti jejak Father dan pergi ke Tanah Seele. Terima kasih telah menjagaku sampai saat ini." Jawab Teito tanpa keraguan sama sekali.



Semua yang ada disana menatapnya. Entah tatapan seperti apa itu.

"Kau akan pergi ke Seele, kejahatan Kerajaan Barsburg telah menghancurkan keadilan.

Kerajaan Raggs. Apa kau tidak mengingatnya?" Tanya Castor memastikan ingatan Teito

'Sementara kami berada di jembatan kesengsaraan, ia melihat keburukan dalam penjara. –Jangan membalas dendam!!- Mikage, Aku akan membunuhmu Ayanami!! Dalam diriku terletak keinginan untuk itu.' Teito mengingat sisi lain dalam dirinya.

"Mikage telah dibunuh Ayanami, tapi aku telah berjanji bahwa aku akan berjalan di jalan kebenaran. Jadi ketika aku mendapatkan kembali ingatanku, jika Kekaisaran jahat menghancurkan Kerajaan Raggs. Jika Father telah dibunuh penjahat Ayanami, aku akan menggunakan kebajikan dan kebenaran untuk menghancurkan Ayanami." Perlahan Teito menggenggam jubah yang dia kenakan, sorot matanya berubah.

"Mikage mungkin tidak akan setuju denganku untuk menggunakan dia hanya sebagai alasan, aku menebak dia akan mencemoohku. Tapi aku tidak sebersih Mikage." Sambungnya.

"Ayo, anak nakal." Ajak Frau sambil menyentuh kepala Teito dan sedikit mengacaknya.

Lance yang ada disana membungkuk menyetarakan dirinya dengan Teito. Dia tersenyum lembut dan memberikan sebuah Free pas kepada Teito.

"Hadiah perpisahan Teito, mulai sekarang kau belajar dengan Uskup Frau." Ucapnya.

"Terima kasih banyak." Sahut Teito sambil memeluk Free pas itu.

Tap tap tap, dari kejauhan beberapa pasukan militer datang setengah berlari kearah ereka.

"Sepertinya pasukan pengejar datang. Sekarang, pergilah duluan." Ucap Castor bersiap menghadang mereka.

Frau langsung menyalakan Hawksile dan Teito duduk di belakang Frau. DRRNNN . . Frau melajukan hawksilenya begitu cepat meninggalkan tempat itu. Dalam lorong itu, dia mengikuti kelopak bunga milik Labrador.

"Hey Frau, apa kau tahu dimana tanah Seele?" Tanya Teito setengah berteriak kepadanya. Mereka berdua sama-sama mengenakan kaca mata.

" Diamlah bocah nakal, itu pertanyaanmu fwahahahaha kau tidak tahu semua itu!" Jawab Frau mengejek Teito sambil memalingkan wajahnya untuk melihat ekspresi Teito.

"GYAAHH . . Lihat ke depan!!" Balas Teito sengit.

"Tanah Seele, itu adalah akhir dari dunia. Jika kau memiliki tiket terkutuk dari tujuh rumah dewa di Kerajaan Barsburg, legenda mengatakan itu akan memandumu ke tanah Seele." Ucap Frau sembari melihat ke depan. Dia tidak memperlambat sedikitpun laju hawksile miliknya.

"Akhir dari dunia??" Tanya Teito.

Sebuah cahaya ada di depan mereka, perlahan semakin dekat. Pintu keluar lorong itu sudah terlihat.

"Aku tidak tahu dimana itu, itu tercatat dalam peta sebagai wilayah perbatasan. Apa kau sudah siap pergi?" Tanya Frau memastikan tekad Teito.

"Tidak penting dimana itu! Ayo berangkat!" JAwab Teito.

"Itu bagus memiliki keberanian! Kau hanya perlu mencari akhir dari dunia." Sahut Frau, sebuah smirk khasnya terlihat jelas.



Dengan kecepatan yang tinggi, mereka dengan waktu singkat melewati pintu itu. Sebuah tempat yang tak pernah Teito lihat tengah mereka lewati. Ada banyak bangunan penduduk sipil di setiap sisi. Ada juga jembatan yang menghubungan tiap bangunan itu.

"Dimana ini??" Tanya Teito saat pertama kali melihat tempat itu.

"Distrik ketujuh Blok Alley." Sahut Frau tanpa mengalihkan perhatiannya.

'Kita sudah sampai sejauh ini dalam sekejap' Batin Teito sambil melihat kesekelilingnya.

Saat melewati sebuah jembatan, Frau merasakan suatu firasat yang tidak enak.

"Pakai kerudung, aku merasa kita punya sedikit urusan." Perintah Frau kepada Teito.

Wuzzhh mereka terus melaju melewati tempat itu. Dari belakang mereka, ada sebuah Hawksile lain yang mengikutinya, namu itu bukan berasal dari pasukan militer.

"GEEHH!! Lepaskan gigitanmu burung sialan!" Maki Frau kepadanya.

Di sisi lain, tepat di depan jalan yang Teito dan Frau akan lalui, seseoarang tengah menyiksa anak kecil yang terlihat babak belur. Ctaarr suara sabetan cambuk terdengar begitu jelas.

"Kau . . dasar orang rendahan!! Cepat jalan dasar sampah!!" bentak pria berambut jambul kepada anak itu.

Teito yang melihatnya langsung lompat saat sangat dekat dengan orang itu. Tap . dia mendarat dengan sempurna.

"Yo. " Sapa Teito.

"Dasar bodoh!! Kau lari disaat kuberpaling!" Pria itu memaki anak itu lagi.

"Ayo." Teito langsung menarik tangan anak itu dan membawanya bersamanya. Anak itu tertegun dengan apa yang Teito lakuakan.

Sementara itu Frau menyetarakan laju hawksilenya dengan Teito dan di belakang mereka beberapa pasukan pengejar mulai terlihat.

"Teito lompat!" Seru Frau.

"Sasaran terkunci." Ucap salah satu pengejar sambil meniapkan pedang miliknya.

BRAkkk . Tap. Bersamaan saat Frau menendang sebuah truk yang tak bepenghuni, Teito melompat ke hawksilenya. Disisi lain, para pasukan pengejar brada disisi truk yang akan terjatuh itu. Wajah mereka pucat seketika dan mereka tak bisa berbuat apa-apa sehingga tertimpa truk itu.

'Jika itu benar, bahwa orang-orang yang dijanjikan tiga mimpi saat mereka hidup. Aku ingin mencari kebenarannya. Dan kemudian, aku merasa aku akan dapat memecahkan semua misteri. Itulah mengapa mulai saat ini aku pergi mengikutimu Father.' Teito melihat ke belakang, perlahan mereka menjauh dari Blok Alley.

"Oi, siapa namumu?" Tanya Frau pada anak yang Teito bawa bersama mereka.

" . . Cadelia," Jawab anak itu sambil melihat kearah kota.

"Nama yang bagus." Frau memuji nama itu dari hatinya.

Sementara itu, di tempat pria yang yang tadi menyiksa Cadelia, dia tengah di kerumuni anak buahnya. Sorot kemarahan terpancar jelas dari matanya.

"Ahhh . Trukku . " Seru pria itu dengan guratan otot di dahinya.

"Kau akan membayar mahal untuk semua ini. Aku akan membuatmu menyesal telah mempermainkan Carl." Sambungnya sambil mengepalkan tangannya tepat di depan wajahnya.


07-Ghost Chapter 25 - Berangkat
Penulis : Shineria of Life


** ** **


Di gereja, terlihat Castor, Labrador serta Lance menatap lorong itu dengan hati tenang. Labrador seperti biasanya dikelilingi oleh sulur bunga.

"Apa kau ingat? Ketika Frau melakukan pemeriksaan imamat?" Tanya Castor kepada mereka dengan tampang polos.

"Aku tidak ingin mengingatnya." Sahut Labrador juga dengan muka polosnya.

"Seolah-olah ada badai dan gempa bumi yang dahsyat." Sahut Lance sambil memejamkan kedua matanya dengan tangan kanannya yang menyentuh dagunya.

"Berkat Frau, kegelapan semua orang benar-benar terhapus. Terima kasih untuk itu, tapi siswa selain Frau harus dinilai secara terpisah." Sahut sebuah suara dari belakang mereka bertiga.

Sontak mereka bertiga berbalik dan mendapati kedua mantan Uskup Agung ada disana.

"Hohoho . dimana dia sekarang?" Tanya salah satu dari mereka.

"Itu bagus!! Jika dia tidak bisa menyeberangi jembatan kesengsaraan dia pasti sudah tewas." Mereka tengah menanyakan keberadaan Teito.

"Namun dia tidak akan menjadi penghalang bagi Frau." Ucap mereka berdua bersamaan.

"Satu-satunya yang bisa menyelamatkan Frau adalah anak itu. Dan kebenaran perang yang tiba-tiba terjadi dengan mengelilingi kotak Pandora terletak dalam dirinya, penitipan bayi berakhir. Mulai sekarang mereka tidak memiliki banyak bantuan. Mereka akan terus mencari orang yang telah mencuri mata Michael." Labrador mengatakannya sambil memegang kerah bajunya yang berupa bulu-bulu halus.

**

Wuzzt wuztt pesawat induk ribidizle milik Ayanami terus bergerak. Pasukan yang mengendarai pesawat kecil juga terus mengikutinya. Di dalam pesawat induk itu, Ayanami tengah duduk memeriksa beberapa laporan. Beberapa orang juga ada di sekitarnya.

"Bagaimana dengan kondisi disana?" Tanya Ayanami kepada orang yang berada di sebelahnya.

"Mungkin mereka sedang bersantai pak." Jawab orang itu penuh rasa hormat.

'Tidak ada yang bisa kita lakukan, mata itu telah merenggut jiwanya.' Batinnya yang memikirkan keadaan Haruse.

Tap tap tap suara langkah kaki terdengar begitu dekat. Seorang pemuda bersurai kuning berjalan mendekat kearah mereka. Dia penuh percaya diri dan kebanggaan. Terkadang dia berputar-putar di tempat dengan senyuman di wajahnya.



"Ini kapal yang menyenangkan. Kapal ini lebih kecil dari kapal milik ayah, tapi . " Dia menggantungkan ucapannya.

Semua yang ada disana memasang tampang begitu terkejut dengan tingkah pemuda itu. Sedangkan bawahan Ayanami hanya menatapnya biasa saja.

"Siapa dia?" Tanya mereka hampir bersamaan.

"Ini menyenangkan." Ucap pemuda itu sambil merentangkan kedua tangannya.

"Berbicara seenaknya di depan Tuan Ayanami, dia pasti spesies langka yang terancam punah punah komandan." Ucap pria yang berada di belakang pria berkacamata.

"Sudah diambang kepunahan! Konatsu." Jawab pria berkacamata setengah menguap.

Srrtt, tap. Pemuda yang baru saja datang itu membalikkan badannya dan menghadap Ayanami penuh percaya diri. Dia berdiri tegak layaknya seorang prajurit.

"Mulai sekarang dan seterusnya aku akan menjadi sahabat Tuan Ayanami. Aku Shuri Oak!." Ucap pemuda yang menyebut dirinya Shuri Oak. Dia memberikan sebuah hormat kepada Ayanami.

"Sejak kapan menjadi sahabatnya?" Tanya pria berkacamata itu sambil menelengkan kepalanya diikuti yang lainnya.

"Sejak papa mengatakan jadilah sahabat Tuan Ayanami, tentu saja." Jawab Shuri masih percaya diri.

"Apa yang harus kulakukan Konatsu? Dia bilang tentu saja!" Pria berkacamata itu mengguncang Konatsu yang berada di dekatnya.

"Itu yang diharapkan anak bodoh dari keluarga Owak." Sahut Konatsu santai.

"Konatsu,, bolehkah aku membunuhnya?" Tanya Kuroyuki si gadis bersurai pink soft sambil menatap Konatsu dengan mata penuh harap.



"Itu mungkin tidak boleh Komandan Kuroyuri." Jawab Konatsu sambil menatapnya lembut, berbeda dengan tatapannya sebelumnya. Sedangkan yang lain langsung sweatdroup mendengar percakapan bawahan langsung Ayanami.

"Siapa sampah yang ada di depanku ini?" Tanya Ayanami begitu datar tanpa ekspresi. Mata elangnya menatap Shuri begitu tajam.

"Sampah??? Dimana sampah itu? Siapa sampah yang ada di depan anda?" Shuri langsung gelabakan mendengar ucapan AYanami. Dia menoleh ke kanan juga ke kiri mencari apa yang Ayanami maksud.

Sementara bawahan langsung Ayanami tidak bisa berkomentar apapun meihat apa yang ada di depan mereka. Wajah mereka memperlihatkan jika mereka sedang menahan sebuah tawa, namun mereka memasang wajah sepolos mungkin.

Ayanami bangkit dari tempatnya sambil memegang sebuah cambuk. Dia memalingkan wajahnya kearaah kemudi pesawat itu.

"Berapa lama lagi kita sampai di Antwort?" Tanyanya.

"Kurang dari empat menit pak. Aku tidak bisa menolaknya, ini perintah langsung dari Admiral Oak." Jawab pria berkacama yang terlihat bersalah itu.

Flash back.

"Kau! Waktu yang bagus." Sapa Admiral Oak ramah.

"Kau adalah Hyuga staff dari Ayanami kan? Maukah kau membawa anakku bersama kapal Ayanami." Pintanya sambil menepuk pundak pria berkacamata.

Disisnya ada Shuri Oak yang tersenyum penuh percaya diri. Sedangkan yang dimintai bantuan terlihat tidak bisa berkata apapun.

"Tolong jaga dia. Sampai jumpa." Tanpa menunggu jawaban, Admiral Oak langsung meninggalkan anaknya bersama pria berkacamata itu.

Flash back end.

"Jika aku menolaknya, itu pasti akan sulit." Sambungnya.

"Ngomong-ngomong, apa itu semutvort?" Tanya Shuri tanpa rasa bersalah.

Mendengar pertanyaan itu, semua yang disana dibuat mengerutkan kening tanda mereka sudah cukup bersabar.

"Antwort adalah Negara sekutu terakhir Kerajaan Raggs." Jawab Konatsu setelah mengirup oksige perlahan.

"Salju dan es menutupi Negara yang sangat kuat." Sambungnya sambil mengingat seperti apa Antwort itu.

Tbc.


Halaman : 1 2

Kleiss Effortles
2017-02-28 07:40:48
kalo buat manga versi teks seperti ini dapet view+poin gak?
Dalreba
2016-11-02 18:17:06
Numvang komen disini
Rifky D Dragnel
2016-07-27 10:32:45
Waktunya berangkat
Phantom Alicia
2016-07-26 07:08:39
Sepupu Hakuren Oak kah?
Curious Joey
2016-07-25 07:54:09
Hmm mungkin aku jadi pemberi komentar pertama disini xD
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook