VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
07-Ghost Chapter 24

2016-07-23 - 07-Ghost

Like Halaman Facebook Versi Teks dan Cerita Karangan
untuk membaca versi teks dan update cerita karangan di Facebook

Baca Online Komik 07-Ghost Chapter 24 Bahasa Indonesia

Chapter 24
Cahaya dan kegelapan



Sebelumnya.

'Tempat ini . . Tempat dimana aku kehilangan Mikage.' Batinnya kemudian bangkit dan melihat ke depan.

Tap . . Tap . Tap . sebuah langkah kaki terdengar, namun bukan langkah kaki milik Teito. Seseorang muncul dari balik angin yang berasal dari hancurnya kor itu. Dia berjalan dari sisi yang berlawan dengan Teito.

'Dia . ' Kedua matanya terbuka lebar, tanpa disadari kakinya mundur selangkah.

Entah siapa yang dia lihat, namun hal itu mampu membuatnya begitu terkejut.

The story.


Di luar tempat ujian, para brigade militer mulai mendarat dan memasuki gereja.

"unit ketiga, jaga di gerbang." Perintah salah satu dari mereka.

Mereka semua berseiaga di tempat mereka masing-masing.

"Tenang sekali di luar sana." Ucap mantan Uskup Agung yang kini berada bersama Uskup Lance di sebuah tempat serta dua orang administrator yang lainnya.

"Ya, militer melakukan investigasi kemarin. Kabarnya, orang itu telah menyelinap masuk ke dalam gereja." Sahut Lance

"Kalau begitu, bukan kesempatan yang baik untuk 'Membersihkan' gereja." Sahut mantan Uskup Agung itu.

Ke sisi Teito yang tengah berada dalam ujian. Perlahan kabut yang ada menipis dan memperlihatkan sosok orang itu. Teito semakin menatapnya begitu tajam.

'Aku tidak akan memafkanmu . . Ayanami, aku akan membunuhmu.' Batinnya sambil berlari ke arahnya.

"Bocah itu dipanggil Mikage." Ucap orang itu.

Saat jarak mereka hanya beberapa meter, Teito melompat dan menyerang dari udara.

ZTTT . Orang itu menunduk sambil menghunuskan pedangnya ke atas.

TIiinnkkk . . Suara benturan antara baculus dan pedang terdengar.

"Menyedihkan sekali, Teito Klein. Apa kau sering bertarung demi temanmu?" orang itu menatapnya begitu dingin.

"Jika kau berjanji menyerah padaku, mungkin tidak ada yang terbunuh." Sambungnya.

Tap . . Teito menjauh dari dirinya.

"Apakah kau serius ingin membunuhku?" Tanyanya dengan smirknya.

"DIAM!!" Sahut Teito.



Jlep . . Pendang milik orang itu menancap di dadanya, sedangkan baculusnya sendiri sudah patah.

"Lihat, kau sudah menantikan ini bukan?" Sambung orang itu.

"Gah hah hah . " Teito memuntahkan darah segar dari mulutnya.

"Dan dengan begitu kau tidak lulus ujian, Teito Klein." Gumam Uskup Lance sambil memegang kalung liontin miliknya.

Disis Hakuren.

"Hakuren, tolong aku." Pinta orang itu.

Seorang yang berlutut ketakukan di belakang Hakuren. Di sampingnya, ada seorang yang mengenakan jubah hitam bertudung kepala dan bertopeng, dia memegang sebuah sabit yang berada di depan orang itu.



"Ayah . " Gumamnya pelan.

"Bocah ini telah banyak melakukan kebodohan, dia sedang dibawa ke dalam neraka." Ucap orang bertudung itu siap menebas kepalanya.

"HENTIKAN!!" Seru Hakuren sambil berlari ke tempatnya.

SSSRRRTTT . TTIINNKK . Baculus milik Hakuren berbenturan dengan sabit itu.

"Mengapa kau melindunginya?" Tanya orang bertudung itu.

"Jika kau melindunginya, kau juga bersalah. Kau juga akan merasakan sakit." Sambungnya.

'Baik grief, aku harap aku bisa melakukannya.' Hakuren kembali mengingat saat dia berbicara dengan Teito.

Flash back.

Saat itu, mereka berdua berada di atap dan bersandar di pembatas. Mereka memegang baculus. Teito duduk di pembatas itu sedangkan Hakuren berdiri melihat burung yang berterbangan.

"Memiliki keluarga itu sungguh menyenangkan, seperti sebuah kehangatan." Ucap Teito yang tengah menundukkan kepalanya.

"Itu belum tentu seperti itu, ayah sepertinya tidak mempunyai hati." Sahut Hakuren pelan.

"Aku tidak bisa mengingat orang tuaku, tapi . . terima kasih untuk ayahmu. ?! Kau bahkan tahu apa yang harus kau ketahui. Karena itu, terima kasih untuk orang itu. Senang bisa bertemu denganmu. Semua itu, tidak mungkin tanpa bantuan ayahmu Hakuren." Semburat merah muncul di wajah Teito.

Hakuren tersentuh mendengar ucapan itu.

Flash back end.

"Jika aku meninggalkan orang yang aku benci, aku tidak lebih baik dari dia." Sahut Hakuren.

"Ayahmu hanya melihat orang dari kemampuannya, sehingga dia hanya menyayangi orang yang menaatinya. Sesorang dengan cinta palsu begitu menyedihkan." Orang bertudung itu semakin menekan sabitnya sehingga tangan Hakuren yang juga mencengkram baculusnya begitu erat sampai mengeluarkan darah.

"Kau yang tidak menaati perintah tidak berhak untuk dicinta! Bahkan dengan itu, kau mengatakan akan menyelamatkannya!" Orang bertopeng itu semakin menekan Hakkuren.

"Sebagai ayah aku tidak perlu menjadi deal, aku juga tidak berharap seperti itu. Bahkan jika tanpa persetujuanmu itu, taka pa-apa, jangan menangis." Hakuren mengucapkannya begitu lembut.



Topeng yang ada pada orang itu menghilang. Dia terlihat menangis. Hakuren menyetarakan tingginya dengan berjongkok dan mengusap air matanya. Sosok itu adalah, sosok Hakuren kecil.

"Jika kau ingin dicintai dan mencari orang yang bisa mencintaimu, kau harus tetap di dunia ini." Sambung Hakkuren sambil tersenyum.

"Aku akan menemukan mereka?" Sahut anak kecil itu begitu polosnya.

"Yeah."

"Hehehe, aku janji." Sahut anak itu sambil tersenyum.

Hakuren hendak memeluknya, namun dia hilang seketika.

Sedangkan peserta saingan Teito terlihat syok melihat siapa yang muncul di hadapannya.

"Kyle, apa kau hanya berniat untuk lulus?" Tanya orang itu.

"Tidak dipercaya kau meninggalkanku seperti ini." Sambungnya.

"Kami telah datang sejauh ini ke pintu pemenang." Sahut dia yang di panggil Kyle.

"Apa kau punya dendam denganku?" Sahut orang itu lagi.

"Aku tidak punya dendam padamu."

"Kau punyakan?"

"Tidak punya." Mereka saling bersikukuh.

"Bahkan jika kau punya dendam terhadapku, aku pasti akan memaafkannya. Jadi ayo kita pergi." Ucap Kyle sambil menarik tangan temannya itu.

Sementara disisi Weda, dia tengah mendekap Liam yang terjatuh sedangkan di sekelillingnya ada banyak orang yang menatapnya begitu dingin.

"Weda, kau mempunyai kekuatan. Jika kau sangat ingin, datanglah lagi untuk awal yang baru. Demi bocah itu." Ucap mereka.

"Weda, Liam. Ini pasti berat bagi ayah dan ibumu yang sudah tiada."

"Kau sudah mendapatkan warisan yang besar bukan?"

"Kami paman dan bibimu akan mengurus salah satu dari kalian." Mereka berbicara bergantian penuh nafsu.

"Itu tak akan terjadi! Liam dan aku tidak akan terpisahkan!" Sahut Weda begitu tegas.

"Lalu siapa yang akan mengurus kalian berdua? Bagaimana dengan warisan kalian? Bukankah kalian berdua sangat licik." Sahut mereka.

'Akhirnya warisan dan rumah telah diambil sepenuhnya. Kupikir itu akan dimaafkan karena Liam sangat ketakutan.' Weda memejamkan kedua matanya sejenak.

"Ini semua berkat kalian, sehingga aku merasakan betapa pentingnya adikku." Weda menatap mereka begitu damai.

Sementara itu, para administrator melihat mereka dari sebuah monitor.

"Seperti yang diharapkan dari gereja Barsburg. Sang kegelapan tercermin di jembatan kesengsaraan dengan sangat nyata." Ucap salah satu administrator.

"Awalnya dibuat dengan tujuan menonton mereka untuk paus." Sahut yang lain.

"Ujian praktek hanya tambahan untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya. Tidak mungkin orang yang mempunyai ketakutan berdiri diatas jembatan. Sehingga ada kemungkinan bagi mereka ragu berdiri di atas jembatan." Sahut Uskup Lance.

"Tempat paling dalam di bagian utama, tempat untuk berjalan di jembatan kesengsaraan. Disini hanya ada satu persyaratan untuk lulus. Hanya mereka yang tahu kegelapan di hati mereka sendiri dan yang mampu menghadapinya." Sambungnya.

Tiga orang peserta telah berhasil keluar dari sana. Mereka adalah Hakuren, kyle dan Weda.

"Itu Teito Kliein?" Gumam salah satu administrator.

"Dia mungkin mati syok? Ini mengganggu ujian, kerahkan skuad penyelamat untuk . . . "

"Tunggu." Pinta Uskup Lance.

Dari monitor itu, terlihat Teito berusaha bangkit dan mencabut pedang itu.

'Ada apa dengan matanya?' Tanya Lance yang melihat perubahan itu.

"Anak laki-laki yang sudah siap dengan kematiannya sendiri."

"Untuk tidak takut mati di usia itu." Kedua kakek itu berbicara bergantian.

Kembali ke tempat Teito.

SRRtt . pedang itu tercabut.


07-Ghost Chapter 24 - Cahaya dan Kegelapan
Penulis : Shineria of Life


'Aku sungguh ingin menghancurkan ini.' Batin Teito.

Srrrttt jlepp . Pedang itu menancap di tembok tepat di belakang orang yang berpakaian militer. Orang itu tersenyum.

'Bukankah dia Ayanami?' pertanyaan itu mengiang di pikirannya. Luka di dada Teito perlahan menghilang.

"Kau, kau siapa?" Tanya Teito pelan.

"Meskipun itu buruk untuk mata yang dicuri." Sahut orang itu sambil membuka topinya, sebuah batu merah ada di tangan kanan orang itu. Dia adalah Teito dalam mode Mikhael.

"Kau memanggilku setiap mengalami kedulitan bukan? Sayangku?" Ucapnya penuh keyakinan.

"Itu batu merah tangan kanannya!!"

"Itu tidak mungkin, bocah itu adalah . ?" Para administrator itu begitu terkejut melihat sosok yang saat ini ada di hadapan Teito Klein.

'Tentu saja, jadi itulah alasan mereka berada disini bersamanya.' Batin Uskup Lance.

"Kebencian dari mata Mikhael telah aktif. Untuk alasan itu, dia bangkit dan alam bawah sadarnya menjadi wadah." Sahut kakek itu.

"Siapa yang kau pikir melakukan semua yang kau benci? Apa kau ingat? Saat pertama kalinya kau mengayunkan pedang pada teman baikmu? Atau pada saat pengkhianatan Bastien mati? Untuk semua itu, aku dibutuhkan." Teito dalam mode Mikhael tersenyum penuh kemenangan.

"jadi sebenarnya kau belum mati?" 'Dia adalah aku.' Gumam Teito.

-Satu-satunya yang ingin aku bunuh adalah kegelapanku sendiri.-

"Aku akan membunuh apapun yang membuatmu menderita. Aku akan melindungimu." Sahut Mikhael sambil memeluk kepala Teito dan berbisik di telinganya.

-Sampai saat ini, aku mengendalikannya untuk tetap hidup.-

"Tidak, aku tidak berpikir begitu meskipun terluka." Sahut Teito.

"Benarkah?" Mikhael semakin tersenyum.

'Aku harus pergi, aku telah berjanji kepada Mikage. Bersama Mikage.'

Terlihat perlahan, sosok Mikage muncul di belakang Teito dan memeluknya begitu hangat. Senyum hangat dan tatapannya begitu menenangkan.

"Teito, katakan apa yang berharga dihidupmu." Ucapnya.

'Yang berharga . ?'

Wuzzhh . . sosok itu kembali menghilang. Gambaran Hakuren serta Frau, Labrador dan Castor yang selalu mengkhawatirkan dan selalu menjaganya terlihat olehnya. Teito tersenyum kepada dirinya sendiri.

"Jangan lari, akulah satu-satunya orang yang menyayangimu." Ucap Mikhael percaya diri.

Teito mengurungkan niatnya membuka pintu dan berbalik menatap dirinya itu.

"Ayo kemarilah bersamaku." Ajaknya.

'Sekarang, mulai dari sini. Aku akan bersamanya, ini pertama kalinya bertemu denganmu.'

Dirinya yang lain menggapai uluran tangan Teito dan kemudian menghilang.

Kriieet . . Teito membuka pintu itu.

"Teito Klein." Sambut Frau yang menunggunya di depan pintu.

"Lulus." Sambungnya. Dia mengenakan pakaian hitam casual miliknya sambil melipat kedua tangannya dan bersandar di dinding. Seperti biasanya, dia menyalakan tembaku miliknya.

"Kau sudah sedikit dewasa ya. Huh." Sambung Frau sambil mengeluarkan smirknya.

"Yeah." Sahut Teito senang.

"Sekarang lalu. . " Ucapan Frau terhenti.

Teito melihat pasukan militer yang tak sadarka diri di dekat Frau.

"Tidak mungkin . . Pasukan militer!!" Seru Teito saat melihatnya.

Buggh . Frau melempar sebua jubah kepada Teito tepat mengenai wajahnya.

"Itu karena ada orang yang menunjukkan mata Mikhael kemarin." Sahut Frau cuek seperti biasanya.

"Cepatlah, tidak ada waktu lagi." Pinta Frau.

Teito menurutinya dan segera mengenakan jubah itu kemudian berlari mengikkuti Frau.

"Jika kau lulus ujian, kau akan dibimbing oleh seorang uskup Senior, namun kau harus pindah dan melarikan diri dari Distrik 7." Ucap Frau disela larinya.

Di lain tempat, Labrador dan Castor tengah dikelilingi oleh pasukan militer bersenjata.

Kembali ke tempat Teito.

"Dimana Hakuren dan semua orang?" Tanyanya.

"Semua peserta ujian sudah dievakuasi, kau yang terakhir." Jawab Frau.

"TEITO!!" Hakuren berlari ke arahnya bersama seorang administrator di belakangnya.

"Hakuren." Balasnya,

"Jujur kau seorang yang jahat. Lain kali jika bertemu, aku akan menjadi lebih kuat. Dan saat itu, aku akan mengerti betapa berat beban yang kau miliki." Hakuren tersenyum kepadanya dan mengulurkan tangannya.

"Aku tahu kau diam karena mengkhawatirkanku. Kau terlalu baik untuk bersama dengan pria yang bermasalah." Sambungnya.

-Aku bersyukur karena telah dipertemukan denganmu.-

"Hakuren . . Suatu hari nanti, aku akan memberi tahu semuanya." Jawab Teito sambil menyambut tangan Hakuren.

-Aku tidak mampu berkata-kata. Mataku terasa panas, itu karena terlalu bersemangat, sehingga matamu menjadi kabur.-

"Pergilah Teito." Hakuren melepasnya dengan senyuman.

-Teman kesayanagnku.kau adalah cahayaku.-

Teito pun meninggalkan Hakuren dengan senyuaman dan bergegas menyusul Frau yang berlari di hadapannya.

tbc


Halaman : 1 2

Dalreba
2016-11-02 18:18:47
Numvang komen disini
Rifky D Dragnel
2016-07-27 10:30:10
Akhirnya mereka berpisah
Phantom Alicia
2016-07-23 18:47:24
Wah wah Teito ikut siapa ya? Siapa yg jd pengajar na y?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook