VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
07-Ghost Chapter 23

2016-07-20 - 07-Ghost

Like Halaman Facebook Versi Teks dan Cerita Karangan
untuk membaca versi teks dan update cerita karangan di Facebook

Baca Online Komik 07-Ghost Chapter 23 Bahasa Indonesia


Para peserta yang lainpun juga mencapai tempat yang tadi di lalui oleh Teito dan Hakuren.

"Uwah . . benda hitam apa ini?" Tanya rekan mereka.

"Kita tidak boleh mendapatkan jawaban yang salah." Sambung yang lainnya.

'Aku takut . . aku takut . . aku takut.' Batin rekannya dan perlahan di telan kegelapan.

Di sisi Teito dan Hakuren mereka sudah mencapai pintu pertanyaan ke 100.

"Meskipun kita sudah sejauh ini." Seru Hakuren yang menatap tulisan di tembok itu.

"Uawahh, jika kita tidak cepat, tikus itu akan." Seru peserta ujian yang tengah menyeberang jurang itu.

"Cukup, sudah banyak teman kita yang gagal disini." Pinta rekannya itu. Mereka bergelantungan dan akan menabrak tembok.

"Kerja sama adalah hal yang penting." Sambungnya.

Sementara itu, di sebuah ruangan, para administrator tengah mengawasi mereka melalui sebuah lantai yang berisikan setiap gambaran para peserta.

"Tidak hanya itu, pada pertanyaan ke 100 lainnya, 9% peserta akan gagal." Ucap Lance yang tersnyumpenuh arti.

"Ya, karena momen ini mengukur kemampuan satu dengan yang lain." Sambung yang lainnya.

"Nah, bagaimana mereka akan berjuang melaluinya ya?"

Mereka tengah melihat gambaran Teito.



[Pertanyaan ke 100. Kalahkan partnermu dan tuliskan namamu untuk membuka pintu kemenangan, dan siapa yang kalah akan membuka pintu kekalahan.]

Mereka terdiam setelah membacanya. Mereka sama-sama menggendong kakek tua itu di pundak mereka. Pintu kemenangan ada di sebelah kanan dan pintu kekalahan ada di sebelah kiri.

"Hakuren, kau pergi ke pintu kemenangan." Ucap Teito.

"TEITO.!" Protes Hakuren.

"Kamu meninggalkan rumahmu dan belajar beberapa tahun untuk datang kesini bukan? Aku memilih ujian ini untuk melindungi temanku. Jadi aku ingin melindungimu, kamu harus pergi." Teito menjelaskan alasannya menyuruh Hakuren pergi.

"Jangan menghinaku . . Apa aku terlihat seperti seorang yang akan meninggalkan sahabatku?" Protes Hakuren tak terima.

"Bukan begitu!! Aku tak bisa mencuri impian temanku.!!" Seru Teito tak kalah sengit.

"Itu tidak adil." Sahut Hakuren.

"Kalian beruntung, kami berdua akan pensiun."

"Di tempat ini kalian dapat melewati pintu pemenang." Ucap kedua kakek itu bergantian.

"Bukankah itu bagus?"

"Apa kalian mendengarkan?" Tanya mereka.

"Diamlah kakek tua!!" Seru mereka bersamaan.

Tak satupun di antara mereka yang mau mengalah. Mereka menyiapkan baculus mereka dan menulis bersamaan.

"Aku akan melindungi apa yang penting bagiku." Ucap mereka bersama-sama.

"APA!!" Semua yang ada di ruang pengamatan dibuat kaget oleh mereka berdua.

Hanya pint kekalahan yang terbuka dan mereka bergegas melewatinya.

"Jadi buka pintu kekalahan." Gumam kakek itu.

Jawaban yang mereka tuliskan itu [Piss off!]

"APAA . . Apa kalian bodoh?" Seru Lance yang ,melihat hal itu.

Sedangkan di sisi Teito, dia berjalan berdampingan dengan Hakuren.

[Kenapa kalian berjalan di pintu kekalahan.] Sebuah zaiphon mucul mengintari mereka berdua.

"Disini tidak ada pemenang, hanya ada bertarung bersama dengan rekan seperjuangan." Sahut mereka bersamaan.

Kakek itu tersenyum mendengar jawaban mereka. Seketika zaiphon itu menghilang di gantikan sebuah cahaya yang menyilaukan mata dan menyelimuti mereka.

WUUUZZZTTT DiNGGGG . . . . . Tiba-tiba mereka berdua berada di sebuah ruangan dan duduk di kursi dengan dihiaskan lampu di sekeliling kursi itu.

"Kita dimana?" Tanya Teito yang tidak melihat kedua kakek itu dan berada di tempat asing.

Tap Tap Tap . . 6 administrator ujian menghampiri mereka dan salah satu dari mereka adalah Uskup Lance.

"Heheheh. Kalian di kursi kelulusan yang telah aku buat." Jawab Lance penuh kebanggaan akan kursi itu.

"Kursi kelulusan?" Tanya Teito.


07-Ghost Chapter 23 - Jembatan Kesengsaraan
Penulis : Shineria of Life


Sementara Hakuren bangkit dari kursinya dan melihat kursi itu. Dia langsung bersweatdroup ria. Kursi itu terdapat lukisan Lance yang tersenyum sambil memberikan dua jempol.

"Mengapa kami mendapatkannya?" Tanya Teito yang masih belum mengerti situasinya.

"Karena kalian telah membukanya. Itu pertanyaan yang bagus, dimana tidak ada pemenang dalam ujian ini. Yang dibutuhkan adalah mereka yang mau membantu semua orang." Uskup Lance tersenyum sambil memegang dagunya.

Teito dan Hakuren terdiam mendengar apa yang baru saja dia katakan.

"Tapi sebenarnya bukan seperti itu." Ucap Lance kepada administrator yang mengenakan kacamata dengan wajah kusam.

"Pya . . "

"Dimana kakek itu?" Teito dan Hakuren keheranan karena kedua kakek itu tidak ada bersama mereka.

"Tidak, dulu itu juga pernah terjadi. Sewaktu Uskup Frau menghadapi ujian, dia hampir sehebat pendeta agung." Sambung administrator ujian itu.

'Dia seperti itu orangnya ya . ' Batin Lance.

Sementara itu, peserta yang lain juga telah sampai di depan pertanyaan yang ke 100.

"Pertanyaan apa ini?! Ini menghina kita." Seru peserta yang memanggil Teito rubah.

"Kau melakukannya dengan baik sejauh ini." Jawab temannya.

BRAAKKKKK setelah itu dia memukulnya sampai jatuh. Dan pintu kemenangan terbuka untuknya, dia pun segera melalui pintu itu. Sedangkan dia yang memanggil Teito rubah bangkit perlahan dan melewati pintu kekalahan.

Di dalam lorong pintu kekalahan, dia di hentikan oleh zaiphon yang mengelilinginya.

[Berhenti. Itu menjengkelkan, apa kau tidak memaafkan teman yang menghianatimu?]

Dia bergetar dan menundukkan kepalanya, dia mengenggam erat baculusnya hingga buku-buku jarinya memutih.

"He . . he . . Dia pintar, dia selalu lebih baik dariku dan selalu mengajariku. Itu mengejutkanku, tapi terima kasih karenanya aku bisa sampai sejauh ini. Jika dia menerimanya, aku sanggup dihajar olehnya."

Sementara di sisi temannya itu, dia terhenti karena sosok dewa kematian menghadangnya. Kedua tangan dewa kematian itu seperti hendak menangkapnya.



"Dengan begini aku menang." Gumamnya.

"Kau memanfaatkan temanmu sebagai batu loncatan untuk membuka pintu ini?"

Deg . . dia terhenti, wajahnya menjadi pucat pasi.

"Kau bodoh." Sambung dewa kematian itu.

"KYAAA!!!" Tangan-tangan kegelapan menariknya dan melenyapkannya.

Disisi Weda Liam.

"Liam kau pergi ke pintu kemenangan." Ucap Weda sambil menatap soal itu lagi.

"AHH, kakak lihat sebelah sana." Tiba-tiba Liam berseru dan meminta Weda untuk melihat ke belakang. Kemudian dia menuliskan nama Weda d sana, dan pergi melalui pintu kekalahan.

"Jangan hanya pergi dan melupakan kakakmu." Weda mengejar Liam melalui pintu kekalahan.

"aku tidak ingin berhasil sendirian.!! Aku tidak ingin meninggalkan kakak lagi!!" Seru Liam sambil terus berlari.

"BODOH! Jika aku tidak bisa melindungimu, aku tidak dapat melindungi semuanya!"

WUZZZTTT hal yang sama terjadi kepada mereka. Saat ini Weda, Liam dan peserta yang menghina Teito duduk di kursi kelulusan.

"Bagaimana kursi kelulusan yang telah kubuat?" Tanya Uskup Lance sambil menari di depan mereka.

'Mereka berdua berhasil.'Batin Hakuren yang melihat Weda dan Liam.

"AH, kalian masih hidup!!!" Seru orang itu sambil menunjuk Teito dan Hakuren.

"Itu sudah takdir kami." Jawab Hakuren sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatapnya datar.

"Aku belum pernah bertemu dengan mantan Uskup Agung setelah sekian lama." Uskup Lance menyapa ke dua kakek yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Apaa?? Aku datang untuk memberi harapan pada generesi masa depan." Jawab salah satu dari mereka begitu ramah.

"Ini adalah hari keberuntungan." Uskup Lance menyetarakan dirinya dengan mereka.

'Mengapa mantan Uskup Agung disini?' Tanya Teito saat melihat kedua kakek itu.

Setelah beberapa waktu, hanya ada beberapa peserta yang dapat lulus dari tahap pertama dari sekian banyaknya. Mereka berdiri membentuk barisan. Hanya ada satu barisan peserta yang menunjukkan hanya sedikit yang dapat melalui ujian tahap 1. Uskup Lance berdiri di hadapan mereka, sedangkan kedua kakek itu digendong oleh administrator ujian.

"Inikah yang tersisa? Ini sangat mengejutkan." Uskup Lance menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sekarang, aku akan mengantar kalian untuk ujian kedua." 'Tampaknya ada banyak roh tahun ini.' Uskup Lance membimbing mereka melalui pintu yang ada di belakangnya.

Mereka mendaki anak tangga yang mellingkar. Di sis kiri adalah kaca yang begitu besar, dan di sebelah kanan ada tembok yang berlukiskan lambang-lambang. Teito berjalan bersama Hakuren dan peserta yang menghinanya sebelumnya.

'Simbol ini adalah . . . Mereka ada banyak.' "Simbol apa ini?"

Mereka berdua memasang tampang horor mendengar pertanyaan Teito.

"Kau tidak bisa artinya kau tidak tahu kan?" Tanya Hakuren sarkatik.

"Sungguh suatu keajaiban sampai sejauh ini." Sambung peserta itu.

"EH . . HE . " Teito hanya bisa memasang tampang bodohnya mendengar ucapan mereka berdua itu.

'Tolong jaga selalu rahasia ini, itu bukan berarti ada yang lebih dari ini.' Kata-kata Frau kembali menghampiri pikirannya.

'Karena aku tidak bermaksud untuk sedekat itu.' Jawab Teito dalam pikirannya sambil menyentuh keningnya sejenak.

"Mereka adalah hukuman yang dkirim oleh penjaga surga, Teito Klein." Sahut Uskup Lance.

"Zehel,

Fest,

Profe,


Randkalt,

Rilect,

Ea,

Vertag.

Dengan kata lain, semua kebijaksanaan disegel Verloren." Uskup Lance menunjuk setiap lambang dan menyebutkan nama-nama mereka.

"Semuanya?" Sahut mereka.

"Mengapa kalian berpikir 07 Ghost tidak punya pilihan untuk menggunakan kekuatan meeka satu persatu?" Tanya Uskup Lance yang melanjutkan langkahnya diikuti yang lainnya.

". . . .? Agar Verloren tidak lahir untuk kedua kalianya." Jawab Teito.

Mendengar jawaban Teito, Lance meliriknya melalui ekor matanya. Seulas senyum terpatri di wajahnya.

"Itu benar, namun untuk menjaga agar Verloren tetap tersegel di bumi. Walaupun jiwa ke 07 Ghost yang terus melindungi bumi juga tidak bisa kembali ke surga, gereja akan selalu ada untuk meyakinkan mereka."

"Mengapa kau tampak kebingungan?" Tanya peserta saingan Teito.

"Dan itulah mengapa sangat penting untuk tidak merusak gereja, Teito Klein." Sambung Uskup Lance yang tiba-tiba berbalik menghadap Teito.

"MAAFF!!" Sahut Teito spontan.

'Dia merusaknya?' Saingan Teito itu terkejut.

Mereka terus berjalan dan khirnya sampai di ujung anak tangga. Ada sebuah persimpangan dan administrator yang membawa kedua mantan Uskup Agung berhenti disana.

"Oh . . Disini kita berpisah, terima kasih sudah menjaga semuanya." Ucap kakek itu.

"Hati-hati kakek." Sahut Teito, sedangkan yang lainnya melewati mereka.

"Dengarkan selalu kata hatimu bocah, berhati-hatilah terhadap iblis. Itulah yang mengejarmu, melebihi apapun yang ada disini."

DEG!! Teito diam terpaku mendengar ucapan kakek itu.

"Aku harap kita bertemu kembali." Sambunng kakek itu yang kemudian dibawa pergi.

Teito merenungkan ucapan kakek itu sambil menyusul yang lainnya. Semua peserta telah berdiri di depan sebuah terowongan. Baculus beradadi genggam oleh mereka. Para administrator berdiri tak jauh di belakang mereka.

"Ujian kedua adalah ujian praktisi. Ada satu aturan, jika kalian sampai di ujung jembatan, maka kalian lulus. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi sebelum mencapai ujung pintu. Aku berdoa atas usaha kalian." Uskup Lance melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap semua peserta.

"Baiklah, sampai jumpa di sisi lain." Ucap Hakuren pada Teito yang berada di lorong sebelahnya.

Tap . . Tap . . Tap. . . semua peserta mulai melangkah, terus melangkah dengan segenap keyakinan yang meeka miliki.

'Aku pernah kesini.' Batin Teito yang kini sudah berada di depan sebuah pintu.

KRIIEETT . Pintu itu berderit saat Teito membukanya, bukan hanya Teito namun semua peserta di lain tempat. Wuzzhhh . . Angin menyambut kedatangan mereka.

Sebuah jembatan yang menghubungkan mereka dengan sebuah pintu di ujungnya. Di kedua sisi jembatan itu, ada kerangka tulang belakang yang besar.

"Kenapa dengan jalan ini?' Gumam Hakuren dalam diam.

DRRRTTTT . . Lantai jembatan itu bergetar bersaman dengan kerangka itu yang mulai bergerak. Semua peserta mempercepat langkah mereka.

"Oh tidak. . Tidak mungkin ini . "

WUUUZZZHHH . Kerangka itu terbang dengan sepasang sayap dari tulang.

'Mungkinkah ini . !! Inilah lawan kedua dalam ujian?' Tanya Hakuren dalam pikirannya sambil menghentikan langkahnya dan mempersiapkan baculus miliknya.

'Tch, dia besar dan cepat.' Hakuren menghindari pergerakan kerangka tulang yang tak lain adalah sebuah kor.

'Guh .. ' Hakuren berlari di bawahnya sambil terus menyerang menggunakan baculus miliknya.

Blasstt . blast .. . Krraakk , . Bagian yang terkena serangan retak dan patah.

'Berikutnya kaki.' Zaiphon mengelilingi baculusnya.

Blaarrr . . tepat mengenai sasaran. Wuuzzhh tiba-tba ada angin yang berhembus kencang.

'Dan yang terakhir adala leher.'

Blaarrr . . krraaakkk .. kor itu retak seketika setelah menerima serangan bertubi-tubi Hakkuren.

"Uskup Frau mengalahkan ini dalam sekejap." Gumamnya menghela napas dan kemudian melanjutkan langkahnya menuju pintu yang ada di ujung.

'Dengan begini, ujian kedua berakhir . . !!'

Saat hakuren hendak membuka pintu itu, sebuah suara yang sangat familiar terdengar.

".. . . . Hakuren, tolong aku . . "

DeEGG!! 'Apa . .? Suara ini?' Batinnya.

Disisi Teito, dia telah mengalahkan kor itu.

'Tempat ini . . Tempat dimana aku kehilanga Mikage.' Batinnya kemudian bangkit dan melihat ke depan.

Tap . . Tap . Tap . sebuah lanngkah kaki terdengar, namun bukan langkah kaki milik teito. Seseorang mncul dari balik angin yang berasal dari hancurnya kor itu. Dia berjalan dari sisi yang berlawan dengan Teito.

'Dia . ' Kedua matanya terbuka lebar, tanpa disadari kakinya mundur selangkah.

Entah siapa yang dia lihat, namun hal itu mampu membuatnya begitu terkejut.
Tbc.


Halaman : 1 2

Dalreba
2016-11-02 18:20:17
Numvang komen disini
Rifky D Dragnel
2016-07-26 05:34:50
Siapa orang itu
Curious Joey
2016-07-20 17:12:07
Kutebak itu kor yang menyamar jadi mikage
Melody Kiraki Hiyuki
2016-07-20 12:19:38
Ketakutanmu kelemahanmu 9
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook