VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Killers Chapter 12

2018-01-08 - Alien Queen
42 views | 5 komentar | nilai: 10 (5 user)

Ditempat kedua orang yang menargetkan Sea. Sebuah ruangan yang sangat gelap, mereka berdua duduk di depan lilin yang dinyalakan.

"Siapa mereka? Kukira mereka adalah bawahan interpol itu." Jill membakar pisau pada sebuah api lilin.

"Jill, mereka adalah orang yang menangkapku, kau ingat dua orang yang kau hajar waktu itu.?" Claire memegang bahunya yang terus mengeluarkan darah.

"Entahlah, aku tak memperhathkan wajah mereka dengan detail." Jill berbicara dengan nada dingin. Saat pisau itu mulai memerah. Jill menorehkan ke bahu Claire yang terkena tembakan.

"Emm.." Claire berusaha menahan sakit ketika benda tajam dan panas itu menggores dagingnya dan membuat luka tembak itu membesar.

"Pelurunya menancap di tulang, aku tak dapat mengeluarkannya hanya dengan cara seperti ini."

"Menancap di tulang? Peluru macam apa itu? Apa.. Apa kau dapat mengeluarkan pelurunya Jill?"

"Entahlah, sepertinya tulang tanganmu mengapit pelurunya. Aku akan mengoperasi mu, bagaimana?"

"Lakukan, sebelum darahku benar-benar habis, pokoknya peluru itu harus segera di keluarkan,"

"Aku tak mengerti, kenapa orang itu dapat menembak seperti itu, pelurunya berbelok keluar dari lintasan semestinya."

"Ah soal pria itu, dia bilang dia sedang mencarimu, apa kau mengenalnya?" Claire membersihkan darah yang mengalir pada lengannya, sementara Jill mengikat luka pada Claire agar pendarahannya berhenti.

"Entahlah, beberapa pria pernah kutemui, dan ada juga beberapa pria yang menjadi saksi saat aku membunuh target."

"Jadi, apa mereka polisi dari pusat yang membantu interpol wanita itu untuk menangkap kita?"

"Aku tak tahu, yang jelas mereka bukan orang sembarangan. Kita harus berhati-hati jika bertemu mereka."

Apartemen.

Brave dan Keana berada di kamar. Hal yang sama terjadi pula pada Brave, Keana menorehkan pisau panas pada bahu Brave, untungnya peluru tersebut tak dalam bersarang di tubuh Brave.

"Ke.. Kenapa kalian tak memakai baju.?" Sea yang tiba-tiba masuk ke kamar Keana melihat mereka yang memang tak memakai baju, Brave memakai celana panjang hitam, sementara Keana hanya memakai pakaian dalam. Selain bra dan celana dalam, tak ada yang melekat pada tubuhnya.

Wajah Sea bersemu merah melihat mereka tak memakai baju, pikirannya memikirkan hal aneh tentang mereka.

"Hei, ketuk pintu dulu kenapa." Keana dan Brave melirik kearah Sea.

"Ah maaf mengganggu, a.." Sea hendak pergi menutup pintu.

"Tunggu dulu." ucap Brave, Sea menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Aku cuma mengeluarkan peluru yang ada pada tubuh Brave." Keana terlihat acuh, ia menaruh peluru berlumuran darah kedalam gelas berisi air.

"Brave, kau jahit luka mu sendiri, aku mau mandi dulu." Keana berjalan pergi ke kamar mandi, ternyata saat Keana melepaskan pakaiannya. Brave tiba-tiba memintanya untuk mengeluarkan peluru yang tertanam pada bahunya.

Johan sudah tidur, sementara Aldora tak berani membuat luka Brave membesar dan mengeluarkan peluru nya.

Sementara Alice tak mengerti dan tak bisa melakukan hal seperti itu, Brave sendiri tak dapat mengeluarkan peluru itu dengan tangannya sendiri, ia terlalu malas untuk melakukannya. Entah mengapa hari ini Brave begitu pemalas.

Hingga rekan terakhir yang paling kuat dan paling berani diantara semua wanita, yaitu Keana yang dapat melakukan itu. Sehingga Keana yang telah melepaskan pakaiannya harus menunggu untuk mandi.

"Kau, apa kau bisa menjahit luka ku?" tanya Brave menatap Sea, ekspresi wajahnya kembali normal setelah ia tahu kejadian yang sebenarnya, kejadian yang jauh dari imajinasi liarnya.

"A..aku bisa."

"Kalau begitu tolong jahitkan. Aku lapar." Brave memperhatikan Sea, bagaimanapun Sea termasuk gadis cantik, meskipun tak lebih cantik dari Alice tapi ia mengalahkan kecantikan Aldora dan Keana.

Suasana begitu canggung, seorang gadis dan pria muda duduk diatas ranjang. Bagaimana tidak canggung, apalagi Brave memperhatikan terus kearah Sea.

Sea yang memang bisa menjahit luka malah tak fokus, selain ia risih di perhatikan, ia juga merasa ragu untuk menusukkan jarum pada kulit Brave, masalahnya dalam hal ini.

Sea tak menggunakan obat pada luka Brave untuk menghilangkan rasa sakit saat penjahitan berlangsung. Namun anehnya, meskipun tak memakai obat, Brave tak menanggapi saat jarum ditusukkan.

Ekspresi Brave tak berubah, ia tak terlihat kesakitan. Normalnya, setidaknya orang itu harus pingsan saat operasi pengangkatan peluru yang bersarang dalam tubuh. Atau setidaknya meski tak pingsan harusnya disuntik penghilang sakit.

Keanehan itu membuat Sea berpikir, Brave itu orangnya seperti apa? Dia tampan dan sangat kuat. Lalu kenapa waktu itu dia tak melawan saat ia dituduh sebagai teroris.?

Bahkan borgol dapat ia hancurkan dengan mudah, dan sekarang, peluru dari sniper itu hanya setenahnya tertanam pada dagingnya.

Normalnya peluru yang ditembakkan sniper mampu melubangi kepala seseorang, namun Brave?

Luka nya bahkan tidak parah sama sekali. Apa mungkin semua daging pada tubuhnya sudah berubah menjadi otot yang tebal dan keras?

Setelah jahitan selesai.

"Kau hebat juga dalam hal menjahit luka, sepertinya kau sangat berbakat menjadi tukang pukul." Brave memuji sambil menggerak-gerakan tangannya.

"Apa hubungannya coba." Sea menatap Brave dengan tatapan aneh. Brave terlihat membersihkan sisa darah pada lengannya.

"Yah, pokoknya terima kasih atas jahitannya." Brave bangkit dan segera keluar dari kamar, Sea mengikuti dari belakang.

Di ruang tengah. Johan terlihat tidur di sofa, sementara Alice sibuk merapikan berbagai senjata dan peralatan lainnya.

Aldora terlihat sibuk dengan Laptopnya, terlihat hanya Alice saja yang berpakaian rapi, karena Johan dan Aldora sama-sama tak memakai baju.

"Ka..kamu juga, kenapa nggak pakai baju?" kaget Sea.

"Ah ini, soalnya AC nya mati, aku sangat gerah jadi aku buka baju deh." Aldora menjawab dengan melirik sekilas sesaat kemudian matanya kembali fokus pada layar.

"Ta..tapi kan ada pria disini."

"Jangan berlebihan gitu menanggapinya, kita sudah terbiasa ko seperti ini." Alice menanggapi dengan tersenyum ramah.

"Hee.."

"Apa?" Brave telah memakai Baju dan duduk di sofa.

"Cewek-cewek dipantai penampilannya seperti ini bukan? Lagipula aku dan Johan tak mungkin melakukan hal aneh pada mereka. Meskipun tubuh mereka bagus, tapi aku tak tertarik." Brave menonton telivisi.

"Apalagi Keana, aku bahkan terlalu takut untuk menyentuhnya." tambahnya.

"Bagaimana dengan Lukamu Brave?" tanya Alice.

"Sudah ditangani, besok juga pasti sudah sembuh."

"Oh."

"Ah, aku benar-benar tak mengerti dengan mereka." pikir Sea.

"Oh iya, apa kau sudah masak? Aku lapar." tanya Brave pada Alice, wanita ini yang paling diandalkan dalam hal memasak, bahkan sejak di tempat pelatihan pun, Alice bukan hanya hebat dalam hal bertarung dan menembak, namun kebolehannya dalam hal memasak tak dapat di remehkan, bahkan semua orang sudah mengakui kehebatannya.

"Maaf Brave, tapi sepertinya kita sudah kehabisan persediaan. Jadi aku belum masak apapun."

"Kau tahu, istri yang baik itu harus selalu menyajikan makanan saat suami kelaparan." Aldora menggoda.

"Apaan sih."

"Hahahaha.. Lihat wajahmu, memerah. Kau sangat lucu.. Nah, bagaimana jika kalian berdua pergi belanja." Aldora menyarankan.

"Maaf, tapi aku sedang sibuk." Alice memang terlihat belum juga selesai dengan urusannya.

"Biar aku saja yang belanja." Sea bangkit dari duduknya.

"Ide bagus, kita berdua belanja." Brave bangkit dan menarik tangan Sea pergi.

"Tu.. Tunggu dulu, bukan ini yang kumaksud. Aku bisa pergi sendiri." namun ucapan Sea tak digubris, di koridor. Sea terus menggerutu, namun ia tak berontak saat ditarik, bukannya tak bisa, namun tak mampu menandingi kekuatan Brave.

Di tempat Jill dan Claire.

Seorang wanita menyuntikan sesuatu pada bahu Claire. Jill kemudian melakukan operasi pengangkatan peluru pada bahu Claire.

"Bagaimana bisa kau gagal dalam misi, maksudku kalian. Sebelumnya kalian dapat menghabisi target dengan mudah." ucap wanita itu dengan kekecewaan.

"Jika kalian tak mampu, biar aku saja yang ambil alih tugas ini."

"Jangan ikut campur,!" Jill menatap tajam wanita itu. Peluru pun berhasil di keluarkan dari bahu Claire.

"Benar, kita baru memulai, ini hanya pemanasan. Kita akan memastikan bahwa semua interpol akan mati." tambah Claire.

".. Khi.. Kalau begitu kutunggu kabar itu, dan sisanya biar aku yang melakukannya." wanita itu pun pergi dengan senyum menyeringai, tatapannya sangat menyeramkan.

Claire menjahit lukanya sendiri, sementara Jill mengambil obat-obatan lainnya untuk mengobati Claire.

"Aw.. Ah kenapa rasa sakitnya masih sama.. Eh tunggu dulu." Claire menatap peluru yang berada didalam mangkuk aluminium, peluru yang berhasil bersarang dalam tubuhnya itu sangat aneh.

"Ada apa?" tanya Jill yang baru saja kembali.

"Apa kau tak melihat ada hal yang aneh dengan peluru itu."

Ray Rain
2018-01-10 18:29:38
Next chapter..
Zen Kureno
2018-01-09 17:48:55
Pertarungan dua sahabat lama akan segera dimulai, lain mungkin pertumpahan darah
Irwan Syah
2018-01-08 20:25:34
ditunggu chapter berikutnya
Takashi Draylus
2018-01-08 18:56:25
Ada yang aneh dengan peluru nya?? Apa itu??
Tatsuya
2018-01-08 18:54:43
Ku kira claire akan memberitahu jill kalau orang yang mencarinya adalah brave
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook