VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #24

2018-01-06 - Adam Beneath Us
36 views | 3 komentar | nilai: 10 (5 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic

Chapter 24

.
.
.

Siang yang cerah dan bersahaja itu menjadi penanda kejayaan para pasukan pemberontak. Dipimpin oleh Zack Rashford, 60.000 prajurit Windwinter sukses mengambil alih kota Downsnow tanpa perlawanan berarti. Lebih dari 200 pasukan Downsnow terbunuh, sementara sisa dari mereka menyerah terhadap pasukan pemberontak dan bergabung secara sukarela menjadi pasukan mereka.

Pertempuran ini menjadi kesan yang membekas di hati Robert. Ini adalah perang pertamanya yang bersejarah, yang kelak akan dikenang oleh anak-anak serta cucu-cucunya. Membayangkannya saja sudah cukup membuat senyum merekah di bibirnya tiap kali ia melihat ke penjuru kota, dipenuhi oleh puing-puing bangunan tanda kemenangan. Ia yang duduk di atas kuda putih setinggi 180cm, menatap terus kearah depan, menyaksikan ribuan pasukannya tengah merayakan kemenangan.

"Robert." Zack datang dengan cepat dengan kuda hitamnya, berhenti tepat didepan Robert selepas memanggil namanya.

"Sulit sekali menemukanmu diantara orang-orang ini."

Robert menanggapi gurauan Zack dengan sedikit menaikkan bahu.

"Kau bertempur dengan hebat." puji Zack. "Seumur hidupku, aku tak pernah melihat seseorang bertarung segagah itu menggunakan gada perang, sampai aku melihatmu. Secara langsung, di pertempuran ini. Dilubuk hatiku aku sedikit bangga."

Pujian Zack menimbulkan senyuman tipis di bibir Robert. "Kalau begitu, kau beruntung karna lahir di zaman ini." guraunya.

"Haha, kau benar."

Robert dan Zack sama-sama melamun di atas kuda jantan mereka. Mereka menatap lurus kedepan. Sama-sama menatap ribuan prajurit berlalu lalang di sepanjang kota, mengklaimnya menjadi bagian dari wilayah.

Robert mengenggam erat sebuah cincin berhias permata warna merah yang dulu diberikan mendiang kakaknya Ryder kepada dirinya, saat ulang tahunnya yang ke 13 tahun. Guratan ekspresi Robert terpampang jelas, tertanda bahwa ia benar-benar tenggelam cukup dalam di jurang lamunannya.

Zack menyadari cincin yang bersinar itu dengan cepat. Lantas berkelakar, "Itu milik kakakmu, bukan?"

"Kau tahu?" tanya Robert terkejut mendengar perkataan Zack.

"Kami selalu bersama saat Perang Pemberontakan Bush, pikirmu aku tak sekalipun memperhatikan apa yang ia pakai? Aku selalu melihat dia memakai berbagai barang yang antik, yang selalu ia gunakan sebagai jimat untuk membantunya memenangkan tiap peperangan. Dia sangat percaya dengan takhayul-takhayul semacam itu. Kadang itu membuatku tertawa geli mengetahui betapa religiusnya dia, disamping fakta bahwa dia sangat ahli dalam urusan membunuh seseorang."

"Dan yeah, dia memakai cincin dengan hiasan permata merah itu melingkari jari manis tangan kirinya. Ia selalu mengenakannya tiap kali ia akan pergi untuk berperang." terang Zack. "Aku bisa paham mengapa ia memberikannya kepadamu."

"Dia memberikannya padaku di hari ulang tahunku yang ke 13 tahun, ia membungkusnya dengan kain sutra dari Riverlands yang dihiasi hiasan khas dari Eastcoast. Sependapat soal perkataanmu bahwa Kak Ryder terlalu mempercayai takhayul. Dia memberikan benda ini kepadaku supaya aku bisa lepas dari kesialan. Angka 13 itu sial menurut Kak Ryder."

Zack terkekeh mendengarnya.

"Kau mengenakan itu untuk menghormatinya, atau kau mengenakan itu untuk jimat semata?"

"Aku tak tahu apa maksudmu." sahut Robert.

"Kau harus pastikan kalau kau tidak 'stuck', Robert."

Robert tertunduk cukup dalam. Ia hanya mengangguk, sementara Zack tersenyum lagi.

"Maka kita harus bersiap lagi dan memastikan tujuan utama kita."

Zack menarik tali kudanya, sang kuda berjengat naik, mengeluarkan suara khasnya dan menarik atensi para prajurit lain. Robert memperhatikan dalam diam, dengan kedua mata ia buka.

Tepat begitu Zack berkata demikian, terdengar gemuruh menggetarkan tanah yang asalnya berasal dari ribuan prajurit berbaris menuju ke arah mereka. Sebuah pasukan Heavy Cavalry. Robert memutar kudanya segera, sementara dilihatnya Zack sudah melaju sembari mengangkat pedangnya tinggi.

"Demi kerajaan!" seru Zack keras pada pasukannya. "Demi kemenangan yang mulia!!"

"Yeah!!"

Para pasukan Windwinter langsung berbaris dibelakang Zack. Sementara disisi lain sana, pasukan Lady Michelle Aenom membentuk sebuah formasi bulan sabit bergerigi bersiap untuk 'menyantap' para pasukan Zack yang barusaja menetapkan formasi.

Robert hanya mampu berdiam diri ditempatnya. Tak tahu harus berbuat apa dikala pasukan Zack berbentrokan dengan pasukan kavaleri besar Lady Michelle Aenom yang lebih besar di perang terbuka ini.

"Sial."

Robert benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Lady Michelle Aenom didepan matanya ialah seorang lady knight yang begitu ia hormati di jajaran istana. Robert mengutuk Sir Prescott, ia sangat ahli memainkan perasaannya, membuatnya bimbang dengan menerjunkan Lady Michelle Aenom langsung sebagai komandan pasukan untuk menyergapnya. Membuat dirinya tak bisa berbuat apapun ataupun membuat pilihan.

Robert memacu kudanya demi menghindari lontaran anak panah dari udara. Ia terus melaju dengan kudanya. Tepat didepan, seorang prajurit Summerdome juga melaju kearahnya menggenggam tombak yang panjang. Robert tak berpaling, sebuah tameng tergeletak disamping badan salah seorang pasukan yang tewas, tepat setelah ia menggapainya, ia menahan serangan tombak sang lawan dengan menghadang tameng. Ia lolos dari sergapan tombak panjang itu.

Robert dan prajurit itu saling memutar kuda untuk bersiap melakukan duel kembali. Kali ini, Robert membuang tamengnya dan berlari dengan kecepatan penuh kearah sang prajurit. Ketika jarak antara mereka semakin dekat, Robert melempar sebuah pisau mengenai kuda sang musuh, membuatnya hilang kendali, dan ketika sang prajurit menjadi sasaran empuk, Robert langsung memukulkan gada perangnya dan menghancurkan tengkorak sang prajurit seketika.

Salah seorang prajurit melesat kearahnya ketika ia lengah. Robert sama sekali belum siap. Namun ia beruntung, sebelum prajurit itu menancapkan tombak di punggungnya, salah seorang prajurit Windwinter menabrakkan kudanya kepada kuda sang prajurit. Nyawa Robert tertolong.

Kuda yang dinaiki Robert menjadi gelisah. Ia melompat-lompat di udara, sampai pada puncaknya, Robert terlempar dari atas kudanya sendiri. Tersungkur di tanah dan kehilangan pegangan atas gada perangnya.

Robert memutar kepalanya ke segala arah untuk menemukan senjata itu. Ia tak diberi waktu, selang sedetik berselang, salah seorang pasukan musuh sudah hadir di depan matanya, mengenggam pedang sepanjang hampir setengah tinggi badannya.

Pedang tajam nan tipis itu berayun di udara kala Robert merunduk pada tebasan pertama. Robert meliuk ke belakang punggung sang lawan, kemudian mematahkan lehernya dengan sekali pitingan pada leher yang menewaskan sang prajurit seketika.

Robert menemukan gada perangnya.

"Robert." Lady Michelle bergumam cukup pelan dari tempatnya. Robert berada sekitar 30 meter dari lokasinya. Ekspresi tajamnya melunak. Perasaannya tiba-tiba gundah, berjumpa kembali dengan pria yang 4 tahun lebih muda darinya itu, sekaligus pria yang pernah menjadi pujaan hatinya itu.

Ia memacu kudanya ke arah Robert.

Robert yang akhirnya mendapatkan kembali gada perangnya. Terus mengamuk dan mengayun-ayunkannya untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Para musuh langsung tersadar mengenai kebenaran rumor betapa menakutkannya dirinya kala mengenggam gada perang. Mereka melihatnya sendiri. Seperti apa Robert kala mengamuk. Nyaris tak ada prajurit yang nekat mendekati Robert.

Disaat para pasukan Summerdome berlarian menyelamatkan diri dari Robert. Lady Michelle Aenom justru mendekat pada Robert dengan kuda full armor disekujur tubuhnya itu. Robert juga nampaknya tersadar siapa yang ada didepannya meski wajahnya tertutupi helm baja. Lady Michelle lantas turun dengan perlahan, mendekat kepada Robert sekalian melepas helm pelindungnya, supaya Robert dapat melihat wajahnya.

"Robert." sapanya.

"Lady." balas Robert.

"Jangan membuatku harus melakukan ini." pinta Lady Michelle.

Robert menyeringai. "Kau sama sekali tak berani menyakitiku, bukan begitu?"

"Itu tugasku." ucap Michelle.

"Tugasmu, heh? Kau akan melakukannya?" tanya Robert.

"Lihatlah disekitarmu, Robert. Kau dan pasukanmu diambang kekalahan, kami unggul jumlah dan kekuatan. Menyerahlah baik-baik dan hentikanlah semua perbuatanmu ini, nyawamu akan diampuni."

"Aku tak berfikir nyawaku sepenting itu bagi diriku, my Lady. Pemberontakan ini akan tetap berlanjut, dengan atau tanpa adanya diriku. Jadi simpanlah tenagamu. Kita adalah musuh."

Lady Michelle menggigit bibir tipisnya.

"Apa tujuanmu, Robert?" tanyanya. "Mengapa kau melakukan semua ini? Memberontak pada kerajaan? Kupikir setelah kau membalaskan dendam keluargamu pada Osyris Blackburn, kau akan pulang, menjalani kehidupanmu seperti biasa."

"Tak ada yang tersisa untukku disana." jawabnya. "Dia menculik Rilley."

"Demi gadis itu?" hati Lady Michelle remuk. "Kau mengobarkan perang tak berguna ini demi gadis itu, Robert?"

"Tidak sesimpel itu, Lady Michelle. Ada banyak pihak yang punya alasannya sendiri-sendiri. Tapi, kuakui, itu adalah salah satu alasanku." Robert tersenyum. "Kau mengerti, bukan? Aku rela melakukan apapun demi orang-orang yang kucintai. Aku sanggup membunuh Osyris ribuan kali jika itu perlu, akan kulakukan dengan senang hati, mendengar suara tengkoraknya yang pecah kala aku menghantamnya dengan gadaku, itu sudah jadi hiburan yang cukup buatku."

"Kau sama sekali tak punya perasaan apa-apa pada keluargamu yang tersisa diistana?" tanya Lady Michelle lagi, suaranya yang ayu bergetar, matanya berair. "Kepada Prince Raw? Princess Ryalla? Lady Maisie? Asal kau tahu, Robert, Princess Ryalla menginginkanmu pulang, betapa rindunya dia padamu."

Robert terkenang wajah kakaknya itu, Ryalla Rivermont. Dulu, Robert sangat kagum dengan kakaknya yang jelita itu, ia selalu melakukan hal bodoh untuk mencari perhatiannya, tapi dia selalu mengabaikan Robert, bahkan selalu menghinanya. Saat Ryder dan Freya meninggal, sikap Ryalla sedikit berubah padanya, lebih lembut. Sejujurnya, Robert juga sangat senang.

"Ada batasan untuk orang-orang yang kusayangi. Dan menurutku mereka bukan salah satunya." jawab Robert dingin, nasi sudah jadi bubur, Princess Ryalla berada dipihak musuh, maka ia harus memperlakukannya layaknya musuh. "Apalagi yang ingin kau katakan untuk membujukku, Lady?"

Lady Michelle menatap Robert sekali lagi. Pemuda yang gagah, ramping, tinggi dan sempurna. Semua gadis maupun janda ditinggal perang di Summerdome sangat memimpi-mimpikan dirinya, disamping ia dianggap sebagai 'anak haram', ia memiliki banyak hal lain untuk dipuja, ia adalah sebuah gabungan lengkap dari para pangeran istana yang rupawan. Ia memiliki postur tinggi Ryder Rivermont, postur gagah Raw Rivermont, maupun wajah rupawan Robin Rivermont. Ia adalah gabungan mereka bertiga. Pria yang sangat sempurna.

Princess Sarah Rudgard, Princess Lucy Roynar, Princess Nadine Waterfall, maupun Lady-lady knight seantero kerajaan mendambakan seorang Robert. Meski hati Robert yang dingin telah dimiliki oleh Princess Rilley Durmont, cinta pertamanya. Bagi Lady Michelle, Robert adalah teman pertama sekaligus cinta pertamanya.

"Kau benar-benar sangat keras kepala." Lady Michelle tersenyum getir sembari mengangkat pedang. "Padahal aku sempat menyukaimu."

Robert tak bergerak sedikitpun. Dua orang prajurit Zack melesat mendahului dirinya, menyerang Lady Michelle dengan cepat dan memberi Robert waktu untuk lari. Lady Michelle mampu menangani kedua prajurit itu dengan mudah. Bagaimanapun, dirinya adalah salah seorang High-Ranked Knight of Summerdome yang patutnya harus membuat lawan-lawannya waspada ketika berhadap-hadapan dengan dirinya. Bukannya menyerang dirinya secara sembrono.

Robert sudah menghilang kala Lady Michelle menyelesaikan pertarungannya. Meninggalkan Michelle yang terpaku kebingungan, menoleh kekanan kekiri bermaksud menemukannya.

"Sial." umpat Michelle, tak dapat menemukan jejak Robert di medan pertempuran yang jamak itu.

30 menit sejak perang dimulai, pelan namun pasti, Battle of Downsnow memihak pada pasukan heavy cavalry Lady Michelle yang diberkahi Knightseal. Pasukan Zack diambang kekalahan. Kemenangan bagi pasukan Summerdome sudah didepan mata.

"Zack!" Robert tiba didekat Zack, menaiki kuda baru. Zack menatapnya.

"Robert!"

"Dengar, kita harus tinggalkan Downsnow! Kita ke plan B, kembalilah ke Windwinter, aku akan ke Springbliss bergabung dengan Venicia!" seru Robert. "Kita tak sanggup mempertahankan kota ini lagi! Kau harus kembali sebelum pasukan musuh menerobos kerajaanmu!"

Zack meringis. Perkataan Robert memang ada benarnya. Kota itu sudah tak bisa diperjuangkan lagi. Berbagai sektor telah dikuasai pasukan kerajaan. Termasuk sektor paling barat yang dijaga banyak pasukan Zack. Dilihat darimanapun, Pasukan Lady Michelle jauh lebih unggul daripada miliknya, baik dari segi kemampuan individu maupun kekuatan tempur. Pasukannya kalah. Dan jika ia memaksa terus melanjutkan pertempuran ini, Kerajaan Windwinter akan lumpuh karna kehilangan dirinya dan begitu banyak pasukan.

Zack bisu selama beberapa saat, ia menatap sekeliling. Melebarkan direksi pandangannya ke seluruh tempat. Dan dengan satu tarikan nafas. Dia berteriak dengan segenap tenaganya. Berharap agar para bawahan setianya mendengar.

"Mundur!!"

seruan Zack menggelegar ditengah medan perang.

. . . .


Bocah Redoks
2018-01-06 21:53:08
Kenapa gk panggil naga aja bwt bantu
Sqouts Shadows
2018-01-06 19:29:19
Ditunggu chapter berikutnya
Takashi Draylus
2018-01-06 14:32:42
Jadi, Zack mundur ya?? hmm....
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook