VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #23

2018-01-05 - Adam Beneath Us
34 views | 7 komentar | nilai: 10 (3 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic

Chapter 23
.
.
.

Ruangan rapat di Wintercastle sungguh berbeda dengan di Crystal Palace. Di Crystal Palace, ruangan tertutup itu benar-benar sangat suram, mengingat King Bush saat itu sama sekali tak menyukai dekorasi. Di hari pertamanya menjadi raja Summerdome, ia bahkan meminta ajudan-ajudannya untuk membersihkan dekorasi-dekorasi indah yang ia sebut sebagai 'sampah'. Bisa dibilang, ia sangat buta dengan seni.

Tapi di Wintercastle, ruangan rapat berbanding terbalik dengan di Crystal. Ada berbagai hiasan serta dekorasi indah yang begitu memanjakkan mata bagi siapapun yang melihat. Di temboknya bahkan ada karikatur dan sebuah lukisan besar, bergambarkan ribuan prajurit Windwinter berbaris di gerbang istana. Robert yang tak begitu menyukai seni pun cukup terpukau dengan semua yang ada ditempat itu. Menyebutnya sebagai karya seni memukau yang tak ternilai.

Robert segera menghentikan acara kagumnya tatkala petugas kerajaan menutup pintu ruangan rapat. Ia langsung menempatkan diri bersama petinggi Windwinter lainnya, sementara Zack duduk dengan wibawa di depan mereka semua.

Robert duduk tepat disebelah Prince William, adik kandung Zack yang wajahnya sangat tak ramah bagi Robert.

"Jadi kau adalah pembelot Rivermont yang dimaksud kakakku?" William bertanya, kedua matanya tetap menatap kearah kakaknya yang memimpin rapat.

"Aku bukan pembelot." Robert agak tak terima. "Kenyataannya, aku bukan bagian dari mereka sejak dulu. Aku si 'anak haram'. Tak ada tempat untuk seorang anak haram dihormati."

"Aku tak peduli." sahut William acuh.

"Brengsek." terdengar umpatan Robert, William mendengarnya, meski ia juga tak terlalu peduli.

"Aku mendengar kalau kau membunuh Prince Osyris dengan gada. Harus kuakui, seseorang yang mampu membunuh dengan gada adalah orang-orang yang berbakat. Itu kemampuan yang sangat langka."

"Itu bukanlah hal besar. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengayun lebih keras daripada saat menggunakan pedang." balas Robert.

"Dan itu membutuhkan stamina. Aku tahu karna aku juga pernah menggunakannya." sahut William. "Kau pergi berperang menggunakan senjata itu?"

"Tentu saja."

"Sama sekali tak terbersit keinginanmu untuk menggunakan senjata lain?"

"Kenapa kau peduli sekali soal senjataku, huh?"

"Aku sedang dilema saat ini. Aku kalah dan membiarkan orang-orang brengsek itu kabur. Karna kebodohankulah, ayahku mati. Aku benar-benar menyesali itu."

"Aku sudah dengar soal itu." ucap Robert. "Turut menyesal soal apa yang terjadi pada ayahmu. Aku yakin dia raja yang baik."

"Yeah, raja yang baik. Tapi ayah yang buruk." ucap William. "Tetap saja rasanya sangat menyakitkan mengetahui ia terbunuh karna aku gagal menghentikan Raw dan Sir Bartholomeo. Kupikir yang jadi masalahku adakah senjata, aku tak terlalu mahir dengan pedang."

"Kau bisa berlatih menggunakan palu perang sepertiku, pangeran. Itu lebih 'worthy' daripada pedang, kau bisa mendengar suara tulang yang hancur saat kau memukulkan benda itu ke badan musuhmu. Menimbulkan sensasi sendiri, sensasi yang bisa menambah semangat dan staminamu. Karna itulah aku bisa bertahan sampai sekarang dengan senjata itu."

"Energimu seakan bertambah tiap kali membunuh seseorang dengan gada itu?" William memandangnya aneh. "Kau terdengar seperti pasien sakit jiwa."

"Jangan salahkan aku. Anggaplah aku punya kepribadian lain saat memegang benda itu."

"Terserah dengan omong kosongmu."

Robert tertawa, kemudian ia kembali fokus pada rapat setelah salah seorang anggota dewan Windwinter melotot kearahnya. Ia langsung melenyapkan senyum tak berdosanya dan kembali dengan wajah datar nan mengintimidasinya.

Robert memperhatikan topik bahasan yang tengah didiskusikan oleh Zack sebagai raja. Meliputi soal agresi militer Robin Rivermont, penyerangan di pelabuhan Wintetshell dan semua yang berkaitan dengan Summerdome. Ia menggiring mereka dalam satu kesimpulan bahwa mereka harus memberantas Summerdome secepatnya, dan untuk melakukan itu, maka dibutuhkanlah sekutu. Disitulah maksud kehadiran Robert di ruangan itu.

Robert mengatakan maksud kedatangannya. Memberitahu betapa gentingnya situasi di seluruh dunia jika Robin dibiarkan semena-mena di takhta Summerdome yang adikuasa. Seluruh lawan-lawan Robin adalah sekutu, Robert mengajak para pimpinan Windwinter untuk bekerjasama, bersatu dalam gabungan aliansi untuk meruntuhkan Dinasti Rivermont. Venicia Lindegard memiliki 18.000 prajurit yang loyal, ditambah mantan Knight of The Seven Guards sebagai penasihatnya, tak lupa pula naga-naga jinak yang ia miliki.

Tak hanya Venicia, Robert juga berhasil mengenggam kelompok tentara bayaran terkuat didunia, The Rebellion, yang dipimpin Thabai the Rebeller, sejumlah 7.000 prajurit terlatih dan mematikan. Dan masih banyak lagi pihak yang satu persatu menyatakan dukungannya kepada mereka. Robert mengajak Windwinter untuk bergabung juga untuk mengakhiri teror Robin untuk selama-lamanya.

"Kami masih belum melupakan apa yang terjadi kepada Tuan Puteri kami, Princess Feliza yang diculik dan diperkosa oleh Gerard Lindegard, kakak dari Venicia Lindegard yang bekerja sama denganmu!"

Zack terdiam. Sementara Robert memiringkan kepala seakan bingung.

"Venicia bukanlah King Andres, bukan pula seperti Gerard yang kalian benci. Kau tak berhak menilai seorang perempuan atas dosa ayah maupun kakaknya. Dia memang seorang Lindegard, tapi dia saat ini berjuang untuk kebebasan dirinya, dia membangun seluruh pasukannya dari nol."

"Menggunakan naga!"

"Kau mempertanyakan warisan keluarganya, huh?" balas Robert.

"Dengar, aku tak ingin berdebat dengan kalian mengenai Lindegard, dan setumpuk dosa yang mereka lakukan pada kalian. Mereka semua sudah mati, Venicia adalah Lindegard yang terakhir dan kau curiga bahwa dia kejam seperti ayahnya? Dia seorang wanita, gentlemen. Apa yang dimiliki seorang wanita tak berdaya yang memperjuangkan haknya? Hanya semangatnya!"

Para petinggi terdiam. Robert sedikit emosi, mengingat secara tak langsung, para petinggi kerajaan menyinggung perihal keluarga aslinya, Lindegard, dan juga bibinya, Venicia Lindegard. Meskipun seumuran dengannya, Venicia tetaplah bibinya.

"Anak ini adalah putra kakakku satu-satunya." ucap Zack.

William tersentak. Para petinggi mengernyitkan alisnya bersamaan, seakan perkataan Zack barusan adalah sebuah rumus matematika.

"Princess Feliza melahirkan Robert, tepat di penghujung perang. Setelah Bush membunuh Gerard." lanjut Zack. "Ia memiliki darah Rashford di nadinya, darah keluarga bangsawan. Begitupun darah Lindegard. Ia anak satu-satunya dari putra mahkota Summerdome dan mendiang kakakku. Kuharap perkataannya bisa jadi pertimbangan untuk kalian."

Robert diam memperhatikan perubahan ekspresi mereka.

.
.
.

Apa yang terjadi di ruang rapat tadi sungguh melelahkan bagi Robert. Bahkan meski ia sudah mencapai kesepakatan dengan para petinggi dan komandan militer Windwinter, Robert tetap merasakan lelah. Seakan berunding dengan petinggi-petinggi itu sama saja dengan berlari 21km mengelilingi benteng Wintercastle.

Robert sedang bersama Zack di ruang strategi. Disana hadir pula William dan beberapa komandan tempur.

"Dengan tambahan prajurit Windwinter, total pasukanmu ialah hampir 80.000 prajurit. Mungkin bisa bertambah jika Venicia Lindegard sukses menggandeng aliansi lainnya. Kita hanya perlu menunggu kabar terbarunya." Zack berjalan menuju peta benua yang terpasang di dinding. "Kita punya beberapa masalah yang terus mengintai kami belakangan."

"Masalah?" tanya Robert.

"Tidak semua provinsi di Windwinter mendukung pihak kita. Terutama provinsi yang wilayahnya jadi perbatasan langsung dengan Summerdome." jelas Zack, tongkat tipisnya menunjuk pada sebuah wilayah di peta. "Downsnow."

"Downsnow adalah kota yang netral. Memiliki wilayah yang strategis dan cocok digunakan sebagai tempat untuk memobilisasi pasukan. Jika kita ambil kota ini lebih dulu, maka kesempatan kita untuk memenangkan pertarungan di Summerdome bagian utara terbuka lebar. Kita bisa mengirimkan armada kapal perang kita untuk menyerang Dance Harbor di timur Summerdome jika kita mengambil Downsnow." William menyambungkan.

"Bagaimana jika musuh kita berfikir sama dengan kalian berdua?" tanya Robert.

"Jika jalan pikiran kita dan mereka sama. Maka perebutan Downsnow akan jadi pertempuran berdarah bagi masing-masing pihak. Untuk itu, kita memerlukan bantuan dari banyak prajurit."

"60.000 prajurit untuk mendapatkan Downsnow. Apakah cukup?"

"Lebih dari cukup." jawab Zack. "Kita akan berangkat besok dengan 60.000 prajurit kita untuk mengambil alih Downsnow. Aku dan Robert. William, jagalah ibukota saat aku pergi. Selama aku masih dalam medan perang, kau jangan pernah meninggalkan istana atau kau akan celaka. Mengerti?"

"Yeah." William mengangguk.

"Plan B. Jika kita gagal mendapatkan Downsnow. Aku akan pergi sendirian untuk bergabung dengan pasukanku di Springbliss. Sementara kau harus mundur dan kembali lagi kesini, melindungi kerajaanmu." ucap Robert.

.
.
.

SUMMERDOME

Rapat tertutup antara anggota dewan militer Summerdome tengah dilangsungkan. Tepat begitu pelayan menghidangkan daging rusa di atas meja, Sir Prescott Phillips telah menyelesaikan bacaannya, sebuah surat kecil berpita hitam yang baru saja dikirim oleh para pasukan pengintai.

"Robert sudah bergerak." ucapnya pada para pimpinan militer disana. Sesuai apa yang dilaporkan dalam surat. "Perlahan anak itu membangun kekuatannya. Lambat laun, api akan berkobar dan lama-lama akan membakar seluruh perumahan. Karna itu, kita harus jadikan Robert sebagai prioritas baru untuk kerajaan. Tangkap dia hidup-hidup, kita memerlukannya supaya pemberontakan bisa dicegah. Itu maklumatku sebagai Lord Commander atas nama King Robin untuk seluruh pasukan kita. Bisa kalian sebarkan?"

"Siap!"

"Lady Michelle Aenom?" panggil Prescott. Michelle Aenom yang dimaksud lantas berdiri, ia adalah ksatria perempuan yang menjadi salah satu kapten dari Pasukan Knightseal. Ia adalah anggota bangsawan dari Klan Aenom dan reputasinya sudah terkenal dimana-mana. Sesuai garis keturunan Klan Aenom, rambut mereka rata-rata pirang, namun lebih terang dan putih daripada pirang pada umumnya. Hal itu diwarisi oleh Michelle, putri dari seorang mantan Knight of The Seven Guards, sekaligus pengkhianat kerajaan, Sir Arthur Aenom.

"Kita memerlukan keahlianmu untuk menangani Downsnow. Sebelum terlambat, aku akan memberimu 80.000 prajurit untuk pergi dan merebut paksa kota itu jika perlu." ucap Prescott.

"80.000 prajurit untuk sebuah kota yang kecil?" tidak cuma Michelle saja yang bingung, yang lainnya juga cukup bingung mendengar apa perkataan Prescott.

"Zack pasti butuh agar semua pihak dari selatan wilayahnya membantu. Downsnow adalah satu-satunya yang gagal dia bujuk dalam aliansi. Skenarionya, dia pasti akan bergerak menuju kota itu lebih dulu sebelum menggabungkan kekuatan di Springbliss bersama pemberontak lainnya. Sedangkan skenario kita, adalah melumpuhkan kekuatan Windwinter sekaligus mencegah bala pasukan mereka ke Springbliss hidup ataupun mati. Itu akan mengurangi daya tempur pasukan Robert." terang Prescott.

"Jika kau berhasil mengalahkan mereka, Lady Michelle, aku yakin padamu. Bawa bocah itu, secepatnya bergeraklah menuju Windwinter dan melakukan pengepungan terhadap Istana Wintercastle, menuntut pasukan mereka yang tersisa untuk menyerah. Dan kami akan menangani semua yang tersisa di Springbliss, termasuk Venicia dan naganya."

"Saya akan melakukan sebisa saya, Lord Commander." balas Lady Michelle sembari membungkuk rendah tanda menerima perintah.

"Aku mengandalkanmu, putri Sir Arthur Aenom." ucap Prescott, Lady Michelle tak menyahut, ekspresinya datar, seakan nama sang ayah adalah hal yang tabu bagi dirinya.

Pasukan Windwinter yang dikomandani Zack Rashford berbaris menuju Downsnow, beserta Robert bersama mereka. Selang beberapa saat setelah keberangkatan mereka, Lady Michelle Aenom memimpin pasukannya bergerak ke tempat yang sama. Dan kali ini, The Battle of Downsnow akan menjadi perang resmi pertama yang akan dihadapi Robert. Perang bersejarahnya, perang yang menandai awal dimulainya Robert Rebellion. Pemberontakan Robert. Sebuah kisah perang historis yang akan melampaui kisah Pemberontakan Bush.

.tbc
.
.
.




Lord Dark
2018-01-06 10:08:22
Makim tegang aja...
Jimmz Uchiha
2018-01-06 00:39:18
Sudah di mulai
Ozifex
2018-01-05 23:45:07
next lanjut...mantappp
Bocah Redoks
2018-01-05 22:36:28
Lebih tepatnya memperjuangkan haknya dari pada pemberontakan
Takashi Draylus
2018-01-05 21:26:00
Wow, awal sebuah perang dan pemberontakkan. Next Chap!
Sqouts Shadows
2018-01-05 20:57:59
Makin menarik.. ditunggu chapter berikutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook