VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Killers Chapter 11

2018-01-05 - Alien Queen
32 views | 10 komentar | nilai: 10 (5 user)

Pupil mata Sea menciut, ia baru saja membuat masalah baru pada Brave, ia langsung panik.

Pada mulut Brave mengalir darah dan benda kecil putih keluar dari mulutnya

"Kyaaa.. Ka..kamu berdarah."

"Gi..giginya sampai copot" Sea dan pria detektif itu yang terlihat sangat panik dengan apa yang dialami Brave, tentu saja hantaman pintu tadi begitu kuat, bahkan pintu kayu itu terlihat retak.

Sea reflek membuka pintu dengan sekuat tenaga, karna ia terburu-buru.

Tapi hanya mereka berdua yang terlihat panik, sementara Keana dan yang lainnya cuek dan tak peduli.

"Ma..maafkan aku." ia takut hukuman diatas ranjang benar-benar terjadi.

"Brave, kau tidak puas melihat dia panik?" ucap Keana datar.

"Lihatlah, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetaran." tambah Johan.

"Tenanglah, kamu jangan panik." Alice menepuk pundak Sea.

"Ta..tapi."

"Haah, Brave cuma bersandiwara, itu bukan darah. Tapi obat merah." ucap Aldora menerangkan.

"Apa?" mereka berdua melirik kearah Brave.

"Apa? Aku benar-benar terluka." Brave biasa saja, padahal jika benar-benar terluka, setidaknya dengan luka dan darah sebanyak itu. Sedikitnya dia meringis.

"Brave adalah prajurit terkuat di tempat kami, dia sudah menangkap dan menghabisi ratusan musuh. Jadi mana mungkin Brave akan terluka karena hal seperti itu." ucap Keana menjelaskan.

"Brave bukan tipe orang yang akan meringis karena luka." sambung Johan.

"Aduh.. Aduh.. Sakit sekali.." teriak Brave

"Lebay amat.!" bentak semua rekan Brave

"Hentikan sandiwaramu.!" bentak Aldora.

"Lihatlah Sea sudah ketakutan." ucap Keana

"Padahal kau tak pernah mengatakan apapun saat perutmu berlubang oleh beberapa peluru." gumam Johan.

"Hah, kalian tidak seru. Yasudah, aku udahan. Alice.." Alice membersihkan wajah Brave dengan saputangan.

"La,lalu benda apa yang putih itu?" tanya pria detektif.

"Ah, itu hanya permen ko."

"Hah."

"Ngomong-ngomong kenapa kamu datang tergesa-gesa? Ada apa?" tanya Alice yang selesai mengelap obat merah di wajah Brave.

"Ah.. Itu.. Anu.. Ah kenapa aku jadi gelagapan."

Alice dan yang lainnya memandang tajam kearah Brave.

"Apa?" tanya Brave tanpa rasa bersalah.

"Kau mengeluarkan aura intimidasi, kau kira kami tak merasakannya?" ucap Aldora. Hal itu ternyata berpengaruh besar pada Sea, tubuhnya terus gemetaran ketakutan dan ia tak bisa berbicara dengan jelas.

"Hah, aku tahu.." Brave menghilangkan aura nya, keadaan kembali normal. Dan malah meskipun semua orang tahu disana Brave masih berdiri, namun semua orang tak merasakan hawa keberadaan Brave.

"Nah, kamu katakan apa yang terjadi?" Alice dengan lembut menenangkan Sea, gadis cantik itu tampak sangat lembut dan penuh kasih sayang. Sangat tidak cocok jika dia memegang senjata.

"Saat aku memantau tempat kejadian, aku melihat seorang sniper. Dan aku mengejarnya. Dan sayangnya, dia lari sangat cepat. Aku kehilangan jejak."

Hal itu tentu membuat kaget, ternyata memang ada sniper.

"Lalu apa kau melihat wajahnya?" tanya Keana mendekati Sea. Ia menggeleng dan berkata

"Orang itu menutup wajahnya dengan kain, penampilannya serba hitam. Tapi dari perawakan tubuhnya, aku merasa bahwa dia adalah wanita. Meskipun tertutup pakaian hitam, tapi bentuk tubuhnya sangat jelas."

"Apakah seksi, padat dan berisi?" tanya Johan.

"Ya."

"Pinggul dan dadanya montok?" tanya johan lagi.

"Ya, eh tunggu dulu. Kenapa ana tahu."

"Sudah kuduga. Brave, orang itu.."

"Ya, cewek yang tertangkap waktu itu." ucap Brave.

"Hei mesum, kenapa kau tahu begitu rinci perawakan tubuhnya?"

"Ah itu, karna kita berdua memanangi tubuh wa.. Awa.. Aw.. Aw.." Keana menjewer telinga Johan dengan keras.

"Hoo.. Jadi kau tak menuruti apa yang kukatakan. Kau juga Brave.?" karna terlalu jauh jarak antara Keana dan Brave. Telinga Brave selamat.

"Nggak ko, aku cuma melihat sekilas, tidak seperti johan yang menatap sangat dekat dengan mata mesumnya. Bahkan air liurnya keluar seolah ingin menyantap wanita itu." ucap Brave membela diri.

"Oey, kau melebih-lebihkan.!"

"Hoo.." kedua telinga Johan ditarik sangat kencang.

"Hei nona interpol. Apa mereka benar-benar tentara pemerintahan?" tanya detektif pria dengan berbisik.

"Be..benar. Tapi aku juga tak menyangka mereka tak terlihat serius, tak seram pula"

"Dan kenapa kamu mau wajah kita seram?" tanya Alice.

"Eh.. E..enggak ko, bukan itu maksudku."

"Hei, ampun, ampun.. Aku minta maaf." teriak Johan.

Brave menghentakan kakinya dengan keras dan berkata dengan lantang

"Perhatian semuanya.!!" Alice, Johan, Aldora dan Keana berjajar dengan rapi, mereka membuka sedikit kaki dan menyimpan tangan dibelakang. Posisi istirahat di tempat. Mereka semua berdiri tegap. Hal itu membuat Sea dan detektif pria tercengang. Atmosfir ruangan itu tiba-tiba berubah drastis. Ini seperti tempat pelatihan militer.

"Karna target kita telah terbunuh. Maka misi kita kali ini dianggap gagal, detektif.!" Brave melirik kearah detektif pria.

"Ya kapten.!"

"Untuk masalah ini, saya serahkan semuanya kepada anda.!" Brave berkata dengan tegas, karisma pemimpinnya kini terlihat jelas.

"Baik.."

"Kapten brigadir 6. Perintahkan bawahan anda untuk mengurus semua ini. Tutup tempat kejadian dan jangan biarkan media meliput."

"Baik." Sea berdiri tegap dan memberi hormat, dalam hatinya berkata.

"Sebenarnya apa yang terjadi, orang ini tiba-tiba berubah. Seperti menjadi orang lain saja. selain itu, apa ini yang dikatakan perintah mutlak. Dia bukan atasanku, tapi aku dengan mudah menuruti ucapannya. Dan sejak kapan aku berdiri seperti ini sambil memberi hormat?"

"Itu saja yang ingin kukatakan, semuanya bubar." Brave meninggalkan ruangan. Diikuti yang lainnya, sementara Sea dan detektif itu masih linglung.

"Sea, apa yang kamu tunggu. Ayo pergi." Alice berseru di depan pintu ruangan.

"Ah iya." sea segera menyusul.
Setelah Sea melapor dan memberikan perintah pada bawahannya, Sea mengikuti Brave dan yang lain nya kembali ke apartemen.

"Brave, kenapa kita tak menyelidiki kematian orang itu?" tanya Keana yang kebetulan berada disamping Brave.

"Bukan urusan kita, dan aku terlalu malas untuk mengurusi hal seperti itu. Lagipula disana ada detektif," ucap Brave dengan malas.

"Cowok aneh." gumam sea pelan, ia berjalan paling belakang, tiba-tiba Brave menghentikan langkahnya dan melirik kearah Sea

"Eh? Apa.?" tanya Sea, seketika Brave melompat dan menyambar wanita itu.

"Awas.." sebuah peluru tertanam di aspal jalan.

"Sniper.." Aldora dan yang lainnya sembunyi dibalik pepohonan yang ada di pinggir trotoar tersebut. Brave yang mendekap Sea juga bersembunyi dibalik sebuah pohon besar.

"Orang ini, bagaimana bisa tahu?" Sea bertanya-tanya dalam hati, tangan kiri Brave erat melingkar di punggungnya hingga dada mereka bersentuhan erat.

"Brave.."

"Aku tahu." Sea hendak marah karna pria ini mengambil keuntungan darinya setelah menyelamatkan nyawa nya, namun melihat ekspresi Brave yang serius, ia mengurungkan niatnya dan diam saja.

Brave coba mengintip dan sebuah peluru melesat kearahnya, brave menarik kepalanya dan kembali bersembunyi. Tangan kanannya menarik pistol silver miliknya.

"Keana, tepat di arah timur, puncak gedung dan di belakang mobil merah tepat di parkiran." ucap Brave.

"Satu lagi di lantai 2, jendela yang terbuka." tambah Aldora.

"Aku ambil yang diparkiran." ucap Johan.

"Aku ambil yang di jendela." ucap Keana.

"Aku sniper di puncak gedung." Brave menyeringai, ia melepaskan tangannya dari Sea. Brave kini memegang dua buah pistol silver.

"Pistol itu." gumam Sea.

"Kau diam disini dan lihat kami." ucap Brave.

"Aku mulai." Brave, Keana dan Johan segera beraksi.

"Kami akan melindungi kalian." ucap Alice, Aldora mengangguk.

Keana melompat maju dan menggulingkan tubuhnya ke belakang pot tanaman yang besar sambil menembak.

Hujan peluru menuju kearahnya, namun Keana sudah bersembunyi.

Alice dan Aldora menembak.

Johan naik keatas pohon dan fokus pada mangsanya, meskipun hanya handgun sebagai senjatanya, namun bukan berarti ia tak dapat mengalahkan sniper.

Sebuah letupan senjata terdengar.

3 letupan pistol terdengar lagi, penembak yang berada di belakang mobil dan di di jendela berhenti, sepertinya mereka kena.

Brave keluar dari sembunyi nya dan mengayunkan pistolnya bersamaan kedepan sambil menarik pelatuknya.

Dengan gerakan lambat, dua buah peluru melesat ke kiri dan peluru satunya ke kanan. Tentu hal itu adalah hal mustahil terjadi.

Karna musuh ada di depan, namun inilah kemampuan luar biasa yang dimiliki Brave, peluru itu berbelok, membuat lintasan 180 derajat dengan diameter jarak antara Brave dan sniper itu.

Peluru kiri tepat mengenai bahu si sniper, peluru kanan hendak mengenai leher si sniper namun seseorang manangkisnya dengan gerakan super cepat pula.

"Apa?" Brave kaget, harusnya peluru kiri menembus leher si sniper, namun orang itu memiliki reflek yang bagus. Ia bergerak sedikit hingga peluru mengenai bahu nya. Membuat kerusakan kecil untuk mengantisipasi kerusakan besar.

Dan peluru kanan, harusnya dengan ukuran dan kecepatan peluru, tak akan ada orang yang dapat melihatnya apalagi menangkisnya menggunakan belati.

Brave terperanjat dengan hal itu, musuhnya kali ini adalah pembunuh pro.

Di tempat si penembak.

"Kita mundur, orang itu berbahaya." wanita yang memegang belati menarik si sniper.

"Brave." Aldora dan yang lainnya berjalan menuju kearah Brave.

"Mereka hebat." ucap Brave.

"Kau tertembak." ucap Keana, semuanya sangat kaget, pasalnya ini pertama kalinya Brave tertembak oleh musuh. Meskipun ia beberapa kali tertembak oleh Gil dan Austina, tapi Brave selama ini belum pernah tertembak oleh musuh.

Terlihat pada bahu kiri Brave di dekat lengan atas, mengalir darah. Brave yang memakai jaket hitam saat itu membuat tak terlihat bekas tembakannya. Jika saja Keana tidak jeli, pasti tak ada yang tahu jika Brave tertembak.

"Kita kembali." ucap Brave pelan, ia mengantongi kembali kedua pistol silvernya.

Bersambung.

Ternyata ada yang suka dengan cerita ini, dan bagi pendatang baru yang katanya penasaran dengan chapter sebelumnya. Aku kasih linknya dibawah.

The Killers Chapter 01
The Killers Chapter 02.
The Killers Chapter 03
The Killers Chapter 04
The Killers Chapter 05
The Killers Chapter 06
The Killers Chapter 07
The Killers Chapter 08
The Killers Chapter 09
The Killers Chapter 10

Dan ini cerbung awal cerita nya.

KILLER

Bocah Redoks
2018-01-05 22:43:54
Kok pas bayangin si brave yg terlintas malah muka Silvester Stallone yah
Zen Kureno
2018-01-05 13:18:32
Kita lihat para pemain pro bermain
Zen Kureno
2018-01-05 13:18:15
Kita lihat para pemain prk
Takashi Draylus
2018-01-05 12:29:54
wow, apa brave kebal? di tunggu lanjutannya!
Sqouts Shadows
2018-01-05 10:44:14
Sepertinya bakal jadi rival yang bertolak belakang antara jill dan brave
Irwan Syah
2018-01-05 10:18:45
padahal brave kena peluru tapi dia seperti tidak merasakan apa-apa. sakti ditunggu chapter berikutnya
Muhammad Faisal
2018-01-05 09:26:46
Ditunggu lanjutannya.
Romusa 13
2018-01-05 08:57:44
lanjutkan
Lord Dark
2018-01-05 08:24:43
Seru.. Lanjut
Tatsuya
2018-01-05 07:21:18
Yang nangkis peluru dgn belati tadi pasti jill,ee apa nanti jika brave akan bertarung dengan jill jika mereka ketemu ?.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook