VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Killers Chapter 10.

2018-01-01 - Alien Queen
44 views | 9 komentar | nilai: 10 (6 user)

Tengah kota halaman gedung,
disana terdapat banyak orang yang berkumpul di sebuah halaman bangunan mewah. Seorang pria berdiri diatas mimbar, sekelilingnya terdapap banyak bodyguard yang mengawal, terdapat sekitar 10 bodyguard dan diantaranya 4 wanita menjadi bodyguard.

"Hmm sangat ramai yah." ucap Johan yang duduk diatap bangunan lain yang agak jauh dari lokasi kerumunan itu, tepatnya diatas dinding pembatas, angin berhembus meniup rambut dan pakaiannya.

"Jadi dia orangnya?" ujar Keana yang berdiri dan menggunakan teropong untuk melihat sesosok pria yang berdiri diatas mimbar. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin.

"Seperti itulah, Thomas Wilson, salah satu dari mantan tentara berpangkat tinggi. Dia memiliki banyak informasi tentang para pemberontak. Laporan baru tiba kemarin." jelas Brave yang tiduran di tempat itu, ia melipat kedua tangannya dibelakang kepala dan menjadikan nya sebagai bantal.

"Apa yang dia lakukan disana?" tanya Alice.

"Kurasa dia sedang mengadakan kampanye." jawab Aldora yang duduk di dinding pembatas, ia menggunakan tangannya layaknya seperti sedang hormat mengamati kumpulan banyak orang.

"Apa yang akan kita lakukan Brave?" tanya Keana pada Brave yang belum beranjak dari posisi tidurannya.

"Hoaamm, kita bergabung dengan para warga kota untuk mendekat, setelah itu kita pikirkan nanti, bisa jadi sergap dia setelah ocehannya selesai." ujar Brave dengan malas.

"Ayolah yang serius, kita tidak boleh main-main, ini kesempatan yang bagus." ujar Aldora sambil turun dan menggoyangkan tubuh Brave.

"Hei,hei.. Apa-apaan kau ini? Hentikan, tubuhku nggak linu-linu gara-gara semalam."

"Aldora benar, kita harus bertindak dengan serius." ucap Johan.

"Kurasa Brave benar, kita sebaiknya kesana untuk mendekati pria itu." ucap Alice yang setuju dengan Brave.

"Eh kenapa kau setuju padanya?" tanya Keana.

"Daripada kita hanya diam saja? Lagipula Sea sudah memantau daritadi." jawab Alice sedikit senyum.

"Haah Baiklah, ayo kita kesana." ucap Keana dengan menghembuskan navas berat. Di tempat lain, Sea memantau daerah sekitar.

"Sejauh ini tak ada yang mencurigakan." ia fokus menelusuri situasi.

"Sea, bagaimana keadaan disana?" tanya Brave menghubungi.

"Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan, situasi aman."

Diatas mimbar, saat pria itu sedang berpidato, tiba-tiba.

Dor... Terdengar suara letupan sebuah tembakan.

"Aaaaa..." seketika semua orang disana langsung panik.

Dor.... Dor....

Letusan kedua dan ketiga terdengar dan dua orang bodyguard wanita jatuh seketika, hal itu membuat semua orang berlarian.

"Apa?" sea panik, ia melihat ke sekitar.

Para bodyguard pun mengambil pistol dibalik saku jas mereka dan menodongkan pistol. Mereka mencari asal tembakan, mereka melirik kesana kemari. Dua orang bodyguard mengamankan pria bernama Thomas itu.

"Tuan, ikuti kami, kami akan melindungimu."

Ditempat Brave. Mereka semua sudah turun dari gedung dan sedang berlari di trotoar jalan

"Aman dengkulmu, tadi itu suara tembakan oey." Brave membentak

"Aku tak tahu, semua terjadi terlalu cepat, aku tak sempat memberikan kabar." balas Sea yang terus mengawasi. Sementara Brave dan yang lainnya bergegas.

"Apa yang terjadi?" tanya Alice, mereka semua berlari menuju mimbar. Terlihat banyak orang berlarian kesana dan kemari, mereka menghalangi jalan Brave dan yang lainnya.

"Entahlah, tapi ada suara tembakan terdengar dan Sea pun tak tahu apa yang telah terjadi." jawab Brave, terlihat mereka berlari menembus orang- orang.

"Apapun itu, kita harus bergegas sebelum target kita pergi.!" balas Keana

Dor..

Sebuah letusan tembakan kembali terdengar. dan Thomas pun tumbang, ia tertembak tepat di kepala bagian kiri, tepatnya diatas telinga kiri.

Tak ada yang menyadari hal itu karna semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Para polisi pun berdatangan, mereka mulai mengamankan keadaan dan mencari sumber tembakan.

"Tuan, tetap berada dibelakangku Eh tuan.." salah satu bodyguard melihat kearah Thomas yang sudah terkapar tak bernyawa.

"Tuan Thomas telah tewas, cari siapa pelakunya."

"Mudah sekali, hah meskipun dua wanita tak berdosa jadi korban." gumam seorang wanita. Menurunkan senjatanya.

"Disana." Sea melihat orang itu, ia segera mengeluarkan handgun nya dan

Dor.. Dor..

Tembakkan meleset, wanita itu pun segera melarikan diri karna ketahuan aksinya.

"Oey tunggu.." Sea segera mengejar, ia memaksakan melompati bangunan

Brave dan yang lainnya sudah berada di halaman gedung, namun belum sampai ke TKP. Brave berlari paling belakang, tak jauh di depannya terlihat seorang wanita berpakaian rapi, dan yah itulah salah satu bodyguard wanita yang mengawal Thomas, ia berjalan santai menjauhi TKP.

Saat Brave akan melewati bodyguard itu, namun tiba-tiba angin meniup rambut yang menutupi keningnya.

Terlihat di kening bodyguard itu terdapat bekas luka. Mereka pun saling melewati begitu saja, namun Brave langsung menghentikan langkahnya.

"Bekas luka itu... Jill." Brave mengingat bekas luka di kening wanita itu, bekas luka yang percis dimiliki oleh Jill. Reflek Brave berbalik, namun sosok wanita tadi telah menghilang ditelan lautan manusia yang berlari kesana kemari.

"Jill, apakah itu kau?" pikir Brave yang melihat kesana kemari dan mencari sosok wanita itu.

"Brave, apa yang kau tunggu. Ayo kesana?" teriak Keana dari kejauhan.

"Aku segera kesana." Brave pun berjalan dan kemudian berlari.

"Apa-apaan itu? Apa benar dia Jill temanku, tapi aku benar-benar tak mengenalnya." pikir Brave yang berlari menyusul teman-temannya.

Disisi Sea, ia kini berlari menyusuri jalanan sempit, tersangka yang dari kejauhan memakai pakaian serba hitam membawa tas yang berisi senapan.

"Tunggu.."Sea menghentikan langkahnya coba mengarahkan pistolnya. Namun terlalu banyak orang, hal itu sangat berbahaya apabila ia meleset kemungkinan warga sipil tak berdosa bisa jadi korban,

"Tcih, ini buruk." Sea membatalkan untuk menembak dan memutusukan kembali mengejar.

Setelah Keana, Aldora, Alice dan Johan tiba. Terlihat 3 orang mayat terkapar bersimbah darah, dikelilingi polisi dan bodyguard.

"Siapa kalian?" tanya seorang polisi.

"Tentara militer, kami dari pemerintahan." ujar Johan menunjukan tanda pengenalnya.

"Tentara yang itu yah."

"Kami ingin bertemu Thomas Wilson." ucap Keana.

"Maaf, tuan dan nona, tapi tuan Thomas Wilson telah meninggal."

"Apa?" kaget mereka berempat. Mereka pun menuju kearah 3 mayat yang tak jauh di depan mereka. Tak lama Brave pun datang.

"Dimana Thomas Wilson?" tanya Brave. Ia terlihat terengah engah. Keana hanya melirik kearah 3 mayat yang telah di jajarkan.

"Kau, kenapa kau terlambat Brave?" tanya Aldora.

"Emm.. Itu tidak penting, lalu kenapa dia bisa mati?" tanya Brave.

"Suara tembakan tadi, itu adalah tembakan yang membunuh mereka bertiga." jawab Johan.

"Saat ini para polisi dan bodyguard sedang mencari sumber tembakan dan pelakunya." lanjut Alice.

"Percuma, pelakunya sudah melarikan diri." ucap Brave.

"Eh... Kenapa kau bisa tahu?" tanya Keana pada Brave.

"Jika penjagaan seketat ini, kemungkinan pelaku menembak para korban nya dengan jarak jauh. Setelah semua orang berlarian, pelaku melarikan diri. Itu dugaanku." jelas Brave.

"Perkiraanmu bisa saja salah Brave." ucap Keana.

"Tidak, baru saja Sea juga melapor, ia sedang mengejar seseorang yang mencurigakan, orang itu membawa senjata jenis senapan."

"Lalu apa dia menangkapnya?"

"Entahlah."

"Hm, benar juga, apapun itu kita urus dulu para mayatnya." ucap Aldora.

"Saya akan memanggil detektif, dan kau panggil ambulan." ucap seorang polisi, ia juga menunjuk pada bawahannya.

"Bagaimana Brave?" tanya Alice yang berjalan ke arah Brave.

"Hah mau bagaimana lagi, sasaran kita sudah mati. Jika orang menyebalkan itu meminta, maka kita harus ikut menyelidiki kematian pria ini dan ikut mencari pelakunya." ucap Brave dengan malas, ia menggaruk belakang kepalanya.

"Hah, baiklah jika hal itu keputusanmu."

Time skip,
di ruang otopsi. Terlihat beberapa peluru berada di dalam mangkuk logam.

"Peluru ini, sudah kuduga." pikir Brave.

"Kita mulai penyelidikannya, dari kedalaman peluru menembus kepala korban, kurasa senjata yang digunakan adalah sniper." ucap seorang pria menyelidiki.

"Tapi di TKP terdengar beberapa suara letusan tembakan, sniper tak menghasilkan suara sekeras itu." sanggah Keana.

"Cih, dugaanku benar. Pria menyebalkan itu menugaskan kita untuk menyelidiki kematian orang kaya ini, padahal aku juga punya banyak urusan." pikir Brave yang berdiri bersandar di dinding dekat pintu masuk.

"Bisa jadi tapi...." ucapan Brave terhenti ketika pintu tiba-tiba saja terbuka dan menghantam wajahnya dengan keras.

"Hah..hah..hah.. Maaf aku terlambat." Sea terengah-engah dan membungkuk. Tubuhnya bermandikan keringat.

"Oh.." semua tatapan mengarah pada sea dan memandangnya datar.

"Apa?" tanya Sea yang mengangkat wajahnya.

"Sepertinya kamu akan dapat masalah lagi." Alice menunjuk kesisi kanan Sea, tepatnya kearah Brave, saat pintu ditutup.

"Kurasa kau melakukannya dengan sengaja." ucap Brave dengan hidung yang berdarah dan mulutnya juga.


Takashi
2018-01-07 02:49:04
Numpang komen lagi
Takashi
2018-01-03 03:42:26
Haha, kasihan kau brave
Romusa 13
2018-01-02 06:29:32
Kya'y cma sea yg bisa bikin apes brave deh
Hiatus
2018-01-01 22:50:31
Ko hampir sama ya kek chap berapa gitu
Irwan Syah
2018-01-01 12:53:21
waduh... sea membuat ulah lagi ditunggu chapter berikutnya
Tatsuya
2018-01-01 11:08:02
Kasihan brave,pasti sakit
Sqouts Shadows
2018-01-01 10:23:10
Ditunggu chapter berikutnya
KazutoWalker
2018-01-01 10:02:10
Lanjutkan
Zen Kureno
2018-01-01 08:41:56
Kaya pernah Baca aja???
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook