VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Magic Phone Chapter 6

2018-01-03 - Newbie Karbitan
41 views | 5 komentar | nilai: 10 (3 user)

"Aku kira aku akan mati..."

Anna dan Lawliet baru saja dirampok. Mereka berdua bahkan dilempar dari Balon Udara. Saat terjatuh Anna sempat menggunakan sihir gelembung untuk membungkus dirinya sehingga dia tidak sempat terjatuh. Berbeda dengan Lawliet yg tidak memiliki kemampuan untuk melindungi diri, dia terjatuh dengan keadaan menyedihkan dan sempat tersangkut di pohon sebelum terjatuh ke tanah.

"Kau tidak apa-apa... Maaf aku tidak sempat menyelamatkanmu."

Gelembung yg membungkus tubuh Anna pecah, ia pun mendarat di tanah. Barang bawaan mereka berserakan di tanah. Meski tidak ada barang yg dirampok, namun mereka kehilangan alat transportasi mereka. Tanpa Balon Udara, untuk pergi ke Ibukota akan memakan waktu yg lama. Jika mereka menyewa lagi Balon Udara akan memakan biaya yg besar.

"Magic Phone milikku hilang..."

Lawliet kehilangan Magic Phone miliknya. Ia sudah mencari kemana-mana, namun tidak berhasil menemukannya.

"Kau tidak perlu repot-repot mencarinya."

Anna membuka telapak tangannya dan berkata "Kembali"

Magic Phone miliknya tiba-tiba muncul di tangannya.

"Magic Phone adalah bagian dari jiwa pemiliknya. Kau tidak perlu takut kehilangannya, kau cukup memanggilnya kembali, maka Magic Phone tersebut akan kembali dengan sendirinya. Itulah kenapa Magic Phone tidak bisa dicuri."

Lawliet kemudian memanggil Magic Phone miliknya kembali.

Anna menatap ke arah langit. Balon Udara mereka yg telah dirampok perlahan menghilang dari pandangan.

"Sekarang terpaksa kita jalan kaki saja. Mungkin akan memakan waktu yg lama untuk sampai di Ibukota."

"Kenapa kita tidak mengejarnya saja?"

"Kau lihat sendiri kan, kemampuan gadis itu... Kita berdua tidak sebanding dengannya."

Mereka pun terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

"Nasib kita sungguh sial..." gerutu Lawliet.

Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, Lawliet lalu melirik Anna. Ia terlihat melamun, tidak seperti biasanya.

"Anna..."

"Eh!? Ada apa?" kaget Anna, suaranya sedikit bergetar.

"Kenapa dari tadi kau melamun? Apa kau memikirkan hal yg jorok?"

"Tentu saja tidak!!!"

"Jangan marah begitu, aku hanya bercanda..." Lawliet tertawa kecil melihat tingkah laku Anna.

"Kenapa kau tertawa?"

"Aku hanya tidak menduga kalau kau..."

Lawliet tidak meneruskan perkataannya dan tertawa kecil.

"Diam!!! Kalau kau membahas itu lagi, aku akan membunuhmu!!!"

"Baik..."

Suara raungan serigala tiba-tiba terdengar. Suara itu begitu menggema dan membawa aura dingin membunuh. Langkah mereka terhenti, kewaspadaan mereka meningkat, mengingat sekarang mereka berada di tengah hutan, tempat dimana banyak hewan buas tinggal. Setelah sempat berhenti, mereka kembali meneruskan perjalanan tanpa mengurangi sedikit pun kewaspadaan mereka.

Tiba-tiba sebuah siluet serigala besar menerjang kearah mereka. Bukan hanya satu tapi empat ekor serigala. Serigala tersebut memiliki sebuah tanduk di kepalanya dan ukuran tubuh mereka menyerupai Singa.

Anna dengan cepat menembakan gelembung-gelumbung air.

Boomm!!!
Boomm!!!

Keempat serigala itu terpental oleh ledakan gelembung tersebut. Namun serigala itu memiliki daya tahan tubuh yg kuat. Mereka bahkan sama sekali tidak mendapatkan luka.

"Merepotkan sekali..."

Anna lalu menciptakan gelembung berukuran besar. Gelembung itu membungkus tubuh serigala itu lalu menerbangkannya sejauh mungkin.

"Hei... Setidaknya sisakan aku satu."

"Kau masih pemula, biar aku saja yg mengurus para monster." ucap Anna dengan nada meremehkan.

Sepanjang perjalan mereka berdua selalu bertemu dengan beberapa monster. Meski monster yg mereka hadapi rata-rata berlevel rendah, tidak ada kesulitan bagi mereka sedikitpun, meski Lalwiet awalnya belum terbiasa dengan sihirnya, sejauh ini tidak ada kendala apapun padanya.

"Hell Storm!!!"

Seekor Babi hutan berukuran besar tersayat-sayat hingga sekarat.

"Bagaimana kalau kita panggang Babi ini?"

"Aku tidak suka Babi... Apalagi Babi ini jelek." Anna menatap Babi itu dengan tatapan jijik, ia sangat tidak suka dengan Babi.

"Memang kenapa kalau Babi ini jelek, yg penting rasanya enak."

"Tidak... Wajahnya saja jelek, pasti rasanya juga tidak enak." Anna tetap bersikeras tidak mau makan Babi.

"Baiklah kalau kau tidak mau makan, sebaiknya kita cari hewan lain saja untuk dimakan."

"Kenapa tidak kau sendiri saja yg memakannya?" tanya Anna.

"Aku tidak mau memakannya..."

"Bukannya kau sangay ingin memakannya tadi!!!"

"Aku baru ingat kalau daging Babi itu sangat berlemak dan tak baik untuk kesehatan. Juga daging Babi mengandung cacing pita, jadi sangat berbahaya untuk dikonsumsi."

"Dasar..."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Setelah Balon Udara mereka dirampok, Anna dan Lawliet terpaksa berjalan kaki. Mereka saat ini masih berada di dalam hutan.

Lawliet kemudian menemukan pintu masuk sebuah Dungeon.

"Anna, lihat itu..." Lawliet menunjuk ke arah Pintu masuk Dungeon tersebut.

"Itu kan... Sebuah Dungeon."

"Aku tak menyangka kita bisa menemukan sebuah Dungeon disini." Lawliet tampak sangat antusias.

Lawliet jadi tertarik memasuki Dungeon tersebut.

"Bagaimana kalau kita memasukinya?"

"Sayang sekali kita tidak ada waktu untuk kesana. Tujuan kita saat ini adalah pergi ke Ibukota." Anna kembali mengingatkan Lawliet.

"Padahal aku ingin sekali masuk kesana."

Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari dalam Dungeon tersebut. Suara seseorang meminta tolong.

"Ada suara orang minta tolong."

"Sepertinya ada orang disana."

Siluet seorang pria terlihat sedang merangkak. Pria itu terlihat lemah, ia sepertinya berusaha sekuat mungkin untuk keluar dari Dungeon tersebut.

"Ada orang disana..."

"Apa dia terluka?"

Mereka lalu bergegas menuju Pria tersebut.

"Kau tidak apa-apa..."

Melihat Lawliet dan Anna mendekat. Pria itu mengulurkan tangannya. Tububnya tampak bergetar.

"T-tolong aku... Aku sudah tak kuat lagi..."

"Apa kau terluka?"

"A-ku... Tidak... Kuat... Lagi..."

Pria itu lalu tak sadarkan diri.

"Apa dia mati?"

"Tidak, dia hanya pingsan saja." Anna memeriksa Pria tersebut.

"Sebenarnya apa yg sedang terjadi dengan Pria ini." Lawliet mengalihkan pandangannya ke dalam Dungeon yg gelap.

Suara lirih meminta tolong terdengar kembali.

"T-tolong...."

"Ada yg meminta tolong lagi."

Mereka berdua kembali bergegas menuju asal suara itu. Seorang Pria tergeletak di tanah. Wajahnya begitu pucat, tubuhnya begitu gemetaran.

"Apa yg terjadi denganmu?"

"Apa kau terluka?"

Tatapan Pria itu menjadi kosong, hingga beberapa saat ia seperti tersadar kembali.

"Tolong temanku... Tolong dia..."

"Temanmu?"

"Dia... Masih di dalam, tolong dia..."

"Apa kalian diserang monster? Hei bertahanlah..."

Pria itu seperinya sudah mencapai batasnya.

"Jangan pedulikan aku... Cepat selamatkan temanku..."

"Ayo kita bergegas ke sana.." Anna lalu masuk ke dalam Dungeon diikuti Lawliet.

"Dungeon ini gelap sekali..."

"Lawliet jangan menabrakku..."

"Maaf aku tak sengaja..."

Mereka kemudian sampai disebuah ruangan yg sangat luas. Disana cukup terang karena terpasang banyak obor di dinding. Mereka menemukan seorang pria tergeletak disana.

Saat hendak menolong pria itu, Mereka begitu kagey dengan apa yg ada di hadapan mereka.

"Apa ini?"

"Perasaanku mulai tak enak..."

Mereka kaget sekaligus bingung dengan apa yg ada di hadapan mereka.

Sekelompok orang yg terlihat seperti para bandit menyeringai melihatn kedatangan Anna dan Lawliet.

Tidak jauh dari tempat Pria yg tergeletak itu, terdapat sebuah meja panjang yg diatasnya ada piring besar yg penuh dengan jamur.

"Sepertinya kita kedatangan tamu lagi..." ucap seorang Pria yg sepertinya pemimpin kelompok itu.

"Siapa kalian?" Anna telah bersiap menghadapi mereka.

"Tenanglah, Anna... Ini sepertinya bukan masalah besar."

Lawliet lalu menunjuk piring besar yg penuh dengan jamur diatas meja.

"Jamur apa itu?"

"Entahlah, kami juga tak tahu nama jamur ini... Yang jelas ini jamur beracun."

"Pria yg tergeletak itu..."

"Dia kalah taruhan dengan kami..."

"Kalah taruhan?" Anna memiringkan kepalanya karena bingung.

Mereka lalu menjelaskan situasinya. Rupanya mereka sedang taruhan dengan mengadakan lomba makan jamur beracun. Siapa yg kalah harus menyerahkan semua barang bawaannya. Efek dari jamur beracun itu adalah diare hebat selama beberapa hari.

"Hahaha... Begitulah, mereka telah kalah dalam permainan ini."

Pria yg tergeletak itu perlahan berdiri dengan kaki gemetar.

"Sial... Aku sudah keluar... Aku harus..."

Croot... Croot... Croot...

"Sial... Kenapa ini keluar lagi..."

Pria itu langsung berlari keluar.

Anna menutup hidungnya dengan jijik.

"Kalian ini sebenarnya siapa?" tanya Lawliet.

"Kami adalah penguasa Dungeon ini... Siapapun yg memasuki Dungeon ini harus menerima tantangan kami."

"Lawliet sebaiknya kita pergi dari."

"Benar juga... Kita tidak ada keperluan disini.."

Sesaat mereka hendak pergi...

"Tunggu dulu..."

"Kami tidak tertarik dengan permainan kalian." Anna sudah menduga mereka akan mengajak taruhan.

"Bagaimana kalau kalian menerima tantangan kami? Jika kalian menang maka kami akan memberikan semua harta kami."

Anna mulai tertarik.

"Dungeon ini penuh dengan harta karun. Kami akan memberikannya jika kalian menang."

Mereka kemudian menyeringai sembari tertawa.

"Tapi... Jika kalian kalah. Kalian harus menyerahkan seluruh barang yg kalian punya."

Anna pun tersenyum, ia tampak tidak takut sama sekali.

"Aku terima tantanganmu..."

"Anna, apa kau gila? Apa kau ingin senasib dengan ketiga Pria tadi."

Namun Anna tidak mendengarkan perkataan Lawliet dan melangkah maju.

"Tantangannya menghabiskan jamur ini kan?"

"Benar sekali... Kau harus menghabiskan jamur itu."

"Baiklah aku terima... Lawliet majulah..."

"Heh!? Kenapa aku? Bukannya kau yg menerima tantangan itu?"

"Aku ini perempuan... Kalau aku terlalu banyak makan nanti aku bisa gendut."

"Itu bukan urusanku!!!" teriak Lawliet.

"Sudah jangan cerewet, wakili aku... Masalah racun, kau tidak perlu khawatir."

"Sial... Kenapa harus aku yg melakukannyaa."

"Apa kau takut bocah?"

Mereka menertawakan Lawliet.

Anna segera membisiki Lawliet.

"Kau tidak perlu dengan jamur itu. Kau tidak akan keracunan, serahkan semuanya padaku."

Mau mau tak mau akhirnya Lawliet pun menerima tantangan itu.

"Baiklah aku bersedia...."

.
.
.

Bocah Redoks
2018-01-03 21:16:24
Ini jelek nya kalau seperjalanan dengan perempuan. Pasti d manfaatin
Takashi
2018-01-03 10:33:13
Anjir, kenapa harus diare??
KazutoWalker
2018-01-03 08:21:42
Lnjut
Sqouts Shadows
2018-01-03 06:33:20
Apa yang akan dilakukan anna dengan jamur itu?? Ditunggu chapter berikutnya
Bagussensei
2018-01-03 05:32:15
Lanjutkan
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook