VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Killer and Phsychopath 07

2017-12-06 - Aerilyn Shilaexs
38 views | 2 komentar

4 tahun setelah kematian Glen, July menjalani kehidupan tanpa arah dan sesuka hatinya.

Tempat hiburan malam

July minum-minum hingga ia mabuk, datang lah seorang pria dan duduk disampingnya.

"Minuman seperti ini tak pantas untukmu." ia membuka percakapan.

"Inspektur ternyata, ada apa kau menemuiku? Apa ada target lagi?"

"Tidak, tidak. Aku hanya ingin mengobrol dengan teman saja, tidak ada salahnya bukan?"

"Terserah." July hendak meminum segelas minuman, namun pria itu menahannya.

"Bagaimana jika kita jalan-jalan, anggap saja patroli."

"Haaaa, bukannya itu seperti kencan? "

"Ahahaha.."

"Mana mungkin hal itu terjadi, polisi berkencan dengan penjahat. Mendengarnya saja sudah sangat menggelikan."

"Hey ayolah, Kenny juga akan bersama kita ko, dia sudah menunggu di mobil."

"Hah, cewek tukang ngatur itu yah, yasudah ayo pergi." July beranjak dari duduknya. Pria tersebut pun hendak beranjak namun.

"Oh iya, bayarkan minumanku ya." July melambai dan pergi.

"A-apa? Hah dasar wanita itu."

"Kehidupanku yang sekarang sangat membosankan, aku dibiarkan hidup oleh polisi setelah puluhan orang yang kubunuh. Padahal aku berharap mereka menembakku saja saat itu.

Sekarang, aku harus membayar untuk pengampunan nyawaku, yaitu jadi anjing polisi. Sungguh sangat rendah sekali aku ini, tapi mau bagaimana lagi. Selain itu, dengan bertambahnya korban. Aku malah makin menyukai untuk mengambil nyawa orang-orang.

Perasaan ini, lebih kuat dan lebih liar dari waktu aku masih remaja. Adrenalin ku, semangatku, ambisiku untuk membunuh begitu besar. Para polisi itu memanfaatkanku untuk mengeksekusi penjahat hukuman mati. Ah sial, aku sangat kesal karena aku tak keberatan dengan hal itu."

July berjalan menuju parkiran, tiba-tiba saja seorang menyerangnya dari belakang.

Meskipun dalam keadaan mabuk, instingnya tetap tajam dan reflek tubuhnya juga bagus sehingga ia dengan mudah menghindari serangan. July berbalik, orang itu meninju July, ia menahan dengan menyilangkan tangannya.

July kemudian mengayunkan kakinya kearah orang itu.

Pertarungan dengan gerakan cepat pun terjadi, hingga July berhasil mengunci gerakan tubuh orang itu dengan menarik tangan kanannya kebelakang dan menodongkan pisau tepat dileher orang itu.

"Baiklah aku menyerah." suara wanita terdengar.

"Tcih, payah kau Kenny." July melepaskan gadis tersebut dengan mendorongnya hingga jatuh.

"Aw, hei. Jadi wanita itu jangan kasar," Kenny berdiri. July menyimpan kembali pisaunya dibalik jaket yang ia kenakan.

"Apa masalahmu ha? Idiot."

"Dan jaga bahasamu itu, tidak baik wanita berbicara seperti itu.!" Kenny membentak July.

"Jangan mengaturku.!" July balik membentak.

"Oey-oey ada apa ini? Pertengkaran dua gadis memperebutkan inspektur tampan sepertiku. Hoo aku sangat tersanjung." July dan Kenny menatap kearah pria tersebut.

"Kenapa kau ini susah sekali dinasehati sih.! Dan penampilan mu itu, kau tak kelihatan seperti wanita tahu.!" Kenny kembali mengomel.

"Memangnya kenapa ha? Penampilanku tak ada hubungannya denganmu.! Jadi tutup mulutmu.!"

"Aku hanya ingin kau lebih baik itu saja.!"

"Kenapa? Aku tak perlu berpenampilan rapi atau berpenampilan layaknya wanita. Aku bukan polisi yang disiplin, aku hanya pembunuh.!"

"Tetap saja, sekarang kau bersama kami.! Jadi penampilanmu juga harus.."

"Ah diamlah.! Cepat belikan aku susu.!" mereka berdua saling membentak dan memarahi.

"Aku diabaikan." Edgar berjalan tertunduk menuju mobil jeep yang terparkir.

.....

Didalam mobil yang tengah melaju.

"Hah, susu macam apa ini, hambar sekali." July menggerutu, ia duduk dikursi belakang dengan mengangkat kedua kakinya, atau tepatnya meluruskan kakinya kedepan.

"Turunkan kakimu July, apa wanita pantas duduk seperti itu.?!"

"Aku akan melemparmu keluar jika kau mengaturku lagi.!"

"Kuh.! Kau ini otak otot, susah sekali dinasehati yah."

"Aku tak butuh ocehan tak pentingmu itu.!"

"Hei..hei sudahlah, berhentilah bertengkar dan saling meneriaki. Telingaku sakit." Edgar yang mengemudi mencoba melerai.

"Aku mau tidur, bangunkan aku jika kalian sudah selesai patroli nya." July mengubah posisinya menyamping dan merebahkan diri, ia kemudian menutup matanya. Kedua kakinya terangkat keatas, ia menyilangkan tangannya dibelakang kepala untuk bantal.

"Hah, bahkan saat tidur pun. Dia seenaknya, apa nyaman tidur dengan posisi seperti itu.?" Kenny menghela napas, ia memandang July sekilas lalu tatapannya tertuju kedepan.

.....

Ditempat lain
Didalam kamar hotel.

Seorang wanita mendesah heba seolah sedang melakukan sex, padahal ia sedang menusuk-nusuk tubuh seorang pria telanjang diatas ranjang.

Wanita tersebut juga hanya memakai pakaian dalam saja.. Belati yang ia gunakan begitu tajam, hingga saat menusuk tubuh pria tersebut pun seolah menusuk mentega. Seorang pria membuka pintu kamar mandi.

"Woah, kalian begitu sema..." ucapannya terhenti saat melihat pemandangan mengerikan tersebut. Dibalik pintu kamar mandi seorang wanita lain tersenyum menyeringai, ia memukul belakang leher pria tersebut.

Pria itu jatuh terkapar, tapi masih sadarkan diri.

"Lisel, apa aku boleh bermain dengan pria ini?" tanya Luvia dengan senyum manis.

"Tentu saja Luvia, kau boleh melakukan apapun padanya." Lisel tersenyum menyeramkan, dengan tubuh bersimbah darah menambah seram penampilannya. Meskipun ia hanya memakai pakaian dalam saja.

"Ka..kalian.. Psikopat.."

"Ah terimakasih banyak atas pujiannya."

Tanpa belas kasih sedikitpun, Luvia yang duduk diatas punggung pria yang hanya memakai handuk tersebut, tersenyum menyeringai. Ia mengambil pisau lipat dan mengiris kulit punggung pria tersebut.

Teriakan pria malang itu seolah menambah kesenangannya dalam acara penyiksaan yang dilakukannya. Saat kulit terbuka, darah mengalir dari luka tersebut.

"Luvia, jika ditaburi garam apa dia akan berteriak?" Lisel turun dari ranjang dan memainkan belatinya dengan tangan kanan.

"Ha, bagus juga, tolong ambilkan. Aku akan membuat beberapa ukiran disini."

"Aaaarrghh.. Sial, kalian sudah ti..."

"Oups.. Aku sudah cukup mendengar teriakan nyaring dan tak enak didengar itu." Luvia menyumpal mulut pria tersebut dengan potongan usus jasad pria diatas ranjang.

"Aku hanya ingin kau meronta dan merasakan penderitaan sebelum kau mati." Luvia tersenyum manis. Ia beranjak dari duduknya.

"Oh iya, pisau lipat ini sudah kucuci dengan cairan beracun," ekspresi pria tersebut berubah seketika ketika mendengar pernyataan itu, karena entah berapa banyak luka sayatan pada punggungnya.

"Jangan memasang wajah seperti itu, racun itu tak akan membunuh mu ko. Hanya mematikan kerja otot-ototmu agar kau tak bisa bergerak. Dan fungsi kedua racun ini, adalah untuk membuat urat syaraf mu lebih sensitif agar rasa sakit yang kau rasakan berlipat ganda."

"Hai hai.. Ini garam nya.." Lisel datang dari dapur membawa garam.

"Baiklah, apa ini cukup?"

"Tidak Luvia, kau harus menguliti punggungnya dengan rapi. Sayatan seperti ini tak bagus."

"Ide bagus, nah bagaimana jika kita lakukan bersama."

"Yaa.."

Keduanya begitu antusias dan sangat bersemangat seolah akan memborong belanjaan yang sudah mendapat diskon besar.

"Luvia, kenapa kamu menyumpal mulutnya? Kamar ini kan kedap suara, biarkan dia berteriak." Lisel mulai menguliti dari pinggang, ia mengelupaskan kulit yang melapisi tulang punggung pria tersebut.

Mata pria tersebut membelalak ketika logam dingin tersebut mulai membuat kulit punggungnya terkelupas sedikit demi sedikit, ingin ia berteriak keras apabila gumpalan daging milik teman nya tak memenuhi mulut dan kerongkongannya.

"Suaranya jelek dan tak menyenangkan, orang ini tidak pandai bersandiwara menjadi korban malpraktek." Luvia mengiris kulit bagian punggung pria tersebut, seketika hal itu membuatnya terhentak, ingin rasanya ia mati saja daripada merasakan penyiksaan ini, penyiksaan yang dilakukan sangat lambat, terlalu lambat seolah jarum jam yang menunjukkan detik waktu lebih cepat 1000 kali dari gerakan kedua gadis ini saat menguliti kulit punggungnya.

Pria tersebut ingin meronta namun ia tak punya cukup tenaga untuk bergerak. Air matanya mengalir, ia merasakan kesakitan yang luar biasa, ia juga menyesali mengambil dua wanita cantik dan seksi di pinggir jalan.

Perkiraan yang ia anggap kedua wanita itu adalah pelacur ternyata salah besar, mereka adalah psikopat yang sedang menyamar untuk mencari korban.

Naas nya dialah yang jadi korban, harusnya ini adalah malam menyenangkan karna dapat tidur dengan dua gadis cantik dan seksi, namun malah jadi malam berdarah karna nyawa nya dan temannya berakhir ditangan dua psikopat cantik.

Darah mengalir dari luka yang didapat saat kulit terlepas dari daging.

"Nah, saatnya menaburkan garam sebelum dia mati."

"Ya." Luvia dan Lisel menaburkan garam pada luka pria tersebut dengan rapi dan merata seperti mereka membumbui makanan.

Rasa sakit dan perih dialami pria tersebut mulai pada puncaknya.

Lisel dan Luvia begitu menikmatinya.

Shin Zahara
2017-12-07 12:25:50
Bingung. Apa aku ketinggalan part sebelumnya, ya...?
Zen Kureno
2017-12-06 13:35:55
Awalnya bolehlah datar saja, eh bawahnya tak boleh diremehkan.
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook