VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #14

2017-12-03 - Adam Beneath Us
31 views | 2 komentar

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic (?)

Chapter 14

.
.
.

Prince Zack telah membawa para pasukannya keluar dari istana. Titah dari raja telah mereka dapat. Yaitu mengejar Raw Rivermont dan Sir Bartholomeo sebelum mereka berhasil lolos dari Windwinter. Disaat bersamaan, para pasukan Windwinter yg dipimpin Komandan Perang Utama, Sir Odarth Pinkerwood sedang berperang dengan Summerdome dan mau tak mau Zack harus berhati-hati agar tak terlibat dalam pertempuran langsung.

Disaat pengawalan terhadap raja melonggar. Dua orang berzirah memasuki chamber sang raja.

"King Fayres." salah satu dari pria itu melepas helmnya. Ia adalah Raw Rivermont, pria yang saat ini dikejar Zack dan pasukannya. Pria yang bersamanya tentu Sir Bartho, anggota dari Knight of The Seven Guards. Sir Bartho berdiri dipintu. Sementara Raw perlahan duduk menghadap King Fayres yang masih diam menghadap jendela.

"Nampaknya, malaikat pencabut nyawa telah datang padaku." ujar King Fayres. "Aku lengah. Kalian sangat cerdik, bukan begitu?"

"Duduklah. Aku ingin ngobrol sebentar." pinta Raw.

King Fayres lantas duduk. Raw membuka pembicaraan.

"Beberapa waktu lalu. Aku dengar desas-desus para prajuritmu mengenai keadaan politik di Summerdome saat ini." ucapnya. "Apa yang terjadi pada ayahku?"

King Fayres tersenyum. "Pasti berat,benar kan, Prince Raw? Kau kehilangan ayah dan ibumu, bahkan kakak dan adikmu dalam sekejap mata. Ini adalah kekejaman perang. Aku berkali-kali mengalaminya."

"Aku sudah dengar soal pernikahan kakakku." kata Raw. "Aku pasti akan membalas kematian mereka, aku bersumpah."

"Tapi sebelum itu, aku ingin tahu apa yang terjadi pada ayahku, King Bush."

King Fayres tertawa. "Kau ingin mendengar dua rumor yang kuketahui, Prince Raw?"

"Katakan."

"Pertama, ia katanya mati saat berburu di Green Woods. Serigala menyerang dirinya ketika ia berburu kijang." jawab sang raja. "Yang kedua, aku dengar rumor pahit yg mengatakan keluarga Rivermont merekayasa peristiwa pembunuhan itu sendiri."

Raw mengangkat alis. "Apa maksudmu?"

"Salah satu Klan Rivermont berkonspirasi untuk membunuh raja mereka. Yaitu raja yang sekarang, Robin Rivermont." ungkap King Fayres. "Yang itu hanyalah rumor. Saat ini, King Robin berpotensi memicu perang saudara setelah ia memenjarakan Prince Troy dari Klan Waterfall."

"Robin memenjarakan Troy?" Raw bingung.

Jika Klan Waterfall mengalihkan dukungannya dari kerajaan karna tindakan Robin, maka Summerdome akan mengalami tekanan. Waterfall penyuplai bahan makanan terbesar untuk Kerajaan, akan jadi kerugian besar jika mereka membelot.

"Adikku memang sangat idiot." gumamnya.

"Apa kau akan melepasku, Prince Raw?" tanya sang raja.

Raw mengernyitkan kening. "Mengapa aku mau melakukannya?"

"Sebagai gantinya, aku akan membiarkanmu pergi dari istanaku tanpa gangguan. Kuberikan Ravager atau kuda. Dan kau dan juga Sir Bartholomeo dapat pulang ke Summerdome dengan selamat. Bagaimana?" King Fayres menawarkan.

Raw terdiam selama beberapa saat. Ia melirik Sir Bartho yang hanya bersenderan dipintu.

"Aku sudah menunggu Zack keluar dari istanamu selama berhari-hari. Apa kau pikir aku ingin penantianku sia-sia?"

"Kau takut pada Zack, huh, Prince Raw?" tanya King Fayres remeh.

"Takut pada si brengsek itu? Jangan bercanda, orang tua. Sir Bartholomeo dan aku bisa membunuhnya berapakalipun yang kami mau."

Raw tersenyum. "Aku hanya ingin melihat reaksinya jika mengetahui ayahnya mati begitu ia pulang dari pencariannya. Aku bisa menebak raut wajah yang ia buat. Masuk ke kamarmu, dan melihat kepala ayahnya tertancap didinding. Bagaimana menurutmu? Kurasa bagus, bukan?"

Peluh membasahi kening Sang Raja.

"Kematianmu akan jadi pengingat bagi seluruh raja-raja didunia ini." Raw mengeluarkan sebilah belati dari celananya. "Sayangilah keluargamu, istrimu, adikmu, kakakmu, anak-anakmu, maupun cucu-cucumu. Karna baru-baru ini, KELUARGA-KELUARGA KERAJAAN MATI SEPERTI SAMPAH!"

King Fayres berdiri.

Sir Bartholomeo menghujam anak panah menembus telapak tangan sang raja. Anak panah itu menancap diatas meja, King Fayres kesakitan. Namun sebelum ia mampu menjerit, Raw membanting wajah sang raja ke atas meja, lalu menghujam belati menembus kepalanya. King Fayres meregang nyawa seketika.

.
.
.

The Gladiatorpit, Springbliss, Kerajaan Highspring.

Arena Gladiator sudah dipenuhi ribuan penonton tanpa menyisakan satupun bangku yang kosong. Terik matahari menyengat, namun sorakan para penonton kian bergemuruh seakan tak merasakan panasnya mentari siang ini. Hadir di kursi tamu kehormatan, ialah Lady Venicia Lindegard, Sir Arthur Aenom, King Juniles Springer, Princess Vera Springer, dan beberapa bangsawan dan pejabat Highspring lainnya.

Lady Venicia, seperti biasa, tampak anggun nan cantik mengenakan gaun biru tua dengan kerah berhias bunga mawar. Ia mengikat rambut panjangnya ke belakang, mengekspos lekuk lehernya secara jelas. Tak ada yang tak jatuh hati dengan pesona naturalnya.

Sementara Sir Arthur masih setia dengan pusaka Knightsealnya, duduk dengan satu kaki terangkat ke paha, sembari mengisap cerutu dengan pandangan yang menyiratkan ketidaktertarikan.

"Aku tak pernah menyarankanmu pergi ke tempat jagal ini, yang mulia." ujar Sir Arthur, melirik Lady Venicia melalui ujung matanya. Menyadari 'majikannya' kini sedang jadi pusat perhatian.

Lady Venicia tersenyum simpul dan menggeleng. "Aku pergi kesini atas keinginanku sendiri, Sir Arthur. Harusnya aku yang berkata seperti itu. Kau boleh meninggalkan tempat ini sesukamu dan pergi kemanapun yang kau mau."

"Tidak. Menjaga anda adalah tugas saya sebagai Tangan Kanan anda. Saya takkan meninggalkan anda tanpa pengawalan." ucap Sir Arthur. Ia membenarkan posisi duduknya, lalu menarik seutas senyum, "Disamping itu, Prince Osyris juga mengikuti turnamen ini. Jika ia dalam bahaya, maka saya harus melompat dari sini dan menyelamatkan pantatnya."

Lady Venicia terkekeh. "Dia tidak selemah yang kau pikir. Kita lihat saja bagaimana dia bisa mengatasi para gladiator ini."

"Yeah. Tapi jika ia mati, kita kehilangan bantuan Klan Blackburn." sahut Sir Arthur.

"Aku takkan membiarkan itu." tukas sang putri. "Dan kau juga tak boleh membiarkan itu."

Gemuruh penonton makin keras terdengar. Prince Osyris telah tiba di arena. Mengenakan pelindung ringan di sekitar bahu ke lengan, dan paha hingga betisnya. Ia sama sekali tak mengenakan baju zirah yang layak, ia hanya melindungi tangan dan kakinya. Namun, meski begitu, para penonton terus riuh. Dan Prince Osyris melambaikan tangannya dengan ramah pada audiens.

"Kau pasti bercanda." Sir Arthur bergumam mengomentari.

"Duduk dan lihatlah." suruh Lady Venicia tanpa menghapus senyumnya.

"Ini adalah hari yang besar bagiku." Prince Osyris berpidato. "Untuk pertama kalinya, aku berdiri di arena ini, bertarung untuk kehormatanku. Aku akan mempersembahkan kemenangan muliaku untuk ratuku, Lady Venicia Lindegard, pewaris sah dari Kerajaan Summerdome!"

"YEAAH!!"

Para penonton bertepuk tangan sembari memandang Lady Venicia di kursi tamu. Lady Venicia membalas sambutan hangat itu dengan anggukan kepala dan senyuman lembut.

"Aku membicarakan soal kemenangan yang mulia. Dan aku bersungguh-sungguh soal itu." ungkap Osyris. "Untuk membuktikannya, untuk menunjukan bukti dukunganku dan kekuatanku kepada kalian. Aku akan bertarung disini. Membantai tiap lawanku, dan biar kumulai dengan ini!"

Jeruji arena terbuka satu persatu. Muncullah beberapa ksatria lengkap dengan baju zirah dan pedang besar mereka. Para ksatria yang nampaknya tak punya belas kasih.

Prince Osyris tersenyum. "8 orang ksatria dari 8 klan. Aku menangkap dan menyiksa mereka. Kini, kalian bisa bayangkan betapa bencinya mereka padaku. Aku akan membunuh mereka ber8 untuk kalian!"

"OSYRIS!!!" salah satu ksatria berlari melesat kearah Osyris dengan penuh kebencian.

Osyris langsung menarik pedangnya. "Lihatlah baik-baik!"

Pedang ksatria itu berayun, namun Osyris berhasil mengelak dari tebasan. Karna tubuh ringannya yang tanpa armor, Osyris berputar dengan lincah, lalu menebas sang ksatria membelah pinggangnya, membelah armor yang melindunginya. Darah mengucur dan ksatria itu roboh. Penonton bergemuruh.

Ksatria yang lain melakukan hal yang sama kepada Osyris. Mereka mengeroyoknya dengan membabibuta. Nampak tak beraturan. Kebencian mereka membuat potensi kekuatan mereka sia-sia. Karna terlalu kesal, mereka tak sanggup menghabisi Osyris saat itu juga. Justru menguntungkan bagi Osyris itu sendiri.

Lady Venicia tersenyum kala menyaksikan Osyris membantai lawan-lawannya dengan mudah tanpa perlawanan berarti.

"YEAAHH!!!"

"BUNUH MEREKA!!"

Prince Osyris memainkan pedangnya yang penuh darah, berputar-putar. Merayakan kemenangannya.

"Bajingan itu lebih tangguh dari yang kupikir." sahut Sir Arthur sembari merebahkan dirinya dengan santai.

"Bukankah sudah kubilang tadi, hm?" balas tuan puteri tanpa mengalihkan pandangannya.

"SEKARANG, KITA AKAN MULAI BAGIAN YANG SESUNGGUHNYA!!" seru Osyris, melebarkan kedua tangannya mengarah ke pintu masuk arena yang kini dipenuhi ratusan gladiator yang lainnya. "KITA AKAN MULAI PERTUNJUKANNYA!"

Gerbang arena terbuka. Dan para ksatria memasuki arena gladiator. Masing-masing ratusan gladiator berdiri diam ditempat dalam jarak 2 meter dari yang lain, selagi penonton terus ribut menuntut untuk segera dimulai.

"Biar kuberitahu satu hal." ucap Osyris lagi, yang berdiri ditengah arena. "Pertunjukan belum akan dimulai jika penonton tak bisa diam!!"

Perlahan setelah mendengar itu, suasana Gladiatorpit perlahan mulai tenang. Para gladiator saling bersiaga dan bersiap, mereka mengenggam erat senjata mereka,sembari menoleh pada lawan-lawannya, keheningan di arena akan jadi pertanda dimulainya pertandingan. Dan bunyi gong akan menjadi 'peluit'nya.

Osyris juga mulai bersiap, walaupun ia sama sekali tak menghilangkan senyum diwajahnya.

DONG!!

Gong dipukul.

"YEAAHH!!!"

"MULAI!!!" seru Prince Osyris keras.

Pertandingan penuh darah akhirnya dimulai. Para gladiator mulai saling membantai, menyerang siapapun yang hadir diarena tanpa terkecuali. Disanalah Robert terlibat, bertempur dengan Palu Perang yang tangguh menghadapi para ksatria haus darah yang bersenjatakan pedang.

Tbc




Sqouts Shadows
2017-12-04 05:51:57
Ditunggu chapter berikutnya
Bocah Redoks
2017-12-03 18:49:47
Bakal gawat kalau sir Arthur turun tangan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook