VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #13

2017-12-03 - Adam Beneath Us
30 views | 2 komentar | nilai: 10 (1 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic (?)

Chapter 13

.
.
.

Windwinter, ruang rapat istana.

King Fayres beserta para ajudan dan pangeran seperti biasa mengadakan pertemuan singkat di ruang rapat. Belakangan sejak tewasnya Prince Ryder, agresi militer yang dilakukan Summerdome terhadap Windwinter perlahan berkurang, namun sejak King Bush meninggal dan digantikan oleh putranya, Robin Rivermont. Agresi kembali dilanjutkan dan makin buas tak terkendali. Apalagi jika bukan karna ambisi Robin menyelesaikan tugas yang 'gagal' dilakukan ayahnya, yaitu mengendalikan seluruh dunia didalam genggamannya.

"Harus kuakui, Robin memang bukan raja yang bisa sembarang kita remehkan. Dia bocah gila yang sangat ambisius." kata King Fayres memperhatikan lembaran-lembaran di meja.

"Dia sangat pemberani." sahut Zack sarkastik.

"Lebih tepatnya nekat." potong King Fayres. "Kurasa dia tak tahu kalau tindakannya pada rombongan Prince Troy Waterfall dapat memicu perang baru. Cepat atau lambat, Summerdome akan dilanda perang saudara untuk memperebutkan takhta."

"Kita akan memanfaatkan itu untuk mengambil jalan damai. Untuk sekarang, kita tak mungkin mengalahkan Knightseal dengan Winter Soldier. Masih banyak hal yang harus kita perbaiki." ucap Zack. Lalu ia menatap kearah saudaranya William yang berdiri menyender ditembok belakangnya. "Kita akan menggunakan Raw untuk bernegosiasi dengan Robin."

"Raw menghilang." sambar King Fayres.

"Hilang?" Zack menatap William lagi. "Kau yang bertugas menjaga penjaranya saat aku sedang berperang, bukan?"

"Dia kabur. Aku gagal menghentikannya." bela William. "Terlebih lagi, mana mungkin aku bisa mempertahankan penjara seluas itu hanya dengan bantuan selusin prajurit saja. Harusnya aku menyalahkan ayah yang memberiku sedikit sekali pasukan!"

"Kau belum layak untuk menjadi calon penerusku! Itulah artinya, William!" bentak King Fayres, William tertunduk. "Terlebih lagi, dia hilang bersamaan dengan Sir Bartholomeo Rudgard dari The Seven Guards. Kita patut waspada!"

"Kau punya tugas untukku, ayah?" Zack bertanya.

King Fayres mengiyakan. "Cari dan bawa hidup-hidup Raw dan Sir Bartho. Mereka mungkin masih berkeliaran didekat kerajaan, mereka tak bisa sembarangan melewati medan peperangan diluar sana."

"Kau akan menggunakan mereka untuk pertukaran dengan Robin?" tanya Zack lagi.

King Fayres mengangguk. "Kupikir dengan matinya Bush, Summerdome akan menarik pasukannya. Rupanya si bangsat Robin ini diluar dugaan. Kita lihat apa dia sayang kakaknya ataupun si pion Seven Guardsnya itu."

"Aku mengerti."

Zack mengangguk. William memberi pandangan kesal disudut ruangan.

.
.
.

Robert berlatih dengan pedang kayu dibelakang bar Meera. Besok adalah hari dimana gelaran Rumble Fight dimulai, dan ia harus banyak mempersiapkan dirinya agak tak jadi lumbung bantaian bagi para petarung disana.

Berdiri diatas balkoni adalah Meera, yang diam memperhatikan latihan Robert yang serius itu.

"Meera."

Preach datang dari belakang dan menghampiri Meera. Meera tersenyum. Dan Preach lantas berujar.

"Kau meninggalkan barmu dan memilih mengintip Robert berlatih, huh?" goda Preach sembari berdiri disamping Meera, memperhatikan sama-sama Robert dibawah sana.

"Aku sudah menyerahkan bar pada Ragnar. Dan aku tidak sedang mengintip, Robert saja sudah tau aku memperhatikannya sejak tadi."

Mereka hening selama beberapa saat.

"Aku pernah melihat bagaimana seorang Knight of The Seven Guards bertarung. Mereka itu monster. Aku bisa melihat refleksi itu dari diri Robert. Caranya bertarung, dia bisa jadi salah satu Knight of The Seven Guards yang ditakuti." Preach buka suara.

"Kurasa begitu." sahut Meera.

"Maksudku, soal kemampuan pedang. Kau juga tak kalah hebat dari Robert, Meera. Kau pernah mengalahkan salah satu High-Ranked Knight dari Highspring. Kau itu juga sama-sama monster."

"Aku tidak mengalahkannya. Dia cuma mengalah karna tak ingin menyakiti perempuan, karna itulah aku menang darinya, Preach."

"Daripada itu, lebih baik kau temani Robert berlatih. Besok dia akan ikut turnamen, bisa gawat kalau dia tidak dapat lawan berlatih." jelas Preach.

"Dia bahkan tak pernah bicara denganku lagi sejak kejadian itu."

Preach tersenyum. "Sepertinya kau terjebak dengan laki-laki itu."

Meera bersemu merah.

"Hei, Robert!"

Preach memanggilnya. Bahu Meera naik bak tersengat listrik. Robert menghentikan latihannya sejenak dan menoleh kearah mereka diatas balkoni.

"Asal kau tahu, Meera punya keahlian pedang yang bagus. Kau bisa berlatih bersamanya!" seru Preach.

"Tidak, itu bohong!!" Meera membungkam mulut Preach sesegera mungkin. "Jangan percaya per--"

"Turunlah."

Meera dan Preach terkejut.

Robert memiringkan wajahnya. "Aku memanggilmu, Meera. Kau bisa turun kesini dan jadi lawanku berlatih."

Meera syok untuk sesaat. Bukan karna itu adalah kali pertama Robert memanggil namanya dengan benar. Tapi karna Robert memulai obrolan dengannya lagi sejak hari iru.

Di lubuk hatinya, Meera senang.

Pada akhirnya, Meera pun turun dan menemani latihan Robert. Ia tak berani sedikitpun melihat kedua bola mata pria itu. Robert acuh saja dan melempar pedang kayu yang lain kepada Meera.

"Kau tak berbicara padaku lagi sejak hari itu." Robert memulai percakapan. Meera mendongak dan memandang kedua matanya dengan heran. "Apa kau marah padaku?"

Meera menggeleng. Dia bingung. Karna sebenarnya dia juga memendam pertanyaan yang sama berhari-hari.

"Tidak kok." Meera hanya tersenyum. Robert lalu melesat kearah gadis itu dan memulai 'latihan' mereka. Preach memperhatikan mereka dalam ketenangan.

"Apakah 'itu' yang pertama bagimu?" Robert bertanya, wajah Meera bersemu mengingat kejadian 'itu' lagi.

"Ya."

"Maafkan aku."

"Tak apa-apa." tukas Meera. "Mungkin kau terpaksa melakukannya untuk membungkam mulut cerewetku, bukan begitu?"

"Heh."

"Bagaimana denganmu, Robert?" tanya Meera.

Walau Robert tak menjawab. Meera langsung tahu jawabannya, ia sedikit kecewa.

Mereka berlatih dan bertarung seimbang. Lebih tepatnya, Robert mencoba agar tidak terlalu serius.

"Dari rahim siapa kau lahir, Meera?"

Dada Meera berdenyut.

"Kau berkata padaku bahwa kau adalah anak haram King Juniles. Ceritakan padaku, sebagai sesama 'anak haram'."

Meera menarik nafas panjang.

"Ibuku dulu adalah pemilik bar ini." ucapnya. "19 tahun yang lalu, Juniles, yang masih berstatus 'pangeran'. Menyambangi bar ibuku untuk berpesta setelah Bush Rivermont memenangkan perang melawan Gerard Lindegard."

Pertempuran Bush Rivermont dengan Gerard Lindegard. Itu adalah cerita yang sudah ribuan kali didengar oleh telinga Robert. Cerita pertarungan dua 'ayah'nya Robert itu adalah legenda paling terkenal di dunia. Entah mengapa kesialan tiap orang selalu dimulai dengan kisah ini.

Pada masa mudanya, Bush Rivermont adalah Ksatria yang sangat mahir dan kuat, tampan, terkuat yang pernah ada. Rivermont dulunya adalah sekutu dari Klan Lindegard yang kala itu berkuasa atas Summerdome. Awal mula konflik pecah dimulai dengan tindakan Prince Gerard merebut paksa Princess Feliza Rashford yang harusnya menikah dengan Bush.

Kehamilan Princess Feliza, satu-satunya wanita yang dicintai Bush oleh Gerard Lindegard memancing Bush memberontak terhadap Summerdome pimpinan King Andres Lindegard. Puncak dari perang besar ini adalah pertarungan Bush dengan Gerard, yang akhirnya dimenangkan Bush dan menewaskan Gerard. Bush pada akhirnya naik tahta setelah pasukan Prince Troy Waterfall mengobrak-abrik ibukota dan mengeksekusi King Andres dengan keji dihadapan masyarakatnya.

"Juniles dan ibuku sama-sama mabuk. Dan kau pasti bisa tahu apa yang terjadi selanjutnya." ucap Meera. "Penyesalan datang diakhir. Dan akulah 'penyesalan' mereka."

"Aku dibesarkan dengan disertai kebencian ibuku padaku. Alasan aku hidup sampai sekarang mungkin adalah karna Kak Vicius. Kak Vicius tahu bahwa aku adalah anak haram Raja, ia melindungiku. Memperlakukanku layaknya adik kandungnya sendiri. Membesarkanku dengan tulus hingga aku remaja."

Meera tersenyum getir. Robert memperhatikannya .

"Kak Vicius mengunjungiku di hari dimana ia merencanakan penyerangan terhadap Summerdome, beberapa bulan lalu seingatku, itu sudah lama sekali. Agresi Militer King Bush makin liar, katanya padaku. Kak Vicius khawatir akan keselamatanku, dia memulai perang dengan ayahmu hanya untuk melindungiku."

"Dia meninggal. Karna aku tak mampu mencegahnya." Meera menggigit bibirnya. Menarik nafas, dan menatap Robert dengan berat. "Mungkin kakak dan adikmu masih hidup jika Kak Vicius tidak memulai perang, Robert. Maaf."

"Itu sudah berlalu." sanggah Robert. "Bukan salahmu juga lagipula. Aku gagal memperkirakannya, itu salahku sendiri."

Robert mengepal, uratnya tercetak. "Mereka dibunuh dengan keji. Aku takkan berhenti sebelum mendapat keadilan atas kematian mereka."

Sekian detik berselang, Robert dan Meera menghentikan latihan.

"AKU PASTI AKAN MEMBUNUH ARTHUR DAN OSYRIS. AKU BERSUMPAH."

ucap Robert penuh keyakinan.

.
.
.

Osyris Blackburn berada di tepi sungai. Tengah membantai orang-orang dengan keji menggunakan senjata berat.

"Prince Osyris!"

Seorang prajurit memanggil Osyris. Saat itu, Osyris baru saja memenggal kepala seorang pria dengan kapak raksasanya. Belasan orang lainnya ketakutan, mereka adalah pengkhianat yang menunggu ajal mereka ditangan Prince Osyris.

"Ada apa?" tanya Osyris sembari membuang potongan kepala itu ke sungai. "Selalu saja ada yang mengangguku saat bersenang-senang."

Memenggal kepala sepertinya sudah menjadi hobi dari Osyris Blackburn, karna itulah ia bisa semudah itu membantai orang-orang Ryder di pernikahannya.

"Kami baru dapat kabar dari database. Katanya Robert Rivermont dari Summerdome ikut serta dalam turnamen besok."

Telinga Osyris naik. Lalu ia tertawa. "Apa yang dilakukan anak ayam itu disini, huh? Sembrono sekali."

Osyris menyeringai.

"Kebetulan sekali... Aku ingin membelah kepala seekor belatung Rivermont lagi. Aku sudah menunggu untuk ini!!"

JRASSHH!!

Osyris mengayun kencang kapaknya vertikal, membelah orang dihadapannya jadi dua.

"Aku akan menunggu anak itu menari..." ucap Osyris bermandikan darah. "Dan akan kubawakan kepalanya pada Lady Venicia."

"Khu, khu, khu..." ia tertawa keji.

Tbc




Bocah Redoks
2017-12-03 18:34:09
Saling diam2an dan saling menunggu siapa yang mau menegur lebih dulu
Sqouts Shadows
2017-12-03 11:37:39
Ditunggu chapter berikutnya
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook