VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #12

2017-11-29 - Adam Beneath Us
28 views | 3 komentar | nilai: 10 (1 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic (?)

Chapter 12

.
.
.
.

Prince Troy dan Pasukan Waterfall memasuki aula dimana Robin sedang duduk disinggasana raja. Saat itu, adalah acara pelantikan raja yang baru, yaitu Robin. Sampai Troy datang dan menganggu acaranya.

"Prince Robin!" panggil Troy keras.

Robin menoleh. Dan saat itu, kelima The Seven Guards langsung berdiri didepan Robin. Mengawal dirinya.

"Prince Troy! Aku menunggu kedatanganmu sejak tadi!" seru Robin sembari tersenyum. "Kemarilah, rayakan kelahiran dinastiku, Robin I Rivermont!"

"Kau telah melakukan pelanggaran berat dengan menyelenggarakan pengangkatan raja untuk dirimu sendiri! Kau tidak memiliki klaim lagi pada takhta itu. Takhta telah diberikan kepadaku, Prince Troy dari Klan Waterfall, melalui mandat terakhir dari Bush Rivermont." seru Prince Troy menunjukkan surat wasiat yang ditulis Bush kepada masyarakat yang hadir disana.

Para masyarakat mulai gaduh dan berisik. Sebelum ditenangkan kembali oleh para Seven Guards.

Robin menyeringai. "Aku tidak mengklaim takhta, Prince Troy. Ini milikku sejak awal. Bukan milikmu."

Princess Ryalla diam menyaksikan dengan penuh kekhawatiran, tak berbeda pula dengan Maisie yang berdiri disampingnya. Ia bimbang. Ingin memihak kemana. Sementara para masyarakat mulai dilanda rasa tegang.

Troy memandang salah satu The Seven Guards.

"Sir Prescott, sebagai salah satu senior dari Knight of The Seven Guards. Sudah menjadi sumpah anda bukan untuk mematuhi titah dari raja kalian? Raja kalian, Bush Rivermont telah menyerahkan takhtanya pada Klan Waterfall, yaitu aku."

Sir Prescott Phillips mengambil surat itu. Membacanya dengan perlahan.

"Surat ini resmi?" tanyanya.

Troy tersenyum. "Tanyakan itu kepada Lady Maisie Rivermont. Beliau yang menulis itu berdasarkan perkataan raja."

"Apa itu benar, Lady?" Sir Prescott bertanya kepada Maisie. Maisie mengangguk, seketika juga Robin kesal.

"Kalian tunduk begitu saja kepada tulisan dalam segulung kertas, huh?" tanya Robin. "Apakah kau membutuhkan selembar kertas untuk merebut takhta dari Rivermont, Prince Troy?"

Troy tersenyum tenang. "Turun dari kursi singgasana itu, atau kau akan kucap sebagai pemberontak, Prince Robin. Keluarga Waterfall telah berjanji untuk melindungi keluarga Rivermont dari musuh. Itu termasuk dirimu juga. Jangan berlaku semena-mena."

"Heh." Robin tertawa. "Kau yakin, pangeran?'

Troy mengernyitkan alis.

"Kau mencapku sebagai pemberontak, ditempat ini, rumahku selama belasan tahun. Apa kau tak sadar posisimu saat ini?"

"Apa maksudmu?"

Sir Prescott memotong, "Prince Robin. Maaf menganggu, tapi Raja telah--"

"Para bangsawan Rivermont tidak setuju dengan keinginan ayahku untuk menyerahkan takhta ini." Robin menatap angkuh pada Sir Prescott, pengawalnya sendiri. Sir Prescott terdiam.

"Sejak Agresi Militer ayahku dimulai, aku meragukan keberpihakan kalian para Waterfall kepada kerajaan. Rivermont dan Waterfall saling bersatu dalam aliansi besar kerajaan. Tapi tak ada bantuan apapun yang kalian berikan, kalian memilih main aman dan bersembunyi. Kakakku Ryder terbunuh karna klan sebesar kalian tak mau membantu kami." katanya.

Prince Troy berdiri kesal melihat Robin di singgasana. Sementara senyuman menantang Robin masih bertengger manis di bibir tipisnya.

"Ayahku meninggal, kakakku Raw masih dalam genggaman Windwinter, Klan Rivermont sudah memilih pemimpin barunya, yaitu aku." ucap Robin. "Sebagai pemimpin yang baru, aku telah memutuskan dua hal."

Troy memandang sekelilingnya. Para prajurit Rivermont telah mengepung dirinya dan pasukannya.

"Pertama, aku memutuskan untuk mempertahankan kerajaan ini. Tak peduli dengan apa yang dikatakan ayahku!" seru Robin. "Dan yang kedua, AKU tidak akan menoleransi upaya KUDETA apapun terhadap takhtaku!"

Robin berdiri. "TANGKAP PARA PEMBERONTAK ITU!!"

"Brengsek!" umpat Troy.

Para pasukan Rivermont langsung menyerang Troy sesuai perintah sang 'raja'. Masyarakat gaduh dan berlarian keluar, pintu keluar jadi penuh dan sesak. Sementara Robin kembali duduk, tersenyum puas melihat para Waterfall dibantai oleh pasukannya. Sir Prescott masih tetap ditempatnya berdiri, menatap Robin dengan pandangan tak percaya.

"Robin! Apa yang kau lakukan? Segera hentikan itu!" Maisie berteriak. "Ini bukanlah hal yang diinginkan ayahmu!! Kau hanya akan memicu perang dengan Waterfall!! Robin!!"

"Hahaha! Bunuh mereka semua!!" Robin asyik tertawa, terhibur dengan drama pembantaian didepan matanya.

Ryalla langsung berlari pergi. Meninggalkan ruangan berdarah itu sembari menutup mulutnya.

.
.
.

"Kenapa buru-buru, sih? Pendaftaran dibuka 24jam tahu!" Meera menggerutu, sementara Robert terus menariknya ke tempat tujuan.

"Lagian, seyakin apa kau bisa menang dalam turnamen itu, huh? Apa kau tak sayang nyawamu? Kau ini cukup tampan lho--"

"Diam dan tunjukan jalannya!" sentak Robert, justru membuat Meera makin kesal.

"Iya, iya!"

Mereka berdua sampai ditempat pendaftaran Rumble Fight. Tepatnya di sebuah bar yang terletak di pusat kota. Hari itu pendaftarnya kebetulan cukup sepi.

"Halo, Preach." Meera menyapa seorang pria yang asyik baca buku di pos pendaftaran. Sepertinya, pria yang nampak kurang tidur ini adalah petugasnya.

"Ah, Meera." pria bernama Preach itu menampilkan ekspresi senang. "Senang bertemu denganmu, tumben sekali kau datang kesini?"

"Yah, gimana yah." Meera menggaruk pipinya. "To the point saja, apa slot pendaftarannya masih sisa?"

"Tinggal satu." jawab Preach.

"Hampir habis sejak dibuka pagi tadi?!" seru Meera tak percaya. Yah, seingatnya, pos pendaftaran baru dibuka pagi buta tadi dan sekarang sudah hampir habis slot pendaftarnya. Semua orang pasti sangat tertarik untuk memenangkan hadiah fantastis yang akan diberikan itu.

"Kau mau ikut serta, Meera?" tanya Preach keheranan. "Nekat sekali kau ini, kupikir kau nyaman dengan pekerjaan barumu di bar itu. Kau depresi sekali sewaktu kakakmu meninggal."

"Bukan untukku." potong Meera, ia lantas menunjuk Robert yang berdiri dibelakangnya, "Tapi orang ini."

"Siapa? Gandengan barumu?" sahut Preach.

"Bukan!" bentak Meera memerah. "Dia pria paling nekat yang pernah kutemui. Aku dan dia tidak akan pernah cocok seumur hidup!"

"Jadi, orang itu yang akan mendaftar?"

"Ya."

"Namanya?"

"Robert." jawab Meera. Robert diam memperhatikan.

"Robert?" Preach mengulang.

"Robert?" Meera beralih pada Robert yang memasang ekspresi bingung. "Preach menanyakan nama belakangmu, atau nama keluargamu atau apapun itu."

Robert terdiam. "Pentingkah itu?"

"Tentu saja, panitia butuh identitas lengkap peserta untuk mengurangi tindak kecurangan. Kami tak ingin kejadian tahun lalu terulang kembali. Jadi, kau harus memberitahu nama belakangmu."
terang Preach.

"Robert?" panggil Meera, "Kenapa diam saja?"

Preach mendesah. "Tidak perlu khawatir begitu. Walau negara-negara saat ini tengah kacau dan berperang, selama kau disini, tidak ada prajurit kerajaan yang akan memburumu jika kau mengatakan nama margamu. Ini adalah turnamen yang dipegang oleh perorangan, karna itulah prajurit kerajaan dilarang menganggunya."

Meera terdiam.

"Rivermont." jawab Robert. "Namaku Robert Rivermont."

Meera terkejut. Preach melongo, "Whoa, aku kenal nama itu, kau pangeran muda dari Summerdome. Menakjubkan, kurasa penonton akan laris!"

"Baiklah. Kau sudah didaftarkan!" Preach memberi sebuah kertas kecil kepada Robert. "Semoga beruntung dalam pertarungan!"

"Kau tidak memberitahuku kalau kau seorang Rivermont sebelumnya." ucap Meera kepada Robert.

"Kau tidak tanya." Robert menjawab santai.

Preach menggaruk kepalanya. "Yah, sepertinya ini akan berjalan tidak baik."

"Namaku Meera, Meera SPRINGER." ucap Meera dengan pandangan tajam. "Rivermont adalah musuh Springer, kalian telah membunuh Vicius Springer, kakakku."

Preach menghela nafas, merasa akan ada kekacauan sebentar lagi.

Robert hanya memasang wajah kalemnya kepada Meera, kemudian berucap. "Bagaimana jika kukatakan, kalian juga membunuh kakakku, Ryder. Adikku, Freya. dan ibuku, Queen Brianna."

"Jadi benar, kau ini keluaga kerajaan."

"Dan kurasa kau juga sama." jawab Robert. "Kurasa aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, Meggan. Terima kasih atas bantuanmu, sampai jumpa."

"Namaku Meera!" bentak Meera dan kemudian mencengkram lengan Robert. "Dan urusan kita belum selesai!"

Robert mengangkat alis.

"Aku berubah pikiran. Kurasa aku akan melaporkan tentang keberadaanmu ditempat ini."

"Hey, hey, Meera. Dia sudah terdaftar di database tahu. Jangan sembarangan begitu." sambar Preach.

"Kau dengar kata temanmu, bukan? Lepaskan tanganmu." suruh Robert pelan.

"Aku tak peduli--"

"Meera? Robert? Tenanglah. Jangan bertengkar." ucap Preach takut-takut.

"Ikut dengan--"

DRAKK!!

Robert langsung mendorong Meera keras. Menguncinya ditembok dan membuat gadis itu tidak dapat bergerak. Meera mengaduh sakit, sementara Preach yang kebingungan hanya bisa duduk diam disana. Beruntung di dalam bar itu cukup sepi, hanya ada beberapa orang saja yang sedang nongkrong dan apa yang terjadi disitu tak terlalu menarik perhatian pengunjung lainnya.

"Kau gila, hah? Lepaskan aku!" seru Meera. Berontak melepaskan diri.

"Robert, lepaskan dia!" Preach berteriak, sebelum sempat mengeluarkan senjata, pedang milik Robert terlebih dahulu menempel di lehernya.

"Jangan bertindak bodoh. Atau kau akan mati konyol." ancam Robert pada Preach.

Meera makin kesakitan karna cekikan Robert pada dirinya. Robert lantas berbalik kepada gadis itu, tepat setelah membuat nyali Preach menciut pudar.

"Kau mau membunuhku?" tanya Meera.

"Aku tak pernah membunuh seorang perempuan sebelumnya." kata Robert. "Orang yang ingin kubunuh ada dikota ini. Jika ada yang berani sedikitpun menghalangiku untuk membunuhnya, meskipun itu kau. Aku akan membunuhmu."

"Ukh..."

"Aku tak punya dendam padamu, Veera. Lagipula kau hanya gadis bodoh pelayan bar. Tak ada untungnya mengotori pedangku dengan darahmu. Sekali lagi, yang kuinginkan hanyalah nyawa Osyris." ucap Robert lagi. "Apa kau masih ingin memaksaku?"

"Sekali lagi, namaku Meera!" bentak Meera. "Aku tidak peduli dengan ancamanmu. Para Rivermont memang tak bisa dipercaya! Tak heran kalian sampai diperangi seluruh dunia!"

Robert tersenyum kecut. "Masih berani bicara begitu, ya."

"Kalian para bangsawan, memang selalu memandang rendah pada kami!"

"Kau juga bangsawan."

Meera tertawa. "Jangan konyol! Kau pikir kenapa aku bekerja di bar, huh?"

Robert terdiam.

"Selama bertahun-tahun aku hidup seperti itu, ayahku, maupun ibuku, mereka sama-sama mengutuk keberadaanku. Mereka tak mengharapkan perempuan sepertiku lahir didunia ini. Aku hanyalah aib bagi mereka!" Meera menangis. "Aku tak disayangi siapapun... Sampai Kak Vicius datang, mengulurkan tangannya padaku... Dialah orang yang mengakui keberadaanku, dia adalah orang yang kusayang melebihi nyawaku sendiri. Dan kalian merenggutnya dariku! Aku takkan memaafkan kalian, Rivermont!"

Meera makin berontak. Sementara Robert diam saja. Mendengar penuturan Meera soal masa lalunya, entah mengapa membuat Robert teringat akan masa lalunya. Yang kebetulan, sangat persis dengan apa yang diceritakan Meera. Mereka sama-sama 'anak haram'.

Robert punya Ryder, kakak yang sangat menyayanginya. Vicius adalah sosok Ryder bagi diri Meera. Dan Robert paham betul apa yang terjadi dimasa lalu Meera, karna dia juga mengalaminya.

"Kakakku, Ryder, adalah sahabat kakakmu, sekaligus orang yg telah membunuhnya. Vicius memulai perang pada ayahku, dan kewajiban memaksa kakakku turun dalam pertarungan untuk membunuh kakakmu, meski dia tak pernah ingin melakukannya." bisik Robert. "Kakakku bukanlah pria tanpa perasaan seperti yang kau pikir. Dialah yang menanggung beban seluruh keluarganya sendirian, dia menerima kebencian, suka ataupun tidak suka."

Meera diam, masih dengan air mata dipipinya. Masih dengan emosi yang menyala-nyala.

"Sementara itu, dilain sisi setelah ia memenangkan perang dan membunuh Vicius dan pasukannya, Highspring menyerah pada Summerdome, Raja kalian akan melepas takhtanya untuk Rivermont dengan satu syarat, yaitu Kak Ryder harus dinikahkan dengan salah satu Springer. Yaitu kakak tirimu, Vera." Robert meringis emosi.

"Kakakku sempat tidak ingin melakukan itu. Namun, dia jatuh hati pada Vera. Dihari itu juga ia, adikku, dan ibuku mati, dibunuh karna persekongkolan kalian, para Springer dan Blackburn."

Meera berontak.

"Aku bertanya-tanya apa alasan mereka mati. Freya? Anak kecil manis itu adalah korban dari kebiadaban kalian. Dia adalah adikku yang sangat kusayang. Dan kalian merenggutnya dariku." ucap Robert tajam. "Rencana jangka pendekku adalah membunuh Osyris dan Sir Arthur. Dan setelah ini, rencana jangka panjangku mungkin adalah membantai kalian semua, para Springer, dan siapapun yang terlibat dalam pembunuhan kakak dan adikku."

"Kau tak tahu apa yang kurasakan!"

"Aku tahu apa yang kau rasakan!" bentak Robert balik. "Kau punya Vicius yang menyelamatkanmu dari neraka. Aku punya kakakku Ryder dan adikku Freya. Kau membicarakan masa lalu? Kau pikir milikku lebih baik dari milikmu?!"

Meera terpaku. Sejenak ia terkejut, melihat emosi kesedihan dimata Robert, Meera mampu merasakannya, perasaan yang sama dengan miliknya. Namun, emosi sudah melahap pikirannya. Tak mampu ia tahan.

"Walau begitu, sampai kapanpun--"

Robert membungkam mulut Meera, dengan menempelkan mulutnya pada mulut sang gadis. Sesaat Meera lumpuh, wajahnya panas dan ia tak mampu memikirkan apapun. Tenggorokannya tercekat. Preach yang sedari tadi menyaksikan juga dibuat terkejut.

Robert langsung melepas cekikannya begitu ia menarik bibirnya. Lantas ia pergi, menyarungkan pedangnya dan keluar dari bar. Ia meninggalkan Meera yang kebingungan, menatap punggungnya dengan syok.

Tbc




Yukki Amatsu
2017-11-30 20:08:47
kebawa suasana bgt ya... aku jadi ikut gemeter saking mengkhayati-nya...
Bocah Redoks
2017-11-30 18:38:55
Salah nama Mulu. Pake d cium segala lagi. Menang banyak lu
Sqouts Shadows
2017-11-29 17:21:31
Ditunggu chapter berikutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook