VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #11

2017-11-28 - Adam Beneath Us
37 views | 3 komentar | nilai: 10 (1 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic (?)

Chapter 11

.
.
.

Princess Ryalla berdiri dengan tangisan sendu. Ayahandanya, King Bush, saat ini terbaring di ranjangnya. Terluka sangat parah, dadanya terkoyak, dan darah terus mengalir keluar. King Bush sekarat. Robin berada disana juga. Menangis sedih.

"Mana Robert?" tanya Bush pelan.

"Dia pergi. Aku tak tahu kemana." jawab Robin.

"Si bodoh itu." umpat Bush pelan.

"Ayah, jangan terlalu banyak bergerak. Lukanya--"

"Aku tak apa-apa." Bush memotong. Ia lalu menatap Robin dengan matanya yang setengah terbuka. "Dimana bibimu? Panggil dia kesini, aku ingin bicara secara pribadi dengannya."

Robin memanggil bibinya, Maisie Rivermont. Dan menuruti perintah ayahnya untuk keluar dan membiarkan mereka berbincang.

"Kau boleh tertawa, adikku." kata Bush sembari tertawa ringan. "Bush Rivermont, The Rebellion's Trigger, The King of Summerdome, The Man Who Stole The Throne, mati karna diserang serigala. Aku yakin ini akan jadi sebuah legenda yg jauh lebih terkenal daripada aksiku membunuh Gerard Lindegard dulu."

Maisie tersenyum. "Disaat begini. Kau masih punya humor yang tersisa, huh?"

"Dengarkan aku." Bush terbatuk. "Rombongan Klan Waterfall, apa mereka sudah datang?"

"Mereka tiba beberapa saat yang lalu." jawab Maisie. "Kenapa kau memanggil mereka kesini, kakak?"

"Aku berniat menyerahkan kerajaan pada mereka."

Maisie tersentak. "Kau bilang apa? Pewarismu itu Robin, bukan? Dia yang akan memerintah kerajaanmu setelah kau mati. Kenapa kau memberikannya pada Waterfall?"

"Dengar. Kita sudah diambang kekalahan. Dan aku tak ingin anggota keluargaku mati lagi, baik Robin, Ryalla, atau bahkan si Robert, hanya karna keegoisanku. Aku sudah cukup dengan itu." jawab Bush, menggigit bibirnya menahan sakit. "Itu bukanlah diriku."

"Bagaimana kau bisa jamin kalau mereka aman setelah kau menyerahkan kerajaanmu?"

"Waterfall akan membuat mereka mengerti. Aku yakin mereka bisa membuat Windwinter dan Highspring mengerti. Cukup aku saja yang mati, cukup aku saja Rivermont yang mati hari ini."

"Aku sadar bahwa perang yang kukobarkan selama ini hanyalah kebodohan. Dulu, aku dikenal sebagai pahlawan karna melengserkan Andres Lindegard dari takhtanya, semua orang mengagungkan namaku, menyebutku pahlawan mereka." Robert menggigit bibirnya. "Tapi pada akhirnya, aku mati disituasi yang sama dengan si Andres itu. Dibenci seluruh dunia."

Maisie tersenyum sedih.
"Kau ingin menuliskan wasiatmu, saudaraku?"

"Tulis apa yang akan kukatakan. Ambil penamu."

"Baik."

"Aku, King Bush dari Klan Rivermont, Raja dari Summerdome. Mengumumkan melalui adikku, Lady Maisie Rivermont. Bahwa aku akan menyerahkan kerajaanku, Summerdome, kepada Prince Troy dari Klan Waterfall. Dan mengumumkan, bahwa aku telah mengakhiri perang yang telah kumulai, dan meminta pasukanku mundur dari seluruh medan perang. Dan menyerahkan seluruh wilayah yang sebelumnya diduduki kembali kepada pemiliknya."

Maisie selesai mencatat wasiatnya. "Tanda tanganmu, kakak."

Bush lalu menandatanganinya.

"Selamat tinggal, adikku."

Maisie menitikkan air mata. "Semoga kau mendapat kedamaian, kakak."

Maisie keluar dari ruangan Bush. Sudah ada beberapa penasihat raja, dan juga Ryalla dan Robin yang berdiri diluar. Disana juga ada Prince Troy, tamu dari Klan Waterfall yang baru saja tiba.

Maisie menghapus air matanya. "Berikan kakak racun untuk membunuh dirinya. Beliau sudah tidak mampu bertahan."

Para penasihat pun menurutinya.

"Bibi, katakan padaku kenapa orang ini datang ke tempat ini?" tanya Robin sembari menunjuk Troy yang berdiri didekatnya. Troy hanya menunjukkan raut kalemnya. Menaruh kedua tangan di belakang punggungnya.

Maisie berucap lemah. "Beliau adalah tamu kehormatan kita. Jadi, perlakukan mereka dengan baik, Robin."

"Tamu kehormatan?" Robin memberi ekspresi seakan ingin meludah.

"Apa yang dikatakan ayah, bibi?" tanya Ryalla.

Maisie tersenyum sembari mengelus wajah Ryalla dengan penuh kasih. "Beliau berdoa yang terbaik untukmu, dan juga saudara-saudarimu. Jangan kecewakan ayahmu, Ryalla. Jadilah Tuan Puteri yang baik."

Ryalla menangis, dan dipeluk Maisie dengan erat. Ryalla lantas masuk kedalam kamar ayahnya, untuk melihat ayahnya untuk yang terakhir kalinya.

"Lady Maisie. Anda yang mencatat wasiat raja, bukan?" Prince Troy bertanya kalem. Telinga Robin naik. Terheran mengapa Troy begitu antusias.

"Benar." jawab Maisie.

"Apa yang beliau tulis?" tanyanya lagi.

Robin langsung menyambar, "Kenapa kau penasaran sekali, huh? Tentu saja isinya adalah aku yang akan ditunjuk sebagai raja--"

"Beliau telah menyerahkan Summerdome kepada Prince Troy dari Klan Waterfall. Dan menyatakan kekuasaan Rivermont berakhir seiring kematiannya." Maisie memotong. "Prince Troy akan dilantik besok."

Senyum Robin pudar. "Kau bilang apa?"

Troy tersenyum puas. "Fantastis. Aku akan beristirahat lebih dulu."

Troy pergi. Meninggalkan Robin yang terdiam disana menatap bibinya dengan pandangan tak percaya.

"Kau bohong kan, bibi?"

"Tidak, Robin." Maisie menepuk pundak keponakannya. "Ayahmu telah menyerahkan Kerajaan pada Waterfall untuk menjamin keselamatan keluarganya, dan juga seluruh Klan Rivermont. Kau harus menghargai keputusan beliau. Aku tahu ini berat bagimu."

"Aku... adalah RAJA yang sesungguhnya!" Robin membentak, mengejutkan Maisie seketika. "Persetan dengan perkataan ayah! Takhta itu milikku!"

"Tidak! Jangan gegabah begitu, hormati ayahmu sedikit saja!"

Robin terdiam, "Hormati. Kau bilang?" Ia tertawa. "Kau pikir dia pernah memperlakukanku dengan hormat, bibi? Yang dia lakukan padaku hanyalah menghinaku, memperlakukanku selayaknya anak haram. Hanya karna aku tak bisa bertarung sehebat Kak Ryder ataupun si anak haram itu."

"Robin."

"Aku cukup lelah diperlakukan seperti sampah." bisik Robin. "Kau pikir kenapa ayah bisa terbunuh, bibi? Kenapa ayah, seorang pemburu handal, mati semudah itu?"

Maisie terpaku.

Robin tersenyum. "Ya, aku menaruh racun di anggurnya sebelum ia pergi berburu. Efektif. Dia mati karna perbuatanku. Kau paham artinya?"

"Robin, beraninya dirimu--"

"Persetan dengan wasiat raja." umpat Robin. "Aku membunuhnya karna aku sudah muak dengan orang tua pemabuk itu. Ini adalah kerajaanku sekarang. Akulah yang berkuasa. SEMUA yang ada disini adalah MILIKKU."

Robin mendekati telinga bibinya. "Kau beberkan rahasia ini. Kau akan jadi orang mati."

Maisie mematung. Robin berbalik pergi, meninggalkan Maisie yang begitu syok mendengar penuturannya.

.
.
.
.

Springbliss, beberapa mil dari Kastil Ferdinand. Robert memasuki salah satu dari belasan bar disana. Ia duduk setelah memesan wine.

Ada berbagai wajah yang asing dimata Robert. Robert berharap ia tidak dikenali di lingkungan seperti ini.

"Tuan, pesanan anda sudah siap."

Seorang waiter membuyarkan lamunan Robert. "Ah, terima kasih."

"Sebentar lagi ada Rumble Fight di Kastil Ferdinand. Kudengar hadiahnya kali ini tak main-main."

"Benarkah?"

"Ya, kurasa event itu sudah punya banyak sponsor, kau tahu. Karna disanalah Ryder Rivermont dan pasukannya tewas dibunuh."

Telinga Robert naik mendengar obrolan beberapa pengunjung.

"Hadiah tahun ini 10x lipat lebih banyak daripada tahun lalu."

"Wow, kurasa aku akan ikut."

"Jangan bercanda, kau hanya akan dibantai para gladiator."

"Hahaha!"

"Jadi penonton saja cukup."

"Rumble Fight..." Robert bergumam.

"Ah, itu acara tahunan yang selalu diadakan di Highspring. Apa kau tertarik, tuan?"

Waiter tadi rupanya mendengar gumaman Robert. Robert sedikit terkejut. Ia sedikit kesal pada wanita itu, "Suka menguping, kah? Kau benar-benar ancaman nyata."

Waiter itu tertawa. "Maaf. Aku memang suka menguping. Sudah jadi kebiasaan."

"Jadi, apa itu Rumble Fight?" tanya Robert.

"Maaf, siapa namamu dulu, tuan?" tanya wanita itu.

"Robert." jawabnya. "Robert saja."

"Oh, Robert. Perkenalkan, aku Meera. Meera saja."

"Jawab pertanyaanku."

"Haah, langsung to the point?" Meera mendesah. "Yah, kau pengunjung yang aneh."

Meera berkata begitu karna baru kali ini ada pengunjung pria yang tak tertarik pada dirinya.

"Rumble Fight itu. Semacam kompetisi." jelas Meera malas. "Singkatnya, bertarung sampai mati sampai cuma kau yang tersisa di arena."

"Bertarung sampai mati?"

"Begitulah. Memang terdengar sangat bodoh. Apa kau ingin menyaksikannya? Kudengar beberapa hari lagi. Kau bisa mengajakku juga, kalau kau ingin. Aku ingin."

Robert menegak winenya acuh. Meera mendecih sebal.

"Ah, kau membawa pedang?" tanya Meera melihat sarung pedang di pinggang Robert. Robert mengernyitkan alisnya.

"Apa salah jika seorang pria membawa pedang?"

"Kurasa kau tak membaca peraturan didepan pintu." Meera tersenyum. "Kau sangat menyebalkan, kau tahu itu?"

"Mungkin."

"Kalau kau membawa pedang, artinya kau bisa bertarung, kan? Bagaimana jika kau ikut serta dalam Rumble Fight? Hadiahnya luar biasa, lho. Aku bisa mendaftarkanmu."

Robert menaruh gelasnya. "Aku punya urusan yang lebih penting."

"Hei, Robert. Aksen bicaramu itu sangat asing."

Robert terdiam.

"Kau dari Summerdome?"

"..."

"Pasti iya." gumam Meera. "Kau kabur dari kerajaanmu setelah rajamu mati?"

"Apa?"

"Rajamu, King Bush sudah mati. Kau tak tahu itu?"

Robert sedikit syok. "Aku baru tahu."

"Yah, kumaklumi, kebanyakan traveller memang selalu ketinggalan berita panas."

'Huh. Jadi si Robin itu jadi raja sekarang.' batin Robert.

"Urusan apa yang membuatmu meninggalkan rumah, Robert?" tanya Meera lagi.

"Aku ingin membunuh seseorang."

"Wah, keren." sahut Meera merasa kalau itu lelucon. "Kalau kau ingin membunuh seseorang, bunuhlah seseorang dengan nama besar, seperti Pangeran Osyris. Kudengar dia ikut serta di Rumble Fight besok. Hahaha."

Alis Robert terangkat. "Dia ikut?"

Meera mengangguk.

"Daftarkan aku di turnamen itu, Merry."

"Namaku Meera tahu!" seru Meera. "Eh, kau sungguh mau ikut?"

"Ya." jawab Robert. "Aku datang kesini untuk membunuhnya."

"Sempurna. Aku akan mendaftarkanmu nanti sore setelah shiftku berakhir!" seru Meera masih menganggap kalau Robert berguyon. "Jangan lupa, kalau menang, bagi-bagi hadiahnya!"

TEPP!

Robert menarik lengan Meera.

Meera melotot. Wajahnya merah. "Eeehh?"

"Sekarang saja!" bentak Robert tak sabar.

"T-Tunggu, shiftku belum selesai--"

Pada akhirnya, Meera diseret pergi oleh Robert. Dan dipandangi puluhan pasang mata yang cemburu melihat itu. Dari kejauhan, sekilas Robert seperti seseorang yang akan memperkosa Meera, dan Meera hanya pasrah menerimanya dengan gembira.

Tapi, bukan itu yang terjadi. Robert datang hanya untuk dua orang. Dan salah satu orang itu ada di kota yang sama dengan dirinya. Saat ini adalah kesempatan emas untuknya. Dan ia takkan membiarkan itu lepas dari tangan begitu saja.

Tbc



Yukki Amatsu
2017-11-30 19:47:18
Lanjut....
Bocah Redoks
2017-11-30 18:31:10
Terlalu mencolok. Mudah mudahan Meera bukan mata mata
Sqouts Shadows
2017-11-29 08:05:58
Ditunggu chapter berikutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook