VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #10

2017-11-24 - Adam Beneath Us
22 views | 3 komentar | nilai: 10 (2 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic (?)

Chapter 10

.
.
.

Robert termenung sendirian. Duduk di balkoni kamarnya menatap bintang-bintang di atas sana. Pria itu memasang wajah datar tanpa ekspresi. Meskipun berbagai macam hal berlalu lalang dibenaknya. Menganggu pikirannya.

TOKK...TOKK..

Pintu kamarnya diketuk dari luar. Robert sedang tidak ingin menerima tamu, ia hanya butuh waktu untuk sendiri malam ini.

"Robert?"

Robert bisa mendengar suara kakaknya, Princess Ryalla, dari luar. Robert langsung bangkit, menyadari sesuatu di suara Ryalla yang entah mengapa bergetar kala memanggil namanya.

"Aku datang." ucap Robert.

Ia membuka pintu. Ternyata memang Ryalla, datang dengan mata yang merah, nampaknya baru saja menangis. Tangisan yang deras hingga membuat seluruh wajahnya juga merah.

Robert terdiam. Ia membiarkan Ryalla jatuh ke pelukannya, memeluknya dengan sangat kencang. Robert sejenak kebingungan, mengapa kakaknya itu tiba-tiba menangis seperti ini.

"Ada apa, kakak?" tanyanya.

Ryalla tetap menangis. Membuat Robert mau tak mau harus menenangkannya dulu, atau ia tidak akan mendapat jawaban atas pertanyaannya.

"Ibu, kakak, dan juga Freya." ucap Ryalla sembari terisak. "Mereka..."

Robert terhenyak.

Robert mendatangi ruang meeting. Mendapati King Bush, Robin serta beberapa penasihat dan 5 orang ksatria The Seven Guards hadir disana. Suasana disana cukup hening. Dari yang biasanya penuh dengan emosi berkobar dari sang raja.

"Oh, Robert. Kau datang juga." gumam Bush.

"Jadi, itu benar, ayah?" tanya Robert masih tak percaya.

"Benar, Ryder terbunuh. Bersama Brianna dan juga Freya. Si pengkhianat Blackburn itu takkan kubiarkan lolos, aku bersumpah!" seru Bush penuh amarah. "Aku akan membantai mereka!!"

Nafas Robert sesak untuk sesaat mendengar kabar itu. Kakak dan juga adiknya telah mati. 2 orang yang menjadi alasannya tinggal di tempat itu sampai sekarang, mereka telah mati. Benak Robert sudah tak karuan, butuh sesuatu agar amarahnya terlampiaskan.

"Robert, gantikan aku untuk rapat hari ini." Bush bangkit berdiri.

"Kenapa Robert, ayah?! Aku kan masih ada!" Robin tak terima. Bush langsung mendelik dan menciutkan nyali Robin untuk berkata apapun lagi.

"Kau mau kemana, ayah?" tanya Robert datar.

"Berburu!" jawab Bush lantang. Meninggalkan ruang rapat dengan keadaan yang kacau.

Ruang rapat kembali diliputi hening. Robert yang harusnya menggantikan ayahnya untuk rapat justru hanya diam ditempatnya berdiri. Disaat yang sama Robin menunjukkan tatapan tak sukanya, ia mengetuk-getuk jemarinya ke meja dengan wajah yang tak sabar.

"Siapa... yang telah mengkhianati kita?" Robert akhirnya buka suara, walau suaranya cukup pelan.

Para penasihat butuh beberapa detik untuk menjawab. Mereka merasakan ada amarah dibalik suara tenang Robert. Sementara Robert butuh jawaban, Robin hanya duduk santai disana, bersidekap sambil meminum tehnya dengan tenang.

"Prince Osyris dari Klan Blackburn." jawab salah satu dari mereka.

"Apa yang membuat para Blackburn seberani itu?"

"..." para penasihat diam.

"Mereka mendapat jaminan dan bantuan dari seseorang." Robert menebak.

"Yang mereka dapatkan dari Lady Venicia Lindegard." Robin menyambar. "Musuh utama kerajaan. Seseorang yang kau biarkan berkeliaran bebas di kerajaan saat itu, anak haram."

"Siapa yang telah membunuh mereka?" Robert kembali bertanya. "Siapa yang membunuh kakak?"

"Mantan gurumu. Sir Arthur Aenom!" Robin menjawab lantang.

Robert keluar dari ruang aula. Dengan emosi kemarahan yang sudah meledak kencang didalam raganya.

Untuk beberapa saat, niat untuk membalas dendam muncul. Robert diliputi kebencian. Ia bersumpah pada hidup dan matinya, bahwa ia pasti akan membunuh Sir Arthur beserta Prince Osyris. Dengan tangannya sendiri.

.
.
.

Bush beserta para ajudannya tengah berburu di Green Woods. Sudah 12 ekor kijang berhasil dipanah mati oleh King Bush dalam rentang 30 menit saja. Menunjukkan bahwa moodnya sangat buruk saat ini, seakan membunuh adalah caranya untuk melampiaskannya.

"King Bush!" seorang ajudan datang memanggil, berlari menghampiri King Bush yang tengah fokus pada dua ekor kijang buruannya. Ajudan itu membawa sebuah kertas. "Rombongan dari Klan Waterfall menerima undangan kita. Mereka akan datang beberapa hari lagi."

"Bagus." sahut King Bush. "Pastikan siapkan tempat untuk pangeran mereka menginap. Kita akan menyambut mereka."

"Menyambut mereka, Yang Mulia?" sang ajudan mengerut keningnya.

"Hampir dari seluruh dunia ini menginginkan kematianku. Aku butuh bantuan salah satu klan besar. Windwinter dan Highspring membenciku, satu-satunya harapanku hanyalah Waterfall. Pastikan mereka disambut dengan baik."

"Apakah anda..." sang ajudan mencoba menebak.

"Ya." King Bush memotong. "Aku sudah tak punya niat untuk memerintah kerajaan sialan ini. Aku akan menyerahkan takhta pada Waterfall."

"Itu berarti keruntuhan dinasti kita. Itukah yang anda inginkan, Yang Mulia?!"

King Bush tak menjawab. "Selama aku dan keluargaku bisa tetap hidup. Aku akan melakukannya."

"Itu langkah yang tidak benar! Kita masih bisa berjuang! Pasukan kita sedang berperang demi membawa kemenangan pada anda di Windwinter. Dan anda berniat mengkhianati kepercayaan mereka? Menghancurkan harga diri Rivermont?"

"Hati-hatilah dalam berucap, bajingan." bentak King Bush. "Cukup lakukan apa yang kuminta!"

"Baik!!"

King Bush menegak minumannya kembali sebelum melanjutkan perburuannya. Ia masuk jauh kedalam hutan, menyadari bahwa mangsanya tak kunjung menunjukkan diri. Sang raja tak sadar bahaya yang menantinya jika masuk terlalu jauh dalam kawasan Green Woods.

"Grr...." suara serigala menggeram terdengar.

King Bush mengaktifkan Knightsealnya, tersadar akan kehadiran hewan buas didekat dirinya. Saat itu, tiba-tiba penglihatannya kabur. Keseimbangannya goyah. Itu adalah efek karna terlalu banyak meminum anggur. Ia merutuki kelalaiannya itu. Perlahan serigala itu berlari melesat kearah dirinya. Mengeluarkan taring dan cakar tajamnya.

"GRAAAARR!!"

"Sial!" seru King Bush.

JRASSHH!!!

.
.
.
.

Istana Ferdinand. Prince Osyris beserta para prajuritnya berdiri tepat didepan pintu gerbang. Dengan Sir Arthur yang juga berada ditempat yang sama. Mereka hendak menyambut kedatangan Lady Venicia. Yang kata Sir Arthur akan datang secara personal ke tempat itu.

Suara auman misterius tiba-tiba terdengar dari atas langit. Seketika semua yang ada disana diserang rasa terkejut. Bahkan merinding.

"Suara apa itu?"

"Asalnya dari langit!"

Prince Osyris terdiam menatap langit. Perlahan senyumpun timbul.

Seekor naga, melayang gagah dengan kepakan sayapnya yang luar biasa kencang. Lady Venicia menungganginya. Osyris dan prajuritnya terpaku tak percaya, tersadar bahwa cerita yang dikatakan Sir Arthur bukan sekedar bualan semata. Lady Venicia memiliki naga, dengan ukuran hampir setara dengan istana didekat mereka.

"GRAAAAAARRR!!!" Naga itu mengaum kencang begitu turun ke tanah, mengaum kearah barisan Prince Osyris dan pasukannya yg ketakutan.

Sir Arthur berdiri. "Sekarang sambutlah beliau, Prince Osyris."

Prince Osyris tersentak. "Kau benar, hahaha!"

Osyris bertepuk tangan, diikuti para pengikutnya.

Lady Venicia turun dengan anggun. Membuat siapapun terpesona dengan paras ayunya.

"Lady Venicia." Osyris dan pasukannya langsung berlutut kala Lady Venicia berhenti dihadapan mereka.

Lady Venicia diam. Dan kemudian memandang Sir Arthur datar.

"Kita harus bicara." ucap sang puteri.

"Mari masuk kedalam, tuan puteri. Kami telah menyiapkan sambutan untuk anda." ucap Osyris.

"Diluar saja." jawab Lady Venicia tegas. "Aku dengar kalian melakukan pembantaian dalam istana kalian sendiri. Kutebak masih bau, ya kan?"

Osyris terdiam tak tahu harus berkata apa. Disatu sisi, perkataan Lady Venicia memang benar adanya, disisi lain, dia masih terpesona dengan kecantikan sang puteri..

"Sir Arthur." panggil sang puteri. "Kau pergi tanpa seizinku. Kau tahu bahwa itu sangat tidak sopan, bukan?"

"Maafkan saya, Lady." Sir Arthur berlutut. "Saya mencoba memberikan hadiah. Dengan membunuh Ryder Rivermont untuk anda."

"Dengan cara membunuhnya di sebuah pesta. Begitukah?" sambung Venicia, sedikit kecewa mendengar Sir Arthur memakai trik kotor seperti itu.

Sir Arthur terdiam cukup lama. "Tetapi dengan ini, kita menang, Yang Mulia."

"Kita belum menang sama sekali, Sir Arthur." ucap Venicia. "Bukankah sudah kubilang bahwa akan terus ada peperangan yang datang setelah ini? Setelah apa yang kalian lakukan?"

Lady Venicia berbalik. Terdiam menatap naga miliknya yang saat ini tengah terbang tinggi dilangit.

"Aku tak bisa merebut Summerdome dengan naga." gumam Venicia.

"Mengapa, tuan puteri?"

"Summerdome adalah kampung halaman para naga. Naga-nagaku tidak ingin menyerangnya."

"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Osyris.

"Yang jelas, aku tak ingin ada lagi trik menjijikan seperti yang kalian lakukan pada Prince Ryder." ucap Lady Venicia. "Kuulangi, aku tak ingin hal ini terulang lagi."

"Saya mengerti, yang mulia."

"Aku akan memerintah sementara di Highspring. Sampai aku memiliki cukup prajurit untuk merebut Summerdome dari para pemberontak Rivermont itu." ujar Lady Venicia. "Blackburn butuh perlindungan dari Rivermont. Aku akan menyediakan perlindungan itu sesuai janji."

"Baik, yang mulia!"

Lady Venicia mendongak menatap langit. Berkata pada dirinya sendiri bahwa perang sesungguhnya, baru saja dimulai. DISINI.

Robert telah menyiapkan segalanya, segala yang ia perlukan untuk mencapai tujuan balas dendamnya. Kini, ia melesat menuju Istana Ferdinand, ke tempat dimana keluarganya terbunuh. Tempat dimana Lady Venicia dan para pasukannya berada.

Ia bersumpah tidak akan pulang. Sebelum memenggal kepala Osyris dan Sir Arthur Aenom.

Tbc





Bocah Redoks
2017-11-25 20:03:02
Jadi bingung mau dukung yg mna
Yukki Amatsu
2017-11-25 05:54:10
Dendam-nya membara bgt ya.... Lanjut....
Sqouts Shadows
2017-11-24 21:50:30
Akhirnya sang tokoh utama beraksi juga, ditunggu chapter berikutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook