VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #9

2017-11-24 - Adam Beneath Us
34 views | 3 komentar | nilai: 10 (1 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, Fantasy, War, Politic (?)

Chapter 9

.
.
.

Belati Sir Arthur telah menancap di jantung Ryder Rivermont. Tangannya telah dibasahi darah. Darah 'suci' yang menandakan kemenangannya. Perlahan tubuh Ryder lunglai dan jatuh ke lantai, diakhir kesadarannya, sang pangeran menatap jasad sang adik, Freya, dengan pilu, untuk terakhir kalinya. Meratapi kegagalannya untuk melindungi dirinya.

"Yeah!!" Prince Osyris berteriak girang diikuti seluruh pasukannya begitu Ryder menutup kedua matanya.

Mereka semua tertawa diatas tanah yang penuh darah.

"Membunuh seseorang disaat pernikahannya. Benar-benar hal pertama yang pernah kulakukan sepanjang hidupku!" Osyris tertawa. "Sangat menyenangkan!"

Sir Arthur menyimpan belatinya setelah membersihkannya dari noda darah Ryder. Ia berucap kalem sembari memunggungi Osyris.

"Lady Venicia akan datang kesini sebentar lagi. Lebih baik bersihkan kekacauan ditempat ini sebelum terlambat."

Osyris terkejut. "Benarkah? Gawat! Semuanya, cepat bersihkan tempat ini! Jangan sampai ada yang kotor, kalian paham?! Ratu kita akan datang!!" seru Osyris keras.

"Baik!!" Para pasukan Osyris langsung bergerak sesuai komando. Sementara Sir Arthur langsung pergi dari situ, dipandangi dengan kagum oleh Osyris.

King Juniles menghampiri. Memberikan sebuah jabat tangan kepada sang pangeran. Osyris tersenyum, membalas jabat tangan King Juniles dengan ramah pula.

Princess Vera masih berdiri didekat mereka.

"Selamat atas keberhasilanmu, Osyris."

"Ini berkat bantuan anda, King Juniles. Selamat pada anda karna dendam anda terbalaskan." ucap Osyris. "Orang ini membunuh putra anda, Vicius, bukan?"

"Benar. Pewarisku." gumam King Juniles, menatap jijik pada Ryder. "Aku bersyukur putriku Vera tidak menikah dengan si brengsek itu."

Vera tersenyum, "Aku mendapat pengganti yang lebih baik, ayahanda." katanya sembari memeluk lengan kekar Osyris. Mereka saling melempar senyum, sebelum akhirnya saling berciuman mesra.

King Juniles tersenyum puas.

.
.
.

Zack Rashford berjalan melalui lorong istana dengan masih mengenakan pakaian latihan. Zack penuh dengan keringat, tapi mau bagaimana lagi, dirinya dipanggil untuk menghadap sang raja.

Pintu ruang rapat dibuka. Zack perlahan masuk, disana sudah ada sang raja beserta penasihat dan juga para petinggi kerajaan. Rapat terhenti sejenak mengetahui Zack telah hadir.

"Akhirnya, datang juga kau." King Fayres menyambut sang putra senang. "Duduklah. Ada sesuatu yang besar yang ingi kuberitahukan padamu."

Zack duduk sesuai yang diperintahkan. Benaknya sudah terkumpul banyak pertanyaan. Lantas ia bertanya.

"Ada keperluan apa?"

"Berikan surat itu pada anakku." suruh King Fayres pada penasihatnya.

Zack mengambil kertas yang diberikan padanya. Kemudian membacanya dengan perlahan.

"Lebat kabut menyiram padi, padi tumbuh diatas tanah. Para ksatria telah mati, dan mereka jadi lemah." ucap Zack menirukan apa yg tertulis. Keningnya berkerut tanda bingung.

King Fayres tersenyum girang. "Kau paham apa artinya, anakku?"

"Kukira ini cuma sebuah pantun yang sangat buruk." Zack mengangkat bahu. "Apakah ada makna lain didalamnya?"

"4000 pasukan Knightseal, Ryder Rivermont, mereka sudah mati. Dan juga ratu mereka!" seru King Fayres. "Kita memiliki putra keduanya. Selangkah lagi Bush akan hancur, gwahahaha!"

"Mereka dibunuh di pesta pernikahan?" tanya Zack datar. "Ryder juga?"

King Fayres mengangguk tanpa menghapus senyumnya. Zack terdiam seribu bahasa. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Haruskah ia senang atas cara mati seseorang yang pernah jadi sahabat dekatnya?

Ryder, anggota elite dari Klan Rivermont dan Kerajaan Summerdome. Orang yang mendambakan hidup bebas, tanpa terikat dengan aturan apapun, tanpa terikat dengan kewajiban kerajaan. Meninggal karna memenuhi kewajibannya. Ditusuk dari belakang oleh Klan Blackburn, sekutu mereka yang berkhianat.

Para Rivermont akan selalu ingat, bahwa musuh yang mereka miliki hampir dari separuh dunia ini

.
.
.

Raw Rivermont, masih terkurung di kandangnya dan dijaga ketat oleh 3 orang prajurit Kerajaan Windwinter di bawah tanah.

"Psst..." Raw bersiul. Salah satu prajurit menengok. "Aku ingin ke toilet." pintanya.

Para prajurit itu saling pandang. Sebelum salah satunya menimpali. "Kau sudah ke toilet 5 menit yang lalu, brengsek. Bersyukurlah karna Prince Zack berbaik hati memperbolehkanmu pergi ke toilet. Atau kau pasti akan menghabiskan sisa hidupmu bersama kotoran-kotoranmu disini."

Mereka langsung tertawa.

Raw juga sama. Membuat mereka terheran.

"Kenapa kau tertawa, huh?"

"Leluconmu lucu. Apa salah jika aku tertawa?" kata Raw.

"Huh. Sudahlah, abaikan saja si bodoh ini."

"Hei." Raw memanggil lagi. "Apakah kalian membenciku?"

Salah satu prajurit langsung berbalik memandang dirinya. "Ya, aku membencimu." ucap pria itu dengan amarah.

Raw tersenyum. "Berapa temanmu yang sudah kubunuh?"

"24." jawabnya.

"24." ulang Raw. "Kau punya nama, prajurit?"

"Kevin."

"Apa yang ingin kau lakukan kepadaku jika aku bebas, Kevin?"

"Pertama, aku akan membunuhmu. Lalu, aku akan mencekikmu dengan ususmu sendiri."

Raw tersenyum tipis. "Cukup adil."

"Oh ya?"

"Kenapa kau tidak melakukannya sekarang, hm?"

Kevin langsung membuka kunci penjara Raw.

"Dengan senang hati." ucapnya.

Ketika Kevin hendak menyentuh Raw. Raw langsung menyundul Kevin keras, Kevin mengaduh kesakitan, dan Raw langsung melilit leher pria itu dengan rantai yang mengikat tangannya, sekuat tenaga.

"Kevin!!" Kedua prajurit lainnya berseru panik.

"Jangan bergerak!" ancam Raw.

"Tembak dia. Jangan pedulikan aku!" seru Kevin.

GRRRTTT...

Raw melilit Kevin kencang hingga rantai borgolnya mengikis akibat gesekan dengan armor milik Kevin. Kevin mulai sesak napas, Raw makin kencang mencekik.

JRASSHH!!

Rantai itu terpotong, bersamaan dengan patahnya leher Kevin. Raw kini bebas. Dan dua prajurit tadi langsung meraih senapan musket, mencoba melumpuhkan Raw ditempat.

DORR!!

DORR!!

Raw menggunakan badan Kevin yang terselimuti armor sebagai tameng. Kemudian ia langsung meraih pedang yang tergeletak dan melesat kencang kearah dua prajurit itu sembari menyeringai.

"GWAAA!!!" Dua prajurit itu memekik panik.

JRASHH!!

JRASSHH!!

Mereka tertebas dengan telak oleh Raw. Tepat setelah itu, Raw bangkit, menggerakan kedua kakinya dan bergerak untuk mencari tempat kabur.

Raw terus berlari disepanjang lorong penjara bawah tanah. Sesaat, Raw merasakan penjagaan sangat longgar dipenjara itu, ia merasakan ada yang tidak beres. Hingga ia mendapati pintu keluar terbuka lebar, dengan seseorang yang berdiri disana tanpa menyadari keberadaan Raw.

Raw melesat, menggenggam erat pedangnya, kemudian ia terus berlari mengarah pada prajurit itu.

TRANGG!!!

Namun, diluar perkiraan, tebasan senyap yang dilakukan Raw masih bisa ditepis oleh prajurit itu. Yang ternyata sejak awal sudah menyadari keberadaan dirinya.

Raw terkejut, sementara prajurit itu melemparkan senyuman ringannya. Mereka lalu saling melompat menjauh, berhadap-hadapan dalam jarak 5 meter, saling mengitari.

"Apakah kau tahu siapa aku?" tanya prajurit itu.

"Cuma mayat biasa." jawab Raw remeh.

"Ijinkan aku memperkenalkan diri." ucap prajurit itu. "Namaku William Rashford."

"Ooh..." Raw menyeringai. "Aku tak mengenalmu sebelumnya, tapi yang kutahu, kau adalah tiketku untuk keluar dari sini."

"Benar, aku adiknya Zack Rashford. Kau pasti bisa kabur dari sini jika kau menyanderaku. Tetapi, pertanyaannya adalah..." William langsung mengambil posisi siap. "Apakah kau bisa?"

Raw menyeringai.

TRANGG!!

William dan Raw saling beradu tebasan. Saat itu, pedang milik William tiba-tiba bersinar. Raw tersadar akan sesuatu.

JDAAKK!!

Raw dihempaskan dengan tendangan oleh William.

"Kau mengenakan Knightseal." gumam Raw.

"Apa itu semacam isyarat untuk menyerah, Prince Raw?"

Raw tertawa. "Aku tak takut dengan senjata yang diciptakan ayahku. Malahan, aku ingin sekali MENGHANCURKAN BENDA ITU!!"

William langsung bergerak cepat, kecepatannya bertambah 2x lebih cepat. Melesat menuju Raw yang hanya bermodalkan sebuah pedang rampasan.

Raw dan William saling bertukar tebasan. Raw mampu mengimbangi kekuatan tempur William yang bermodalkan Knightseal, meskipun yang bisa ia lakukan hanyalah bertahan terhadap serangannya.

Pedang William teraliri listrik merah.

DUAAARR!!

Dalam sekali tebas, dinding terbelah dengan sangat lebar. Raw beruntung dapat menghindar.

William kembali mencoba menyerang Raw.

Saat itu. Salah satu kakinya terkilir. "Ukh!!" Ia lengah.

Raw menyikut keras wajah William, hingga pedangnya terlepas. William sendiri harus jatuh ditanah. Mendapat dua cedera sekaligus, kaki dan hidungnya.

"Kau belum terlatih dengan Knightseal. Jangan kau kira mengendalikan benda itu semudah membalik telapak tangan. Kau perlu latihan." ujar Raw dengan santai.

"Kau punya kesempatan emas untuk menangkapku, Prince Raw." ucap William, masih terbaring ditempatnya.

Raw memandang pedang ditangannya. "Kau tahu apa yang kukatakan pada kakakmu ketika kami bertarung?"

William bangkit perlahan tanpa memegang senjata apapun.

Raw melanjutkan. "Aku tak suka mengakhiri pertempuran dengan cara politik!"

Raw membuang pedangnya. Dan melesat menyerang William yang juga tak bersenjatakan apapun.

Mereka saling baku hantam dengan tangan kosong. Serangan demi serangan dibangun rapi oleh Raw, membuat William hanya mampu bertahan.

BUAKKK!! Satu hantaman Raw mendarat kencang di pelipis kanan William.

DUAKKK!! William membalas dengan tinjuan di perut.

BUAAAKK!! Raw membalas lagi dengan tendangan menyapu, melontarkan William hingga bentrok dengan dinding.

William yang tak ingin menyerah, langsung memanfaatkan Knightsealnya, bergerak cepat dengan sebuah tinjuan terarah pada Raw.

"HEYAAAHH!!"

TEPP!! Raw mampu menahan tinjuan tiu. Lantas ia memiting lengan William dan memojokkannya ke tembok.

"Jangan bergerak atau aku akan membunuhmu." ancam Raw.

William tak mampu bergerak karna kuncian dari Raw. Ia mau tak mau harus menerima kekalahannya atas Raw saat ini, atau ia akan kehilangan tangannya

"Bawa aku keluar." perintah Raw. "Tunjukan jalan keluar dari tempat ini. Lalu aku akan melepasmu."

William tersenyum simpul. "Jalan keluar? Jangan bercanda, Rivermont."

GRRTT!!.

"AKHH!!"

"Cepat katakan atau aku akan mencekikmu dengan ususmu sendiri!" ancam Raw lagi.

"Halo, Raw."

Seseorang dengan nada beratnya menyapa Raw.

Seorang pria kekar, setinggi hampir 2 meter dengan wajah penuh luka. Tengah duduk disalah satu sel penjara. Memandang Raw sambil tersenyum. Melihat orang itu, Raw terkejut bukan main, hingga ia tak mampu menyembunyikannya.

Raw langsung menghantam William kencang. Membuatnya pingsan.

"Rudgard." ucapnya.

Pria itu berdiri. "Sudah kubilang, Rudgard itu nama belakangku."

"Maksudku, SIR BARTHOLOMEO RUDGARD." tanya Raw lagi, berjalan perlahan menuju sel penjara pria itu.

Ia langsung tersenyum. "Begitu juga bagus."

Sir Bartholomeo Rudgard adalah salah satu The Seven Guards yang ikut serta dalam penyerbuan Raw ke Windwinter beberapa pekan yang lalu. Raw mengira seluruh prajuritnya sudah tewas oleh pasukan Zack Rashford, termasuk Sir Bartholomeo. Namun, ia tak menduga kalau ia masih hidup dan dipenjara di penjara yang sama dengan dirinya.

"Keluarkan aku dari sini, Raw. Akan kubantu kau keluar dari Windwinter."

"Baru kali ini kudengar kau memanggilku tanpa gelar, Bart." ucap Raw.

"Persetan dengan gelarmu. Kau masih berani menyebut dirimu pangeran setelah kalah 3x dari orang yang sama, huh?"

"Bagaimana denganmu? Kau tak malu dengan gelar 'Sir'-mu itu setelah tak mampu membantuku memenangkan perang?"

"Kau kalah dari Zack karna kebodohanmu sendiri, idiot. Jangan berani-beraninya menyeret namaku sebagai salah satu alasanmu."

"Apa yang kudapat setelah membebaskanmu?" tanya Raw.

"Jika kau membebaskanku, aku akan membawamu pulang dengan selamat pada papamu." jawab Sir Bartholomeo.

Raw lalu menyeringai tipis. "Dan jika tidak?"

"Jika tidak?" Sir Bartholomeo membalas seringaian. "Maka aku akan menunggu orang lain membebaskanku, lalu datang padamu dan mencekikmu dengan ususmu sendiri!"

Raw tersenyum kecut. Ia lantas mengambil Knightseal miliknya dari William, dan menggunakannya untuk menebas jeruji besi yang mengurung Sir Bartholomeo. Membebaskan sang ksatria Seven Guards dari kandangnya.

"Penjagaan sangat longgar ditempat ini. Kau tahu ada apa?" tanya Raw sembari memperhatikan sekeliling.

"Mungkin ada peperangan lain yang terjadi." jawab Sir Bartho memperkirakan. "Pasti keluarga besarmu malu jika kau terus dikurung seperti anjing bodoh disini."

"Keh." Raw hanya mendecih.

"Raw." Sir Bartho melempar segulung kertas pada sang pangeran. Raw menerimanya. "Beritanya menyebar sejak pagi tadi. Aku dapat dari seorang penjaga."

"Berita?"

Wajah Sir Bartho berubah serius. "Bacalah."

Raw membukanya. "Queen Brianna, Ryder Rivermont, Freya Rivermont dan 4000 rombongan dari 3 klan pengusung Summerdome dibantai dalam pernikahan di Istana Ferdinand." Raw membacanya dengan tenang. Seakan itu bukanlah apa-apa.

Sir Bartho berjalan mendahului sang pangeran. "Aku akan membunuh Osyris brengsek itu."

Sir Bartholomeo adalah salah satu anggota dari klan Rudgard, salah satu klan yang jadi korban dari pengkhianatan Osyris. Tak mungkin pria penuh kehormatan seperti dirinya diam saja mendengar kabar anggotanya dibantai. Tapi, ada apa dengan Raw? Tidakkah dia marah mendengar hal ini? Ibundanya, kakak serta adiknya terbunuh. Dan ia masih bisa menunjukan wajah datar tanpa perasaan itu?

"Huh."

Hanya ekspresi sinislah yang ia buat di wajahnya. Sembari menyimpan kembali pedangnya, ia mulai berjalan pergi, dengan satu tujuan yang pasti akan ia lakukan.

.
.
.


Yukki Amatsu
2017-11-24 17:31:48
Sayang admin gak balik lagi, padahal kalo dibuat chapter lebih menarik nih...
Bocah Redoks
2017-11-24 16:42:29
Drama semakin menarik. Intrik bertebaran
Sqouts Shadows
2017-11-24 10:36:52
Lanjut
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook