VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Breaker Chapter 05.

2017-11-12 - Sovaren DF F
25 views | 1 komentar

Bangku dibawah pohon, Shi Woon dan Sae Hee duduk berdampingan.

"Apa kamu ingat acara pikinik dulu saat dulu kita kelas 1 SD?"

"Kita berdua terpisah dari rombongan, dan semua orang bahkan sampai mencari kita berdua." Sae Hee bercerita, terlihat keduanya sedang memegang minuman kaleng.

"Hari itu sangat menyenangkan, meskipun acara pikniknya jadi berantakan dan kita dimarahi habis-habisan." Shi Woon terlihat hanya mendengarkan saja.

"Shi Woon.."

"Aku dengar kamu di bully yah?" Sae Hee mulai mengaligkan topik.

"Maaf ya. Aku sama sekali tak mengetahui jika kamu memiliki masalah serumit itu."

"Ka..kamu tidak perlu minta maaf." Shi woon menanggapi dan berbicara singkat.

"Berjuanglah, kamu yang semangat."

"Katakan saja padaku jika ada hal yang bisa kulakukan untukmu. Aku akan membantumu, apapun itu."

Shi Woon pun melirik kearah Saehee, sejak dari tadi memang ia tak berani memandang gadis trsbut.

"Apapun?" gumam Shiwoon.

"Ya." jawab Sae hee.

Waktu berlalu,
Ruang Guru.

Bel tanda jam pelajaran pun Berdering.

"Hore pulang.!!" teriak Chun woo dengan semangat, ia bahkan melemparkan lembaran kertas yang ia kerjakan keatas, terlihat tingkah konyolnya seperti anak SD saja. Guru-guru disana pun sweatdrop dengan tingkah pria itu.

Ia segera memakai jas nya dan menggandeng Yunji dan berkata.

"Buguru, pulang yuk sekarang."

"Eh?"

"Kalau segera pulang, kita bisa nonton film dulu." Chun woo berlari konyol sambil menarik atau tepatnya menyeret Yunji.

"Tunggu dulu, Han Sunsengnim."

"Hai?"wakil kepala sekolah menghentikan tingkah pria itu.

"Lihat ini?" wakil kepala sekolah menepuk-nepuk tumpukan lembaran kertas yang begitu banyak.

"Apaan nih?" Chunwoo mengambil selembar, terlihat wakil kepala sekolah marah.

"Itu adalah tumpukan pekerjaan anda yang selalu ditunda." teriak Wakil kepala sekolah hingga beberapa lembar kertas yang enumpuk tadi berterbangan.

"Apalagi tiap hari anda datang kesekolah dengan penampilan seperti itu, sangat tidak pantas."

"Susah payah aku berusaha menerimanya dengan pikiran terbuka karena kukira kau adalah guru generasi baru."

"Tapi ternyata kerjamu juga sama sekali tak ada hasil, tak becus. Apa pantas orang sepertimu menjadi guru?" teriaknya sambil menunjuk-nunjuk Chunwoo yang terdesak karna serangan teriakan dan hujatan beruntun. Teriakan Wakil kepala sekolah menggema diruang Guru tersebut.

"Ahahaha, tenang saja. Besok pasti akan ku kerjakan ko." Chun woo memberikan wajah terbaiknya sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Kerjakan sekarang!" tegas wakil kepala sekolah.

"Kalau tidak diselesaikan hari ini juga, kupecat kau jadi guru." api yang menjilat-jilat berkobar dibelakang tubuh wakil kepala sekolah menandakan ia sangat marah.

"Eh?"

Halaman Belakang Gedung Olahraga.

Chang Ho dan gengnya sudah nongkrong menunggu Shi Woon, terlihat Chang ho sedang bermain game.

"Hm?cih, kenapa dia lama sekali?" gumam siswa berambut pirang.

"Jangan-jangan dia tidak datang."

"Itu sih cari mati." ucap Chang ho singkat ia masih fokus pada gamenya.

"Hihihi. Betul, dia kan orangnya pengecut." tambah siswa berambut runcing.

"Ng?"

Shi Woon pun datang keluar dari balik bangunan tersebut.

"Wah baru saja dibicarakan."

"Woy, kenapa lama sekali?" teriak si rambut runcing.

Ia pun berjalan kearah Shi woon dan bertanya.

"Kemana cewekmu? Suruh dia keluar." terlihat memang Shi woon datang sendirian, ia tak menjawab.

"Apa ada disana?" si rambut runcing berjalan kearah balik bangunan.

"Panggil dia kesini cepat." namun Shiwoon tetap tak menanggapi.

"Hei.! Jangan diam saja. Cepat suruh dia keluar!" ia pun menampar Shi woon.

"Tidak." jawab Shiwoon datar.

"Apa?"

"Saehee tidak akan datang!" teriak Shiwoon yang kemudian meninju pipi si rambut runcing, hal itu sontak membuat yang lainnya terkejut. Bahkan Chang ho menghentikan gamenya.

Untuk pertama kalinya Shiwoon melawan, wajar saja mereka terkejut.

"A..apa yang kau lakukan berengsek.!" si rambut runcing membalas pukulan

"Sialan.."

"Berani-beraninya.." si rambut runcing menarik baju Shiwoon dan hendak melayangkan tinjunya lagi, namun..

"Cukup.!" ucap Chang Ho.

"Apa-apaan kau?" Chang Ho berjalan kearah mereka berdua dengan wajah yang marah. Si rambut runcing pun melepaskan cengkraman tangannya.

"Cari mati ya?" shiwoon lagi-lagi tak menanggapi, ia memasang wajah datar.

"Aku tanya padamu apa kau cari mati?" shi woon mulai bergetar, terlihat tangan kanan yang mengepal pun bergetar. Ia pun memasang tatapan tajam kearah Chang ho.

"Apa hah?"

"Haaaaaa," Shiwoon melayangkan pukulan sambil berteriak.

'Setelah mendengar ucapan Sae Hee, aku jadi tenang.

Chang hoo dengan mudah menghindar.

'Sae Hee tetap mau membantuku meskipun dia tau jika kondisiku sepdrti ini.

Chang ho memukul Shi woon.

'pak guru benar.

Si rambut runcing memegangi Shi woon.

'Aku memang pengecut.'

Changho terlihat memukuli wajah Shiwoon.

'Yang dibelenggu ketakutan.' shiwoon mencoba melepaskan diri.

'Karena takut dipukuli.' darah pun memuncrat, shiwoon ambruk setelah menerima pukulan dari Changho. Chang ho kemudian berjalan pergi. Kemudian teman-temannya menghajar shiwoon dengan menendangnya berulang kali.

'Aku hampir menjual temanku, aku jadi gila gara-gara ketakutan'

Shiwoon terkapar dengan mulut mengeluarkan darah.

'Benci, aku sangat benci pada diriku sendiri.. Sampai ingin mati saja rasanya.'

'Tapi aku ingin berubah.' Shi woon pun bangkit.

'Aku akan berubah.'

"Huwaaaaa.." Shiwoon kembali mengayunkan tinjunya. Kali ini ia tak mau menyerah lagi, ia tak akan ingin dihajar tanpa perlawanan.

Waktu berlalu, langit Seoul mulai gelap.
Ruang Guru.

"Hoammm.." Chunwoo menguap besar setelah ia menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk tadi sore. Ia berjalan keluar ruangan sambil meregangkan tubuhnya yamg sepertinya pegal.

"Hmm.. Akhirnya selesai juga."
"Kenapa wakil kepala sekolah tidak sabaran gitu sih?" Chunwoo telah mengenakan jasnya.

"Padahalkan masih bisa dikerjain besok."

Ia berjalan pergi dari sana.

"Susahnya jadi guru, gajinya juga sedikit. Pantas saja disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa." sepanjang menyusuri koridor, ia terus menggerutu. Tiba-tiba ponselnya berdering, ia pu melihat siapa yang meneleponnya.

"Yunji Shii.."

"Ah ya, sudah selesai ko. Bagaimana kalau kita langsung bertemu direstoran saja." telepon pun terputus.

"Biarpun susah, sekarang bersenang-senang dulu ah." ia kembali melompat-lompat konyol, sepertinya itu ciri khas ia kegirangan.

Di belakang gedung olahraga.

Changho menyulut rokok kemudian menghisapnya,

"Cih, anak itu sudah gila ya." ketus si rambut pirang.

"Harus diajari disiplin lagi dia." sambung Changho.

"Tidak apa-apa, mulai besok kita disiplinkan dia pelan-pelan." mereka semua pun pergi.

"Lalalala.." dihalaman sekolah, chumwoo bersenandung ria.

Dihadapannya terdapat bangunan gedung olahraga.

"Hmm, lebih ceat kalau lompat dari sini ya?" gumamnya, ia memperhatikan sekitar dan tak menemukan siapapun. Ia pun melompat tinggi. Melewati bagunan tersebut. Sungguh hal mustahil bagi manusia biasa, normalnya manusia tak dapat melompat lebih tinggi dari 1 meter diatas tanah. Sementara Chunwoo melompat dengan santai melewati bangunan yang tingginya sepertinya lebih dari 3 meter.

"Uh.. Uwaa.." ia terpeleset, namun dapat menyeimbangkan diri. Ia pun mendarat tepat dibelakang Gedung olahraga tersebut.

"A..ada apa nih?" ia melirik kearah Shiwoon yang sedang terkapar bersandar di dinding.

"Hah, dia lagi?" gumam Chunwoo.

"Ck. Kdnapa aku selalu berurusan dengan bocah ini sih." ia berjongkok dihadapan Shiwoon sambil menggaruk belakang kepalanya.

"Anggap saja tidak lihat apa-apa ah." ia melompat keatas bangunan lain.

"A..ayo maju."

"Aku bukan sampah." ucap Shiwoon yang sepertinya berkata tanpa sadar, terlihat bahkan ia memejamkan mata dngan hidung dan mulut mengeluarkan darah. Chunwoo yang mendengar hal itu melirik kearah Shiwoon.

Bersambung


Bocah Redoks
2017-11-13 21:44:14
Hmm. Ayo buktikan jati dirinya seorang lelaki kawan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook