VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Breaker Chapter 04.

2017-11-12 - Sovaren DF F
45 views | 2 komentar

Waktu berlalu, keesokan harinya.

"Apa ini kelas Shi Woon?" Sae Hee menengok kedalam kelas dari ambang pintu. Beberapa siswa pun melirik kearahnya.

"Apa Shi Woon ada?" Seorang siswa pun berdiri.

"Ti..tidak, dia tidak ada. Entah kemana."

"Begitu ya?"

"Kalau ketemu dia, tolong sampaikan padanya kalau Sae Hee dari kelas 1-3 mencarinya ya."

"Eh.. Iya.."

Sae Hee pun beranjak dan pergi dari sana.

"Aw.."

"Minggir dong.." dua orang siswa dari kelas Shi Woon memperhatikam kepergian Sae hee dari pintu.

"Itu bukannya Sae Hee?"

"Iya.. Siswi kelas 1 yang paling cantik." siswa berkacamata menanggapi.

"Gosipnya, dia dekat dengan Shi Woon. Apa benar?"

"Seperti itulah." dari kejauhan terlihat Saehee berjalan demgan teman wanita berkacamata.

Jauh dibelakang SaeHee, terlihat Chang Hoo dan teman-temannya memperhatikan.

Taman dekat lapangan olahraga.

Shi Woon sedang duduk diatas kursi panjang terbuat dari kayu.

"Sebaiknya aku sebisa mungkin menghindar dari Chang Ho."

"Ini pun demi keselamatan Sae Hee" pikirnya ia terlihat sedang makan sesuatu. (entah apa namanya, tapi terlihat seperti roti isi yang digoreng,)

"Kekelas pun kalau pas jam pelajaran saja. Mereka pasti takkan berani macam-macam kalau ada guru."

"Dan sebentar lagi bel masuk berbunyi."

"Wah,wah coba lihat bocah ini." ucap siswa berambut runcung.

"Menghilang sempanjang jam istirahat. Apa kau menghindari kami?" tanya siswa berambut pirang.

Chang Hoo dan siswa berkacamata ada dihadapan Shi Woon.

"Dia Cantik." Chang Ho duduk disamping kiri Shi Woon.

"Eh?"

"Pacarmu." tambah pria itu. Shi woon mendadak berkeringat.

"Pa..pacarku? Siapa?" Shi Woon mencoba pura-pura tak tahu.

Tangan kanan Chang Ho pun menekan leher belakang Shi Woon. Ia mendekatkan dirinya.

"Pura-pura nggak tahu? Wanita yang melaporkanku ke ruang guru itu Sae Hee kan?" seringai tajam terlukis pada wajahnya.

"Pulang sekolah hari ini, bawa dia ke belakang gedung olahraga." Changho bangkit dari duduknya.

"Kalau tidak, rasakan akibatnya." tambahnya yang cengkraman tangannya lebih erat di leher belakang Shi Woon.

Mereka berempat pun meninggalkan Shi Woon yang tertegun.

"Ketahuan." pikirnya yang panik.

"Padahal aku tadi menyangkalnya." Shi Woon pun membayangkan Saehee.

"Kenapa dia terus mengikutiku sih?"

"Aku harus bagaimana.?" Shi Woon panik, ia memegang kepalanya, tepatnya menutup kedua telinganya.

Ia pun melihat ponselnya dan teringat akan seseorang.

Ruang Guru.

"Bu Guru sudah salah paham loh." Chun woo coba membujuk Yunji. Dan meyakinkannya tentang kejadian sebelumnya.

"Huh.. Aku tidak salah paham." Yunji terlihat cemberut.

"Malam ini ada acara?, aku sudah memesan tempat di Restoran Perancis untuk kita."

"Re... Restoran perancis?" terlihat Yunji terkejut, sepertinya Restoran tersebut adalah tempat yang mewah.

"Hm, kita berdua bisa makan malam bersama dan..."

"Ah pak Guru Han." sela guru pria.

"Ada siswa yang ingin bertemu dengan pak Guru Han."

"Ha? Haha.. Pasti salah orang, mana mungkin ada murid yang ingin bertemu denganku." Chun Woo coba menyanggah, karna ia tak ingin acara pendekatannya diganggu.

*Chun woo saat ini memakai sebuah rompi dan kaos dalam tanpa lengan.

"Selamat siang pak Guru." Shi Woon masuk kedalam

"Eh? Kamu?"

Diluar ruang Guru mereka berdua berbincang, suasana saat itu sedang sepi.

"Apa yang kamu ingin bicarakan?" Chunwoo langsung to the point, ia bertanya dengan malas.

"Terimakasih untuk yang kemarin." Shi Woon sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Cuma mau bilang itu?"

"Sudah sana pergi.! Aku sedang sibuk nih. Mulai sekarang jangan berbuat bodoh lagi. Hus hus." Chunwoo mengibas-ngibaskan tangan kanannya mengusir Shiwoon.

"Tunggu dulu pak guru.! Masih ada lagi."

"Apa lagi sih? Sudah kubilangkan aku sedang sibuk.?" Chunwoo mulai kesal.

"Sunsengnim jago bela diri kan?"

*Sunseng artinya Guru dan Nim tanda kehormatan, kalau dalam bahasa jepang mungkin sama dengan San.

"Tentu saja, lebih dari hebat. Puas? Sudah pergi sana."

"Ta.. Tadi bilang apa?" kaget Chunwoo, ia mulai takut identitasnya terbongkar. Lagipula darimana anak ini tahu kalau dia bisa bela diri.

"Hm, aneh sekali. Padahal kita berdua jatuh dari atas atap, tapi kenapa baik-baik saja ya." Shh Woon bergumam sambil memegang dagunya mode berpikir. Terlihat Chunwoo berkeringat.

"Kemudian, mobil milik wakil kepala sekolah yang diparkir tepat dibawah pun rusak parah. Pasti ada hubungannya dengan ini.." tambahnya. Chunwoo makin panik, keringatnya semakin banyak.

"Oh Han Sunsengnim." ucap Wakil kepala sekolah yang tiba-tiba datang dari belakang Chunwoo, kepanikannya pun semakin bertambah.

"Sepertinya aku terlalu emosi tentang kasus mobilku yang rusak itu."sepertinya wakil kepala sekolah bermaksud minta maaf, Chunwoo pun berbalik.

"Ti.. Tidak apa-apa ko, aku mengerti perasaan anda. Anda memang pantas marah ko. Itu wajar." ucap Chunwoo dengan .agak keras. Ia pun berbalik memegang bahu Shiwoon.

"Dan kamu, aku tidak tahu kalau kamu sangat tertarik dengan permasalahan yang ada di dunia ini."

"Bagus.! Ayo ikuti aku, kita diskusikan tentang ekonomi internasional dan emisi gas karbon." teriak Chunwoo bersemangat menarik atau tepatnya menyeret Shi Woon pergi.

"Bukannya Han Sunsengnim mengajar bahasa Inggris ya? Kenapa malah membahas ekonomi dan emisi karbon?" bingung wakil kepala sekolah yang ditinggalkan begitu saja.

Ditempat lain. Terlihat terdapat mesin minuman.

"Fiuh, hampir saja ketahuan." Chunwoo menghela napas lega.

"Memangnya tidak boleh ketahuan yah?" tanya Shiwoon polos.

"Fufu, aku tak mengerti apa yang kamu katakan. Dengar ya, tak ada yang mencurigakan sama sekali dariku, aku hanya manusia biasa." Chunwoo mencoba berdalih, ia memegang telinga kirinya,sepertinya ciri khasnya saat ia berbohong.

Shi woon pun mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan rekaman video saat Chunwoo menghajar tiga orang waktu itu.

"Ini kurekam tanpa sengaja, sangat jelas disana yang bertarung adalah pak Guru." ucap Shi Woon, terlihat Chunwoo kembali berkeringat.

"Hah, itu.."

"WATAAAA.."dengan sekejap mata, Chunwoo menghantam ponsel milik Shiwoon hingga hancur seperti
meledak,ya gerakan Chunwoo yang cepat seolah ponsel Shiwoon meledak dengan sendirinya.

"Ah..?" Shi Woon seketika terkejut dengan hal itu. Kejadiannya begitu cepat dan singkat. Pecahan ponsel pun berjatuhan

"Khu khu khu, bukti berharga seperti itu harusnya kamu simpan dengan baik-baik. Ceroboh banget jadi orang." Chun woo terlihat angkuh dan lega karna ia telah menghilangkan barang bukti yang dapat mengungkap jati dirinya. Ia bahkan melipat kedua tangannya didada.

*Ponsel Shi Woon merek samsung yang belum dilengkapi memory card. Jadi semua file ada di phone memory.

"Ka..kaget banget, meskipun aku sudah menduga akan terjadi seperti ini.. Untung saja back-upnya ada di komputer."

"Wakakakakakaka.. Memang mestinya kamu sudah pikirkan jika aku akan melakukan hal seperti itu? Apa kamu pakai otakmu atau tidak?" Chun Woo tertawa penuh kemenangan, namun ia teringat kata-kata terakhir yang diucapkan Shiwoon.

"Eng? Back-up?" ia pun tersadar dari tawa gilanya.

"Sialan kamu, dimana komputer nya.?" teriak Chun woo dengan memegang kedua kerah baju Shiwoon.

"Ji-jika Sunsengnim mau mengabulkan permintaanku., maka datanya akanku hapus." Shiwoon berkeringat. Chun woo pun melepaskan pegangannya.

"Cih, apa maumu?"

"Tolong lakukan sesuatu, pada Chang Ho dan teman-temannya."

*Disini saya salah mengetik nama, Chang Ho. Itu satu huruf O. Karna kalau dua huruf O maka dibaca U. Seperti Shi Woon. Dibaca Siwun.

"Chang Ho? Anak berandal yang menindasmu itu?" Chun Woo duduk diatas kursi panjang dan mengeluarkan sebatang rokok,

"Ya." ia pun menyulutnya.

"Itu sih sangat gampang, akan kupanggil mereka dan kuberi mereka pelajaran." Shi woon terlihat senang.

"Tapi apa tidak apa-apa seperti itu?" tambahnya.

"Hah?"

"Aku hanyalah seorang Guru pengganti, paling hanya satu atau dua bulan aku mengajar disini." ia meniupkan asap rokok dari mulutnya.

"Setelah aku pergi, pasti mereka akan menindasmu dua kali lipat lebih kejam dari sekarang ini." tambahnya.

"Ja-jadi apa yang harus aku lakukan?"

"Kenapa bertanya padaku? Bukankah itu masalahmu, jadi kau harus menyelesaikannya sendiri."

"Jika hanya berpikir untuk menghindar dan tak melakukan apapun, masalah itu akan terus mengejarmu." tambahnya lagi.

"Jangan berbicara sok bijak.!" teriak Shi Woon.

"Apa pak guru pernah ditindas seperti aku? Dan karna terlalu sering ditindas aku sampai berpikir untuk bunuh diri."

"Itu hal yang kualami! setiap hari aku menjalani kehidupan yang lebih mengerikan daripada kematian." Shi Woon terus berbicara dengan berteriak.

"Maka dari itu, aku minta bantuan kepadamu pak Guru." ia pun tak kuasa menahan air matanya. Chun woo pun tertunduk.

"Jangan bercanda." ia tersenyum kecil.

Ia menjentikkan jarinya hingga rokok yang tersilip di jari telunjuk dan jari tengah tersebut terlempar.

"Kau bilang putus asa dan ingin bunuh diri... Lalu, kenapa kau tak berpikir untuk melawan anak-anak yamg menindasmu itu?"

"Karena kau tak berani, lalu cari orang yang berani melawan mereka. Samgat menyedihkan." ejek Chun woo.

"Bukan begitu.! Andaikan aku memiliki kekuatan, aku pasti..."

"Hei.! Jika memiliki kekuatan, siapapun pasti akam melawan ketika ditindas bukan?" sela Chun woo dengan nada membentak.

"Berani itu berarti kau takkan melarikan diri meskipun tak memiliki kekuatan untuk melawan, "

"Karena kau pengecut, makanya tak ada orang yang mau menolongmu." Chun Woo menunjuk Shi Woon.

"Ah sudahlah, terserah kau saja. Aku tak peduli. Aku malas direpotkan dengan anak-anak bermasalah." ia pun berbalik dan beranjak pergi, ia berbelok ke lorong.

"P..pak Guru."

"A.. Aku harus bagaimana?" gumam Shi Woon tertunduk.

"Aa h iya.! Awas saja kalau kau menyebarkan datanya melalui internet. Akan kucincang kau." Chun Woo menengok dan mengancam Shi woon dengan konyol segingga hal itu membuat Shi woon begidig ngeri dan memasang tampilan sweatdrop.

"Ha?"

Ia pum berjalan pergi dari sana, terlihat terdapat seperti jembatan untuk menghbungkan bangunan satu ke bangunan lain diatas anak itu.

"Berani itu berarti tidak melarikan diri meskipun tak memiliki kekuatan?" pikir Shiwoon yang terus berjalan gontai.

"Ck, kedengarnnya sih bagus, tapi mana bisa aku berpikir begitu jika tinju ada di depan mata kan?"

"Lalu bagaimana dengan Sae Hee?"

"Jika aku menuruti perintah Chang Ho.." ia terus berbicara dalam pikirannya , ia membayangkan ketika ia ditampar oleh Chang Ho ditoilet, hal itu sampai membuat tubuhnya bergetar.

"Ti..tidak akan. Aku tidak akan dipukuli lagi. Aku harus membawa Sae Hee pergi." pikir Shi Woon yang kehabisan akal.

"Ini kan sekolah, sejahat apapun mereka, parti tak akan terjadi apa-apa padanya kan?"

"Sepertinya hanya itu cara yang terbaik, sekarang. Aku harus mencari Sae Hee.." pikirnya.

"Shi Woon.." sahut suara wanita dari belakangnya.

Terlihat Sae Hee berada diatas jembatan tadi.

"Ketemu juga akhirnya." ucap Sae Hee.

Bersambung


Bocah Redoks
2017-11-13 18:08:10
Shi Woon terlalu polos. Masa gk bisa nego sama sekali sich
Bocah Redoks
2017-11-13 18:07:01
Ahh. Malah muncul sendiri. Parah
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook