VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #8

2017-11-06 - Adam Beneath Us
41 views | 4 komentar

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, War, Fantasy, Politic (?)

Chapter 8

.
.
.

Wintercastle, Tempat Prince Raw ditahan.

Saat ini adalah hari ke5 sejak kekalahan Raw dan pasukannya atas Zack. Kekalahan yang mencoreng nama baik kerajaan itu sukses memicu klan-klan lain makin bersemangat untuk meredam agresivitas militer Rivermont. Kekalahan Raw Rivermont membuat mereka yakin bahwa Knightseal tak selamanya sebagai penentu kemenangan. Knightseal memiliki celah.

Sudah ada berbagai perlawanan berkobar terhadap Summerdome diberbagai tempat merespon kekalahan Raw itu. Yang sangat jelas membuat King Bush harus susah payah mengatur ulang lagi strateginya.

Raw terkurung di kandang yang sangat kotor. Dengan lehernya yang terkait dengan besi yang dikunci dalam sebuah tiang. Raw tak dapat bergerak kemana-mana karna posisinya itu. Ia makan, minum, dan buang air ditempat yang sama. Sama sekali tak diberi pelayanan sebagaimaba tahanan lainnya di Windwinter.

Raw sekarat, wajahnya sudah penuh dengan luka yang makin membuat deritanya bertambah. Apalagi, ditambah keadaan tempatnya dikurung ini membuat kesehatannya memburuk. Raw sakit diluar maupun didalam.

Zack datang ketempat itu, membawa beberapa ember dan juga sepiring makanan. Ia berjongkok didepan kandang Raw, yang sama sekali tak ingin memandangnya.

"Maaf atas buruknya kualitas pelayanan tahanan disini. Apa boleh buat, bukan? Kita sedang menjalani perang." kata Zack.

"Seumur hidupku, aku tak pernah membuat musuhku dihina seperti ini. Meskipun aku menang." ucap Raw. "Lebih baik membunuh daripada membuatnya mempermalukan, itu mottoku. Yah, mungkin ini cukup wajar bagimu, kau ini Rashford bagaimanapun juga."

"Apa kau tak ingin menyampaikan sesuatu pada ayahmu? Untuk membuatnya yakin bahwa kau masih hidup?" tanya Zack.

Raw tersenyum. "Katakan padanya, aku takkan membiarkan diriku dipermalukan begini."

"Itu saja?"

"Kau ingin menambahkannya?"

"Bagaimana jika 'tolong selamatkan aku, ayah'? Kedengarannya tulus kan?"

Raw tertawa. "Aku takkan memohon."

"Karna kau tahu kalau kau akan diselamatkan?"

"Karna aku tahu kalau aku pasti akan keluar darisini." potong Raw. "Lalu membunuhmu."

Zack tersenyum tipis. "Kau baru saja mengancamku, pangeran."

"Oh ya?"

Raw hanya diam dengan wajahnya yang seakan menantang Zack berkelahi.

"Lupakan saja itu." tukas Zack. "Kau sudah diberitahu perihal pernikahan kakakmu?"

"Yang kutahu. Sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Kalian para Rashford selalu punya rencana cadangan dalam rencana cadangan."

"Aku kenal Ryder sejak aku masih kecil. Dia adalah pemuda yang kuat, dan berani. Jujur, aku tak pernah sekalipun menyangka kalau aku dan dia kini berdiri berhadap-hadapan sebagai sesama musuh. Kau pasti tak tahu betapa dekatnya kami dulu."

"Dia membunuh Vicius. Yang juga teman kami. Disaat itulah aku sadar bahwa Ryder yang sekarang bukanlah pria yang kukenal lagi."

"Dia membunuh Vicius karna Vicius memulai pemberontakan pada ayahku!" sentak Raw kesal. "Jangan sekalipun menganggap kalau kakakku itu seburuk yang kau pikir, bedabah."

"Kau tahu yang ada dipikiranku? Yang ada dipikiranku adalah Ryder lebih buruk daripada pendapatmu tentang pemikiranku." jawab Zack. "Setelah Vicius. Akulah yang akan dibunuh Ryder nantinya."

"Kakakku akan jadi raja Highspring setelah pernikahannya."

"Aku tahu itu." sahut Zack. "Tetapi, sepertinya dia lupa satu hal."

Raw mengernyit.

"Dia punya banyak sekali musuh didunia ini." sambung Zack, menarik seutas senyum ringan kepada Raw yang hanya menatapnya bingung.

.
.
.

Aula Istana Ferdinand, pesta pernikahan tengah berlangsung meriah. Berbagai pertunjukan dipertontonkan dihadapan rombongan para bangsawan dan juga kedua mempelai. Namun, alih-alih menikmati pertunjukannya, kedua pengantin baru itu malah asyik menggoda.

"Aku tak sabar untuk malam nanti." Ryder berbisik pelan pada Vera yang hanya menunduk malu.

"Aku juga sama, pangeran."

Ryder tertawa pelan. "Aku bisa merasakan kalau kau mulai gugup."

"Kau juga begitu." bela Vera.

"Yah, tak bisa disangkal lagi, bukan? Kita berdua sama-sama gugup saat ini."

"Kudengar kau sangat jantan di medan perang." ucap Vera. "Apa itu benar atau itu hanya bualan saja?"

Ryder tersenyum. "Aku bisa buktikan itu malam nanti. Padamu. Akan kukeluarkan seluruh kekuatanku untuk mengalahkanmu, Tuan Puteri."

"Haha." Vera tertawa, begitupula Ryder.

Pesta masih terus berlangsung meriah. Berbagai pertunjukan yang dipertontonkan juga sukses menghibur para tamu undangan. Tak terkecuali Prince Osyris Blackburn yang sedari tadi duduk manis di kursi tamunya.

Osyris memandang keatas. Tepat kepada seorang pria yang nampaknya juga salah satu dari prajurit Blackburn. Prajurit itu mondar-mandir diatas sana, tepat setelah menerima 'kode' singkat dari tuannya.

"Aku pergi dulu." Ryder berdiri.

"Mau kemana?" tanya Vera, "Jangan tinggalkan aku disini. Aku malu sendirian." rengeknya.

Ryder terkekeh. "Ibuku kesepian disana, Vera. Aku akan menemaninya sebentar saja, okay?"

Vera tersenyum, lalu mengangguk sebagai tanda persetujuan. Ryder lalu mengecup kening istrinya dan mulai berjalan kearah Queen Brianna yang sedari tadi duduk sendirian memandang pertunjukkan.

"Dimana Freya?" tanya Ryder begitu sampai.

"Seperti biasa. Dia dapat teman baru disini." jawab Queen Brianna, "Apakah kau senang saat ini, putraku?"

Tak mungkin ia tak senang.

"Ya, ibu." jawabnya. "Aku sangat bahagia, kuharap Robert ada disini sekarang. Aku pasti akan bersenang-senang dengan anak itu."

Wajah Brianna berubah.

"Ryder, ada sesuatu yang ingin ibu tanyakan."

"Ya?"

"Robert itu." Queen Brianna menjeda kalimatnya. "Apakah benar dia anaknya Bush?"

Ryder terdiam. "Apa maksud ibu?"

"Kau membawa Robert kepada ayahmu setelah King Andres terbunuh. Robert adalah salah satu anak yang lahir dari pelacur yang tak sengaja dihamili ayahmu,begitu katamu kepada ayahmu saat itu."

Ryder menunduk.

"Hari sebelum kau datang ke ibukota saat itu. Kau pergi kemana, anakku?"

"East Coast." Ryder menjawab. Merasa sudah tak perlu lagi rahasia itu tetap dijaga. "Aku bersama Vicius dan Zack pergi kesana setelah pertempuran melawan Prince Gerard selesai. Zack tahu tentang keberadaan Princess Feliza, kami datang kesana untuk menjemputnya."

"Kau menemui Feliza?"

"Dia kritis, dan akan segera meninggal saat kami sampai."

"Kudengar dia mengandung. Bagaimana dengan bayinya?" tanya sang ratu.

"Bayinya selamat, dan saat ini ada diistanamu, ibu." jawab Ryder. "Dia adalah Robert, adik kesayanganku."

Queen Brianna terkejut.

"Kak Ryder!" seru Freya berteriak begitu memasuki aula.

"Freya!" Ryder melambaikan tangannya.

Freya lantas berlari sangat cepat kearah sang kakak.

"Mereka membuat kue kakaktua yang besar untuk pesta nanti." kata Freya dengan antusias, Ryder tersenyum, memeluk adik kecilnya dengan sangat erat.

"Kue kakatua?" ulang Ryder. "Sebesar apa itu, hm?"

"Ada diluar, mau lihat?"

"Hey, kakak sedang menikah tahu. Kakak harus tetap disini." tolak Ryder halus. "Bagaimana jika Freya temani kakak Vera disana?"

Freya memandang Princess Vera yang melambai kearahnya.

"Tidak." jawab Freya ketus. "Perempuan itu merebut kak Ryder dariku. Aku benci."

"Jangan begitu dong. Dia itu juga kakakmu sekarang, lho."

"Huff!"

Ryder mendesah tanpa menurunkan senyumannya. "Apa kau punya hadiah buatku?"

"Ah, hadiah!" Freya tiba-tiba teringat. "Barusan ada seseorang yang memberiku hadiah. Dia berkata untuk diberikan kepada Kak Ryder."

"Ooh."

Freya merogoh sakunya. Queen Brianna memperhatikan.

"Buah delima?" tanya Ryder begitu melihat hadiah yang dibawa Freya.

Freya mengangguk. "Buah delima! Ini sangat enak, bukan?"

Bagi Queen Brianna, buah delima tidaklah asing. Sebelum menikah dengan Bush, Brianna adalah Puteri dari Klan Durmont. Edwin, sahabat Robert juga adalah salah satu anggotanya. Menurut mitos dan legenda Durmont, buah delima adalah buah yang keramat. Buah itu melambangkan satu hal...

KEMATIAN.

Queen Brianna tak tahu apakah itu cuma kebetulan belaka, atau memang buah delima itu sengaja diberikan pada putranya. Sang ratu memandang sekeliling, dan mulai merasakan berubahnya hawa situasi di pesta itu, dan sepertinya cuma ia yang sadar akan hal itu.

"Ryd--"

"Yang Mulia." King Juniles berdiri dari kursinya.

Seluruh hadirin diam dan kembali ke kursi mereka. Pertunjukan juga sudah berakhir dan para pementas juga keluar dari aula pernikahan. Ryder lantas berdiri kembali, tepat setelah mencium puncak kepala adiknya.

Ryder menghadap King Juniles, raja dari Highspring.

"Saya merasa tersanjung bisa menikahkan putri saya, Vera, dengan seorang petarung tangguh sepertimu. Bisa dibilang, ini adalah anugrah bagiku karna telah menyatukan kekuatan dengan Klan Rivermont dari Kerajaan Summerdome yang agung."

Hadirin bertepuk tangan, tak terkecuali Ryder yang saling melempar senyum dengan Princess Vera.

"Ibu." panggil Freya pelan.

Freya tiba batuk-batuk, Queen Brianna terkejut. "Freya, sayang, ada apa?!"

Ryder langsung menoleh kala mendengar suara batuk-batuk Freya makin kencang terdengar. "Freya?!"

Freya jatuh ke lantai, buah delima yang telah ia gigit jatuh menggelinding, tepat berhenti dihadapan Ryder yang terpaku ditempatnya. King Juniles melanjutkan pidatonya.

"MARI KITA LANJUTKAN PESTANYA!"

"Sekarang!!" Prince Osyris berseru keras sembari merunduk.

Ryder tersentak.

Queen Brianna panik. "Ryder!!!"

DUESSHH!!

DUESSHH!!

DUESSHH!!!

Ratusan pemanah yang telah bersiap sebelumnya di lantai dua mulai menembaki seisi aula dengan panah yang membara. Anak panah meluncur menjatuhi para Rivermont dan pasukan aliansinya. Salah satu anak panah menembus wajah Queen Brianna, membunuhnya saat itu juga ditempat.

Seisi aula jadi medan pembantaian.

Ryder berlari menghindari terjangan anak panah, berlari kencang kearah Freya yang terbujur dilantai. King Juniles diam, menyaksikan pembantaian dengan santai sambil menyeruput kopi hitamnya.

"Freya!!" seru Ryder putus asa.

JRASHH!! JRASSHH!!

Anak panah jatuh menancap dikepala Freya. Menancap diwajahnya yang manis. Ryder terpaku, tidak dapat bergerak barang sedikitpun.

Ryder diliputi amarah membara, namun itu terlambat.

DUESSHH!! DUESSHH!! DUESSHH!!!

"Ukh!!" Ryder terkena hantaman anak panah berulang kali di dadanya yang tanpa armor pelindung, menusuk menembus badannya.

Seisi aula telah penuh dengan warna merah. Setelah 20 menit, pembantaian akhirnya berakhir. Para pasukan Rivermont dan aliansinya telah dihabisi ditempat, baik didalam maupun diluar aula. Mereka terbunuh oleh kelicikan para Blackburn dan juga Springer.

Semua sudah mati, 4000 rombongan Rivermont. Dan hanya tersisa satu yang masih hidup.

Ryder, terbaring sekarat dengan 21 buah anak panah menembus badannya. Ia perlahan bangkit, dikelilingi oleh Prince Osyris dan pasukannya.

"Sang Pahlawan Rivermont memang sangat kuat. Puluhan anak panah bahkan tak bisa membunuhnya." ucap Prince Osyris, disebelahnya adalah Princess Vera yang bergelayut manja di bahunya. Memandang Ryder yang sekarat dengan senyuman licik.

Ryder menunduk. Lukanya sudah teramat parah. Kakinya gemetar menahan berat badannya, sungguh ia tak percaya kalau dirinya akan dikhianati seperti ini.

"Aku akan membunuh kalian." ucap Ryder, pelan nan mengintimidasi.

Osyris tertawa. "Kau bisa hidup lagi setelah ini, pangeran?"

Ryder menatap adiknya dan juga ibundanya, yang sudah terbujur kaku dengan anak panah disekujur tubuh mereka. Dan sekali lagi, ia kembali berucap, dengan suara parau putus asa.

"AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN."

TEP...

Sir Arthur Aenom menepuk pundak Ryder dari belakang seraya berbisik. "Lady Venicia mengirimkan salamnya."

JRASSHH!!

Darah terakhir yang ia persembahkan untuk 'SANG RATU'.


Alien Queen
2017-12-07 13:11:11
Mati semua tuh.
Yukki Amatsu
2017-11-07 19:05:51
Wah, Robert kalap kayaknya nih
Sqouts Shadows
2017-11-07 14:21:32
Ditunggu chapter berikutnya
Bocah Redoks
2017-11-07 14:03:24
Jadi penasaran Ama tindakan Robert selanjutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook