VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #7

2017-11-06 - Adam Beneath Us
38 views | 4 komentar

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, War, Fantasy, Politic (?)


.
.
.
Chapter 7
.
.
.

RESEPSI PERNIKAHAN

.
.
.

Prince Ryder Rivermont, Princess Freya Rivermont, Queen Brianna, dan 2000 rombongan pasukan Knightseal akan segera berangkat menuju Ferdinand Castle, untuk melangsungkan upacara pernikahan Ryder dengan puteri Vera dari Highspring. Pernikahan politik ini dilakukan guna memperkokoh dominasi Klan Rivermont terhadap daratan benua. Dengan menguasai Highspring, maka Klan Rivermont telah menguasai setengah dari wilayah benua. Dimana setengah lainnya dikuasai Windwinter dan 8 kerajaan lainnya.

Rombongan ini juga ditemani oleh 1000 pasukan dari tiga klan aliansi Rivermont, yaitu Klan Millwauke, Klan Rudgard, dan Klan Hovarth. Tiga sekutu terloyal yang dimiliki Rivermont. Rencananya, para Klan Blackburn bersama Springer akan menyambut kedatangan rombongan Rivermont di Ferdinand Castle.

"Hati-hatilah." ucap Robert kepada sang kakak, sebagai pesan perpisahan. "Kuharap pestanya berjalan lancar. Dan kuharap kau bahagia dengan itu, kakak."

Ryder tersenyum. "Pasti, adikku."

Robert lantas memeluk Ryder, sangat erat seraya berbisik, "Aku berhutang banyak padamu."

"Aku tahu. Dan aku tidak meminta balasan atas itu." jawab Ryder. "Yang kubutuhkan adalah doa darimu, Robert."

Prince Robin menatap interaksi dua saudaranya dengan tatapan tak suka.

"Kak Robert!" suara nyaring Freya langsung melepas pelukan hangat antara Ryder dan Robert.

"Hey!" Robert tersenyum sembari merentangkan kedua tangan, dan Freya langsung berhambur dan memeluknya.

"Aku akan naik kuda sendiri, lho." ucap Freya pamer, tipikal gadis berusia 12 tahun.

"Bagus sekali. Pastikan kau tidak grogi dan jatuh lagi dari kudamu ya." ejek Robert.

"Aku sudah banyak belajar, tahu. Kak Robert jahat!" adu Freya.

Ryder tertawa. "Ingat nasehat Robert, Freya. Jangan grogi sewaktu naik kuda. Pada dasarnya kuda bisa merasakan apa yang dirasakan penunggangnya. Jadi, dia akan gelisah jika penunggangnya merasa ketakutan. Kau akan langsung dilempar jika itu terjadi, paham?"

"Ya, pak!" Freya melakukan salam hormat dengan lucu.

"Kuharap aku bisa ikut." bisik Robert, ia tak rela membiarkan adik perempuan kesayangannya, yang menerima dirinya apa adanya itu, pergi untuk pertama kalinya keluar kerajaan. Robert yakin ia tidak akan sanggup tidur nyenyak jika Freya pergi jauh dari dirinya. Ia akan sangat merindukan gadis manis itu.

Freya tersenyum. "Tetap semangat, kakak. Freya selalu bersama kakak. Apapun yang kakak rasakan."

Robert balas tersenyum, kemudian mengecup pelan kening Freya seraya memeluknya erat sekali lagi. Pelukan yang lebih erat dari yang tadi.

Princess Ryalla berlari tergesa-gesa kearah mereka.

"Freya!" Ryalla ngos-ngosan. "Aku mencarimu daritadi. Kemana saja sih?"

"Aku disini sejak tadi, kak Ryalla." balas Freya.

Ryalla menghampiri Freya dan langsung memeluknya erat. Hari ini jadi hari dimana Freya selalu dipeluk tiap menit.

"Hati-hatilah, adikku yang manis." bisik Ryalla, tak kuasa menahan kesedihannya, meski hanya berpisah selama seminggu saja. Freya membalas pelukannya lebih kencang. Dipeluk oleh Ryalla adalah hal yang langka, Ryalla tak suka memeluk orang.

Robert dan Ryder tersenyum melihat mereka.

"Kak Ryder." Ryalla beralih kearah kakak tertuanya, "Berhati-hatilah. Dan semoga kau bahagia dengan pernikahanmu. Jaga Freya untukku."

"Tentu, Ryalla." balas Ryder. "Kurasa sudah saatnya berangkat. Ayo pergi, Freya."

"Baik." jawab Freya.

Freya melambaikan tangannya kepada Robert dan Ryalla sebagai tanda perpisahan. Rombongan telah berangkat, gerbang kerajaan ditutup, namun Ryalla masih saja menangis. Tangisan yang pilu. Hal itu sedikit menarik keinginan Robert untuk mencoba mengakrabkan diri dengan kakak tirinya itu sekali lagi, entah berhasil atau tidak.

"Kak Ryder pasti akan menjaga Freya dengan baik."

"Kuharap begitu." jawab Ryalla, sambil mengusap air matanya.

"Tak ada yang perlu dikhawatirkan." tukas Robert.

Keduanya kembali hening. Ryalla tetap menitikan air mata.

Robert hendak pergi. Namun Ryalla memanggil.

"Robert."

Robert berhenti, terkejut sekaligus senang mendengar Ryalla memanggilnya dengan nama.

"Ya?"

"Aku merasa firasatku buruk." ungkapnya.

Robert mengernyitkan alisnya. Berdasarkan yang ia tahu, firasat dari seorang Princess Ryalla selalu tepat.

"Apa yang kau rasakan, kakak?" tanya Robert sembari berjalan menghampirinya.

Ryalla menggumam, "Aku berfirasat, bahwa mereka tidak akan kembali pada kita."

Robert terdiam. Berharap itu tidak terjadi.

.
.
.

Ferdinand Castle,

Rombongan Ryder Rivermont sampai di tempat pernikahan dan disambut oleh Prince Osyris dari Klan Blackburn. Tidak hanya itu, disana juga hadir King Juniles Springer, raja Highspring yang akan digantikan oleh Ryder kelak setelah pernikahan ini selesai.

Queen Brianna, Prince Ryder, Princesa Freya dan keluarga pokok Rivermont tengah hadir di aula istana untuk pertemuan singkat dengan keluarga kerajaan Highspring.

"Senang melihat anda dan rombongan sampai dengan selamat di tempat ini, Queen Brianna." ucap King Juniles senang. "Suatu kehormatan bagiku, menyambut anda setelah putraku si bodoh Vicius itu mengobarkan peperangan pada klan anda. Saya bersyukur kami diampuni oleh beliau King Bush yang terhormat."

Telinga Ryder naik. Meski dialah yang telah membunuh Vicius, yang juga sahabat karibnya dulu, ia tetap merasa berkabung untuk dirinya. Vicius bertarung atas nama kehormatan klannya, sesuatu yang dihargai Ryder dengan baik, karna ia juga sama. Namun, King Juniles dengan santainya mengolok-olok Vicius, putranya sendiri.

"Kami selalu mengampuni mereka yang tak terlibat, King Juniles. Anda tidak terlibat langsung dalam pemberontakan putra anda, Prince Vicius. King Bush tahu hal itu dengan baik. Beliau masih menganggapmu sebagai kawan baiknya." kata Queen Brianna.

"Kami telah menyiapkan segala keperluan anda di chamber. Apakah tidak keberatan jika upacara pernikahan Prince Ryder dimajukan sedikit?"

"Lebih cepat lebih baik." jawab Ryder.

Juniles tersenyum. "Apakah kau ingin melihat kesiapan dari putriku, tuan pangeran?"

Ryder menerimanya. King Juniles lalu memerintahkan ajudannya untuk mengantar putrinya, Vera Springer, ketempat aula saat itu juga. Princess Vera datang, hanya mengenakan gaun putih biasa. Namun kecantikan alami yang ia miliki, berhasil membuat seorang Ryder Rivermont terpikat sekali lagi. Memuji ciptaan Tuhan yang akan segera menjadi anugrah bagi dirinya sebentar lagi.

Princess Vera tersenyum hangat kepada Ryder. Senyuman yang menghangatkan jiwanya. Ryder melongo saat itu, nampak sangat lucu, sebelum pada akhirnya tersadar kembali setelah digoda sang adik, Freya.

Ryder yakin. Pernikahan ini akan menjadi kado terindah yang pernah ia miliki.

.
.
.

Robert senyap, menutup mata kirinya dan berkonsentrasi penuh. Ia mengenggam sebuah busur panah,dengan mata panah yang cukup runcing dan bergerigi. Cukup untuk menghancurkan tulang tengkorak seekor babi hutan.

Robert mengincar seekor rusa yang tengah meminum air di tepi Sungai Trinity, bagian Hutan Greenwoods di tenggara kerajaan. Ia berburu disitu untuk mengisi waktu luang karna liburnya sekolahnya.

Sejak King Bush tahu perihal kedatangan Lady Venicia dikerajaannya. Ia mulai menyiagakan seluruh tempat yang berhubungan dengan pelayanan publik selama 3 hari berturut-turut. Ini sudah hari kedua. Selain itu, Robert sebagai satu-satunya orang yang ditemui Lady Venicia juga tidak diperbolehkan keluar dari istana maupun kerajaan selama 3 hari itu, yang juga jadi alasan mengapa Robert tidak bisa hadir dalam upacara pernikahan Ryder. Namun, jiwa berontak remaja didalam darah Robert membuatnya nekat keluyuran dan berburu, bersama Edwin sahabatnya.

JRASHH!!

Panah Robert menembus kepala sasarannya dengan telak. Robert bersorak penuh gembira. Rusa itu menggelepar, namun hewan itu malah jatuh ke sungai, terbawa aliran yang deras, meninggalkan Robert dalam kebisuan.

"Bahahahaha!" tawa Edwin pecah. "Sudah kuduga, sejak awal kau memang tak punya bakat berburu, Robert!"

"Ck, diamlah." sentak Robert kesal. "Berikutnya pasti kena. Aku cuma kurang beruntung."

"Kau harus lebih giat untuk melampauiku, sahabatku." ejek Edwin.

"Aku melampauimu dalam segala hal."

"Oh ya? Termasuk berapa kali kau bercinta?"

"Cih."

DRAP...DRAP...DRAPP...

Deru langkah kaki kuda terdengar.

"Hei, lihat itu." tunjuk Edwin, Robert acuh.

"Mereka datang untuk menjemputku. Tak usah dicemaskan. Ayo pergi."

"Itu bukan pasukan Summerdome, Robert."

Robert terkejut.

"Bendera Gagak, itu adalah pasukan Klan Unraven!" seru Edwin.

Robert menjatuhkan busur panahnya. Edwin pun demikian, ia mengambil pedang panjangnya untuk bersiap-siap menghadapi serangan.

Para pasukan Unraven mengepung Robert dan Edwin, sekitar 20 orang.

"Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku disini?" tanya Robert.

"Kalian punya banyak musuh, pangeran. Jangan heran jika ada yang tahu semua tentangmu ataupun kemana dirimu pergi. Semua musuh kalian akan tahu." ucap pemimpin mereka, Jim.

"Musuh kami?" ulang Robert.

"Kau bingung siapa musuh-musuhmu? Tentu saja seluruh dunia ini!"

"Highspring sudah diujung tanduk, Jim. Harusnya kalian bersumpah setia pada King Bush atau King Juniles akan memberi sanksi pada klan kalian."

"Bukankah kalian juga sama?"

"!!"

"Serangg!!!"

Robert dan Edwin bersama-sama bertempur melawan 20 orang pasukan Unraven dengan senjata mereka.

Robert mengaktifkan Knightsealnya, seluruh tubuhnya langsung dilingkupi armor tangguh. Begitupula Edwin. Pemuda sebaya Robert itu mengenakam armor berwarna ungu dengan motif harimau. Sedangkan Robert dengan motif naganya.

Jim mendecih kesal. "Aku benar-benar benci dengan Knightseal sialan itu!"

Robert melesat maju.

WUSHH!!

JRASSHH!!

Tebasan menyapu Robert mengenai beberapa musuh dengan telak. Serangan yang sangat cepat dan mustahil bisa dihindari jika bukan seorang The Seven Guards. Ya, hanya seorang The Seven Guards yang bisa mengimbangi kecepatan dan kekuatan dari Knightseal tanpa mengenakan Knightsealnya. Hal yang mustahil dilakukan oleh prajurit biasa.

"Ed!" seru Robert. Edwin lalu melompat kearah sahabatnya, dan tepat setelah itu, Robert menunduk untuk menjadi pijakan Edwin yang langsung melompat tinggi.

Jim beserta pasukannya terbengong menyaksikan Edwin yang melayang diudara.

Edwin berseringai. "Jangan diam seperti itu, bodoh!"

DUAARR!!

Tanah tempat berpijak mereka hancur ditimpa pedang panjang Edwin yang teraliri listrik. Jim dan yang lainnya terlontar, semuanya takhluk dalam sekali serang, kecuali Jim yang masih bertahan.

"Breng...sek!" Jim menggunakan pedangnya untuk membantunya berdiri. "Aku akan membunuh kalian!"

Robert melangkah perlahan, "Sudah berakhir, Jim. Menyerahlah."

"Lepas Knightsealmu, bisa apa kau, hah?" tantang Jim.

Robert langsung melepaskan Knightsealnya begitu Jim menghinanya. Mengejutkan Jim.

"Kau ingin pertarungan yang adil? Akan kulayani." ucap Robert, yang sekarang hanya bersenjatakan pedang tanpa armor Knightseal.

Edwin bersandar pada pohon menyaksikan.

Jim langsung berdiri dan berlari menyerang Robert tanpa pikir panjang.

TRANGG!!

Robert menangkis tebasan pedang Jim dengan tenang menggunakan satu tangannya, sementara tangannya yang lain ia masukan dalam saku dengan santainya.

Jim makin kesal. "Mati kau, brengsek!"

Robert menghantam tengkuk leher Jim setelah menghindari serangannya yang sangat kacau. Membuat Jim tak sadarkan diri dalam sekejap.

Edwin berucap di kejauhan. "Mau kau apakan tumpukan manusia ini, Rob?"

Robert berjongkok, menggeledah seisi baju Jim dengan teliti.

"Kau tahu betapa pengecutnya Jim dulu, ya kan?" tanya Robert.

Edwin mengangguk. "Dia bahkan tak berani menyentuh seorang wanita."

"Tepat sekali." Robert menemukan gulungan kertas kecil berisi surat di baju Jim. "Lantas, apa yang membuatnya seberani ini menyerangku?"

Robert membuka gulungan itu perlahan. Dan matanya langsung terbuka lebar.

Di Ferdinand Castle, upacara pernikahan telah dimulai. Dihadiri secara tertutup oleh aliansi Rivermont, yaitu Klan Millwauke, Klan Horvath, Klan Rudgard dan Klan Blackburn yang barusaja bergabung. Total ada 6000 orang yang hadir dalam acara ini. Bersama pula rombongan dari klan Springer sebagai tuan rumah.

Di Klan Blackburn, ada satu orang yang memimpin rombongan itu, ia adalah Prince Osyris. Masih ingat dia? Dia adalah seorang pangeran Blackburn yang beberapa hari lalu telah menjalin kesepakatan rahasia bersama Sir Arthur Aenom. Menyusun sebuah rencana pembunuhan diacara yang sakral ini.

Dan kini, Prince Osyris tengah duduk tenang di kursi tamu kehormatannya. Menatap penuh kelicikan kearah Ryder, yang kini duduk ditengah-tengah aula dan bersenda gurau bersama Princess Vera, wanita yang sekarang menjadi istrinya.

Beberapa orang dari klan Blackburn sudah bersiap-siap dilantai dua. Menyembunyikan senjata, dan menunggu komando dari pimpinan mereka.

Tbc




Alien Queen
2017-12-07 12:29:35
Wah mulai muncul konflik yang serius.
Bocah Redoks
2017-11-06 19:51:50
Bakal ribet kalau Ryder Ama Freya mati
Yukki Amatsu
2017-11-06 15:40:25
Hmm, makin seru ajah deh
Hiatus
2017-11-06 15:03:40
Btw umur ryder skrng brapa y secara pas baru ktmu rob kn klo g slh 17thnan dan rob baru lahir
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook