VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #4

2017-10-28 - Adam Beneath Us
48 views | 4 komentar | nilai: 9.5 (2 user)

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, War, Fantasy, Politic (?)

Chapter 4

King Bush tengah memandang perapian didalam chambernya. Kobaran api yang naik turun secara teratur sukses menghibur sang raja yang tenggelam dalam lamunan. Selama ini, tak ada siapapun yang pernah melihat raja diktator ini melamun, selama ini, sang raja selalu menunjukkan muka beringasnya pada siapapun. Namun sekarang, King Bush bersikap seperti manusia biasa, diam dan tenang, memikirkan sesuatu yang berlalu lalang dibenaknya.

Flashback : 19 TAHUN YANG LALU

EAST COAST, WINDWINTER,

Kala itu adalah siang terpanas yang pernah terjadi sepanjang musim panas di Windwinter. Ryder Rivermont muda, beserta Zack Rashford muda dan Vicius Springeer, beserta sekitar 15 orang pengawal menghentikan laju kuda mereka, tepat dihadapan sebuah bangunan klasik di pinggir pantai.

Disana tidak hanya ada Ryder dan rombongannya, melainkan juga ada 2 prajurit berzirah kerajaan Summerdome. 2 orang prajurit tersebut adalah anggota dari The Seven Guards. Pasukan elite legendaris Summerdome.

Sir Ludwig Payne, sang wakil komandan dari The Seven Guards berdiri tegap. Ia dan Sir Edward Haisenwalt membentuk barisan untuk menghalangi pasukan Ryder masuk ke bangunan tua itu.

"Prince Ryder." sapa Sir Ludwig dengan ramah.

Ryder berhenti 5 meter dihadapan Sir Ludwig. "Sir Ludwig. Suatu kehormatan berjumpa dengan anda."

"Prince Zack, Prince Vicius, juga ada ditempat ini. Jarang bagiku melihat 3 orang pangeran dari 3 klan disatu tempat yang sama." lanjutnya lagi.

"Perang besar aliansi Rivermont dan Kerajaan Summerdome sudah berakhir. Ayahku membunuh Prince Gerard. Pasukannya sedang menuju Summerdome sebentar lagi." Ryder berucap, "Kenapa kalian berada ditempat ini bukannya melindungi raja kalian diistananya?"

"Ini perintah Prince Gerard kepada kami." Sir Edward Haisenwalt menjawab dengan suara beratnya. "Ayah anda, Bush si Pemberontak itu pasti akan mati jika kami bertujuh dari The Seven Guards hadir dimedan perang. Anda harusnya beruntung, Prince Ryder."

"Dimana kakakku?" Prince Zack muda bertanya dengan tidak sabaran.

"Princess Feliza Rashford yang kau maksud, pangeran?" tanya Sir Ludwig.

"Siapa lagi, keparat? Kembalikan dia!" Prince Zack menarik pedangnya.

"Beliau masih beristirahat karna telah selesai melahirkan putranya." Sir Ludwig juga menarik pedangnya dari sarung, "Sayang sekali, sepertinya aku sedikit kesal dengan caramu bertanya, anak muda."

Ryder bersiaga,
"Hati-hatilah, kekuatan tempur dari seorang The Seven Guards setara dengan kekuatan 100 orang ksatria. Kalian harus-Zack!"

Ryder yang tengah memberi arahan pada pasukannya tiba-tiba dipotong oleh aksi Zack muda yang mencoba menyerang kedua anggota Seven Guards bersamaan sekaligus.

"Mati!"

TRANGG!

Sir Ludwig menahan serangan Zack dengan mudah. Dengan sekali hentakan, Sir Ludwig menjatuhkan Zack dengan satu tendangan pelan di engkelnya. Zack terjatuh terlentang ditanah, menjadi sasaran empuk pedang milik Sir Ludwig.

JLEBB!!

Pedang Sir Ludwig ditangkis oleh Ryder sebelum menembus wajah Zack.

Sir Ludwig mengangkat pedangnya bermaksud menjauhkan pedang miliknya dengan milik Ryder, dalam sekian detik, ia langsung mundur beberapa langkah kebelakang.

Ryder mencoba melindungi Zack. "Ambil senjatamu, dan sekarang lakukanlah sesuai yang kuperintahkan, mengerti?" terdengar sekali aroma kekesalan tercium dari kalimat yang keluar dari mulut sang Rivermont.

Para pasukan langsung diperintah Ryder untuk mengeroyok kedua Seven Guards tersebut. Pertarungan tak seimbang itu sepertinya bakal dimenangkan dengan mudah oleh para pasukan Ryder, 15 orang melawan 2 orang saja. Namun, kuantitas dari keunggulan jumlah mereka tak cukup berarti. Sir Ludwig dan Sir Edward mematahkan anggapan bahwa mereka akan kalah, sebaliknya, mereka berbalik membantai pasukan milik Ryder bagai menghadapi kumpulan bocah cilik yang tak tahu apa-apa. Hampir dari mereka semua dikalahkan oleh kedua Ksatria tersebut, hingga tinggal tersisa ketiga pangeran dan dua orang prajuritnya.

"Siapa berikutnya?" tanya Sir Ludwig dengan tenang. "Apakah salah satu dari kalian yang tersisa bisa menghiburku dengan pertarungan yang hebat?"

Ryder meringis kesal. 'Orang-orang ini benar-benar monster!' batinnya gemetar.

Zack dan Vicius juga merasakan hal yang sama dengan Ryder.

"Heyaaahh!!" dua prajurit yang tersisa mencoba melawan kedua The Seven Guards. Namun, mereka dapat dihabisi dengan mudah, sekali lagi, oleh kekuatan mutlak dari Sir Ludwig Payne dan Sir Edward Haisenwalt. 15 orang ksatria bahkan tidak bisa menundukan mereka berdua.

"Apakah sekarang giliran kalian bertiga, pangeran pengecut?" tanya Sir Edward, memutar-mutar pedangnya dengan tenang.

"Biar aku saja!" seru Ryder melesat cepat kearah mereka.

"Ryder!" Vicius berteriak.

"Menarik sekali." gumam Sir Edward, ia melirik pada Sir Ludwig dan berucap, "Yang satu ini serahkan saja padaku, Wakil Komandan."

Sir Ludwig tersenyum, "Yah, silahkan saja, Edward. Jangan sampai kau terbunuh."

"Heh. Kasar sekali. Harusnya kau bilang jangan sampai terluka."

'Brengsek, mereka benar-benar meremehkan kami.' gumam Zack diliputi kekesalan.

"HAAAHH!!"

TRAAANGG!! Pedang Ryder dan Sir Edward bertarung.

Sir Edward menebas pedangnya secara horizontal menuju leher Ryder, namun Ryder mengelaknya dengan cepat, Ryder mengambil pijakan dengan mundur selangkah kebelakang sebelum kemudian melempar tebasan pedang kepada Sir Edward. Namun, Sir Edward berhasil menangkisnya. Sir Edward menarik lagi satu pedangnya dan mencoba menebas Ryder.

"!!" Ryder terkejut.

WUSSHH!!

Tusukan pedang Sir Edward meleset didekat pinggang Ryder. Ryder mendorong pedangnya yang sedang bersinggungan dengan salah satu pedang Sir Edward, kemudian ia mendorong badannya kepada Sir Edward bermaksud untuk memberinya sebuah tackle singkat. Akan tetapi, Sir Edward hanya tersapu beberapa centi mundur.

Sir Edward lalu berhasil mendesak Ryder hingga ia mencapai batas kemampuan tubuhnya sendiri. Tebasan-tebasan super cepat dari Sir Edward gagal diantisipasi dengan baik oleh Ryder. Beberapa luka tebasan diterima baik di lengan maupun dada dari Ryder. Ketika Sir Edward bermaksud melancarkan serangan pamungkas untuk membunuh sang pangeran, Ryder bangkit dan menyelinap melewati tebasan pedangnya, ia bermaksud menubruk Sir Edward lagi, namun gagal. Sebagai gantinya, Sir Edward menghantam Ryder dalam sekali pukul dan membuatnya terlontar jatuh.

"Ryder belum cukup kuat untuk menghadapi orang itu sendiri." gumam Vicius pelan. "Haruskah kita membantunya?"

"Sir Ludwig masih berdiri disana. Kita tak boleh ceroboh lagi. Percayakan pada si Ryder." balas Zack dengan wajah serius. Nampak memikirkan sebuah rencana.

"Berapa usiamu, pangeran?" tanya Sir Edward.

"17 tahun." jawab Ryder sembari terengah-engah.

"Kau cukup hebat mengimbangi tebasan pedangku. Aku akui itu." pujinya. Ryder hanya tersenyum singkat.

"Suatu kehormatan dipuji oleh salah satu The Seven Guards."

"Nampaknya, The Seven Guards sangat disegani di negri lain, ya." sahut Sir Edward sedikit bangga,

Tak berselang lama, sang ksatria merasakan sesuatu disekitar tubuhnya. Sir Ludwig menyadari hal itu. Ia terkejut bukan main dan langsung meneriaki rekannya.

"Awas, Ed! Itu kertas peledak!"

Zack dan Vicius terkejut. Sementara Ryder hanya mengeluarkan senyuman puas.

Sir Edward terkejut bukan main ketika ia melihat sebuah kertas yang membara menempel di armor dadanya, ia mengumpat,

"BOCAH LIC-"

DUAAARRR!!

Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. Kertas itu meledak, Sir Edward terlontar cukup jauh. Ia menghantam bebatuan, darah mengalir di sekujur tubuhnya, namun ia masih hidup. Sekarat dan tinggal menunggu beberapa saat lagi untuk mati kehabisan darah.

"B....breng....sek..." umpatnya terbata. Tulang dagunya hancur, pipinya terkoyak hingga membuat bola mata kanannya nyaris keluar.

Ryder jatuh berlutut. Ia sudah tak memiliki tenaga lagi.

Sir Ludwig mengeluarkan pedangnya dan menghampiri Ryder dengan perlahan. Ia diratapi rasa kecewa sekaligus takjub. "Aku bukannya tidak setuju dengan taktik curang, ini adalah perang bagaimanapun juga. Segala hal dihalalkan untuk mencapai kemenangan, sekalipun itu licik. Aku menyayangkan kecerobohan Edward atas hal ini."

"Ukh..." Ryder melenguh sakit, tidak mampu menggerakan badannya barang sedikitpun, "Sir Ludwig Payne, aku tidak bisa melawannya dalam kondisi begini."

Ryder tidak salah. Bagaimanapun, prestasi Sir Ludwig jauh lebih mentereng dan menakutkan ketimbang Sir Edward maupun dirinya sendiri. Banyak mitos menakutkan terkait Sir Ludwig ini. Ia adalah petarung terkuat yang dimiliki The Seven Guards sepanjang sejarah berdirinya kelompok itu. Legenda mengatakan, siapapun yang telah berhadapan dengan Sir Ludwig, jangan harap bisa kembali hidup-hidup, karna ia akan membunuh dan menghantui dirimu bahkan setelah kematianmu.

"Bocah, aku akan memberimu kematian yang damai."

Sir Ludwig mengangkat pedangnya.

"Selamat tinggal."

JLEBB!!

"Ukh..."

Zack menikam sebuah belati menembus tengkuk leher Sir Ludwig. Sir Ludwig memuntahkan darah, dan jatuh roboh dengan lutut sebagai penyangga tubuhnya. Nyawa Ryder tertolong.

"Bahkan orang kuat sepertimu bisa lupa bahwa aku masih ada dibelakangmu, Sir!" ucap Zack

Sir Ludwig memuntahkan darah. Ia mencoba melepaskan diri dari jeratan, namun pandangan matanya mulai kabur.
Zack lalu melepas belati itu. Bermaksud melancarkan serangan penutup untuk mengakhiri riwayat Sir Ludwig saat itu juga.

"Menusuk dari belakang, heh..." Sir Ludwig bergumam pelan. "Cara yang tepat untuk mengalahkan seorang ksatria."

Tangan kiri Zack mencengkeram pundak Sir Ludwig. Sedangkan tangan kanannya kembali mengangkat belati.

"Kuakui...Kau sangat cerdik, Prince Zack. Aku terlalu meremehkan--"

JLEBB!!

Zack membungkam mulutnya. Sir Ludwig tewas, dengan belati menembus kepalanya sekali lagi. Sang Wakil Komandan dari pasukan elit The Seven Guards yang tak terkalahkan, dikalahkan oleh kelicikan seorang remaja. Cerita ini akan selalu dikenang, dan telah dikarang sedemikian rupa menjadi sebuah legenda, mengatakan bahwa Prince Zack Rashford bertarung habis-habisan melawan Sir Ludwig Payne 2 hari 2 malam. Legenda ini telah menyebar dimana-mana, melambungkan nama sang pangeran dalam waktu yang sangat singkat.

Seperti nasehat tua yang selalu dikenang, "Jangan terlalu berpedoman banyak pada sejarah. Sejarah ditulis oleh mereka yang memenangkan perang, bukan mereka yang terbujur diliang lahat."

Menulis ulang sejarah adalah keahlian para Rashford. Zack dan Klan Rashford selalu menciptakan sensasi, bahkan sebelum berdirinya tiga kerajaan (Summerdome, Windwinter & Highspring), semua itu tak lain adalah karna keinginan mereka membuat seluruh dunia takut. Tunduk pada kekuatan mereka, sekalipun itu kebohongan.

Awal dari legenda ini bertepatan dengan kelahiran anak dari pewaris takhta Summerdome. Putra dari Prince Gerard Lindegard, Robert. Robert si 'Anak Haram'

.
.
.
.

FLASHBACK MASIH BERLANJUT DI CHAPTER BERIKUTNYA---

Alien Queen
2017-11-19 09:08:20
Cerita bohongan. Trus gimana kalau ada orang kuat yang menyerang mereka? Mereka tak punya kekuatan seperti yang ada di cerita yang melegenda itu.
Bocah Redoks
2017-11-02 21:03:13
Makin penasaran aja bacanya
Sqouts Shadows
2017-10-31 15:38:17
Ditunggu chapter berikutnya
Kakek
2017-10-28 22:53:45
Jadi raider dan Zack dulu berteman
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook