VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
War of the Prince #3

2017-10-28 - Adam Beneath Us
44 views | 4 komentar

Judul: WAR OF THE PRINCE
Genre: Action, Adventure, War, Fantasy, Politic (?)

Chapter 3

Prince Zack berlari seorang diri kearah rombongan pasukan Prince Raw yang siap mencabik-cabik dirinya. Pedang Buster digenggaman Zack menjadi satu-satunya harapan sang pangeran untuk dapat lolos dari ribuan prajurit Knightseal. Ketika jarak antar Zack dan Raw mendekat, para pasukan Knightseal berpencar dan melewati Zack, maju terus menuju utara. Mereka telah meninggalkan pangeran mereka, untuk berduel satu lawan satu melawan prajurit paling ditakuti di Windwinter. Apakah itu keputusan yang tepat?

TRAANGG!!

Prince Raw menebaskan pedangnya pada pedang raksasa Prince Zack. Prince Zack masih dapat menahannya dengan mudah, mengingat ukuran yang dimiliki pedang Buster yang besarnya dua kali lipat dari pedang normal.

"Apa kau tahu, Prince Zack. Legenda mengenai dirimu yang telah menghabisi nyawa Sir Ludwig Payne sudah menjadi dongeng yang sudah kudengar ribuan kali hingga telingaku sakit." Prince Raw menyeringai, "Sekarang kau berada disini, pertemuan kedua kita, dan akhirnya kita bisa bertarung satu lawan satu tanpa ada gangguan."

Prince Zack tersenyum tenang. "Kau sengaja memerintahkan pasukan Knightsealmu maju dan mengabaikanku, padahal kalian bisa saja menangkapku dan menguasai Windwinter tanpa perlu pertumpahan darah lagi. Itu bisa mengakhiri perang tak berguna ini, anak muda."

"Satu hal yang perlu kau tahu, aku tidak suka mengakhiri perang dengan cara politik." ucap Prince Raw angkuh.

TRANGG!!

"Kau sangat sombong, beda sekali dengan kakakmu!"

Keduanya kembali terlibat adu tebas. Tebasan Buster Sword Prince Zack berhasil mengacaukan pertahanan Prince Raw.

DUESSHH!

Raw bergerak sangat cepat dan menendang perut Zack yang lengah. Zack terlontar beberapa meter kebelakang, Raw lantas berlari zigzag dengan pedang ia tarik mundur ke punggungnya, berancang-ancang untuk menebaskannya kepada Zack. Tebasan sekuat tenaga itu terhenti tatkala Zack menahannya menggunakan Buster yang ia tancapkan pada tanah. Tangan hingga bahu Raw berdengung hebat setelah pedang miliknya bersinggungan dengan Buster.

Zack naik ke atas pedangnya dan menendang telak wajah Raw.

Raw terjatuh ditanah, dengan Zack yang masih berdiri kokoh.

"Kudengar kau memenangkan 10 pertempuranmu sebelumnya." ucap Zack. Buster besar miliknya ia taruh dengan santai diatas bahu kanannya.

"Ya, benar. Dan rasanya sangat menyenangkan." sahut Raw sembari bangkit berdiri. "Aku benci mengakui kalau aku kalah dalam pertempuranku yg ke11. Apalagi darimu."

"Kurasa kita berdua saling bertolak belakang."

"Apa yang berbeda dari kita, huh?" balas Raw.

"Aku ingin perang berakhir." tukas Zack dengan emosi meluap, menyaksikannya membuat Raw makin bersemangat, Raw menyiapkan pedangnya dengan cepat.

"Hanya orang mati yang dapat melihat akhir dari sebuah perang." ucapnya, "Aku akan memberikan kematian itu untukmu."

Zack melesat cepat, "Coba saja!"

Pedang Raw teraliri listrik merah yang meledak-ledak.

Keduanya bentrok sekali lagi, mengadu kedua pedang mereka, menciptakan sebuah hembusan angin luar biasa kencang yang menyapu pasir pantai disekitar.

.
.
.

King's Chamber, The Crystal Palace, Summerdome.

Prince Ryder datang ke kamar raja ketika malam sudah mencapai pukul 10. Saat itu, King Bush telah usai 'bertempur' bersama Queen Brianna di ranjang mereka. Saat tahu bahwa orang tuanya sedang sibuk, Ryder bermaksud kembali, namun sang raja memanggil, dan meminta Ryder mengatakan apa yang ingin ia katakan.

"Sudah seminggu lebih. Dan masih belum ada kabar dari adikku." ucap Prince Ryder, "Aku ingin tahu apa yang terjadi padanya."

"Si bodoh itu mengabaikan perintahku untuk menangkap Zack, alih-alih, dia menghabiskan pasukannya demi bisa bertarung dengannya. Aku menyesal mengirimnya ke Windwinter. Yang dia lakukan hanyalah menghabisi dirinya sendiri." Jawab King Bush, urat tercetak didahinya, menandakan kekesalannya saat ini. "Kenapa kau menanyakan itu, hm?"

Ryder berfikir sejenak sebelum mengatakannya,

"Kirim aku ke Windwinter, ayah."

King Bush langsung menoleh dengan tatapan tak setuju.

"Aku akan menangkap Zack dengan tanganku sendiri, membantu adikku." ucapnya percaya diri.

"Kau memiliki pernikahan yang harus kau persiapkan, anakku." Queen Brianna bergabung dalam percakapan sembari membawa 3 cawan dan satu teko berisikan teh hitam. "Tinggalkan sejenak pertarunganmu. Percayalah pada Raw, ibu yakin dia bisa melakukan tugasnya. Apalagi dua ksatria The Seven Guards bersamanya."

"Aku memang percaya pada kemampuan Raw, dia hebat, tetapi aku kenal dengan Zack. Dia tidak mudah diatasi."

Queen Brianna tersenyum, "Ibu tahu yang kau rasakan, anakku."

"Aku takkan mengirimmu ke tempat yang dingin itu, Ryder. Kau barusaja memenangkan perang besar melawan Klan Springer, kau adalah kebanggaanku. Tugasmu sudah selesai, kau akan menikahi Princess Vera Springer dan memimpin Highsprings hingga kau selesai dan dibunuh malaikat pencabut nyawa dalam tidurmu." potong King Bush dengan nada meninggi.

"Aku tidak ingin memerintah kerajaan sampai aku mati."

"Berhentilah jadi anak manja, Ryder." tukas King Bush.

"Apakah seorang anak yang ingin mandiri dikatakan manja, ayah?" balas Ryder tak terima.

"Kau ingin meninggalkan hal yang tak kau sukai, itu disebut manja, dasar idiot. Seorang pria sejati selalu menerima tugasnya suka atau tidak suka!"

Ryder tertunduk, "Aku mengerti, ayah."

"Baguslah. Sudah cukup aku kesal hari ini."

"Ada satu hal yang ingin kubicarakan lagi." kata Ryder.

"Apa?"

"Mengenai Robert."

"Ada apa dengan anak itu?" King Bush menegak tehnya lagi hingga menyisakan seperempat cawan. "Dia berulah dan mengacau di sekolah lagi?"

Ryder mengernyitkan dahinya. "Kau sedang membuang-buang potensi yang ia miliki, ayah. Tidakkah kau sadar? Dia petarung tangguh. Setidaknya beri dia jabatan untuk mengasah kemampuannya. Kau tak ingin aset mudamu terbuang, bukan?"

King Bush menatap lurus kedepan.

"Jadikan dia sebagai calon penerus The Seven Guards, ini permohonanku sebagai seorang kakak." pinta Ryder.

"Astaga, kau pasti sudah gila, Ryder! Kau ingin posisi terhormat itu diduduki anak haram seperti dirinya?" seru Queen Brianna tak percaya.

"Kita hanya membutuhkan kekuatannya, bukan kehormatannya."

"Kekuatan tanpa kehormatan tidak ada artinya, anakku."

"Sir Ardayne Prescott juga seorang anak haram, ibu. Sekarang dia adalah salah satu ksatria tangguh milik kerajaan."

"Itu bukan berarti-"

"Berhentilah mengoceh soal kehormatan, kalian bedebah." gumam King Bush.

Ryder dan Queen Brianna terdiam.

"Aku akan memikirkan soal Robert nanti, Ryder. Untuk saat ini, urus saja soal pernikahanmu." ucap sang raja sebelum beranjak menuju tempat tidurnya. "Kalian berdua berhasil membuatku kesal malam ini."

"Maafkan aku, sayangku." Queen Brianna segera menghampiri suaminya.

"Sebaiknya putuskan dengan cepat, ayah."

King Bush menatap tajam kepada Ryder. "Kalau tidak?"

Ryder hanya memasang ekspresi kalemnya dan kemudian melanjutkan,

"Jika kau tidak segera mengambil keputusan soal Robert sebelum pernikahanku, aku akan merekrut Robert jadi tangan kananku kelak setelah aku memimpin Highsprings." ucapnya tegas. "Aku tak ingin dia terus dikecewakan olehmu, oleh ibu, ataupun saudara-saudarinya. Aku tidak ingin dia terus hidup dibawah tekanan dan rasa kekecewaan. Memastikannya bahagia dengan kehidupannya adalah tugasku sebagai kakaknya, dan aku akan mewujudkannya."

"Demi dewa, mengapa kau begitu peduli sekali dengan si Robert ini, Ryder? Dia bahkan bukan saudara kandungmu!" bentak King Bush.

"Karna dia adalah masa depan kerajaanmu." jawab Ryder, "Tapi, yang lebih penting dari itu, DIA ADALAH ADIKKU!"

Ryder meninggalkan sang raja dengan ultimatum serius.

.
.
.

"Ayah masih keras seperti biasanya."

Ryder berjalan menghampiri Robert yang asyik melamun didekat jendela. Robert sedang sibuk dengan ponselnya, begitu melihat sang kakak datang, Robert segera menyimpannya kembali, Ryder hanya tersenyum simpel.

"Terima kasih atas kepedulianmu, kakak. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas semua perbuatanmu." ucap Robert. Sembari memandang Ryder dengan haru, ia tersenyum sedih, naluri Ryder sebagai kakak langsung menarik Robert ke pelukannya.

"Aku sudah berjanji pada ayah, jika dia tidak segera memberimu posisi, aku akan merekrutmu kelak setelah aku memimpin Highsprings." bisik Ryder.

Robert terkejut. "Kau bertindak sejauh itu?"

Ryder mengangguk tanpa menghilangkan senyum dibibirnya.

"Astaga, kakak."

"Itu adalah hal yang kulakukan untuk orang yang kusayangi." kata Ryder sembari mengelus puncak kepala Robert dengan kasar.

"Ngomong-omong, kapan upacara pernikahanmu dengan Princess Vera?" tanya Robert penasaran. "Apakah dia cantik?"

"Heh. Ada apa, Robert? Baru kali ini aku mendengarmu bertanya soal kecantikan. Kau benar-benar sudah jadi seorang pria, adikku! Aku bangga padamu."

"Hei, jangan berlebihan, pertanyaanku masih normal, bukan?"

Ryder tertawa. "Yah, pernikahanku mungkin beberapa minggu lagi. Dan, menjawab pertanyaan keduamu, ya, Princess Vera sangat cantik. Wanita tercantik yang pernah kulihat di Highsprings. Aku tak sabar untuk segera menanam 'itu' pada dirinya."

"Kau mesum sekali, kakak." celetuk Robert.

"Hey, itu wajar, tahu. Aku calon pengantin!" sanggah Ryder.

"Aku pernah melihat wanita yang sangat cantik, tercantik yang pernah kulihat." Robert menatap lurus kedepan, pandangan mukanya serius tiba-tiba dan membuat Ryder terheran,

"Jangan bilang kau berencana selingkuh dari adiknya Edwin, adikku?" tanya Ryder penuh selidik.

"Aku serius." ucap Robert, nada bicaranya memang serius, Ryder merasakannya. Robert lalu melanjutkan.

"Aku bertemu Lady Venicia Lindegard di Stamford, seminggu yang lalu."

"A-Apa?" Ryder mendelik. "Kau bertemu dengannya? Di kerajaan?"

"Benar." jawabnya. Robert menaruh kedua tangannya di atas pagar balkoni, menunduk memandang jalanan ibukota dari sana. "Dia bersama Sir Arthur Aenom. Menemuiku untuk menyampaikan pesan mereka pada Raja."

"Si brengsek Arthur bersama perempuan itu?"

Robert mengiyakan.

"Pesan apa yang dia buat?" terlihat jelas Ryder sedang terkejut setengah mati.

"Dia memiliki 22 ekor naga yang sudah tumbuh besar. Sesumbar dia bersumpah akan membakar Summerdome jadi abu jika ayah tak menyerahkan takhta padanya. Dia bersungguh-sungguh saat mengatakannya."

"Apa yang kau katakan setelah itu?" tanya Ryder lagi.

"Aku berkata padanya, bahwa dia akan memimpin 'kerajaan abu' kelak. Karna ayah tidak akan memberinya takhta semudah itu."

"Astaga, kenapa kau baru memberitahu hal ini sekarang, Rob? Apa kau tidak tahu betapa berbahayanya itu? Kita semua di kerajaan ini bisa celaka." Ryder langsung berbalik pergi. "Aku harus beritahu ini pada ayah. Sebelum terlambat!"

Robert terdiam memandangi punggung kakaknya.

'Huh. Memberitahu ayah kalau sebentar lagi dia akan mati?' batin Robert sinis.

Robert selalu membenci ayahnya. Karna itulah ia tidak berniat memberitahukan perihal pertemuannya dengan Lady Venicia Lindegard dan negosiasi yang dibuatnya. Sang anak haram sudah tidak peduli lagi dengan kerajaan.

"Prince Robert."

Pria bertudung kepala muncul dihadapan Robert, tepat diatas tiang lampu istana beberapa meter didepan Robert yang sedang berdiri diatas balkoni. Robert tersentak, ia mundur secara reflek, dan pria bertudung itu langsung melompat kearahnya, menghalangi Robert untuk kabur.

Robert mengeluarkan pedang tanpa pikir panjang melalui ikat pinggang Knightsealnya.

Pria misterius itu juga menarik pedang. Robert lalu mencoba menebasnya. Tebasan itu cukup kencang dan kuat.

TRANGG!!

TRANGG!!!

Berbagai tebasan Robert ditangkis.

Pria bertudung itu merangsek ke pertahanan Robert yang terbuka, Robert gagal menghindar. Pria itu punya kesempatan emas untuk menghabisi nyawa sang pangeran. Robert, yang sudah menerima berbagai upaya pembunuhan, dan selalu selamat, mungkin kali ini bukan lagi keberuntungannya.

Untuk beberapa saat, Robert merasa ini adalah akhir dari dirinya.

SRAKK!!

Pria itu menarik paksa ikat pinggang Knightseal milik Robert hingga lepas dari tempatnya. Sebagai akibatnya, pedang Robert menghilang. Robert mematung disana.

"Saya tidak datang untuk membunuh anda, pangeran." ucap pria itu.

"Kau..." gumamnya. "Kau menerobos pertahanan istana dan sampai disini. kau ini siapa?"

"Nama saya, Thabai. Dahulu, pangeran dari dinasti sebelumnya memberiku gelar Thabai of the Rebellion." pria itu menyarungkan pedangnya dan berlutut dihadapan 'sang pangeran' yang terdiam tak tahu apa yang sedang terjadi.

"Kami, The Rebellion, telah mengikrarkan diri untuk mengucap sumpah setia kepada anda, sesuai sumpah kami kepada sang pangeran sebelumnya. Saya dan 7.000 pejuang The Rebellion lainnya berjanji, kapanpun anda membutuhkan kami, kami akan selalu ada. Kami akan menghabisi semua yang menganggu jalan anda. Kami bersumpah atas nyawa kami."

"Apa maksudmu? Aku bahkan tak mengenalmu." Robert kebingungan. Ia berjalan mundur ketakutan, "Aku bahkan bukan seorang pangeran!"

Pria bernama Thabai itu lalu berucap,

"19 tahun yang lalu, Bush Rivermont memimpin pemberontakan terhadap penguasa Summerdome yang sah, King Andres 'The Slayer King' Lindegard, dan menduduki takhta setelah menggulingkan dinasti King Andres. Beberapa hari sebelum Bush memenangkan perang, anda dilahirkan, yang mulia, dari rahim Princess Feliza Rashford, dan juga Prince Gerard Lindegard, Putra Mahkota King Andres."

"M-Mustahil..."

"ANDA ADALAH SEORANG LINDEGARD, PEWARIS YANG SAH dari kerajaan ini. Dan kami akan membantu anda merebutnya dari tangan 'ayah' anda."

Robert membuka mulutnya lebar, terkejut akan penuturan sang Assasin.

"Kita bisa mulai kapan saja, yang mulia. Cukup sentuh pedang saya dan kita bisa memulai rebellion kita terhadap kerajaan ini." Thabai menyerahkan pedangnya sebagai perjanjian kerja sama, menunggu untuk disentuh oleh Robert.

"Andalah Raja kami, Robert."

Robert dilanda bimbang. Thabai berkata bahwa ia adalah putra semata mayang yang dimiliki Prince Gerard Lindegard. 19 tahun yang lalu, Prince Gerard adalah seorang Panglima Perang yang memimpin Kerajaan Summerdome menghadapi gempuran kelompok pemberontak Bush Rivermont. Nyawa Gerard melayang setelah berhadapan satu lawan satu dengan sang pemimpin pemberontakan, Bush. Yang kemudian mengklaim takhta dan menjadi raja baru setelah dinyatakan menang perang.

Tetapi, benarkah Robert untuk percaya kepadanya? Dan jika memang perkataannya benar dan jujur, haruskah ia menggunakan alasan itu untuk mengkhianati ayahnya, kakaknya dan juga sahabatnya demi bisa duduk di kursi emas takhta? Berapa nyawa yang harus ia korbankan jika ia memulai pemberontakan, seperti yang dilakukan 'ayahnya'? Dan yang lebih penting, selayak apakah dirinya untuk menanggung beban seperti itu?

.
.
.

TBContinued~~

Selanjutnya: Sejarah Kelahiran Robert



Alien Queen
2017-11-19 08:35:43
Aku kagum pada kakaknya yang sayang banget pada robert.
Bocah Redoks
2017-11-02 20:56:08
Pilihan demi pilihan tersaji. Tersakiti atau menyakiti
Yukki Amatsu
2017-10-28 15:28:13
kasian robert, hidupnya penuh kebimbangan..
Kakek
2017-10-28 10:27:34
Apa Robert akan menghianati kakak nya rayder
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook