VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Sekelumit Kisah Tentang Harta yang Berharga

2017-11-01 - Shin Zahara
33 views | 5 komentar | nilai: 10 (2 user)

Tentang seorang wanita yang merindukan anaknya. Anaknya yang telah ia buang dulu. Sekarang, wanita itu tak pernah tahu bagaimana nasibnya. Apakah masih hidup, atau apakah sudah mati? Ia tak menahu. Ia hanya bisa menguring, mengurung diri dalam bui penyesalan hatinya.

Mengandung benih tanpa suami, melahirkan anak tanpa bapak. Malu tak kentara, membuat wanita itu akhirnya memutuskan untuk memasukan buah hati ke kardus bekas, lantas membuangnya ke pinggir jalan. Dibiarkannya meraung-raung, meminta ditetekki namun diacuhkannya.

Sekarang, jerit tangisan di remang pagi buta itu tiada berhenti meneror, menghantuinya barang sedang tidur atau tak tidur. Wanita itu hampir gila, habis cara untuk bagaimana menghadapi. Sementara akalnya sedikit-sedikit tergerogoti.

Menjambak rambut tanpa ampun hingga helai demi helai merontok, menenggak bir atau sake dalam jumlah puluhan liter, dan berpesta pora dibawah bola lampu pelangi yang berputar-putar memusingkan.

Sampai di situ, otaknya tak juga menghentikan aksi penerroran simponi yang menakutkan, tanpa henti bergenderang memantul-mantul di dinding tempurung kepalanya. Geledek petir di langit menggetarkan nyali, serta merta suara rintih ketakutan bayi pun tak kalah mendobrak hancurkan segenap ulu hati. Hancur, hancur tanpa sisa.

Minggu yang lalu, ia baru saja dicerai oleh suami resmi yang dinikahinya dua bulan semenjak tindakan tak patut itu dipilihnya mentah-mentah, meninggalkan bayi yang bahkan masih tak diberi nama, yang bahkan masih berumur setengah jagung untuk disebut bayi.

Jika tahu itu janin pertama sekaligus terakhir yang bisa ia dapat, maka sebagaimanapun rupa fisiknya akan diterima sepenuh hati. Ya, secacat apapun, bahkan seburuk apapun. Wanita itu bersumpah, ia tak mungkin melakukan langkah nekat jika saja ia tahu ... menindaki aborsi pada rahimnya adalah pula menjadi awal kemandulannya--alasan mengapa akhirnya ia putus hubungan dengan suami.

Kini, delapan belas tahun telah berlalu. Wanita yang selalu menggantungkan bintang di dadanya itu mengawang jauh dalam mimpi. Ia tak punya apa-apa. Sebagaimana perhiasan lain, seperti kalung, gelang, anting-anting, segala berbahan emas murni itu telah ludes digadaikannya. Dua mobil mewah pun tak kalah cepat, lari dari genggaman sang tuan.

Sekonyong-konyong, lelaki yang sekejap sempat menjadi suaminya itu benar-benar keterlaluan, begitu kurang ajar, meminta segala hal yang pernah diberi dan dibeli sang istri untuk dikembalikan padanya.

Maka, rantai besi yang terkalung di leher itulah satu-satunya barang yang dipunya, wasiat peninggalan dari sang ibu yang wafat tiga tahun lalu. Ah, barang mencetak nama itu di pikiran, hatinya makin serasa terbentur. Selama belasan tahun terakhir, ia hanya bisa bergantung pada harta peninggalan keluarga yang tak seberapa.

Jika saja dulu ia turuti petuah dan peringatan dari sang ibu, barangkali tak mungkinlah harus sengsara begini. Kini tak ada lagi harapan, tak ada lagi cahaya. Dalam kejauhan pikiran dan hatinya, ia tumbang. Teramat lanjur wanita itu merindukan segenap keluarga, kakek, nenek, ibu, bapak serta anaknya. Ia mulai tak tahan.

Maka, sejulur tali tambang ditangan yang diyakini dapat mengantarnya ke pusara jadi keputusan terakhir. Diikat dan disimpulkan olehnya, pada ranting pohon besar di halaman belakang rumah.

Ihwal jiwanya bergemuruh, air mata dan isakan tangis itu jadi pengujung langit sore, sekaligus pengatar langit malam. Bibirnya menggurat senyum getir yang menyedihkan.

Dengan satu gerakan pasti, ia menerjang kursi penyangga hingga jatuh mencium tanah. Sekejap meronta, kaki terantuk-antuk bergelantung di udara. Megap-megap wanita ringkih itu mencari celah udara pada selongsong paru.

Namun, tak disesalinya. Sakit tersangat sakit dirasa setara dengan banyak luka yang telah digoreskannya pada daratan bumi.

Singkat berkelebat di kepalanya, tentang bagaimana dulu ia merenggut nyawa-nyawa tak berdosa, meracuni teman terdekat bahkan orang tua sendiri demi satu pria tercinta. Tapi salah besar baginya, tak dikira pengorbanan itu tanpa buah hasil. Lelaki yang mati-matian dibelanya itu nyata telah menipu, yang dimau hanya kemolekan tubuhnya, ia menjarah keperawanan wanita itu dengan enggan tanggung jawab. Terjadilah pula, di waktu tepat setelah pembuangan bayi hasil aborsi itu, ia menikam mati pemuda tak tahu diuntung tersebut.

Pembunuhan terakhir juga telah tercatat, barusaja usai kemarin di malam suntuk. Satu pria kembali mati di tangan, tak lain tak bukan adalah mantan suaminya sendiri. Kini, wanita sekarat itu benar-benar merasa hina.

Maka hembusan napas pun final, tangan semampai itu terjatuh lemah hilang daya. Dan tidak pernah ia tahu, ketika limabelas menit setelah kepergiannya, seorang pemuda berpakaian rapi dan berparas tampan berdiri tak jauh dari jaraknya.

Pemuda itu mengerang, jelas penuh keterkejutan. Saat ditatapnya sendiri kematian nahas itu, ia melangkah mundur dengan kikuk. Refleks ia menutup mulut menahan diri untuk berteriak, pemuda itu berlari dengan terseok menerjang semak-semak belukar.

Mata yang terbelalak lebar, serta lidah yang terjulur keluar di sela mulutnya yang setengah menganga, wajah wanita itu begitu menakutkan kala dilihat. Satu hal yang tak bisa dan tak mungkin ia terima, ketika kenyataan jelas-jelas berjamah; raga yang terlanjur tak bernyawa itu, tak lain adalah sosok yang telah dicarinya, jauh semenjak beberapa minggu terakhir.

Namun, belum juga menempuh sepuluh meter, ujung kakinya terpaut batu, kedua lututnya pun jatuh terkulai, beradu dengan kekerasan jalan setapak. Tersengal-sengal ia bernapas. Lirih, air mata pun menggenang ketika satu nama beberapa kali tercetak di bibir tipisnya. "Ibu, Ibu ...."

Sebuah alur yang menyedihkan, tetapi begitulah takdir berkata.

"Jadi, bagaimana?" Pria tegap nan kekar berjalan mendekat, berhenti tepat di belakang si pemuda. "Jangan bilang kau berniat lari. Selama ini kau telah banyak membuang waktuku, Anak Muda! Kau pikir aku tak punya keluarga? Biar aku akhiri tugasku ini, biarkan aku penggal kepalamu sekarang juga."

Pembunuh bayaran itu mengeluarkan kapaknya. Sementara si pemuda meringis, pasrah total seperti kambing kurban. Ia tak punya alasan untuk melawan, janjinya harus ditepati. Mungkin sudah jadi hukum alam; nyawa dibayar dengan nyawa.

Big bozz
2017-12-22 04:27:14
menyesal di akhir tak akan mengubah apapun, btw kunjungi cerita ku juga ya
Tobias Fadhillah
2017-12-21 12:32:33
Kisah ini menyayat jiwa.
Alien Queen
2017-11-22 20:46:01
Hah kisah sinetron. Tapi realita juga banyak.
Green Bull
2017-11-09 06:54:28
Pembunuh bayaran?
Yukki Amatsu
2017-11-01 06:05:16
Keren !! aku vote dah and... ijin share
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook