VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Mudik ke Neraka

2017-07-14 - Whiti Intheforest
69 views | 16 komentar | nilai: 10 (3 user)

Bulan puasa akan segera berakhir. Itu artinya Hari Raya Idul Fitri tinggal sebentar lagi. Kurang dari 7 hari lagi, hari raya umat Islam itu tiba.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, kebiasaan dan budaya mudik ramai dilakukan di saat seperti ini. Mudik yang artinya pulang ke kampung halaman, banyak dilakukan orang-orang yang merantau. Tujuannya tak lain untuk bersilatuhrami di hari yang suci.

Sama seperti kebanyakan orang, aku juga memutuskan mudik pada lebaran kali ini. Aku berniat untuk menemui ayahku.

Oleh karena itu, segera kuputuskan untuk pergi ke terminal bis untuk membeli tiket. Aku memilih untuk menggunakan bis dari Po. Harmunti.

"Mas tiket ke surabaya untuk besok ada?" tanyaku pada penjaga loket di agen bis tersebut.

"Hmm ... saya cek dulu" ujarnya sambil beralih menatap ke arah komputer di sebelahnya.

"Hmm ... untuk besok ke surabaya ... ada Mas ... masih banyak yang kosong" lanjutnya lagi.

"Kalau begitu saya pesan yang kursi belakang" balasku.

"Satu ya Mas?" tanyanya.

"2 kursi Mas, yang belakang" jawabku.

Penjaga loket itu kemudian segera meregistrasi pesananku dan menjelaskan waktu keberangkatannya. Tak lupa 2 lembar tiket sementara yang harus ditukarkan saat keberangkatan besok, diberikan padaku setelah aku selesai membayarnya.

Hari berganti dan waktu yang ditentukan akhirnya tiba.

Aku pergi ke terminal dan menuju Po. Harmunti untuk menukar tiketku.

Setelah ditukar dengan tiket yang asli, aku mendapati bahwa bis yang akan aku naiki adalah bis bernomer 213.

Setelah itu, yang kulakukan tinggal menunggu. Menunggu bis 213 datang. Menunggu bersama puluhan penumpang yang akan naik bis bersamaku.

Terlihat kebahagiaan terpancar dari wajah beberapa penumpang itu. Bagaimana tidak, pulang ke kampung halaman saat lebaran, siapa yang tak senang?

Terlihat beberapa anak muda yang mungkin mahasiswa ingin segera pulang untuk menemui orang tua mereka. Terlihat pula pasangan muda yang ingin melihat orang tua atau mertua mereka. Atau riangnya anak-anak yang tak sabar bertemu kakek dan nenek mereka.

Beberapa waktu menunggu, bis 213 kami datang. Bus bercat ungu putih dengan tulisan Po. Harmunti di badannya, baru saja berhenti di depan kami. Melihat tulisan itu di badan bis membuatku harus menahan perasaanku.

Penjaga loket kemudian memanggil kami satu per satu untuk naik ke dalam bis. Ia juga mengingatkan para penumpang untuk menaruh koper dan tas besar kami di dalam bagasi.

Aku? ... tidak ... aku tidak membawa koper. Bahkan aku tidak membawa tas 1 pun. Barang yang ku bawa hanya ku simpan di saku pakaian yang melekat di badanku saja.

"Bapak Rizal" panggil petugas loket itu memanggil namaku terakhir kali karena aku adalah penumpang kursi belakang.

"Iya Mas" jawabku sambil membenamkan topiku semakin dalam untuk sedikit menutupi wajahku.

"Di sini tertulis 2 tiket, Bapak cuma sendiri?" tanyanya.

"Iya Mas, yang satu sakit tidak bisa ikut" jawabku memberi alasan.

"Oh begitu ... tapi maaf pak. Kita tidak bisa ganti rug ..."

"Tidak apa-apa mas" potongku.

"Kalau begitu saya naik" ujarku masuk lewat pintu belakang agar tidak terlihat penumpang lain.

"Barang bawaanya Pak?" tanya petugas loket itu mengagetkanku.

"Sudah saya masukkan bagasi" jawabku cepat sambil bergegas masuk ke dalam bis.

Aku kemudian masuk dan duduk di kursiku. Aku mencoba melihat keadaan sekitar. Kursi di sampingku tentu saja kosong. Kursi samping seberangku juga tidak ada karena terdapat toilet. Penumpang yang lain juga tidak menyadari keberadaanku. Mungkin meraka menganggapku kru bis atau supir pengganti. Tapi sayang sekali, yang seperti itu tidak akan pernah ada di bis Po. Harmunti. Situasi yang sempurna.

Beberapa saat kemudian, bis 213 jurusan Surabaya itu berangkat tepat pukul 3.30 sore.

Selanjutnya, tinggal perjalanan saja.

Kurang lebih 5 jam kemudian, akhirnya bis berhenti di restoran untuk makan malam.

Aku langsung turun dari bis setelah bis berhenti parkir. Tak lupa, aku melirik ke arah supir bis dari kejauhan. Aku mencoba mengikuti supir itu pelan-pelan tanpa diketahui orang lain.

Supir dan para penumpang lain sedang makan malam. Sementara aku mencoba bersembunyi dan sedikit mungkin tidak menarik perhatian sambil terus mengawasi. Lagipula situasi sangat ramai dan orang sibuk dengan urusannya masing-masing.

Beberapa saat setelah supir itu selesai makan. Ia bergegas meninggalkan meja makan dan pergi ke toilet.

Toilet tersebut cukup sepi karena toilet itu memang diperuntukkan untuk para supir. Berbeda dengan toilet umum yang biasanya digunakan oleh penumpang dan berada di luar.

Aku segera menyelinap masuk ke toilet yang sama dengan supir itu. Saat supir itu hendak membuka celananya di wc berdiri, aku segera menyekap mulutnya dengan sapu tangan berisi obat bius.

Setelah pingsan tanpa perlawanan, aku membawanya masuk ke kamar mandi, membuka bajunya kemudian mengikatnya. Kemudian aku mengganti pakaianku dengan pakaian supir itu.

Ku kunci pintu kamar mandi dari dalam kemudian aku melompat keluar. Sesudah itu aku segera bergegas menuju bis 213.

Aku masuk bis kemudian duduk di kursi supir. Lalu segera ku matikan lampu dalam bis.

Terlihat para penumpang sudah mulai masuk ke bis dan mulai duduk di kursinya masing-masing.

Setelah semua penumpang duduk, aku segera menutup pintu bis dan menjalankan bis.

Tak ada satupun yang curiga. Tak ada satupun yang sadar. Jikapun ada yang menyadari jika supirnya berbeda, maka mereka hanya mengira bahwa aku adalah supir pengganti.

Aku melanjutkan perjalanan. Aku mengarah menuju tujuan yang sudah kurencanakan sebelumnya. Kulirik para penumpang juga sudah mulai tertidur.

Sempurna! Sempurna! Sempurna!

Aku terus memacu bis 213 Po. Harmunti ini. Bis terus melaju hingga memasuki jalanan penuh kelok dan tebing yang curam.

Inilah saatnya....

Inilah saatnya...

Aku memacu bis ini semakin kencang....

Di tengah adrenalinku yang semakin kencang, ingatan mengapa aku berbuat begini terlintas dipikiranku.

Semuanya berawal dari kematian ayahku beberapa bulan yang lalu. Bukan karena sakit. Tapi karena kecelakaan. Lebih jelasnya, kecelakaan dan meninggal saat dalam perjalanan menggunakan bis Po. Harmunti.

Awalnya kupikir kecelakaan itu adalah musibah dan takdir yang harus ku terima. Tapi itu salah. Kecelakaan ini karena faktor keteledoran dan buruknya kualitas Bis Po. Harmunti.

Kecelakaan yang menimpa ayahku adalah kecelakaan tunggal. Bis yang ditumpangi ayahku menabrak pembatas jalan dan jatuh ke jurang. Hampir setengah dari penumpang bis itu tewas. Sementara puluhan penumpang lainnya luka berat.

Tapi apa yang membuat aku terheran?

Yah....

Kejadian sehebat itu tidak satupun diberitakan di media besar. Semua seolah tutup mata tentang apa yang terjadi.

Tak ada pemberitaan. Tak ada permohonan maaf. Tak ada uang santunan. Yang ada hanyalah sebuah telepon yang mengatakan ayahku sudah menjadi seonggok mayat di ruang jenazah rumah sakit.

Atas semua perlakuan tak manusiawi itu, aku mencoba menyelidiki semuanya. Tentang perusahaan Bis Po. Harmunti.

Setelah mencari, bertanya dan melihat sendiri, aku akhirnya sadar betapa busuknya Po. Harmunti. Perusahaan bis yang hanya ingin keuntungan sebesar-besarnya tanpa mempedulikan keselamatan.

Po.Harmunti adalah Perusahaan bis malam gila yang bahkan tidak memiliki supir pengganti dalam bisnya. Tidak peduli mengantuk atau lelah, satu supir harus menyupir bis menuju tujuan. Kernet bis? Yah... yang seperti itu juga tidak ada. Tidak ada kru lain dalam satu bis.

Selain itu, servis dan perawatan bis benar-benar asal-asalan. Bis jarang sekali dilakukan check up dan servis. Jika ada kerusakan pada bis pun, perusahaan lebih memilih menambalnya dengan part bekas ketimbang memperbaiki dengan part baru untuk menghemat biaya.

Pemilik Po. Harmunti yang merupakan pengusaha sekaligus pejabat besar, membuatnya sulit tersentuh media ataupun pihak dinas perhubungan maupun polisi. Uang benar-benar bisa membeli semuanya. Sudah berapa kecelakaan mereka tutup-tutupi? Benar-benar biadab.

Karena oknum-oknum gila inilah, ayahku harus mati. Bis dengan rem blong dan supir yang mengantuk memang menjadi kendaraan maut yang pas untuk menjemput kematian.

Ayah...

Sebentar lagi aku akan menyusulmu...

Aku tahu ayah bukanlah orang baik. Ayah suka judi. Ayah mabuk-mabukkan. Dan yang paling parah adalah ayah pengedar narkoba dan penadah curian motor.

Tapi dibalik itu semua, ayah selalu perhatian kepadaku sejak kecil bahkan hingga dewasa. Aku tahu uang untuk aku sekolah dan untuk kita makan adalah uang haram. Ayah sudah mengaku soal itu dan aku tahu itu.

Berkat uang haram ayah itulah aku bisa lulus kuliah dan bisa bekerja di perusahaan besar. Itu semua berkat ayah.

Aku tahu ayah, kita sudah mendiskusikan ini sebelumnya. Kita berdua pasti masuk neraka.

Tapi aku tak menyangka ayah akan pulang ke neraka terlebih dahulu.

:
:

Pikiranku kemudian kembali ke masa sekarang setelah tersadar akibat tetesan air mata yang memenuhi pelupuk mataku.

Aku mencoba melihat ke depan. Belokan di depan adalah tempat ayahku kecelakaan beberapa bulan yang lalu.

Aku mengelap air mataku. Memasukkan gigi dan menancap gas.



Ayah... aku datang...

Biarkan kita buat heboh Po.Harmunti. Kita lihat apa mereka bisa menahan berita setelah kecelakaan kali ini.

Aku terus menancap gas dan mengarah ke pembatas jalan.

Ayah...

Selamat lebaran 2017

Aku pulang...

"Grusakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!"

"Brukkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!!!!"

...

...

...

Kuroko Akashi
2017-09-03 07:48:55
Hemt,, awl'x kukira dia mau meledakkan diri di Bus,, hehe,, lbh parah lgi trxta,, (y)
Green Bull
2017-08-15 15:06:50
Bagus... Bukan memperbaiki keadaan malah memperparah keadaan efek dari harta haram.
Bocah Redoks
2017-08-03 20:51:05
Benar benar aksi yg keren
ToxicFX
2017-07-18 10:53:21
Biar makin cepet bisnya tambahkan NOS
Aerilyn Shilaexs
2017-07-16 19:25:02
Judulnya membuatku tertarik. Pada awalnya aku ber tanya2, kenapa nggak ada kondekturnya. Eh itu ternyata jawabannya.
Aerosmith
2017-07-16 06:54:18
Balas dendam..
Newbie Tamvan
2017-07-15 22:24:15
Ane mau nanya nih!...Sekolah/N di lanjutin kaga?
Timnas Indonesia
2017-07-15 08:16:52
Mudiknya Keren juga yah
Luthfi D Nasib
2017-07-14 22:37:29
Apakah satu kursi untuk ayah yang sudah berangkat lebih dulu ke neraka..
Phoenix D
2017-07-14 22:04:57
Wah mudiknya ke neraka btw S/N kapan dilanjutt?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook