VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Ahmadnoorian SC C4 - Malam-Malam Penuh Darah

2017-01-11 - Question Of Life
30 views | 4 komentar | nilai: 10 (1 user)

Ahmadnoorian Super Crossover CH 4
Malam – Malam Penuh Darah

Sebelum cerita dimulai…
Sebuah pertanyaan klasik ditanyakan seorang filsuf
Menurut kalian apa itu Cinta?

Misha De Angela Rasta : Cinta itu adalah suatu berkah yang diberikan tuhan, hanya dengannya kita bisa merasakan kebahagian

Irana Rima Hasnawati : Hahhahahah Itu adalah saat seorang pangeran rela menebas kepala seekor naga konyol hanya demi datang menolongmu

Santi : Aku tidak tahu apa itu cinta, tapi saat aku bersama Ahmad jantungku berdegup kencang, jadi apakah itu yang namanya cinta?

Sindy : Cinta itu adalah saat kau ikut merasa bahagia jika dia bahagia, meski dia mencintai orang lain

Reena De Angela Rasta : Suatu kekuatan luar biasa yang bahkan mampu membuat orang tetap tersenyum

Vina Alshinta : Cinta itu adalah penawar rasa kesepian

Ersa Liana Dewi : Apa itu cinta? Semua orang menjadi ahli pujangga karenanya, tapi bagiku cinta itu adalah racun yang sanggup membuat seseorang yang mengecapnya mati

Rania Risky : itu adalah mahkota para wanita, hey aku ingin menjadi aktris cerita romantis seperti romeo dan juliet, oh betapa romantisnya, kuharap aku akan merasakannya

Dilla Nur Farahilla : Cinta itu Suatu perasaan sayang yang mendalam

Ardhia Wishnu : Cinta adalah benang merah takdir yang mengikat antara dua insan yang berlainan jenis

Hendy Risnandi : Cinta itu adalah sesuatu hal dapat membuatmu melakukan hal-hal gila meskipun akhirnya dia yang dicintai justru malah membencimu

Nicholas Rifano : cinta itu adalah sesuatu yang membuat logika berpikir seorang detektive menumpul

Etna Alfian : cinta itu adalah sesuatu diluar logika

Ahmad Erriannoor : Itu adalah saat kau merasa nyaman bersama dengan seseorang

Ahmad Aldiannoor : apa itu cinta? Please jangan tanya aku, nanti ketahuan kalau aku jones

Ahmad Arhandi : No Coment

Ahmadian Noorsheill De Rasyid : No Coment

Muhammad Farid : No Coment

Semua punya jawabannya masing-masing tapi apa itu cinta sebenarnya? Tidak ada yang tahu pasti
Cerita dimulai…

***

(10 Agustus)
Entah mengapa malam ini setelah membeli sesuatu tiba-tiba Erriannoor memutuskan untuk untuk singgah di taman bunga penuh kenangan, memetik sekuntum bunga, menghirup aroma wanginya, rasa ingin berlama-lama timbul dalam hatinya, berbaring disana melihat bintang-bintang
Kemudian sebuah bayangan merah mengahalanginya
"Sindy? Apa yang kau lakukan disini? Bukankah itu gaun milik kakakmu?" ucap Erriannoor kepada wanita yang baru datang
Orang yang disebut hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah kata pun
Erriannoor bangkit dan menggenggam tangan perempuan itu tuk mengajaknya pulang, namun si wanita balas menggenggam lebih erat, Erriannoor mulai merasakan sesuatu yang basah
Suatu cairan merah mengalir dari lengannya, menetes ke bawah, si wanita ambruk dalam pelukan, semakin erat Erriannoor memeluk, semakin banyak dia melihat luka-luka tiba-tiba saja muncul, si wanita menangis tersedu-sedu kemudian mengucapkan dengan lemah "Maaf karena tidak bisa memenuhi janjiku Erriannoor" ucapnya, Erriannoor tersentak kaget, dia tahu kalau Sindy seharusnya sudah bisu tapi mengapa, janji apa yang dia maksud, kemudian erriannoor menangis, kini dia tahu siapa yang ada di depannya
"Tidak mungkin, ini bohong kan? Sandy, siapa yang telah melakukan ini padamu?" ucap Erriannoor kemudian melepaskan pelukannya, dia melihat mata sang wanita yang menatap balik nanar
Kemudian ambruk ke tanah, setiap warna merah di gaunnya menguap bergantikan sebuah warna putih lucek dengan tanah,semua lukanya menutup, dan sang wanita kehilangan kesadarannya
Erriannoor menggoyang-goyang tubuhnya mengahrapkan ada sepatah dua patah kata yang menjadi jawaban
Mata sang wanita terbuka, dia mendorong tubuh Erriannoor sedikit kebelakang, mengambil sesatu, sebuah papan tulis kecil, dan menuliskan
"Erriannoor apa yang terjadi?" tulisnya di papan tulis kecil itu
Erriannoor hanya menangis, wanita di depannya ini bukan lagi yang dia yang tadi, memang seharusnya seperti ini
"Sandy aku berjanji akan menemukanmu" gumam Erriannoor
"Sindy darimana saja kau tadi? Tidak baik tahu, keluar malam-malam begini, aku tidak menginginkan kau sampai hilang seperti kakakmu" ucap Hendy yang baru saja datang, kemudian dia melihat Erriannoor berada disana
"Sebenarnya apa yang terjadi?" ucap Hendy menyelidik
"Tidak ada apa-apa?" ucap Erriannoor cepat, Hendy menyipitkan matanya mulai curiga
"Apa kau yakin" ucap Hendy
"Yah aku yakin" ucap Erriannoor, tapi meski dijawab seperti itu, feeling Hendy mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan
"Kalau begitu baguslah" ucap Hendy singkat
Malam itu adalah pertama kalinya orang-orang di desa itu melihat sosok gadis bergaun merah

***

Di dalam sedang tambang emas tersembunyi 4 orang pria sedang bekerja, menggali-gali bebatuan di depannya
Salah satu di antara mereka termasuk juga Dino, di antara para pekerja lain mungkin dialah yang paling muda, pada awalnya dia tidak mengetahui sisi tersembunyi dari desa dimana dia tinggal, sebuah tubuh yang berdiri tegak di dalam sebuah lemari berpintu kaca membuatnya risih tidak bisa berkonsentrasi
"Tidak perlu kau hiraukan wanita itu, dia mati dan kita hidup yang artinya kita jauh lebih kuat darinya" tegur salah seorang pekerja yang lebih senior daripadanya
"Lagipula shif kerja kita hanya satu hari dalam seminggu jadi tak perlu khawatir, setiap pekerjaan pasti ada resikonya" ucap yang lainnya
Mendengar nasehat seniornya Dino berbicara kepada dirinya, jika memotivasi dirnya sendiri dengan bayaran yang cukup tinggi dan akan daapat memikat perempuan yang dia sukai nantinya, karena itu meski terusik bau menyengat dia tetap bertahan

***
(11 Agustus – 3 September)
Keesokan harinya Erriannoor berjalan ke arah hutan, menyusuri lembah, mendaki lereng gunung tanpa tujuan sembari membawa sebuah sekop, kadang kali hujan turun membuat pijakan menjadi licin, tidak jarang nyawanya hampir hilang terjatuh ke jurang karenanya
Tidak hanya ke dalam hutan kadang dia berjalan menyusuri setiap sudut desa bahkan juga ke desa mati itu, setiap kali hari menjelang senja dia kembali dan mampir ke taman bunga itu, berleha-leha disana, saat turun hujan dia menangis sepuas-puasnya, hal itu dia lakukan setiap hari, membuat makan dan tidurnya tidak karuan, orang-orang yang melihatnya tidak kuasa untuk menegur
Terkadang Sandy meminjam tubuh adiknya datang hanya untuk mengawasi saja dari kejauhan
Terkadang Sindy datang membawakan bekal untuknya, Erriannoor menyantapnya dengan lahap, Sindy membelai pipi Erriannoor dengan lembut, Sindy lalu menyingkirkan kotak makanan yang dia bawa, membiarkan pangkuannya kosong dan meletakkan kepala Erriannoor di atasnya
Di setiap Sindy datang, tidak lama kemudian Hendy selalu datang, dia tidak menghentikan tindakan mereka, hanya berdiri melihat kedua insan ini, meski sakit tapi dia bagi Hendy, Sindy sudah pergi menjauh ke tempat yang tidak bisa digapainya
Saat Sindy mulai pergi maka Hendy pun ikut pergi, dan Erriannoor melanjutkan pencariannya, namun hari itu ketika dia terus mengikuti Sindy dari belakang, seseorang pria dengan suara berat memegang pundaknya
"Kau tidak perlu lagi melakukan itu Hendy, biarlah mereka kami yang urus"
"Jika kalian berani menyentuh Sindy maka aka sendiri yang akan membunuh kalian" ancam
"Lalu bagaimana dengan Erriannoor?"

***

(7 Agustus)
Memang saja seperti yang orang itu katakan kepada hendy pada malam itu seorang pria berpakaian hitam mengendap-endap mendekati rumah Erriannoor
Adapun orang yang bersangkutan telah pulang dari pencariannya akan Sandy, dia berbaring di kasurnya namun setelah berjam-jam dia tidak tidur juga mesti sudah memejamkan mata maupun menutupi wajah dengan selimut, sebuah bisikan lembut memanggilnya namanya
Untuk yang kesekian kalinya dia kembali melihat yang terkasih memakai gaun merah pemberiannya, rambut panjangnya tergerai lepas menutupi sebagian wajahnya, kini darah-darah di sekujur tubuhnya sudah menghitam, bahkan tak ada lagi kecantikan tersisa di raut wajahnya saat dia masih hidup, Sandy mengangkat tangannya, kuku-kukunya yang tajam bercakar menggores-gores dinding kamar membentuk sebuah ukiran hati
Erriannoor bangkit menggenggam tangan penuh luka itu, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, meski dengan jarak sedekat itu Erriannoor sama sekali tidak merasakan hembusan nafas, mereka berciuman tanpa ada rasa jijik selama beberapa menit
Pintu jendela terbuka tiba-tiba, Erriannoor melepas bibirnya, sang gadis berucap "Erriannoor, kau tak perlu mencariku karena aku selalu ada disisimu, kau tak perlu membahayakan dirimu untuk melawan mereka"
Kemudian sang gadis bergaun merah berbalik menghadap jendela dan terjun bebas menindih pria berpakaian hitam yang mengendap-endap di bawah, membuka mulutnya, memamerkan taring-taringnya, merobek daging bahu si pria lalu menyeret tubuh pria maang itu masuk ke hutan
Keesokan harinya Rahmat Alfiadi ditemukan tewas tak bernyawa di dahan pohon beringin, kini dia adalah korban pertama dari pembalasan dendam

***
(9 september)
Kini Dino yang sudah terbiasa dengan pekerjaan barunya malah justru meminta untuk bekerja setiap hari tanpa memperdulikan mayat gadis bergaun merah yang disembunyikan di dalam tambang itu
Dino dan seorang teman satu pekerjaannya sedang menikmati makan malam di dalam tambang itu
"Hey Dino, panggilah Rehan untuk makan, aku tidak menyangka jika dia bisa serajin itu" ucap senior Dino, dino yang merupakan termuda di antara mereka hanya mengangguk patuh
"Biar aku temani, lagian aku sudah selesai" ucap seorang lagi, kemudian berdiri diikuti Dino
Mereka berdua berjalan beriringan menyusuri goa semakin ke dalam, perasaan rasa tidak enak mulai menyelimuti Dino
Kemudian beberapa tetes darah muncrat mengenai wajah mereka, sebuah kepala menggelinding ke arah mereka, Dino mengenali pemilik kepala itu, dia adalah Rehan
Seorang gadis yang seharusnya diam tak bergerak di dalam lemari berpintu kaca itu justru kini berdiri sembari menghujamkan tangan penuh cakarnya ke dada kiri Rehan, mengambil jantungnya dan meremas, saat gadis bergaun merah dan penuh luka yang sudah busuk itu mengehentikan aktivitasnya, dia mengangkat wajahnya dan melihat dua orang yang berdiri di depannya
Menyunggingkan senyum dan melompat ke langit-langit kemudian merayap secara perlahan dan terbalik
Tanpa perlu pikir panjang Dino dan temannya berlari sekuat tenaga menjauh dari mahluk tak masuk akal itu
Gadis itu merayap di langit-langit dan semakin lama semakin cepat saja, raungan yang lebih menyerupai tangisannya itu memenuhi lorong goa, mengejutkan seorang pekerja yang masih sibuk menghabiskan makan malamnya, saat dia melihat kedatangan Dino dan temannya barulah dia menyadari segerombolan tikus mengejar mereka dan menangkap salah satu dari mereka, menggerogoti daging orang itu hingga mati
"Boleh aku minta?" sebuah suara gadis berbicara di sampingnya, sebelum dia sempat menoleh satu jari telunjuk menembus mata kanannya dan mencongkelnya, Dino yang melihat itu hanya terus melanjutkan larinya menuju ke pintu keluar melewati mereka berdua
Dino yang berhasil membuka pintu keluar dan berusaha mencari pertolongan namun saat dia melangkah keluar dari bekas swalayan itu tetes hujan darah mengguyurnya, mayat ketiga rekannya telah tertancap tombak-tombak hitam dan dipamerkan di hadapannya, gadis bergaun merah itu berdiri di atas ujung tombak berlatarkan bulan purnama
Keesokan harinya Dino dibawa ke rumah sakit jiwa karena ditemukan menggila di tepi sungai dengan tangis bercampur tawa dan selalu berusaha membasuh tubuhnya dan Berteriak lantang "Siapapun tolong bantu aku menghilangkan darah Rehan, Andy, dan Farja di tubuhku! Bersetan dengannya aku masih hidup hahahhahahah" padahal tubuhnya sudah tidak ada noda sedikitpun

***
(10 september)
"Apa kau yakin masih akan melindungi gadis bisu itu Hendy?" ucap Haris Risnandi kepada putranya
"Benar sekali, sudah ada 4 korban karenanya, bisa saja berikutnya adalah aku, ayahmu, atau mungkin kau, atau siapapun yang berada di ruangan ini dan tahu tentang Sandy" ucap Radif
"Tapi belum tentu itu adalah perbuatan Sindy" bela Hendy
"Kau rupanya sudah dibutakan oleh cinta, sudah ada beberapa orang yang melihatnya berada di dekat kejadian, apalagi mereka semua mati saat kau melepaskan penjagaanmu" ucap Haris
"Beri aku waktu beberapa hari lagi ayah, aku berjanji jika sesuatu hal buruk maka aku sendiri yang akan menyelesaikannya, sayangku kepada ayah melebihi daripada sayangku kepada jalang itu" ucap Hendy dengan berat hati
"Bagaimana keadaan ketiga orang itu?" ucap Fahrani
"Mereka meninggal di tempat rahasia jadi untuk saat ini rahasiakan juga kematian mereka" ucap Haris

***
(13 September)
Dengan berat hati Saiful Karim Berjalan seorang diri di malam hari untuk melaksanakan kewajibannya sendirian, yah hanya sendirian, seharusnya dia besama temannya Rahmat Alfiadi, namun kini temannya sudah dimakamkan
Dia melihat seseorang wanita bergaun merah berdiri mematung di samping sebuah menara, wajahnya menunduk sehingg tidak kelihatan siapa dia sebenarnya, seketika itu juga rahmat ingat akan rumor-romor yang mulai menyebar di kalangan masyarakat
Saiful menyentuh tengkuknya, bulu-bulunya mulai berdiri seperti seekor landak yang ketakutan, yah memang dia sedang ketakutan sekarang
Saiful berpaling untuk segera pergi namun dia sudah tidak bisa lagi bernafas dan melihat
Keesokan harinya dia ditemukan tergantung di menara pembangkit listrik hangus tersengat listrik, apalagi saat kemarin turun hujan dengan lebatnya

***

(15 September)
Di suatu tempat yang jauh seorang pemuda membaca berita di dalam koran mengenai pembunuhan itu, matanya fokus ke berita itu, bukan karena dia tertarik dengan apa yang tertulis di dalamnya, melainkan ke photo seorang pemuda yang memiliki wajah sama dengannya secara tidak sengaja termuat di dalam photo yang membahas pembunuhan itu

***
(16 September)
Sore hari pihak yang berwenang untuk memperbaiki pembangkit listrik di desa itu mulai bekerja, setelah mereka pergi ke kota untuk membeli peralatan, saat hari mulai gelap, Noor Fahrani menyuruh anak buahnya untuk pulang lebih dulu, meskipun beberapa anak buahnya sudah memperingatinya untuk juga segera pulang, namun dia mengindahkannya
"Memangnya siapa yang takut hanya karena gadis bisu itu saja" pikirnya
Pada jam 9 malam akhirnya Fahrani mulai mengemasi barangnya dan ingin segera pulang karena saat itu langit mulai gerimis
Sebuah lagu yang berasal dari piano mengalun indah terbawa angin dari arah utara, merasa tertarik Fahrani mencari asal suara
Dia mengintip sedikit ke arah sebelah utara balik belakang bangunan dimana dia bekerja, hatinya berdegup sangat kencang apalagi saat melihat seorang gadi bergaun merah berjalan terseyok-seyok dan meminta belas kasihan dengan suara yang membuat bulu kuduk merinding
Fahrani segera bergegas mengambil tasnya dan segera pulang namun seorang gadis bergaun merah sudah duduk di samping tasnya, menutupi wajahnya dan menangis tersedu-sedu
Fahrani memberanikan diri untuk berbicara, karena dia menduga gadis bergaun merah ini hanyalah adik kembarnya yang membalas dendam, tangan kanannya mengenggam erat sebuah sapu yang berada di dekatnya
"Sindy? Apakah itu kau yang telah membunuh orang-orang itu? Jangan kau harap bisa melakukan hal yang sama kepadaku hah" teriak Fahrani
Sang gadis berhenti menangis kemudian mengangkat kepalanya
Tangannya bergerak mengambil tas di dekatnya dan melemparkannya kepada Fahrani
"Ternyata itu memang kau yah Sindy, tak apa jika kau bersikap baik, aku tak akan menyakitimu" ucap Fahrani, kemudian dia membuka tasnya dan mendapati kepala Rehan di dalamnya melotot kepadanya, mulutnya terbuka dan mneyemprotkan nanah, Dengan refleks Fahrani melemparkan tas itu
Gadis bergaun merah itu berdiri sambil mengacungkan pisau, membuat nyali Fahrani ciut dan segera melarikan diri
Namun saat dia melewati salah satu menara pembangkit listrik, sebuah tali tambang menjerat lehernya dan menggantungnya hingga tewas

***

(17 September)
Untuk yang pertama kalinya Ahmad Arhandi menginjakkan kakinya di desa itu, namun dia sudah disambut oleh pemandangan beberapa polisi yang hilir mudik, Arhandi lantas menanyakannya kepada seseorang yang lewat di hadapannya
"Ada pembunuhan yang terjadi, dan ini sudah yang ketiga kalinya" ucap Erriannoor menjawab Pertanyaan Arhandi
"Aku baru pertama kali melihatmu disini? Apakah kau baru saja tiba dari kota?" ucapnya lagi
"Yah begitulah, aku sedang mencari seseorang jadi kemungkinan akan menetap cukup lama,kuharap aku mendapat pekerjaan selama disini" kata Arhandi
"kau aneh, mencari pekerjaan justru pergi ke desa" ucap Dilla
"Yang benar dia itu mencari seseorang yayang Dilla, ceritanya aku berusaha meluruskan" ucap Ardhia
"Kau datang di waktu yang kurang beruntung yah" kata Faris
"kasihan sekali" tulis Sindy
"Tidak kau salah, aku datang di waktu yang pas" pikir Arhandi
"Jika kau mau, kau bisa mengambil pekerjaan salah satu korban pembunuhan itu, ayahkulah yang bertanggung jawab di desa ini" ucap Hendy

***

(20 September)
Arhandi yang baru saja mendaftar sebagai penjaga malam dan diterima, meskipun usianya masih tergolong muda, namun karena kurangnya minta terhadap pekerjaan itu akibat rumor-rumor yang mulai menyebar dan tipe wajah Arhandi yang tergolong kelihatan lebih tua daripada umur aslinya membuatnya sukses diterima
Sebenarnya Arhandi sudah mendengar tentang rumor menyeramkan itu, tapi mau bagaimana lagi, dia harus segera menemukan orang yang telah menirunya, bukankah pekerjaan ini bagus, kau bisa mengelilingi pelosok desa dengan bebas tanpa ada yang mencurigai, kemungkinan untuk menemukan doppelganger itu meningkat
Pada malam itu menggunakan sinter dia berjalan di malam hari, perhatiannya tersita ketika melihat sebuah taman bunga yang masih memancarkan pesonanya walaupun di tengah kegelapan malam, dia berhenti sejenak di sana untuk lebih lama menikmati pemandangan itu
Dua buah bayangan kian bergerak-gerak di tengah taman, satu bayangan berwaran hijau dan satunya lagi berwarna merah, dia melihat Erriannoor dan wanita bisu yang dia tahu bernama Sindy itu merdansa bersama di tengah malam diiringi suara lantunan musik piano yang datang entah dari mana
Namun ada yang salah pada si wanita, dari tubuhnya kian tak henti-hentinya mnegeluarkan darah yang sudah menghitam, aneh rasanya, apakah Erriannoor tidak menyadarinya rasanya itu mustahil
Setetes demi tetes air mulai jatuh membasahi bajunya, langit mulai menumpahkan hujannya, Arhandi kembali mengamati kepada dua pasang muda-mudi yang melenggak-lenggok menari di sana
Arhandi mulai teringat kembali akan rumor yang diceritakan warga kepadanya, tentang seorang wanita bergaun merah, yang menangis meminta pertolongan, dan juga kekasihnya yang masih hidup, Erriannoor
Sementara itu Erriannoor yang sedang menari mengenakan kaos hijau lusuhnya berbisik kepada Sandy "Sandy, kumohon jangan tinggalkan aku lagi"
"Erriannoor, Aku tak akan pernah meninggalkanmu, tapi maukah kau ikut bersamaku, pada saat hari ulang tahunmu, aku akan menjemputmu" bisik Sandy dengan lembut, kemudian dia ambruk ke tanah, wana merah di gaunnya mulai menguuap berganti warna yang lain bahkan tak hanya itu saja, bentuk pakaiannya pun berubah, luka-luka menutup tanpa jejak, bahkan darah yang tadi merembes keluar berjalan masuk kembali ke dalam
Arhandi yang melihat kejadian itu hanya bisa terdiam saja, kemudian dia melihat Hendy berlari dengan panik ke arah kedua pasang kekasih itu
"Sudah kuduga kau ada disini Sindy, Erriannoor apa yang terjadi pada Sindy, mengapa kau justru membiarkannya berhujan-hujan" cecar Hendy
"mengapa kau selalu over protektif terhadap Sandy?" ucap Erriannoor
"Berapa kali harus kubilang, Sandy telah mati, dia itu Sindy adiknya, aku hanya ingin dia bernasib sama dengan kakaknya, tidak bisakah kau mengerti?" teriak Hendy kemudian menggendong Sindy dan pergi dari sana diikuti Erriannoor
"Oh iya kau pekerja baru yang disana, bisa kau jelaskan apa yang terjadi" panggil Hendy kepada Arhandi yang dari tadi menyaksikan, tentu saja saat Hendy datang dia sempat melihat Arhandi begitu juga sebaliknya
Adapun Erriannoor yang tidak mengetahui keberadaan Arhandi hanya memasang wajah terkejut
"Tidak ada apa-apa, mereka hanya menari saja" ucap Arhandi
"Lalu mengapa Sindy pingsan?" kata Hendy
"Tidak tahu, mungkin dia hanya masuk angin" kata Arhandi tanpa membicarakan kejadian aneh yang baru saja dilihatnya

***

(21 September)
Arhandi tba di bagian desa mati, suasan di tempat ini lebih sunyi daripada tempat lainnya di desa itu, dia bertemu dengan Hendy dan Faris
"Apa yang kau lakukan disini sebagai penjaga keamanan kau tidak perlu menjaga tempattak berpenghuni kan" ucap Faris
"Hanya menunaikan rasa ingin tahuku saja bukan untuk berkerja, waktu kerjaku pada malam hari" ucap Arhandi
"Apa kau tidak tahu jika di desa ini ada pembunuh berantai berdarah dingin, kau pastinya tidak ingin mnejaddi korbankan, jadi untuk kebaikanmu sebaiknya kau menjauhi tempat ini, terlalu bahaya pergi ke tempat yang sepi di saat-saat begini" ucap Hendy
Arhandi menyadari perkataan itu lebih seperti perkataan mengusir daripada nasehat seorang yang khawatir, bagaimanapun juga baginya berjalan-jalan di malam hari bukankah itu lebih bahaya tapi Arhandi tahu tidak ada gunanya berdebat dengan mereka, karena itulah dia memutuskan untuk pergi
Saat dia sudah hilang dari pandangan kedua orang itu tiba-tiba dari arah lain dia melihat wanita yang tidak bisa berbicara itu, di belakangnya mengikuti juga seorang pria dalam jarak yang agak jauh
Sang pria lantas berjalan lebih cepat dengan mengacungkan sebuah pisau, Sindy berbalik dan sebuah pisau hampir saja mengenainya kalau saja Arhandi tidak menariknya, si pria melihat keberadaan Arhandi lantas langsung menyembunyikan wajahnya menggunakan topeng dan segera pergi dari situ
"Apa kau tidak apa-apa" kata Arhandi
"Tidak perlu khawatir" tulis Sindy

***
Di hari yang sama wanita aneh yang selalu tertawa ketika dia berbicara akhirnya untuk yang pertama kalinya menginjakkan kakinya di desa itu, hanya ada satu alasan mengapa cenayang gila seperti Ira untuk berada di sana, tidak lain tidak bukan adalah untuk menghabisi mahluk-mahluk yang sangat dibencinya
Dan akhirnya dia kmebali bertemu dengan Ahmad Arhandi
"Ira! Kaukah itu" panggil Arhandi
"hahhahhaha lihat siapa yang aku temui disini, soerang yang kehilangan jati dirinya hahahhahahah" tawa Ira seperti biasanya
"Bisa bantu aku, doppelganger itu ada di desa ini, aku ingin mencarinya" kata Arhandi
"Hhahahhahahahh percuma saja kau melakukan itu hahahhaha aku lihat kau itu lemah sedangkan mereka itu abadi, tidak ada harapan hahahahhahahhha lagipula Ira yang hebat ini sedang mengejar sesuatu yang lain" ucap Ira

***

Setelah kematian kakaknya Sindy di akhirnya tinggal dipaksa tinggal di villa milik Misha yang dikelola Muhammad Rais, alasannya demi keamanan katanya
Pada malam itu Muhammad Rais berjalan dengan kesal di lorong villa, menuju sebuah kamar seorang yang gagal untuik dibunuhnya
Dia mendobrak masuk ke kamar Sindy dengan menghancurkan pintunya lewt tendangan, tidak ada siapapun, hanya ada kamar kosong yang berantakan seperti kapal pecah, Rais berjaalan pergi meninggalkan kamar itu segera
Tik… tik… tik… suatu cairan menentes mengenai bajunya, bahkan ada yang disertai belatung, Rais membersihkannya dan mendapati cairan itu adalah darah, spontan dia mengadahkan kepalanya mencari tahu apa yang ada di atas
Suatu mahluk yang hanya menyerupai seorang perempuan dan hanya dapat digambakan sebagai perempuan yang berwarna merah entah itu karena pakaiannya atau karena darah di tubuhnya
Wanita merah itu terjatuh dan mengeluarka suara >gdebuuuuk< yang keras dan membuat villa itu seakan bergoyang, Rais akhirnya menyadari bagaimana mungkin rekan-rekannya bisa sampai mati, selama ini mereka salah, bukan si bisu yang melakukannya melainkan apa yang ada di depannya, dia juga tahu tak akan ada kesempatan baginya untuk menang melawannya
Rais berlari, di depannya ada sebuah tangga, Rais berniat melaluinya tapi beberapa tubuh tak bernyawa sudah menghadangnya mayat Fahrani ada di sana merangkak menaiki tangga, mayat Rahmat ada disana berjalan dengan sempoyongan, mayat Saiful ada disana berjalan dengan goyah, mayat Rehan ada disana berjalan membawa kepalanya, mayat Andy ada disana berjalan menaiki tangga dengan terpincang-pincang, mayat Farja ada suah ada di lanai yang sama dengannya melata di genangan darah
Rais mengubah arahnya membuka paksa salah satu kamar menuju balkon, mengambil tangga darurat kebakaran , melarikan diri melewati tangga itu setelah merasa tangga itu cukup aman, tidak lupa dia mengikat ujung tangga itu menggunakan kain selimut agar mahluk itu tidak menjatuhkan tangganya, saat itu langit sedang mencurahkan hujannya membuat tangga menjadi agak licin
Mahluk itu sampai di balkon setelah Rais mencapai pertengahan tangga, mahluk merah berwujud perempuan itu hanya melihat ke bawah, perbuatannya membuat Rais semakin turun dengan tergesa-gesa
Mahluk itu juga menuruni tangga itu dengan tubuh terbalik, Rais semakin mempercepat turunnya
Dia suatu tempat tidak jauh dari situ Arhandi melihat kejadian itu, dia saat itu sedang berteduh di poskamling, menggunakan sinternya untuk memperjelas penglihatannya, dia ingin saja untuk menolong tapi apalah daya kemampuannya
Kini jarak antara Rais dan mahluk itu sudah semakin dekat, mahluk merah berwujud perempuan itu membuka mulutnya dan seekor ular phiton keluar dan menyambar, Rais berhasil menghindar namun keseimbangannya goyah dan terjatuh
Sandy melompat dan mendarat tepat di hadapan Arhandi, membuatnya terkesiap
"Terima kasih" ucap Sandy
"U-Untuk apa?" kata Arhandi gugup
"Kau telah menyelamatkan adikku" ucap Sandy
Keesokan harinya Rais ditemukan tewas tergantung

***

(22 september)
Pada hari itulah akhirnya pemuda dengan ikat kepla layaknya pendekar datang ke tempat itu, membaur di antara para kerumunan yang melihat mayat Rais yang tergantung tak bernyawa
5 hari telah berlalu sejak Arhandi menginjakkan kakinya disini, Arhandi yang berusaha mengahfal setiap penduduk di desa itu namun tetap saja memorinya tidak bisa mengingat semuanya, namun dia bisa meyakini kalau dia belum pernah melihat pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu, yang berarti dia adalah baru tiba di sini, mungkin saja dia itu seorang wisatawan

***

Di malam hari gadis bergaun merah itu kembali muncul, saat itu dia berlari seperti mengejar atau mungkin mengejar sesuatu hanya saja kali ini dia masih belum memperlihatkan luka-lukanya, Sebuah pisau melayang dan menggores pipinya
"Hahhaahah tidak perlu khawatir karena aku tak akan membunuh tubuh adikmu, kayahahah yang aku perlukan hanyalah menari paksa dirimu keluar dari tubuhnya jadi bersiaplah menjerit kesakitan gwahahahah" kata Ira dengan tertawa
Ira mengambil sebuah parang dari balik jaketnya, dan mulai mengayunkannya secara cepat, Sandy mengindar tapi gerakan tak karuan Ira masih belum berhenti, kembali dia menusukkan sebuahjarum besar dan mengenai dada sebelah kanan Sandy, Sandy menjerit, Ira yang belum puas menendangnya sekuat tenaga dan Sandy terpental beberapa meter, Sandy tertelungkup dan mulai merangkak
Tidak pernah sebelumnya Sandy akan mengira bertemu dengan manusia yang sanggup melawannya, Ira melompat dengan sebuah parang di tangan kanannya berusaha untuk menebas, namun sebuah tendangan mengenai pinggangb dari arah yang tak terduga
"Pergilah, biar Law yang menghadapinya" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu ikut bergabung perkelahian wanita-wanita tidak normal ini
Sandy bangun dan mulai berlari sekencang mungkin, meninggalkan dua orang manusia paling berbahaya ini

***

Satu sisi adalah wanita tidak normal psikopat yang memiliki kemampuan alam bawah sadar, eksestensinya bahkan mengancam mereka yang tidak logis
Satu sisi adalah pemuda jenius dengan kepribadian ganda, satu kepribadian adalah Law yang tidak ragu menghancurkan siapapun yang menghalanginya
Ira mengambil sebuah kapak dan berlari maju, Law menghindar namun serangan masih belum berakhir, Ira berputar dan menendang dengan tumit sepatunya yang telah dipasangi pisau, namun Law berhasil menangkap Kakinya dan meremas sekuat tenaga, Ira melompat dan memeluk Law, Law sedikit terkejut dengan gerakan tak terduga itu
Ira menggigit pundak Law, Law mengangkat dan membanting tubuh Ira ke tanah namun Ira sempat menarik ikat kepala merah milik Law hingga terlepas
Kemudian Ira bangun setelah sebelumnya berguling menghindari injakan Farid
Menyadari ikat kepalanya lepas membuat Farid melompat mundur, mengambil sebuah pita hijau dari sakunya, dan mengenakannya
"keren… keren sungguh keren sekali, tidak pernah sebelumnya Kid melawan orang sehebatmu" ucap Farid yang telah menjadi dirinya yang lain, Kid
"hahahaha" Ira hanya tertawa saja kemudian langsung menendang tanah dan melompat "apa?" kaget Ira, karena tiba-tiba saja gaya berkelahi lawannya berubah
"Kau tahu Kid dengar kalau berkelahi itu tidak baik, jadi kenapa tidak menyerah saja dan berikan pita hijau itu, diri Kid yang lain ada di dalamnya" ucap pemuda dengan ikat kepala hijau layaknya pendekar itu
"Hahahahha lucu sekali, mengapa tiba-tiba saja tatapanmu berubah seperti anak polos, aku seperti menghadapi orang lain saja hahahahha" kata Ira
Ira kemudian seperti menjatuhkan tubuhnya ke tanah namun sebenarnya Ira melemparkan sebuah rantai
Menghindarinya Kid melompat dan mendarat dengan penuh gaya, menari-nari dan kemudian mengangkat kaki kirinya untuk menyerang dengan tendangan, serangan pertama tidak kena, serangat kedua tidak kena, serangan ketiga tidak kena, serangan keempat Kid berhasil menangkap tangan Ira dan memborgolnya
Gerakan Ira tak beraturan membuat Kid agak kewalahan, meskipun tangan kanannya telah terborgol dan salah satunya dipegang Kid, namun dia masih saja mampu menggerakkan tangannya dengan bebas dan menghantam wajah Kid
Sedangkan Kid bertarung dengan gaya yang ritmis dan teratur seperti menari, saat wajahnya kenna pukul, dia membalas dengan memukul dengan telapak tangan terbuka ke bagian siku tangan Ira, kemudian dia menendang dengan gaya alay tepat mengenai dada Ira
Ira menendang dan Kid juga menendang, kedua alas sepatu mereka saling bertemu dan sukses membuat mereka agak terlempar mundur
"Gyahahahaha kau itu sedang berkelahi atau menari sih? Kahahahahha" tawa Ira tak jelas
"Hey bagaimana Kid ini hebatkan, Tadi itu namanya adalah tarian penuh pesona dari Kid yang hebat" ucap pemuda dengan ikat kepala hijau itu dengan bangganya
"shahahahaha tapi Ira tidak kalah hebat loh" ucap Ira tidak mau kalah
"ano maaf jika aku mengganggu tapi selagi kalian berkelahi, tapi Sandy telah hilang entah kemana" ucap Arhandi menyela
"Kwahahahah Arhandi, mengapa kau tidak kejar saja dia, buktikan jika kau memang berguna kyahahahah" tawa Ira
Mendengar itu Kid langsung bergerak dan menendang udara, seketika itu juga sepatunya terbang dan mengenai kepala Arhandi, kemudian mulai memborgol tangan Arhandi menggunakan bagian satunya lagi dari borgol yang membelenggu tangan Ira, kini Ira dan Arhandi terborgol bersama
"Hey hey tadi jika Kid tidak salah dengar kau menyebut nama Sandy, jadi bisakah kau jelaskan dengan bahasa manusia apa maksudnya" ucap pemuda dengan ikat kepala hijau layaknya pendekar itu
"aku dan Ira juga sama sepertimu yang bukan penduduk asli dari desa ini, aku tahu jika kau bukanlah bagian dari orang-orang yang berusaha menyakiti Sindy karena kau bukan dari desa ini" ucap Arhandi tertahan
"Hah apa yang kau maksudkan" ucap Kid menggaruk kepalanya meski tidak gatal
>bhuuuk< "nih aku bantu menghilangkan gatalmu hahahhaha" ucap Ira memukul kepala Kid
"Aduh bisakah kau bilang-biang dulu sebelum memukul, agar Kid bisa siap-siap dulu agar terlihat kerenn" ucap pemuda dengan ikat kepala itu
"Kalau gitu cepat lepaskan borgol ini" sembur Ira marah
"Aduh padahal Kid disini yang terdzalimi, Kid jadi ngambek nih, apalagi sebelumnya kau telah mengambil ikat kepala Kid
"Hey kumohon berhentilah berekelahi, atau akan ada lagi yang menjadi korban" sela Arhandi
"karena itulah jelaskan kepada Kid menggunakan bahasa manusia" ucap kid
"Dia itu sebenarnya adalah arwah Sandy yang menggunakan tubuh adiknya" ucap Arhandi
"Hah? Yang benar saja, kita ini tidak sedang berada dalam dunia fantasi kan, wooow Kid rasa itu terlalu fantastis, jangan-jangan Kid ini punya kekuatan cakar admantium" ucap Kid
"Sebenarnya apa yang terjadi di kepalanya sih, Ira apa tadi kau memukulnya terlalu keras?" keluh Arhandi

***

Namun sayangnya setelah kesalah pahaman itu mereka bertiga datang terlambat karena Faris sudah ditemukan tidak bernyawa

***

(24 september)
Suatu eksistensi tak terdefinisi bernama Santi dan Ahmadian Noorsheill De Rasyid beserta teman-temannya tiba di desa itu setelah sebelumnya menaiki bus

Di bus yang sama juga menumpang sepasang remaja yang tengah berlibur, Ahmad Aldiannoor dan Rania Risky

***

Pada malam harinya suatu festival diadakan untuk merayakan ulang tahu desa
Radif yang menjaga loket karcis wahana rumah hantu mendesah setelah meladeni teman-teman dari Misha dan Reena, keponakannya
Mereka semua masuk ke dalam rumah hantu, kecuali Misha yang memiliki kesehatan yang buruk sehingga Radif melarangnya masuk
Pada awalnya Misha menjadi teman bicara Radif, namun setelah kelamaan akhirnya Misha merasa suntuk dan menjatuhkan kepalanya ke atas meja
Merasa kasihan kepada keponakannya, Radif lalu memberika bebrapa rupiah untuk Misha, Misha merasa senang seperti anak kecil dan memeluk pamannya lalu pergi membeli sesuatu
Saat itulah gadis bergaun merah itu datang dan berdiri di hadapan Radif
"Aku sudah menyangka kau akan datang kepadaku Sandy, sungguh malangnya diriku" ucap Radif
Berikutnya seperti yang diketahui Radif ditemukan tewas tergantung oleh Ahmadian

***

Sementara itu pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar yang berusaha mengejar professor Ronald terhenti setelah di depannya berdiri wanita bergaun merah itu
"Tolong" ucap Sandy lirih
"Tuan Vento, sepertinnya kasus terakhir yang kau berikan kepadaku terlalu berat, tidak pernah bagiku akan terpkir bertemu dengan sesuatu dari dunia lain" pikir pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu

***

(25 september)
Salah satu orang yang mendapat gelar judgments Nicholas Rifano dan sahabatnya Etna Alfian datang ke desa itu setelah sebelumnya mendapat email permintaan dari Reena untuk memecahkan kasus pembunuhan berantai yang terjadi di desa itu
Dan akhirnya dia berhasil menemukan tambang emas dimana jasad Sandy berada

***
Di hari yang sama Erriannoor dan Sandy berdiri disana,tidak hanya ada mereka berdua saja, karena disana juga ada Arhandi
"Sepertinya kita kedatangan tamu tak diundang" ucap Arhandi setelah seekor kucing hitam melengak berjalan dengan santainya
"Tidak perlu mengkhawatirkan aku, aku tidak akan menghalangi rencana kalian" ucap suatu eksistensi tak terdefinisi berwujud kucing hitam yang bernama Santi itu, Erriannoor agak terkejut melihat Santi yang kini bertransformasi ke dalam wujud manusianya
Berikutnya wajah Arhandi berganti menyerupai wajah Erriannoor, karena dia memang bukan Arhandi melainkan seorang doppelganger yang sebelumnya berusaha merebut kehidupan Arhandi
"Akhirnya aku menemukanmu dasar peniru sampah" pikir Arhandi yang bersembunyi tidak jauh dari situ

***

"Waw kau hebat bisa menemukan mayat Sandy secepat itu" ucap Reena kagum kepada Nike
"Selanjutnya adalah mencari temanku dan juga tentunya Erriannoor" ucap Nike
"Mencari siapa?" ucap Erriannoor yang tiba-tiba saja datang, tidak sebenarnya dia adalah eksistensi peniru yang lebih dikenal sebagai doppelganger
"Erriannoor!" seru teman-teman Erriannoor serempak
Arhandi kemudian tiba dan membuat si doppelganger agak terkejut
Kedua musuh lama ini akhirnya bertemu kembali

***

To Be Continued………

***

Author note : tidak kusangka chapter ini akan menjadi sepanjang ini. oh iya tadi aku cukup bingung bagaimana caranya membuat pertemuan antara Muhammad Farid, Irana Rima Hasnawati dan Ahmad Arhandi, lalu mulai terpikir olehku, mengapa tidak buat mereka berkelahi saja, dan wow fantastis! Tidak kusangka aku akan sangat menikmati adegan itu, hebat saja rasanya saat dua monster yang terlahir sebagian manusia itu sampai berkelahi, adapun peran Arhandi adalah lebih sebagai orang yang menghentikan kedua monster itu, sehingga ketiganya mempunyai peran yang penting dalam scene itu. sayangnya sepertinya mereka berdua tidak akan berkelahi lagi, karena perkelahian itu terjadi karena kesalah pahaman saja

Author note : chapter 4 bergenre horror akhirnya selesai berikutnya genre action mungkin

Author note : misteri tetaplah misteri sebelum dipecahkan

Mutia 4Ra
2017-01-12 10:33:27
sy suka certa pnjng
Prince of Darkness
2017-01-12 04:55:22
Jadi sandy morse minjem tubuh adiknya
Bocah Redoks
2017-01-11 22:47:03
masih bingung dikit sama jalan ceritanya.
Downcrazy
2017-01-11 20:14:16
terlalu........
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook