VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Ahmadnoorian SC C3 - Jiwa-jiwa Malang yang Terbunuh

2017-01-11 - Question Of Life
31 views | 4 komentar | nilai: 9 (1 user)

Ahmadnoorian Super Crossover CH 3
Jiwa-Jiwa Malang yang Terbunuh

Sebelum cerita dimulai…
Di suatu tempat yang tidak diketahui seorang pria tua berkebangsaan asing dan pria dengan ikat kepala merah layaknya pendekar berbicara di dalam sebuah sedan yang melaju
"Tuan Vento! Anda bilang akan kembali jadi apakah anda sudah menemukan orang yang layak untuk organisasimu?" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu
"Kita lihat saja nanti, meskipun aku sudah menandai seseorang namun masih banyak yang harus diuji. kau sendiri apakah sudah mendapat jawaban dari alasanmu untuk hidup?" ucap si pria tua
"Entahlah, kurasa itu bukan sesuatu yang bisa Law jawab sendiri" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar
"Sebelum aku kembali, aku ingin kau memecahkan kasus terakhir dariku" ucap si pria tua
"Apakah itu?" tanya pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar
"Seorang wanita diketahui hilang dua bulan lalu, apakah dia sudah meninggal atau belum tidak ada yang dapat memastikan, satu-satunya yang mungkin menjadi petunjuk adalah saudara kembarnya yang tidak bisa berbicara setelah 1 minggu kakaknya menghilang" ucap pria tua
Cerita dimulai…

***

Seseorang pemuda berpakaian hitam terlihat mengetuk-ngetuk jarinya ke jok motornya, dia tidak sendiri seorang pemuda lagi yang seusianya berada tidak jauh darinya, menimati pemandangan desa yang baru saja mereka datangi, menghirup udara yang menyegarkan kemudian berucap "sungguh disayangkan bukan, desa seindah ini tidak banyak yang mengetahuinya, mungkin jika dipromosikan akan menjadi destinasi wisata yang sangat populer, apakah kau juga berpikiran begitu Nike?"
"Aku meragukannya Etna, desa ini sudah tercemar kejahatan" ucap yang satunya lagi, kemudian berdiri dan mulai berjalan kaki diikuti temannya
"Klien kita kali ini adalah seorang wanita yang meminta kita mengungkap pembunuh pamannya, di email yang dia kirimkan menyatakan kalau pamannya bukanlah satu-satunya korban" ucap pemuda dengan nama Nike itu lagi, dia kini berdiri mengahdap ngarai, di bawahnya adalah desa tak begitu terkenal namun memilikin sejmlah daya hipnotis, desa yang akan menjadi tujuan mereka
"Tchhh… jadi kita akan melawan pembunuh berantai berdarah dingin" ucap Etna mendecakkan lidahnya sembari terus mengikuti sahabatnya
"Perlu kau ingat, bahkan kita tidak ada bedanya" ucap Nike tersenyum meremehkan orang atau sekelompok yang akan menjadi lawannya

***

Di sisi lain Ahmadian Noorsheill hanya bisa membunuh waktu-waktu membosankannya dengan memegang kail pancing, berharap ada ikan bodoh yang memakan umpannya
"Cieh aku benar-benar terjebak di desa ini" pikirnya, menyangga dagunya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanannya memegang pancing yang tidak kunjung juga mendapatkan ikan
"Aku heran denganmu Ahmad, aku sudah mendapatkan 7 ikan yang besar, sedangkan dirimu tidak mendapatkan seekorpun, aku mulai curiga ikan-ikan itu takut denganmu Ahmad" ucap Ersa yang juga tengah memancing
"Nih orang dari tadi mengajak berantem mulu" pikir Ahmad kesal
Sementara disisi lain wanita bernama Santi yang juga ada disitu tengah berjongkok mengamati ember berisi ikan-ikan yang ditangkap Ersa dengan mata berbinar-binar, Ahmad yang melihat kelakuannya hanya bisa bergumam "Dasar siluman kucing"
Merasa bosan ditambah kesal Ahmadian berdiri dan menarik tangan Santi bersamanya, Ersa hanya pada mulanya hanya terkikik geli "Mau kemana? tidakkah kau tahu kalau kucing itu menyukai ikan Ahmad?"
"Kurasa aku hanya perlu membeli yang sudah matang" jawab Ahmadian dengan kesal
"Hey traktir aku juga dong!" seru ersa
"Please jangan menjadi Santi kedua, mengapa dari tadi kau terus mengikutiku sih" sembur Ahmadian, adapun Santi yang merasa namanya disebut memiringkan kepalanya bingung
"Ada apa Ahmad?" ucapnya polos
"Bukan apa-apa" jawab Ahmad gelagapan, sedangkan Ersa hanya tertawa saja

***

Seorang pria dengan kumis lebat dan berjas hitam sedang makan-makan di tambak ikan di sampingnya telah duduk Hendy dengan ekspresi serius dan di depannya adalah Reena, menempati tempat tersisa adiknya, Vina dan juga Etna
"Kurasa hal ini tidak perlulah sampai membuat detektive amatiran sepertinya" ucap Hendy sinis melihat Etna, kali ini pakaiannya serba ttebal dan berlengan panjang
"Kau hanya tidak tahu saja seperti apa kemampuan deduksi Nike, dialah otaknya aku hanyalah kaki tangannya saja" ucap Etna
"Kalau begitu seberapa hebatnya temanmu itu nak?" ucap pria berkumis
"Tuan Risnandi yang saya hormati, perlu anda ketahui kalau Nike itu adalah detektive terbaik ketiga di Indonesia" ucap Etna
"Ketiga? Lalu mengapa kau tidak meminta bantuan yang pertama saja kakak?" tanya Misha kepada kakaknya

"Sudah kubilang kan kalau judgments itu misterius yang hanya segelintir orang yang mengetahuinya, jadi akan sulit untuk mengetahui cara menghubungi bahkan salah satu dari mereka" ucap Reena membela diri

***

Di lain tempat Nike hanya berdiri bersandar di sebuah pohon dan saat itulah Ahmadian, Santi, dan Ersa lewat, melihat kedatangan mereka Nike menghampiri mereka
Melihat kedatangan Nike, Ahmadian berbisik kepada Ersa "siapa?" yang langsung dibalas "Mungkin debt kolektor yang menagih hutangmu"
"Siapa di antara kalian yang terakhir melihat Erriannoor" tanya Nike
"Aku" ucap Ahmadian sedikit ragu tuk menjawab
"Ahmadian Noorsheill De Rasyid kan?" tanya Nike
"Dari mana kau tahu itu?" ucap kaget Ahmadian
"Hal itu sama sekali tidak penting, tapi yang penting adalah dimana kau terakhir kali melihatanya?" ucapnya
"Saat itu aku melihatnya bersama wanita bernama Sindy di dalam wahana rumah hantu saat diadakan karnaval kemarin malam" ucap Ahmadian sedikit gugup
"Aku sudah bertemu dengan Sindy dan dia mengatakan sangat ingin mengetahui keberadaan Erriannoor, sekarang Erriannoor menghilang" ucap Nike
"Kuharap kau turut membantu mencarinya, tidak justru kau harus melakukan itu karena sepertinya meski kau baru bertemu dengannya tapi dia terlihat mempercayaimu, terbukti saat kalian berjalan bersama saat pria bernama Faris Nur Hajja meninggal" ucap Nike
"Apakah kau itu polisi berpakaian preman?" tanya Ahmadian bingung tapi bukan jawaban yang diterimanya
"Kurasa aku harus pergi karena ada lagi korban yang meninggal" Ucap Nike setelah mendapat pesan dari seseorang dan membacanya
"Apa?! Ada yang terbunuh lagi?" kata Ahmadian, namun orang yang ditanyai sudah membalikkan badan dan mulai melangkahkan kaki
"Oh iya satu lagi, temanmu mengatakan melihat seorang pria dengan ikat kepala layaknya pendekar membungkuk seperti memeriksa sesuatu di depan stand saat Radif telah menghilang" uca Nike kembali berputar ke arah Ahmadian
"Apakah dia orang yang berbahaya?" tanya Ahmadian
"Entahlah, aku hanya pernah mendengar namanya, satu hal yang aku tahu pasti, dia juga mengejar hal yang sama denganku" ucap Nike

***

Mayat professor Ronald tergantung di laboratorium miliknya, dengan penuh luka di sekujur tubuh, diperkirakan waktu kematiannya adalah pukul 12:15 malam, dan sudah dipastikan dia dibunuh lalu mayatnya digantung menggunakan tali tambang
"Ini persis seperti korban-korban sebelumnya, mereka semua dibunuh oleh hantu itu, kasihan professor Ronald" ucap seorang warga
"Maaf saja tapi aku tidak menerima hal-hal yang berbau mistis seperti itu, di pintu itu lubang kuncinya dirusak jelas menunjukkan kalau pelakunya adalah manusia" ucap Nike
"Tapi sudah banyak saksi yang melihat hantu bergaun merah itu" ucap kepala desa, tuan Risnandi
"Kalau begitu hanya ada dua penjelasan, hantu itu sebenarnya adalah manusia, atau dia benar-benar seperti yang kalian katakan, namun jika begitu ada alasan mengapa dia mulai membunuhi orang-orang, yang jelas ada suatu tindak kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh manusia" ucap Nike
"Lalu apa yang diinginkannya?" ucap salah satu warga
"Menurut laporan, sebelumnya ada pencuri yang memasuki laboratorium ini" kata Nike
"Jadi pembunuh itu mengincar penemuan professor" ucap sang kepala desa
"namun aku justru menduga kalau si pembunuh dan pencuri itu adalah orang yang berbeda, belum pernah ada pencuri yang kembali ke tempat kejadian untuk melakukan pembunuhan, si pencuri tidak hanya mengambil beberapa bahan dan catatan saja, namun dia juga menggunakan peralatan di laboratorium ini, entah dia tahu penemuan apa yang dia cari dan berusaha mencari campuranya, pertanyaannya adalah korban-korban sebelumnya selain tuan Radif sama sekali tidak memiliki hubungan dengan penelitian professor" pikir Nike
"Jadi apa lagi yang kau ketahui anak muda?" ucap pak Risnandi
"Pak kepala desa bisa ceritakan lebih rinci keterangan orang yang pertama kali, menemukan mayat tuan Radif" ucap Nike

***

"Seperti dugaanku kalau posisi mayat mereka agak sedikit berbeda, tuan Radif berlari ketakutan saat menjelang kematiannya, terlihat dari jalur darah yang ditinggalkannya, di sudah terluka saat itu, tapi tidak ada tanda-tanda perlawanan yang terlihat meskipun dia memegang sabuk hitam" pikir Nike
"sedangkan professor Ronald saat itu berusaha mengemasi barang-barangnya dengan tergesa-gesa namun sebelum dia menyelesaikan pekerjaannya si pembunuh masuk dengan merusak lubang kunci, professor melawan sehingga membuat bebeapa bahan-bahan kimianya berhamburan atau lebih tepatnya disiramkan, dia pasti sudah menyadari akan dibunuh, tentu saja seharusnya dia tidak sedang dalam penelitian saat itu sehingga seharusnya barang-barangnya tersimpan di dalam lemari, namun usahanya sia-sia karena akhirnya sesuatu menghantam kepalanya dan berdarah, dia tewas dan mayatnya digantung, pelaku menggunakan meja penelitian yang sangat berat ini sebagai pijakan, sehingga saat dia melakukannya membuat bekas goresan dilantai ini" pikir Nike lagi

***

Nike kemudian keluar dari laboratorium saat setelah memastikan tidak ada orang disekitar dia mulai memencet suatu kontak di hp
"Etna dimana keberadaanmu sekarang?" ucap Nike dengan suara dipelankan
"Seperti yang kau perintahkan, aku sedang berada di depan bangunan bekas toko swalayan, aku melihat ada beberapa orang yang mengawasi Sindy mereka sama sekali tidak bersembunyi sehingga seharusnya Sindy mengetahui keberadaan mereka, apa yang harus aku lakukan?" ucap Etna di seberang telepon
"Wanita itu pasti mengetahui soal kematian saudari kembarnya, namun sekelompok orang itulah yang mengancamnya" pikir Nike
"Pertanyaannya adalah dimana mayat Sandy disembunyikan?" pikirnya lagi
Dia lantas mengambil catatannya dan menuliskan sesuatu

"Korban pertama Sandy seorang wanita berusia sekitar 17 tahun, tinggi 157 cm berambut panjang lurus, berkulit putih, terakhir terlihat 1 bulan 24 hari lalu sebelum akhirnya menghilang, orang terakhir yang adalah kekasihnya Ahmad Erriannoor, mereka janjian akan bertemu di taman bunga beelzeta"

"Korban kedua Rahmat Alfiadi, umur 34 tahun, tinggi 169 cm, berkulit coklat, mempunyai seorang istri dan dua orang anak, bekerja sebagai security yang berkerja di bawah kepala desa, ditemukan tewas tergantung di pohon dalam hutan, menurut laporan beberapa jam sebelum perkiraan waktu kematiannya terlihat seorang gadis dengan ciri-ciri seperti sandy dan bergaun merah, waktu kejadian 1 bulan 6 hari setelah hilangnya Sandy"

"Korban ketiga Saipul Karim, umur 37 tahun, tinggi 165 cm, memiliki brewok dan banyak tatoo, berhidung elang, masih lajang, pekerjaan sama dengan Rahmat, sering terlihat bersama Rahmat semasa hidupnya, ditemukan tergantung di menara pembangkit listrik milik pemerintah desa yang menyebabkan pemadaman besar-besaran saat itu, di malam yang sama saat pemadaman listrik itu terlihat juga wanita bergaun merah itu"

"korban keempat Randa Arif Noor Fahrani diketahui sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pembangkit listrik, saat dia bertugas untuk membaiki kerusakan pembangkit listrik saat itulah dia ditemukan tergantung di tempat yang sama dengan Saipul Karim, umur 27 tahun, tinggi 172 cm, berkumis tipis, dan bermata juling, berdagu lancip, memiliki 1 orang anak, adapun istri telah lama meninggal

Korban kelima, Muhammad Rais seorang pengelola villa milik Reena dan Misha, berumur 34 tahun, berkulist coklat, tinggi 154 cm, beegigi tonggos, punya seorang istri dan 2 orang anak kembar, ditemuka tewas tergantung di balkon villa lantai 2

Korban keenam Faris Nur Hajja, usia baru 19 tahun, baru lulus SMA namun sudah diterima untuk menggantikan posisi Muhammad Rais dari sebelumnya hanya sebagai asisten saja, merupakan teman sekelas Erriannoor, memiliki darah separuh India, tinggi 174 cm, perawakan tinggi besar ahli dalam taekwondo, berambut keritng, dan berkulit putih, ditemukan tewas tergantung di dalam rumahnya, sama seperti saat kematian korban-korban sebelumnya terlihat juga gadis bergaun merah itu

"Korban ketujuh Radif De Angela Raester, seorang pendatang dari Meksiko, memiliki tinggi sekitar 182 cm, sudah beruban karena usianya memang separuh abad, berhidung elang, dan berkumis lebat, memiliki mata yang tajam, ahli bela diri dan menembak, pekerjaan resmi sebagai wakil kepala desa walau kadang dia sering mengerjakan hal lain yang menerima upah, terakhir dia terlihat menjaga loket karcis rumah hantu saat perayaan ulang tahun desa, ditemukan tergantung di rumah kosong di tengah hutan"

"Korban terakhir, Ronald Dell, teman seperantauan Radif, seorang ahli kimia, yang penelitiannya dibiayai oleh kepala desa, tuan Haris Risnandi, waku kematiannya hanya berselang 2 jam setelah waktu ditemukannya Radif, kemungkinan sebagai satu-satunya orang yang melakukan perlawanan, tinggi 175 cm berambut berantakan, berhidung mancung, bermata biru, berkulit putih, umur sekitar 45 tahun, berbadan kurus"

***

Nike lantas menyimpan buku catatannya dan kemudian mengambil handphonenya dan mulai menelepon seseorang
"Ahmadian Noorsheill kuharap kau tahu siapa aku" ucapnya kepada orang yang ditelepon
"Apa? Kau yang menyapaku sebelumnya kah" ucap seseorang diseberang panggilan
"Aku hanya ingin bertanya apakah kau tahu kemungkinan dimana Erriannoor?"
"Tidak tahu, lagian kenapa harus aku sih"
"Setidaknya kau bisa membantukan, orang-orang di desa ini tidak bisa dipercaya, sedangkan diantara teman-temanmu kaulah yang paling pintar, jadi kuharap kau perggi menemui wanita yang tidak bisa berbicara itu, buat dia mengatakan letak kakaknya disembunyikan"
"Aaah merepotkan saja, tapi terima kasih telah memujiku" ucap Ahmadian lalu mematikan ponselnya
"Aku meragukan kemampuan orang ini" pikir Ahmadian tetap melihat layar ponselnya kemudian sebuah pesan masuk
"Ahmad, apakah kau sudah menemukan Ahmad Erriannoor" Ahmadian membaca pesan dari Misha yang langsung dibalas
"Belum"

***

"Aku sama sekali tidak menyangka akan bertemu denganmu disini, sebenarnya aku sama sekali tidak mengharapkannya, Ira" ucap Ahmadian kepada wanita aneh yang mengintip pesan dikirim Ahmadian dari balik bahu
"Hahhahahahha Ahmad mungkin kita berjodoh ahahahah aku hanya mengejar seorang doppel bodoh dan secara tidak sengaja bertemu sesuatu yang sama bodohnya" ucap seorang wanita yang terlihat menakutkan dengan rambut berantakannya, tapi anehnya dia itu adalah seorang manusia
"Mungkinkah yang kau maksud doppelganger itu adalah Sandy dan Sindy?' terka Ahmadian
"Hahhahahahah aku dengar detektive bodoh itu mencari Erriannoor, bahahahahah kau tahu Ahmad, dia ada di tangan Sandy, menurutmu mana yang lebih baik, orang-orang jahat itu atau mahluk menjijikkan itu yang mendapatkannya" ucap wanita aneh itu
"Ya ampun aku sama sekali tidak bisa mengikuti maksud pembicaraan orang-orang ini" pikir Ersa yang hanya diam saja
"Jadi bisakah setidaknya, sekali saja kau berbicara tanpa tertawa keras seperti itu Ira?" keluh Ahmad
"Hahahhahaha oh iya tadi ada seorang pria aneh yang memakai ikat kepala merah layaknya pendekar, dia mengatakan sesuatu yang menarik, kau tahu apa yang dia katakan?" ucap si wanita aneh bernama Ira itu
"Wew seorang aneh mengatakan orang lain aneh, bukankah itu lucu, sudahlah katakan saja apa yang kau ketahui, Ira!" kata Ahmadian
"Whahahhahah dia mengatakan sesuatu seperti tambang atau semacamnya dan ada mayat perempuan" ucap Ira dengan tawa khasnya

***

Setelah mengirim pesan ke semua teman-temannya Misha hanya dapat mendesah lemah di depan makam pamannya yang baru saja meninggal
"Aku jadi merasa bersalah kepada Ahmadian dan yang lainnya karena telah mengajak mereka" ucapnya merasa bersalah
"Sudahlah janganlah kau membebani pikiranmu Misha, kita semua tahu pembunuh itulah yang bersalah" ucap Reena menenangkan adiknya
Kemudian seseorang wanita berkaca mata mendatangi mereka, Reena melihatnya dan kemudian menyapa
"Di taman bunga beelzeta sama sekali tidak ada hawa keberadaan Erriannoor" ucap wanita itu
"Memangnya apa hubungannya Erriannoor dengan pembunuh berantai itu, bukan diakan pelakunya? ceritanya aku lagi cemas" ucap Ardhia yang baru saja datang bersama Dilla pacarnya
"Saat itu aku bilang jika orang terakhir yang menghubungi Sandy sebelum dia hilang adalah Erriannoor" ucap Dilla
"Lantas?"
"kita semua tahu Sandy hilang adalah pada awal oktober dan Sindy mulai kehilangan suaranya adalah seminggu kemudian yaitu pada tanggal 8 Agustus, adapun orang-orang pertama kali melihat hantunya adalah pada tanggal 10 Agustus, saat itu tidak ada yang meninggal, arwah Sandy hanya melayang-layang kesana kemari bahkan mengetuk pintu orang-orang dan meminta pertolongan, lalu pada tanggal 7 september tuan Rahmat Alfiadi terbunuh, menurut saksi mata saat itu dia lari sangat ketakutan, dan didekat mayatnya sekilas Sandy muncul menggunakan gaun merah dan tubuhnya berlumuran darah" ucap wanita berkaca mata
"Ketika detektive itu mendengarnya dia lantas mengatakan untuk segera mencari Sindy dan Erriannoor karena mereka ada hubungannya" ucap wanita berkaca mata itu lagi

(Author note : latar waktu dalam cerita ini adalah tanggal 25 september)

***

Duduk hanya sendirian adalah Vina yang merasa kesepian, dia hanya menjatuhkan kepalanya di atas meja menghadap lereng-lereng pegunugan tanpa menghabiskan minumannya, sebelum akhirnya seorang wanita dan dua orang pria mengambil tempat di meja sebelahnya, rasa iri timbul di pikiran Vina "Enak sekali mereka bisa berwisata tanpa harus terjebak pembunuhan berantai yang konyol, yang lain pad kemana sih, semua pada sibuk pada urusan mereka masing-masing" pikir Vina
"Wah wah lama tidak berjumpa Arhandi, apa saja yang kau lakukan? Sekarang ini?" ucap Rania Rizky, wanita yang berada di meja sebelah Vina
"Bukankah kalian berdua saat ini harusnya sekolah di Jepang" ucap Ahmad Arhandi
"Mengambil libur sebentar tidak masalahkan" ucap Ahmad Aldiannoor
"Enak yah jadi kalian, bisa melakukan apapun yang kalian inginkan" kata Arhandi
"Oh Iya apa yang kau lakukan disini Arhandi?" tanya Rania
"Aku mencari seseorang yang meniru wajahku, terakhir saat aku tanpa sengaja membaca koran dan melihatnya" kata Arhandi
"Ayolah jangan bercanda, mana ada yang mau menirumu" ucap Rania tidak bisa membaca suasana hati Arhandi yang tiba-tiba saja berubah murung, kemudian memelototi Rania
"Ah maafkan aku" ucap Rania menunduk
"Tapi ngomong-ngomong aku melihat beberapa polisi saat pertama kali sampai disini, tapi sepertinya mereka sudah pergi" ucap Aldiannoor mengalihkan perhatian
"Koran yang aku baca itu menyebutkan adanya sebuah pembunuhan berantai yang akhir-akhir ini terjadi, konon katanya itu perbuatan hantu" ucap Arhandi
"Apa?" kaget Aldiannoor dan Rania berbarengan

***

Di tempat lain duduk bersila dengan membaca beberapa dokumen secara serius di antara rak-rak berisi penuh buku adalah Nike
Sembari membalik lembar demi lembar buku tua yang masih menggunakan kertas berwarna kuning dan bertulisan bahasa melayu
"Pemerintah Hindia belanda menemukan sebuah tambang emas di sebuah desa yang terletak di lembah pegunungan di kalimantan, kini tempat itu sudah menjadi desa yang bernama desa Heinderwiss" baca Nike akan buku berbahasa melayu itu kemudian dia membuka buku yang lain
"pemerintah kalimantan selatan sudah berusaha mencari-cari dimana letak desa itu namun sepertinya desa itu sendiri sudah tiada atau telah berganti nama sehingga tidak ada yang mengetahuinya" adalah apa yang tertulis di dalam buku itu
Berikutnya dia mengambil sebuah dokumen yang mengatakan sebuah pasar swalayan yang didirikan oleh seorang pendatang baru di desa menuai sukses besar
"jujur saja dari tadi aku sama sekali tidak adanya menemukan sebuah pasar swalayan, bukankah itu aneh jika desa terpencil ini memiliki pasar swalayan, sehingga aku berpikir memang tidak ada, kalau pasar tradisional aku melihatnya" pikir Nike, kemudian dia beralih ke dokumen desa yang membahas para tokoh masyarakat terutama kepala desa saat ini haris Risnandi
"Jadi orang itu sudah menjabat selama 13 tahun, waktu yang lumayan lama, tidak mengehrankan sih kalau dia dapat mempertahankan posisinya apalagi kalau dalam masa pemerintahannya desa mengalami kemajuan pesat" pikir Nike
>Telolet< tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, Nike menatap layar ponselnya yang menunjukkan nama sahabatnya Etna Alfian dan menekan tombol guna menjawab panggilan
"Tempatnya di barat daya desa, orang-orang menyebutnya desa mati karena beberapa bangunan disini sudah ditinggalkan oleh pemiliknya, setiap kali Sindy memasuki area itu beberapa orang yang mengikutinya selalu mencegatnya" ucap Etna
"Terima kasih" sahut Nike singkat
"Nike, apa kau yakin akan menuntaskan kasus ini" ucap Etna tiba-tiba
"Memangnya ada apa?"
"Aku melihatnya, sesuatu yang diluar akal sehatmu, desa ini sangat berbahaya, bukan karena rahasia yang disembunyikan kepala desanya, tapi adalah hasil yang terjadi akibatnya, aku melihat gadis bergaun merah itu, beruntung dia belum menyadari keberadaanku" ucap Etna, akhirnya Nike menyadari dan mengerti nada gemetar yang dikeluarkan sahabatnya itu
Etna kemudian memutus teleponnya, saat itulah dia menyadari keberadaan orang lain dibelaknganya, seorang pria, dia pernah bertemu dengannya sebelumnya, bisa saja dia melawan pria ini, tapi apa yang ada diluar persembunyiannya jauh lebih berbahaya apalagi mahluk itu menyadari keberadaannya jika terjadi perkelahian, pria itu menodongkan pisau da menggoreskannya ke pergelangan tangan Etna

***

Nike lantas bergegas pergi ke tempat yang dimaksudkan Etna, namun dia tidak menemukan siapapun, tidak Etna, tidak orang-orang jahat itu, tidak Sindy, tidak juga Sandy, dia hanya seorang diri saja disana
Perhatiannya teralihkan oleh sebuah bangunan yang cukup besar, dari bentuk pintu kacanya yang sudah pecah sana-sini dia dapat mengetahui kalau dia menemukan pasar swalayannya atau itulah pada awalnya sebelum akhirnya ditutup
Dia memasuki bangunan itu dan mencari kesana-kemari hingga akhirnya dia mejejakkan kakinya di atas lantai yang bersuara mendecit, dia merebahkan badannya dan merasakan suatu terpaan angin dari bawah
"Jika pihak swalayan mengetahuinya mereka akan bersi keras untuk mempertahankan bangunan ini, kecuali ada penyalah gunaan dari pihak desa, atau memang itu yang terjadi" pikir Nike tersenyum
Menyalakan sinter guna menerangi gua yang ditemukannya, melihat pemandangan yang mencekam
"Lebih mirip tempat penyiksaan daripada tambang" pikir Nike
"Dia melihat seberkas cahaya emas agak berpedar di bebatuan namun bercak hitam menutupinya, pengalaman Nike mengatakan apa bercak hitam itu
Dia kemudian mengarahkan sinternya ke arah lain, ke arah beberapa peralatan tamang tua, dan rel kereta pengangkut hasil tambang
Nike mengikuti jalur hingga terus ke dalam, akhirnya dia berhenti dengan membelalakkan matanya, sebanyak beberapa mayat yang membusuk dan salah satunya adalah tubuh tak bernyawa seorang gadis malang bergaun merah yang sudah tidak bisa dikenali lagi wajahnya

***

Di tempat lain Hendy menyeret tubuh Etna yang lumpuh tidak dapat bergerak ke tempat yang sepi sembari memegang sebuah pisau yang sudah dilumuri cairan pelumpuh milik professor Ronald di tangan kirinya, adapun mulut Etna sudah disumpal menggunakan kain
"Jika Law menjadi dirimu, maka Law tidak akan melakukan Itu" ucap Pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar tiba-tiba
"Siapa kau" ucap Hendy
Sedangkan Etna yang tidak berdaya hanya bisa melebarkan kelopak matanya, dia mengetahui siapa orang yang baru bergabung ini, tapi dia tidak akan mengatakannya bukan hanya karena mulutnya tersumpal tapi memang dia tidak mau mengatakannya
"Panggil saja aku Law, kurasa law tidak perlu takutkan menyebutkan nama sandi Law, karena Law yakin sedang berada di atas angin" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu
"Katakan apa yang kau inginkan, kau ingin harta, jabatan, atau mungkin perempuan, aku mungkin bisa mengabulkannya" ucap Hendy
"Sebuah kesepakatan" kata pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu mantap
"katakan saja dengan cepat, aku tidak punya banyak waktu" ucap Hendy
"Kasus ini terlalu banyak mengandung hal berbau mistis, jadi bisakah kau membantu Law untuk menceritakan semuanya apa yang telah kau dan konco-koncomu lakukan kepada Sandy?" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu
"Bagaimana caranya kau mengetahuinya" tanya Hendy
"Kalau diingat-ingat, aku pernah mendengar nama Law sebelumnya, dia adalah orang yang berdiri di puncak para Judgments, dengan kata lain dia lebih hebat daripada Nike Itu" pikir Hendy
"Petunjuknya adalah Sindy yang kehilangan suaranya seminggu sejak kematian kakaknya, ada kemungkinan dia sempat bertemu saudari kembarnya yang berhasil meloloskan diri, namun sayangnya Sandy akhirnya meninggal, Law pikir penyebab Sindy tuna rungu adalah karena syok melihat kakaknya tapi bukankah itu terlalu berlebihan, hingga Law mengetahui tentang professor Ronald, salah satu penemuannya adalah sebuah ramuan diciptakannya yang membuat seorang tidak bisa berbicara lagi" ucap Pria dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu
"lantas apa hubungannya denganku?"
"Law tahu kalau kau menyukai Sindy, bahkan Law sempat membaca surat-surat cinta yang tidak kau kirimkan, saat kau memergoki Sindy menemukan kakaknya yang sekarat kau tahu anak buah ayahmu, satu-satunya cara adalah dengan meyakinkan ayahmu kalau Sindy bukanlah ancaman seperti kakaknya Sandy, dengan berat hati kau meminumkan secara paksa ramuan professor Ronald kepada Sindy dan membuatnya tidak bisa berbicara lagi untuk selama-lamanya, tentu saja hal itu tidak menjamin keselamatan Sindy karena dia masih bisa berkomunikasi menggunakan papan tulis kecil, jad kau mengancam orang yang paling disayanginya yaitu Erriannoor, dan mulai mengawasi mereka" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu
"Menakjubkan kau bisa mengetahui hal sebanyak itu, tapi itu sama sekal tidak menjelaskan semuanya" ucap Hendy
"Law tahu itu karena saat setiap kali Sindy mendekati tempat mayat sandy disembunyikan kau lantas mendekatinya dan kembali mengancam, oh iya Law ingat terakhir kali melakukan itu kau dipergoki oleh Erriannoor dan Ahmadian" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu
"Rupanya dia selama ini mengawasiku" pikir Hendy
"Oh iya seorang wanita aneh yang selalu tertawa mengikik mengatakan kepadaku jika mahluk seperti itu tidak akan jauh-jauh dari tempat dimana kematiannya, jika kau masuk penjara mungkin akan lebih aman, mungkin saja kau akn bernasib sama seperti mayat-mayat yang tergantung itu jadi bagaimana?" kata pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu menawarkan suatu hal yang menggelikan
"Atau kau bisa saja mengelak di depan pengadilan, dan mengatakan kebohongan, tapi Law akan menyuruhmu meminum ramuan ini jika kau menolak berarti apa yang Law katakan adalah benar, atau kau ingin meminumnya sekarang?" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu memamerkan sebuah ramuan yang menyengat penciuman
"Minuman itu?! Jadi kaulah pencuri yang memasuki laboratorium Professor" kaget Hendy
"Ah itulah ekpsresi yang Law harapkan, tenang saja meskipun baunya sama tapi sebenarnya ini ramuan lain yang Law buat untuk mengerjaimu" ejek Law
"Dia bahkan mampu membuat sesuatu yang mirip dengan ramuan itu, siapa dia sebenarnya? Apakah dia monster? Dia mempermainkanku" pikir Hendy
"Law sudah mendapatkan apa yang Law inginkan, karena jika kau cukup bijak, kau akan mengakui kesalahanmu, lagipula ada seorang saksi yang mulutnya kau sumpal itu" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu melirik ke arah Etna yang sedang tidak berdaya
"Oh iya diantara semua korban hanya Professor Ronald yang tidak dibunuh oleh Sandy, melainkan kaulah pelakunya, saat melihat kematian sahabatnya Radif, Professor ketakutan dan ingin membocorkan semuanya kepada Erriannoor namun Erriannoor sudah keburu menghilang dan kaulah yang menemuinya untuk membunuhnya, professor melawan dengan sebuah cairan keras yang membakar kulit, itulah sebabnya mengapa tangan dibalik bajumu itu terbakar" ucap pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu
"Kurasa sudah cukup semua ocehanmu itu, aku tahu tidak akan mudah menjatuhkanmu kalau hanya dengan tangan kosong, tapi aku punya pistol" ucap Hendy menodongkan pistol ke arah Pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu, namun orang yang ditodong hanay menyunggingkan senyum tipis
"Jika Law menjadi dirimu, maka Law tidak akan melakukan Itu" ucap Pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu tenang-tenang saja
>Dooooooooooooor< berikutnya terdengar suara tembakkan yang memekakkan telinga

***
Di tempat lain Ahmad Arhandi dan Ahmad Aldiannoor mendengar suara tembakan itu
"Suara apa itu" ucap kaget Arhandi
"Hey bukankah kau bilang pembunuh berantai itu tidak membunuh menggunakan pistol" ucap Aldiannoor
"Wew sepertinya kau dan Rania mengambil waktu dan tempat yang salah untuk berlibur" kata Arhandi
begitu pula Ahmadian Noorsheill De Rasyid yang berada di tempat lain juga mendengarnya
"Yang benar saja, setidaknya beri aku waktu tenang dimana aku tidak berada dekat dengan kematian" protes Ahmadian dalam hati

***

To Be Continued…… :V

***

Author Note : memangnya apa yang kalian harapkan, jika aku yang menulis cerita itu, pastinya seperti ini :v oh iya menggabungkan cerita bergenre supernatural dan cerita bergenre misteri itu melanggar aturan membuat cerita misteri, keterlaluan bukan :v tapi seperti itulah crossover ini jadi sangat sulit membuatnya

Author Note : Ahmad Aldiannoor dan Ahmad Arhandi akan kembali! Horeeeee! Chapter 3 bergenre misteri selesai berikutnya genre horror mungkin

Author Note : misteri tetaplah misteri sebelum dipecahkan

Rudy Wowor
2017-01-12 21:28:03
Santi suka dengan ikan ya.
Mutia 4Ra
2017-01-12 10:02:50
sdah nemu titik terng
Prince of Darkness
2017-01-12 03:51:26
Hebat tuh orang dg ikat kepala
Bocah Redoks
2017-01-11 22:18:15
nama ahmad nya banyak. jdi bingung
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook