VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Ahmadnoorian SC C2 - Wanita yang Kehilangan kata-kata

2017-01-11 - Question Of Life
28 views | 9 komentar | nilai: 7 (1 user)


Sebelum cerita dimulai
Ini hanyalah sebuah rumor yang beredar di sebuah desa yang masih asri, tidak banyak yang mengenal desa itu, namun katanya desa itu adalah surga bagi mereka yang mengetahui, namun semuanya berubah saat rumor itu mulai beredar
Dia yang bergaun merah melayang-layang tertiup angin, di kala hujan dia datang dengan aroma bunga melati menuntut jiwa-jiwa malang, mereka yang melihatnya mungkin akan terpesona, mereka yang melihatnya mungkin akan terheran-heran, mereka yang melihatnya mungkin adalah mereka yang malang
Di kala hujan adalah dia yang malang tergantung, menjuntai, berdarah, menyedihkan
Di kala hujan adalah dimana dia yang bergaun merah menangis mengucapkan nama yang dikasihinya, mengetuk setiap pintu untuk meminta pertolongan, namun tidak ada seorang peduli karena mereka tidak mau menjadi orang malang, sebaiknya kau juga melakukan hal yang sama
Di kala hujan adalah dimana dia yang dikasihi menutupi tangisnya, menanti dia yang tak kunjung datang
Cerita dimulai
***
"Jadi apa rencanamu Misha?" ucap Vina saat kami baru turun dari bus, aku tidak kepengen mengomentari gaya fashionnya yang ya begitulah, baju kotak-kotaknya itu entah mengapa mengingatkanku dengan kampanye seorang tokoh politik
"Hey tunggu dulu, aku ingin menghubungi teman-teman lamaku dulu, sebenarnya ada beberapa tempat bagus yang ingin aku tuunjukkan kepada kalian" ucap Misha, hmmm kurasa gaya fashionnya agak mendingan deh, walau topi jeraminya itu agak menghalangi pandangan, cah mengapa aku malah menjadi komentator pakaian mendadak sih
Yare… yare… bagaimana aku bisa terjebak disini sebagai satu-satunya pria, aku mungkin akan kesulitan mencari teman ngobrol nanti, tentu saja aku awalnya menolak ajakan Misha untuk merayakan ulang tahunnya di kampung halamannya namun wanita bernama Santi itu menjawab dengan antusias yang mengerikan, kemudian memohon kepada sembari menampakkan wajah memelas, mana berani aku menolak, yang lebih tidak aku mengerti adalah bagaimana mungkin wanita bernama Santi itu bisa nyaman dengan seseorang selain aku, memangnya Misha itu sehebat apa sih
"Jadi bagaimana kalau kita pergi ke taman bunga favoritku, dijamin tidak akan menyesal dengan keindahannya" ujar Misha
"Kurasa itu ide bagus" ujar Ersa, jangan komentari pakaiannya jangan komentari pakaiannya jangan jangan jangan jangan, jangan Ahmad, ingat gaya pakaianmu itu adalah yang paliing buruk
Sial, apa aku bilang, aku hanya dapat banyak omong dalam hati aja, sedangkan kenyataannya aku hanya diam sejuta bahasa
Adapun wanita bernama Santi itu entah mengapa dia diam saja, meskipun dia memang sering begitu namun bukankah dia tadi di dalam bus nampak bersemangat dan berbicara akrab dengan Misha

***

Wow tidak kusangka kalau taman yang kami kunjungi ini sangat memanjakan mata, wajar saja jika Misha sampai menyukainya
Tidak lama setelah kami sampai seorang pria berambut mohawk yang mungkin sepantaran kami datang dan mengangkat tangan menyapa kami, mungkin dia adalah teman Misha dan Misha membalas, jadi agak canggung rasanya karena disini aku hanyalah orang asing
Berikutnya yang datang adalah dua orang pria lagi, satu orang tipe pria yang sangat rapi untuk seorang pria desa meski dia hanay memakai kaos berlengan pendek, dan satu lagi datang dengan pakaian yang seolah gembel di persimpangan jalan kota, eh tunggu dia tadi bilang Ahmad
"Ahmad! Hendy! senang bertemu denganmu kembali" ucap Misha dengan cerianya
"Senang melihatmu juga Misha, bagaimana dengan pengobatanmu" ucap pria dengan pakaian rapi
"Tidak perlu mengkhawatirkanku" ucap Misha tersenyum, sekarang aku mengerti jika Misha itu memang sudah memiliki fisik yang lemah sudah dari kecil
"Tentu saja, senang melihatmu Sindy, dimana kakak kembarmu, aku tahu kau itu pasti Sindy kan" ucap Misha kepada wanita berambut panjang yang muncul dari balik pria yang berpakain berantakan tadi, entah mengapa pakaiannya yang sama berantakannya itu menggelitikku untuk mengomentarinya, kau tahu wajahnya itu sebenarnya cukup manis juga dittambah tatapannya yang sayu itu
Wanita itu tidak menjawab hanya menunduk saja, keadaan menjadi sangat sunyi dan aku tidak mengerti apa yang terjadi
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kumohon jangan katakan sesuatu yang mengerikan, Sandy sama sekali tidak…." Ucap Misha menahan tangis namun sebeum dia menyelesaikan kalimatnya pria dengan pakaian berantakan langsung menyahut
"Tidak kaulah yang justru jahat Errinnoor, kau tidak pernah menerima kenyataan kalau Sandy teah tiada satu bulan lalu, dan kau mulai memanfaatkan Sindy yang mencintaimu untuk keegoisanmu, kau mulai mengganggapnya sebagai Sandy kembarannya tanpa peduli perasaan Sindy" ucap pria berpakaian rapi yang datang bersamanya
"Tapi aku hanya" ucap pria berpakaian berantakan itu terbata-bata
"Erriannor maaf" tulis wanita yang aku tahu namanya Sindy itudi sebuah papan tulis keciil, tunggu apakah dia itu bisu
"Meski aku mencintaimu sebagaimana cinta kakakku kepadamu" tulisnya lagi
"Tapi aku tidak akan pernah bisa mengggantikannya"
"walau kami memiliki wajah yang sama"
"aku hanya ingin kau mencintaiku"
"sebagai Sindy bukan sebagai kakakku Sandy"
Dan melihat pria itu terduduk lesu dan menangis tersedu-sedu, no koment dah, aku sama sekali tidak begitu menangkap melainkan Sindy punya kembaran dan kembarannya meninggal satu bullan lalu, pria bernama Erriannoor ini tidak terima dan mulai menganggap Sindy sebagai Sandy kakak kembarnya, yah mungkin seperti itulah
Lagi-lagi suasana menjadi hening

***

"Oh iya ngomong-ngomong perkenalkan mereka ini adalah teman-teman kuliahku, Vina Ashinta, Ersa Liana Dewi, Ahmadian Noorsheilll De Rasyid dan juga Santi, eh Ahmad dimana Santi? Ahmad…! Ahmad….!" Misha memperkenakan kami
"Entahlah aku sama sekali tidak mengetahuinya" ucapku sekenanya seolah tidak peduli padahal aku sebenarnya panik abis mengetahui wanita bernama Santi iu menghilang, aku lantas celingak-celinguk mencarinya dan saat itulah aku melihat sesuatu yang seharusnya sudah tiada
"Bukankah seharusnya Santi selalu bersamamu Ahmad" ucap Vina
"Ah kurasa Santi akan kembali tidak lama lagi, perkenalkan ini Hendy Risnandi, Ardhia Wishnu, Ahmad Errriannoor, dan juga Sindy, sepertinya hanya mereka yang datang yah, hey Hendy apakah kau tahu dimana yang lain lagi? Hey Hendy…! Hendy! apakah kau mendengarkanku? Ada apa denganmu? tiba-tiba saja kau berubah pucat setelah mendapat SMS, memangnya apa yang terjadi" ucap Misha memperkenalan teman-temannya, aku sekilas melirik dan mengetahui pria yang galau itu bernama Ahmad Erriannor dan kemudian kembali melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada itu menurut pembicaraan mereka, aku melihat Sindy disana di ujung sana, tidak kurasa itu Sandy karena Sindy ada bersama kami hanya saja bagaimana
"Faris tidak akan pernah datang karena aku mendapat SMS yang mengatakan Faris baru saja ditemukan tewas terbunuh" ucap pria bernama Hendy
"Sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat" ucap Reena
"Katakan apakah kau juga melihatnya juga, apakah kau melihat seorang wanita disana, katakan apakah kau juga melihat melihat Sandy?" ucap Erriannoor menyadari apa yang aku lihat sepertinya hanya kami saja yang melihatnya
"Namamu itu Ahmad Erriannooor kan? Erriannoor maafkan aku, tapi aku hanya meihat sesuatu yang tidak masuk akal disana" ucapku
"Tidak kau salah, dia hanyalah Sandy"
"Erriannoor aku tahu betapa besarnya cintamu, tapi terimalah kenyataan" ucapku
"Santi sepertinya aku tahu mengapa kau menghilang tiba-tiba, wanita bernama Sandy itu dan juga pria yang dikabarkan meninggal itu memiliki keterkaitankan?" gumamku

***
Dan begitulah beberapa polisi berwajah sangar mulai bermunculan, untuk orang yang pernah ditendang ke dalam sel penjara sepertiku kurasa aku punya trauma dengan namanya polisi, dan sebaiknya aku menjauh
"Hey kau tahu, dia muncul lagi"
"Eh benarkah, apa Erriannoor tahu"
"Memangnya siapa yang berani memberi tahunya" begitulah yang aku dengar orang-orang berbisik namun ketika Erriannoor muncul merekka menghentikan acara gosip-gosip itu, hmmm…. Terserahlah aku sebaiknya mencari wanita bernama Santi itu
"Hey Ersa jika Misha bertanya, katakan aku mau mencari Santi!"
Dan aku lantas beranjak pergi, kemudian seseorang mmengikutiku kemana melangkah, yang benar saja kenapa harus selalu ada yang menjadi ekorku sih
"Jadi apa yang kau inginkan dariku"
"Hey kau melihatnya kan"
"Entahlah"
"Memangnya kau mau kemana?"
"Mencari seseorang"
"Pacarmu?" aku tidak akan terkejut lagi jika ada orang yang menanyakan itu, orang-orang memang salah mengira hubunganku dengan Santi, namun apakah hubunganku dengannya memang special itu, bahkan aku pun tidak tahu dengan pasti, semuanya begitu rumit, jadi aku hanya terdiam saja tanpa menjawab pertanyaa Erriannoor, dan untungnya dia juga tidak mengungkit-ngungkitnya
Tidak terasa hari sudah mulai gelap
"Apa sih yang dilakukan wanita itu? Ucap Errriannoor tiba-tiba
Aku melihat wanita yang dimaksud Erriannoor dia adalah orang atau sesuatu yang dari tadi aku cari-cari, dia sedang mengendap-ngendap, ya ampun
"Aku heran bagaimana sampai aku bisa mengenalnya?" ucapku
"Dia Santi?"
"Sayangnya iya"
Wanita bernama Santi itu menyadari keberadaanku, dan mulai menarik tanganku setelah sekilas melihat Erriannoor yang berdiri di sampingku
"Ahmad lihatlah" ucap wanita bernama Santi itu
Aku melihat apa yang dari tadi diintip Santi, pria yang seingatku bernama Hendy itu sedang bersama Sindy, dan Sindy menangis, tentu saja Erriannoor langsung menghampiri mereka
"Hendy apa yang kau lakukan pada Sandy?" ucap Erriannoor marah, aku jadi bingung ni wanita sebenarnya namanya Sindy atau Sandy sih
Sindy menampakkan papan tulis yang bertuliskan "Tidak apa-apa, tidak perlu khawatir" aku yakin sekali kalau dia bohong
"Tadi Sindy hanya ketakutan karena ada serangga di rambutnya, benarkan Sindy" ucap Hendy
"Benar" tulis wanita yang entah namanya Sandy atau Sindy itu
Santi kemudian membisikkan sesuatu kepadaku "aku merasakan kehadiran saudari kembarnya tadi di dalam dirinya" aku sama sekali tidak heran darimana Santi bisa tahu kalau dia memiliki kembaran, karena dia adalah Santi

***

Aku lantas membaringkan diriku di kasur empukku, aku sangat beruntung karena hanya aku laki-laki disini jadi aku mendapat kamar sendiri di villa milik keluarga Misha, dia pastinya sangat kaya raya, aku agak penasaran dengan orang tuanya
Suara ketokkan terdengar dari balik pintu, aku membuka pintu terkejut dengan apa yang ada di luar aku langsung menutup pintu lagi, dengan suara ketokkan lagi, aku bimbang apakah harus membukanya atau tidak dan akhirnya pilihanku jatuh untuk membukannya
Ketika pintu terbuka lagi tidak ada apa-apa, aku kemudian menghela nafas lega, menutup pintu, dan berbalik namun mahluk itu sudah berada di dalam
Wajahnya sama persis dengan Sindy, hanya saja dia sangat pucat dan mata yang menatap kosong, aku melihat tubuhnya berlumuran darahdan itu terlihat sangat jelas meskipun dia memakai gaun beerwarna merah, aku tidak bau apa yang saat itu tericium, entah itu bunga mawar, melati, kamboja, dupa, atau kasturi
"Tolong aku" ucapnya lirih dan suaranya membuat bulu romaku beridiri tegak, tapi bagiku dia tidak semenakutkan itu karena aku sudah pernah bertemu yang lebih menakutkan darinya, dan salah satu dari mereka tinggal bersamaku
"Siapa kamu?" tiba-tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutku walaupun aku seharusnya sudah tahu jawabannya
Dia menarik tanganku, menggulung lengan bajuku, dan menuliskan sebuah nama di lenganku menggunakan darah, aku hanya bisa terdiam melihatnya melakukan itu
Kemudian sebuah suara memanggilku, aku menoleh dan mendapati Misha dan Ardhia sudah berada di depan pintu kamarku
"Ada apa? Ceritanya aku sedang bertanya" ucap Ardhia
Aku kembali menoleh ke arah wanita bergaun merah itu namun dia sudah menghilang, sudah kuduga, aku lalu menjawab pertanyaan Ardhia tanpa mempedulikan gaya bicaranya yang aneh itu dengan "tidak ada apa-apa"
"Hey Ahmad ayo kita jalan-jalan" ajak Misha
"Tunggu, aku mau ke kamar kecil dulu" ucapku lalu pergi, setelah sampai di kamar kecil aku kembali menggulung lengan bajuku dan membaca sebuah nama yang tertulis disitu "Sandy" dan lalu langsung menghapusnya dengan air dan kembali menemui Misha dan Ardhia

***
"Kalau boleh aku bertanya memangnya ada apa yang membuat Sindy tidak bisa berbicara?" tanyaku, kurasa dia tuna rungu tidak dari lahir
Kami berhenti berjalan dan suasana menjadi senyap, Misha memandangku dengan tatapan terkejut dari matanya seolah mengatakan darimana kau tahu? jadi aku bilang saja "hanya menebak"
"Tidak ada yang tahu pasti, tapi itu terjadi 1 minggu setelah kembarannya pertama kali hilang, ceritanya aku sedang menceritakan rumor itu" ucap Ardhia, dan sekali lagi aku tidak ingin mengomentari gaya bicaranya
"jika mayatnya masih belum ditemukan berarti ada kemungkinan dia masih hidupkan" ucap Misha, aku meragukan hal itu terlebih karena aku baru saja bertemu dengannya
"Aku juga berharap begitu, tapi rumor itu berkata lain, ceritanya aku sedang sedih" ucap Ardhia, kemudian kami kembali berjalan meski hanya secar perlahan
"Rumor apa?" desakku
"Sudah ada beberapa orang yang melihatnya di kala hujan bergentayangan dan mengetok pintu-pintu rumah orang dan ketika kau membukakan pintu dia akan langsung membunuhmu, ceritanya aku sedang menceritakan cerita hantu" ucap Ardhia, aku terkekeh dalam hati mendengar perkataannya itu, berati aku seharusnya sudah mati dong
"Seperti arwah yang penasaran yang menuntut balas dendam kah?" ucapku
"Hush jangan ngomong begitu, aku yakin itu hanya ulah pembunuh berantai berdarah dingin yang menggunakan hilangnya Sandy agar aksinya menjadi lebih mudah" ucap Misha
"Temanmu yang bernama Aris itu matikan? Itu berarti Sandy juga, itu jika pelakunya sama" ucapku kemudian berjalan mendahului mereka, aku menoleh sebentar kepada Misha yang berhenti sejenak yang terlihat merasa kehilangan
"Yang benar namanya Faris, dan ingat jangan pernah membicarakan hal ini dengan Erriannoor, ceritanya aku sedang memperingatkan" ucap Ardhia\
Akhirnya kami bertemu dengan yang lainnya, terlihat juga beberapa teman Misha yang belum aku temui, mereka memakai pakaian muslim sepertinya baru saja pergi ziarah

***
"Karnava!!?" Seru Vina bersemangat
"Yah karena setiap tahunnya kepala desa selalu merayakan ulang tahun desa kami yang tercinta dengan meriah" ucap seorang wanita berambut pendek dan terlihat bergandengan tangan dengan Ardhia, aku belum pernah bertem dengannya sebelumnya tapi aku yakin dia juga temannya Misha dan juga pacarnya Ardhia
"Jadi hari ulang tahunmu itu sama dengan kampung halamanmu Misha" ucap Ersa
"Tidak… tidak… tentu saja tidak, ulang tahuku sebenarnya masih 2 hari lagi kok" ucap Misha tersenyum tanpa rasa bersalah
" Njirrr dengan kata lain kau mau menjebak kami disini selama 2 hari lagi" ucapku
"Ayolah Ahmad libur 2 hari saja kuliah yang membosankan itu tidak apa-apa kan, aku menjamin kau tidak akan menyesal deh" ucap Reena mendukung adiknya
"Iya iya deh aku menyerah" ucapku pasrah, setidaknya aku bisa mengambil hkimahnya dengan tidak bertemu dengan si brengsek Willham, kemudian aku berpaling kepada wanita bernama Santi itu menanyakan dengan ramah "Jadi kau mau bermain apa Santi?"
"Hey aku ingin masuk rumah hantu" ucap Ersa, njirr mengapa malah dia yang menjawab
"Jangan bilang kau takut Ahmad" ejek Ersa
"Katakan saja itu pada selingkuhan Willham" Ucapku mengejek balik dan kemudian pergi membeli karcis
Penjaga loket adalah seorang pria berhidung elang dan berkumis lebat, tatapannya tajam seperti seorang penjahat yang suka menculik wanita-wanita tidak berdosa, aku melihat Ersa disampingku, dia sedikit agak gelisah dengan tatapan pria itu
"Aku seperti ditelanjangi jika dia menatapku seperti itu" bisik Ersa kepadaku
"bukankah dia itu tipemu Ersa" ucapku terkikik
"kurang asem" semburnya
"Lama tidak jumpa Reena, Misha, bagaimana keadaan ibu dan ayahmu" ucap si penjaga loket
"Ah mereka terlalu sibuk untuk datang paman" ucap Reena
"Lalu siapa anak-anak kurang sopan ini" ucapnya melirik ke arahku, ya ampun jangan-jangan dia menyadari pembicaraanku dengan Ersa
"teman-teman kuliah Misha, jangan khawatir aku akan mencaramahi mereka nanti" ucap Reena penuh rahasia, apes dah, mana mau aku menghabiskan waktu berhargaku untuk seorang penceramah dadakan
"Jangan terlalu senang anak muda, apa kalian bisa sesantai ini saat ada yang maninggal, ada wanita tidak waras disana yang haus darah, berdoa saja kalian tidak menjadi korban" ucap pria itu
"Dari mana kau tahu dia seorang wanita?" ucap Erriannoor yang baru saja datang
"Aku melihatnya, dia pembunuh sialan yang menyamar sebagai…."
"Ah paman sudahlah serahkan itu kepada polisi saja, kita tidak perlu ikut campur kan" ucap pacarnya Ardhia
"Dia belum selesai menjawab pertanyaanku" ucap Erriannoor, namun tidak ada yang memperdulikannya
adapun wanita bernama Santi itu sudah melangkah lebih dulu masuk, hey mana sih para penjaga? Ada yang masuk tanpa karcis malah dibiarin. aku dengan terburu-buru membeli karcis dan menyusul mahluk yang satu itu
***
Di dalam ruangan yang tidak kusangka seluas ini didekorasi seseram mungkin, kami semua, yang terdiri dari aku, Santi, Ersa, Vina, Ardhia, pacar Ardhia, Reena, Erriannnoor, dan 3 orang lainnya, adapun Vina tidak diperkenankan masuk karena penyakitnya (aku tahu penyakitnya itu bukan di jantung, jadi apa masalahnya?) berjalan secara perlahan
"Tidak perlu takut yayang Dilla, aku berada disampingmu, lagian mereka cuma para pekerja berkostum, Ceritanya aku lagi menenangkan Dilla" ucap Ardhia kepada pacarnya, menurutku akan lebih pas jika seharusnya tadi dia bilang "ceritanya aku lagi ngegombal"
Berhenti melihat mereka aku kembali memalingkan mukaku ke depan, lihat apa yang aku dapatkan, seseorang bertopeng menyeramkan tepat di depan hidungku, tubuhnya berlumuran saos tomat dan yang terburuk dia mengeluarkan nafas bau menyengat, kemunculannya diikuti suara teriakan`
"Siapapun yang berada di balik topeng itu kuharap rajin menggosok gigi" ucapku protes
Teguranku dijawab dengan suara >Claaank< dan kepalanya terjatuh, oowh ternyata itu robot yang bagus, kukasih nilai plus untuk orang yang membuatnya
Wanita bernama Santi itu lalu memungut kepala itu, meletakkannya kembali ke asalnya
"eeeh Santi mengapa kau bisa seberani itu" pekik Reena
"Dan mengapa kalian setakut itu" ejek Vina
"Apa, siapa yang takut, mana mungkin pria jantan sepertiku takut, ceritanya aku bersikap sok berani" ucap Ardhia dengan gemetaran, aish dari kakikmu yang gemetar itu menjelaskan isi kepalamu, terlebih lagi kau nsendiri yang tidak langsung mengatakn kalau kau hanya pura-pura berani
"Tapi aku takut, ayo sebaiknya kita keluar menyusul yang lain" ucap Dilla pacarnya Ardhia
"Eh benar juga, jumlah kita sudah berkurang dari ketika pertama kali masuk" ucap Erriannoor
"Ah ternyata mereka sudah gugur duluan" ucap Vina
"Wew jadi itu teriakan mereka yang kabur" ucapku
"Tidak itu suara Ardhia, Dilla dan juga kak Reena" ucap Ersa
"Aku? Aku sama sekali tidak teriak kok"
"bener?"
"bener"
"yakin bener?"
"Ih jangan godain aku deh, ayo kita buktikan siapa yang paling berani" uap Reena
"kalau gitu mulai sekarang kita jalan sendiri-sendiri, siapa yang terakhir bertahan" ucap Ersa
"Kyaaaaa tidaaaaaak! Aku takut" teriak Dilla lari ketakutan
"Hey yayang Dilla tunggu aku! Ceritanya aku memanggil yayang Dilla" panggil Ardhia lari menyusul Dilla
"dua orang lagi tumbang" ucap Vina
"Masih yakin?" goda Ersa kepada Reena
"Si-siapa takut!"
"jangan ngompol yah"

***

Atas saran Ersa akhirnya kami berpisah, namun meski begitu aku tidak sendiri, karena wanita bernama Santi itu itu berada di belakangku, Reena sempat protes tadinya, tapi tidak ada yang bisa menghentikan wanita bernama Santi ini, adapun Vina dan Ersa yang mengetahui apa itu Santi Cuma diam saja dan pergi
Wanita bernama Santi itu menarik-narik tanganku, menunjuk-nunjuk sesuatu, mataku mengikuti arah yang ditunjuknya, aku melihat Sindy
Kami berdua dengan perlahan tapi pasti membuntutinya, mengabaikan tengkorak-tengkorak plastik yang kami injak dan tendang serta wanita berpakaian putih yang bergelantungan di atas langit-langit
Kemudian Sindy datang menghampiri Erriannor yang sendirian, menarik tangannya, mengecup bibirnya, saling berpagutan, saling menanggalkan
Baiklah Santi kurasa adegan selanjutnya tidak pantas ditonton, eh tunggu dulu bukankah Sindy memakai gaun merah dan badannya berlumuran dengan cairan berwarna merah juga, dan yang tidak kalah penting lagi luka disekujur tubuhnya sudah lama membusuk dan berbau menyengat bukan aroma bunga mawar, bukan aroma bunga melati ataupun yang lainnya seperti saat dia mengetuk pintu kamarku
Wanita bernama Santi itu berdiri, entah karena apa, maka aku bertanya saja "ada apa?'
"Ahmad ayo kita pergi!"
"Tapi dia itu"
"Apa ada masalah dengan itu?" ucap Santi penuh arti, aku tahu meskipun kalimatnya berupa pertanyaan tapi itu sebenarnya lebih berupa pernyataan apakah masalah jika dua pasang kekasih dari alam yang berbeda saling mencintai, aku tidak bisa menyangkalnya walaupun sebenarnya aku tidak bisa menerimanya, aku juga dalam posisi yang hampir sama, dan aku tahu perasaan wanita bernama Santi ini kepadaku, namun aku sama sekali tidak tahu pasti perasaanku yang sebenarnya
Berikutnya lampu padam diikuti suara backround suara tangisan yang sudah direkam, tidak bisa lagi bagiku untuk dapat melihat keadaan Erriannoor, apakah dia baik-baik saja, ini bukanlah hal yang baik, di antara yang palsu membaur juga yang asli dalam wujud yang tidak mengenakkan

***

Aku dan Santi keluar dari rumah hantu itu, tidak kusangka Ersa dan Vina juga keluar bersamaan waktunya dengan kami
"Sama sekali tidak menakutkan" teriak 3 serangkai yang sudah pengalaman dengan hal-hal seperti ini, 3 serangkai itu adalah aku, Vina, dan juga Ersa
"Bagaimana mungkin kalian bisa seberani itu?" ucap Dilla
"Bagaimana mungkin kalian bisa setakut itu?" balas Ersa
"Ada yang melihat dimana paman penjaga loket itu?" ucapku bertanya setelah melihat orang yang seharusnya menjual karcic untuk masuk rumah hantu tidak ada di tempatnya padahal ada seseorang pria dengan ikat kepala merah layaknya pendekar yang terus berdiri disana, sepertinya mau membeli karcis
"Maksudmu paman Radif? Entahlah, tapi aku tidak tahu, mungkin sedang buang air sebentar" jawab Misha
"Bukankah kau dari tadi menunggu diluar?" ucapku
"Hey itu terlalu membosankan menunggu kalian bersenang-senang di dalam, lebih baik aku membeli makanan, ada yang mau?" Ucap misha membela diri sembari menawarkan gorengan
Aku kembali melihat ke pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu, dia terlihat sedang membungkuk melihat ke arah tanah seperti memeriksa sesuatu, aku tadinya hendak menghampirinya namun setelah kupikir-pikir itu buka urusanku toh
Kemudian Reena maju seperti akan menghampirinya dan berseru "kurasa aku akan menggantikan paman Radif untuk menjualkan karcis" whuat yang benar saja, apa dia tidak tahu malu? Kurasa aku harus memperingatkannya akan sesuatu
"Setidaknya sebelum itu kau harus mengganti celanamu yang bau pesing itu" ucapku kemudian diikuti suara terkikik yang lainnya, adapun Reena hanya bisa menutupi mukanya dengan malu
"Sepertinya Erriannoor belum keluar juga dari tadi, ceritanya aku mencari Erriannoor" ucap Ardhia
"Dia tadi aku lihat bersama Sindy" jawabku spontan walaupun akun yakin dia sebenarnya adalah Sandy, tidak, aku ralat, aku yakin dia adalah suatu eksistensi yang memiliki wujud menyerupai Sandy, walaupun aku sering bertemu hal gaib tapi aku tidak mempercayai adanya hantu atau lebih tepatnya aku tidak mempercayai roh orang mati yang gentayangan, hal yang sama juga dikatakan si aneh Ira kepadaku

***

"Ahmad, apa yang orang-orang itu lakukan disana?" ucap wanita bernama Santi itu, tentu saja aku tidak tahu jawabannya, tapi memang daripada mendengar jawabanku kurasa wanita bernama Santi ini lebih mengharapkan aku mengucapkan "baiklah, ayo kita kesana" tapi tetap saja aku menoleh kepada dua kakak beradik itu yang sedaang bersamaku daan pernah tinggal disini untuk mengharapkan sebuah jawaban
"Wah hebat sepertinya professor Ronald mendapatkan sebuah penemuan baru" seru Dilla
"Professor?' ucap Vina memiringkan kepalanya pertanda bingung
"Dia adalah seorang ahli kimia jenius di desa kami mungkin sehebat Elbert Einstein, oleh karena itu ayahnya Hendy yang merupakan kepala desa disini rela mengeluarkan uang untuk membiayai penelitiannya" ucap Dilla yang justru menjwabnya bukan kedua kakak beradik itu
Akhirnya kami semua memutuskan untuk ikut berjejal di dalam kerumunan itu dan seperti sebelumnya juga, Misha tidak ikut bersama kami, memangnya separah apa sih penyakitnya itu
"Perlu kalian ketahui Albert Einstein itu ilmuawan fisika bukan kimia" ucapku datar membetulkan
"Wah Dek Reena sepertinya sudah kembali yah dari luar negeri, jadi dimana Misha? apakah dia baik-biak saja?" ucap seorang pria beruban, berkaca mata serta memakai jas laboratorium, kurasa penampilannya itu untuk menarik pelanggan, pertanyaannya adalah apa yang akan dijual ahli kima sepertinya? Obat penumbuh rambut? Kurasa terlalu biasa, obat awet muda? Itu terlalu fantasi, obat segala penyakit? Wow!
"Tenang saja meskipun dia tidak bisa ikut berjejal disini tapi dia baik-baik saja di sana" ucap Reena menunjuk ke arah Reena
"Jadi apa yang akan anda jual prof? ceritanya aku penasaran" tanya Ardhia
"Ah itu hanya cairan yang dapat membuatmu menjadi lebih bertenaga saja ketika melakukan pekerjaan fisik, sebenarnya aku sedang sial karena laboratoriumku kemasukan maling dan mengambil beberapa catatan dan bahan" ucap Professor itu
"Maling?" ucap Reena
"Ya itu terjadi kemarin, bahkan tidak hanya itu beberapa peralatan juga menandakan kalau habis dipakai" ucap professor itu

***

Aku yang baru saja buang air melenggang keluar toilet umum dengan nafas lega dan mendapati wanita bernama santi itu membungkuk melihat ke arah tanah seperti melihat sesuatu, mungkin semut? Ah tidak mungkin mahluk sepertinya akan menaruh ketertarikan akan hal seperti itu, tunggu posisi itu seperti mengingatkanku akan sesuatu, tapi apa yah?
Aku ikut melihat apa yang dari tadi dilihat wanita bernama santi ini, dan menemukan tetesan darah segar yang seperti membentuk suaatu jalur, orang yang terluka ini mungkin berlari dikejar sesuatu, tapi ke arah mana dia datang dan ke arah mana perginya?
Tunggu, jika diperhatikan satu bagiannya mengarah ke rumah hantu dan satu bagiannya menuju ke arah hutan, benar juga, pemuda dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu pasti saat itu melihat hal yang sama, jangan-jangan pemilik darah ini adalah paman yang itu
Lantas aku dan wanita bernama santi ini berlari ke dalam lebatnya hutan mengikuti jejak berupa darah dan kemudian menemukan sebuah rumah kosong
Sayangnya kami terlambat, karena paman yang aku ingat bernama Radif itu sudah tergantung tidak bernyawa
Sekilas aku melihatnya, wanita bergaun merah dan berlumuran darah yang melayang terbawa angin, aku melihat Sandy

***

Tidak perlu lama hingga beberapa orang mulai berkumpul, disana juga ada polisi yang datang, sebagai orang yang pertama kali menemukan mayatnya aku mendapat segudang pertanyaan yang bahkan membuatku bingung tuk menjawabnya satu-persatu
Kemudian kakak beradik itu datang dan menangis, terutama Misha yang menangis nyaring tersedu-sedu , hendy yang juga ada disini mengatakan kalau dia adalah paman kandung Reena dan Misha, jadi panggiilan paman itu bukan hanya panggilan hormat kepada orang yang lebih tua saja, tapi dalam artian sesungguhnya
"Apakah pamanmu itu punya suatu masalah sehingga dia memutuskan untuk menggantung diri?" tanya Vina
"Dia dibunuh" ucapku
"Bagaimana kau berpikiran begitu?" darah yang menuntunku kepada mayatnya menunjukkan kalau dia sedang dikejar orang, selain itu tidak ada satu pun sesuatu yang dapat dipakai sebagai pijakan untuk menggantung diri ditemukan dibawah mayatnya tergantung" ucapku menjelaskan walaupun itu sbenarnya sangat merepotkan, ah apa sebaiknya aku diam saja yah
"Tidak biasanya ini terjadi saat tidak hujan" ucap Dilla
Lalu kebetulan aku kembali melihat pria dengan ikat kepala merah layaknay pendekar itu sedang bersandar di dinidng sambil mengamati, pertanyaannya adalah jika dia lebih dulu menyadarii darah paman Rafid saat itu lalu mengapa dia tidak memberi tahukannya kepada orang lain
Kemudian seseorang menabrakku, dia adalah professor Ronnald, dia terlihat sangat ketakutan dan kemudian pergi, Hendy memanggilnya namun professor ahli kimia itu tidak menghiraukannya dan tetap pergi dengan terburu-buru
"Apa kalian pernah mendengar tentang Judgments" ucap Reena yang datang mendekati ke arahku
"Judgments? Apa itu?" tanya Ersa
"Mereka adalah sebutan untuk beberapa detektive terhebat di Indonesia, tidak ada yang mengetahui seperti apa penampilan ataupun nama mereka secara pasti, tapi aku tahu caranya bagaimana menghubungi slah satu di antara mereka" ucap Reena
Aku kembali melihat ke arah pria dengan ikat kepala merah layaknya pendekar itu dan terlihat di bibirnya tersungging sebuah senyuman dan kemudian beranjak pergi, apa yang sedang dipikirkannya? Dan siapa dia sebenarnya? Terlihat sangat mencurigakan

To Be Continued……!

***

Author note : Pria dengan ikat kepala layaknya pendekar akan kembali! Horeeeee! chapter 2 bergenre supernatural selesai berikutnya genre misteri mungkin

Author note : misteri tetaplah misteri sebelum dipecahkan

Shineria of Life
2017-01-22 09:33:52
Ok, aku rasa ini gabungan dari cerita yang dibuat sebelumnya. Tapi, bisakah lanjutkan ppj:law dahulu ahmad-kun *senyum puppy eyes
Aerilyn Shilaexs
2017-01-13 15:02:25
Kurang fokus membaca, jadi kurang paham.
Ludfy N
2017-01-13 05:56:16
Ninggalin koment lg! Crita yg sangat menarik
Ludfy N
2017-01-12 18:18:08
Panjang banget! Sudt pandang berbda lg
happyreadin9
2017-01-12 09:38:16
lnjut bc
Cloud Xiicorss
2017-01-11 21:55:11
Capek bacanya
Bocah Redoks
2017-01-11 21:52:11
banyak kesalahan penulisan. buru buru tampaknya
Gouenji Shuuya
2017-01-11 21:19:46
Ganti sudut pandang ya
Downcrazy
2017-01-11 20:12:52
sugoii.....
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook