VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
The Flying Dutchman Chapter 4: Badai Di Tanjung Harapan

2017-01-04 - Ghost Rider
36 views | 8 komentar | nilai: 10 (2 user)

~Badai Di Tanjung Harapan~
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Time Skip

Awal Bulan Maret 1680,
Kapal Het Vliegend Schip sudah beberapa bulan berlayar dilautan,mereka melaju begitu cepat.Sampai awak kapalnya dibuat heran dengan kecepatan kapal ini.

"Hey Koenraad,apa kamu tidak aneh dengan kecepatan kapal ini ?.Aku tahu ini salah satu kapal tercepat milik kita,tapi tidak kuduga bisa secepat ini." tanya Gerrit.

"Sebenernya aku juga merasa aneh Gerrit,perjalanan seminggu.Bisa ditempuh dalam waktu beberapa hari saja,mungkin ini sebuah keberuntungan." jawab Koenraad.

"Kita bisa lebih cepat dari kapal lain,sebentar lagi kita akan sampai di Kaap de Goede Hoop (Tanjung Harapan)." ucap Herold.

Mereka pun beranjak pergi dan kembali ke aktifitas masing-masing.Cahaya redup yang mengelilingi kapal ini,membantu menambah kecepatan kapal.Tapi mereka tidak bisa melihat cahaya tersebut,hanya sang kapten yang bisa melihatnya.

"Bagus,ini sesuai rencana.Setelah lewat jalur ini,aku akan langsung menuju belahan timur." gumam Decken.

"Decken pulaunya sudah terlihat,kita akan segera berlabuh." ucap Koenraad berdiri disebelah Decken.

"Ya Koenraad,kita akan tinggal beberapa hari disini." ucap Decken.

"Baiklah semuanya,pulaunya sudah terlihat.Bersiap untuk berlabuh !" ucap Decken.

"Siapp Kapten !!!" ucap awak kapal.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di Buitenzorg (Bogor),Kapten Joan Rener sedang berada disebuah bangunan besar milik Cornelis Speelman.

"Terimakasih untuk bantuanmu,dalam pelayaran didaerah Nederlandsch-Indie." ucap Speelman.

"Sama-sama meneer,ini pengalaman pertama saya menjelajah laut didaerah Nederlandsch-Indie." ucap
Joan.

"Perlawanan Trunojoyo cukup menguras keuangan kita sinyo,tapi sebagai gantinya.Kita dapat menguasai beberapa kota pelabuhan dipesisir utara Jawa dan juga Madura." ucap Speelman.

"Kapal kita juga banyak mengalami kerusakan meneer dalam perang tersebut." ucap Joan.

"Benar,Trunojoyo itu memang merepotkan.Aku akan lakukan perbaikan.Setelah selesai,kamu bisa kembali ke Amsterdam.Lalu kapal yang akan datang ke Batavia,siapa kapten kapalnya ?" tanya Speelman.

"Baik meneer,untuk kapal selanjutnya dipimpin Kapten Ramhout Van der Decken.Akan tiba beberapa bulan lagi,dengan membawa tentara dan juga senjata." jawab Joan.

"Bagus,kita perlu menambah kekuatan untuk memperkuat daerah Batavia.Jangan sampai jalur pusat pelayaran kita diserang.Istirahatlah Kapten Joan,seminggu lagi kamu akan berlayar ke Amsterdam,siapkan dirimu." ucap Speelman.

"Baik meneer,saya mohon ijin untuk kembali ke Batavia." ucap Joan,kemudian meninggalkan bangunan itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di sebuah pulau,kapal Het Vliegend Schip sedang berlabuh,mereka sedang mencari perbekalan dan pakaian untuk pelayaran selanjutnya.

Disebuah restoran dekat pelabuhan,Gerrit sedang berbicara dengan beberapa orang yang baru saja tiba dipulau seperti dirinya.

"Tuan,kemana anda akan berlayar ?" tanya seseorang.

"Kami akan pergi ke belahan bumi timur paman,kami akan berada dipulau ini untuk beberapa hari." ucap Gerrit.

"Itu perjalanan yang jauh,sebaiknya kalian berada disini untuk tiga atau empat hari lagi." ucap orang itu.

"Empat hari ?,itu tidak mungkin paman.Kapten Decken pasti marah,ia ingin segera melanjutkan pelayaran." ucap Gerrit.

"Aku beritahu kau,beberapa hari lagi akan terjadi badai." ucap orang itu dengan nada serius.

"Badai katamu ?,tapi langit terlihat cerah kan ?.Mana mungkin badai terjadi ?" ucap Gerrit.

"Aku sudah memperingatkanmu,aku sudah sering berlayar.Aku tahu tanda-tanda dari badai tersebut."

"Tuan kau boleh percaya boleh tidak,tapi kapten kami selalu mengatakan hal yang sebenarnya." ucap seseorang.

"Baiklah nanti akan aku sampaikan pada kaptenku,terimakasih atas petunjuknya." ucap Gerrit sambil meninggalkan restoran itu.

Diluar,Gerrit menatap ke arah langit yang cerah."Benarkah akan terjadi badai ?,tapi bagaimana aku mengatakannya pada kapten.Dilihat dari cara bicaranya,orang tadi kelihatannya tidak berbohong." gumam Gerrit.

Di pinggir pelabuhan,Decken dan beberapa awak kapal sedang bersantai menikmati matahari yang tenggelam.Kemudian datang seseorang dengan jenggot dan kumis lebat menghampiri mereka.

"Tuan apa kau kapten kapal ini ?" tanya orang itu sambil duduk disampimg Decken.

"Ya benar,lalu paman ini siapa ?" tanya Decken.

"Aku Bernard kapten kapal Victoria,aku sempat berpapasan dengan kapalmu beberapa minggu yang lalu." ucap Bernard.

"Aku Ramhout Van der Decken kapten kapal Het Vliegend Schip,senang bisa berkenalan dengan anda." ucap Decken.

"Kapalmu itu punya kecepatan yang luar biasa ya,kau bisa sampai disini lebih dulu dari kami." ucap Bernard.

"Kami mendapat kapal yang tercepat dalam pelayaran kali ini,tapi kami tidak menyangka bisa secepat ini." ucap Decken.

"Karya yang hebat,lalu kemana kalian akan berlayar ?" tanya Bernard.

"Kami akan menuju belahan timur bumi,tepatnya Nederlandsch-Indie." ucap Decken.

"Itu pelayaran yang jauh,sebaiknya kau tinggal beberapa hari lagi disini.Aku dengar dari beberapa orang,akan terjadi badai sebentar lagi." ucap Bernard.

"Badai ?,tapi langit terlihat cerah paman.Bagaimana bisa terjadi badai ?" tanya Decken.

"Langit bisa berubah-ubah tuan,belum tentu besok akan cerah.Untuk keselamatanmu,sebaiknya kau tunda pelayaranmu sementara.Aku memperingatkanmu,kalau begitu aku pergi dulu tuan." ucap Bernard meninggalkan tempat itu.

"Baiklah paman,terimakasih sebelumnya." ucap Decken sambil tersenyum.

"Het Vliegend Schip,menurutku ada yang aneh dengan kapal itu." gumam Bernard berjalan sambil melihat kapal tersebut.

"Menunda pelayaran ?,yang benar saja.Aku tidak akan melakukannya." ucap Decken.
.
.
.
.
.
.
.
.
Dua hari kemudian,kapal Het Vliegend Schip bersiap berlayar.Tapi tidak dengan kapal yang lain,cuma mereka yang berlayar hari ini.

"Kapal itu,ternyata dia memang melanjutkan pelayaran.
" ucap Bernard.

"Kapten,bukankah akan ada badai ?" tanya awak kapalnya.

"Itu benar,aku bisa merasakan tanda akan hadirnya badai." ucap Bernard.

"Lalu,apa yang terjadi jika kapal tadi nekat melawan badai ?"

"Mereka semua akan mati,badai kali ini jauh lebih besar menurutku.Aku sudah memperingatkanmu Van der Decken,ayo kita pergi.Ini bukan urusan kita." ucap Bernard,kemudian ia pergi bersama awak kapalnya menuju sebuah restoran.

Sementara itu diatas Het Vliegend Schip.

"Kapten Decken,apa tidak sebaiknya kita berada dipulau ini beberapa hari ?" tanya Gerrit.

"Ada apa Gerrit ?,kita akan berlayar.Supaya segera sampai ke Batavia." jawab Decken.

"Tapi orang-orang mengatakan akan terjadi badai." ucap Gerrit,sejenak seluruh awak kapal terdiam mendengar ucapannya.

"Orang-orang itu tidak tahu kondisi sebenarnya,kita tetap akan berlayar.Langit cerah ini terlihat indah,bagaimana bisa akan terjadi badai ?" tanya Decken dengan nada tinggi.


Semuanya terdiam,termasuk Gerrit.Mereka saling memandang,tidak berani menjawab.

Kemudian Decken berkata dengan lantang,pada seluruh awak kapalnya.

"Kita sudah sampai sejauh ini,sebentar lagi kita akan menuju Kapp de Goede Hoop (Tanjung Harapan).Jalan untuk menuju timur,menuju Batavia !.Dengan kapal kita yang tercepat,kita akan membuat sejarah baru.Jadi kumpulkan keberanian kalian !!! Kita akan hadapi badai atau apa pun didepan kita !!!" ucap Decken penuh semangat.

"Baik Kapten !!!" ucap awak kapal serempak.

Setelah berkata seperti itu,awan gelap mulai terlihat bergerak dari utara.Tapi mereka tidak terlalu memperdulikannya.

"Baiklah semuanya kembali ke tempat masing-masing." ucap Decken.
.
.
.
.
.
.
"Padahal aku hanya ingin memperingatkannya." ucap Gerrit dengan wajah cemas.

"Sudah Gerrit,kapten orang yang keras.Semoga badai itu tidak benar-benar terjadi,jangan terlalu dipikirkan.Percaya pada kaptenmu." ucap Herold.

"Aku harap juga begitu Herold." ucap Gerrit.

"Sudah,kalian makan lah dulu.Jangan terlalu dipikirkan masalah badai itu." ucap Koenraad.

"Yah itu bukan ide buruk." ucap Gerrit melangkah menuju dapur.
.
.
.
.
.
Menjelang sore hari,awan hitam terus bergerak menuju arah Tanjung Harapan.Angin kencang mulai berhembus menerpa kapal.

Sementara itu didalam ruangan,Decken menatap bunga tulip merah pemberian Belinda."Sudah hampir setengah perjalanan Belinda." gumam Decken.

Tapi tiba-tiba terdengar teriakan dari arah luar.

"Decken,cepat keluar.Ini gawat !!!" ucap Koenraad.

"Ada apa Koenraad ?,kenapa berteriak seperti itu ?" ucap Decken sambil menuju luar ruangan.

"Lihat didepan sana ada badai !,sebaiknya kita arahkan kapal menjauh dari badai." ucap Koenraad,terlihat awak kapal yang mulai panik.

"Tidak bisa Koenraad,aku akan terus maju." ucap Decken penuh percaya diri.

"Jangan gila,kapal ini tidak akan bisa bertahan !" ucap Koenraad dengan nada tinggi.


"Aku Ramhout Van der Decken bersumpah tidak akan mundur dan akan terus menembus badai untuk mencapai kota tujuanku,atau aku dan semua awak kapalku akan terkutuk selamanya." ucap Decken penuh percaya diri.

"JEDDDAAARRR !!!" suara petir menyambar setelah Decken berucap.Hujan deras mulai mengguyur,sementara angin kencang mulai menerpa kapal,membuat kapal oleng.

"Selamatkan diri kalian !,lari !!!" ucap Herold.

Awak kapal yang panik,mulai berlarian diatas geladak kapal.Panik dan takut mereka rasakan.

Sementara ombak besar mulai menghantam kapal,membuat lambung kapal bocor.Dan air mulai masuk ke dalam.

"Ayo pergi !,lambung kapal kita sudah bocor." ucap seseorang berlari menuju ke bagian atas kapal.

"Kapten Decken,ayo pergi !.Kapal ini tak akan mampu bertahan." ucap Gerrit panik.

Sementara Decken hanya terduduk diam menatap badai,dia mengeluarkan bunga tulip merah dan terus menatapnya.Sementara kapal mulai oleng,karena terpaan ombak dan angin.

"Aaargghhh !" ucap beberapa awak kapal terjatuh,terkena ombak dari sisi kiri kapal.

"Lari...lari !,Arrrgghhhh !" Herold hampir terjatuh.Dia berpegangan pada bagian pinggir kapal.

"Herold !,bertahanlah.Pegang tanganku !" Gerrit mencekram tangan temannya dengan kuat.

"Aku sudah tidak bisa bertahan,lepaskan peganganmu Gerrit !.Selamatkan dirimu !" ucap Herold.

"Jangan bodoh,aku tak akan melepaskannya !" ucap Gerrit.

Tapi ombak datang dari sisi kanan kapal dan menyeret mereka ke laut.

"AAARRRGGGHHH!!!" ucap mereka yang terjatuh ke laut.

"Herold,Gerrit !.Sial,hah...hah.Semuanya hah...hah." ucap Koenraad menatap ke arah teman dan awak kapalnya yang terjatuh.

"Koenraad,Decken ayo lari !" ucap seorang awak kapal sambil membantu Koenraad berdiri.

"Waaaaa !!!",tiba-tiba awak kapal tadi terpleset dan terjatuh ke laut karena kapal yang semakin miring.

Kapal kini terombang-ambing dilautan,membuat mereka sulit untuk berdiri menjaga keseimbangan tubuh.Karena kapal yang terus bergerak,sementara ombak menghantam dari sisi kiri dan kanan.

Sementara yang lainnya berdesak-desakan dipinggir geladak kapal,mereka ingin melompat ke laut,karena posisi kapal yang sudah rusak parah.
Sebelum mereka melompat ke laut,terpaan ombak sudah lebih dulu menghantam membuat kapal oleng dan menjatuhkan mereka semua.

"Aaaarrggghhh !!!" ucap mereka yang terjatuh ke laut.
"Tolong...Tolong !!! Waaaaa !!!".BLESSS...,ombak menghantam dan menyeret mereka jauh ke dasar laut.

Tidak ada yang akan menolong mereka ditengah lautan badai ini.

Decken terdiam teringat bayangan orang-orang yang disayangi,tapi seseorang menariknya pergi.Sementara kapal sudah miring,hampir tenggelam.

"Semuanya,maafkan aku !" ucap Decken sambil berteriak.

"Decken,pegang erat tanganku.Arrgghh !" ucap Koenraad yang terjatuh,sementara kapal sudah oleng ke kanan,hampir tenggelam.

"Arrrggghh,tidak bisa menggapainya.Hah...hah,waaaaa." teriak Decken sedang berpegang pada sebuah tali.Sementara tangan yang satunya coba menggapai tangan Koenraad.

Kondisi kapal ini sudah rusak parah,menunggu untuk tenggelam.

"BRRRAAKKK !!!" ombak besar akhirnya menghantam kapal dari depan.Kapal pun akhirnya mulai terbalik dan tenggelam,tak kuasa melawan kekuatan alam.Seluruh awak kapal tenggelam dalam badai ini,harapan dan impian Decken harus berakhir,saat ia menuju Tanjung Harapan.
.
.
.
.
.
Sementara dirumah Decken,buku hitam miliknya terjatuh dari rak buku.Dan terbuka tepat dihalaman tengah,dimana terdapat namanya dibawah mantra pemanggil.

Kemudian perlahan nama Decken yang tertulis dibuku itu,tiba-tiba terhapus.

Bocah Redoks
2017-01-16 15:33:44
coba yg berlayar itu sunny go. tinggal pake coup de burst mah badainya langsung lewat
MiKaZuKi 92 LoLLiPoP
2017-01-13 15:42:54
Tiba-tiba datang lah bajak laut Topi Jerami. ........
FandyZero
2017-01-06 22:02:29
Decken akan mati, berapakah kecepatan kapal itu?
Ludfy N
2017-01-06 05:40:53
Kaptn yg keras kepala!
happyreadin9
2017-01-05 12:57:52
owh jdi itu yg menybbkn jd kpl hntu
Zunuya Rajaf
2017-01-05 10:59:03
dgn begini kutukannya,.dimulai. sebuah kpal hantu
Snow Blue
2017-01-05 04:30:36
Ditunggu lanjutannya...
Rudy Wowor
2017-01-05 01:48:46
Apakah Tamat?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook