VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Flying Dutchman Chapter 3: Berangkat Berlayar

2017-01-01 - Ghost Rider
46 views | 6 komentar | nilai: 9.5 (2 user)

The Flying Dutchman Chapter 3: Berangkat Berlayar
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian setelah kejadian digeladak kapal,Van der Decken disibukkan dengan berbagai persiapan untuk pelayarannya.Saat ini dia sedang berada dipelabuhan,dia akan dikenalkan pada awak kapalnya nanti.

Tampak tiga orang sedang duduk santai,mereka merupakan bagian awak kapal Decken.

"Beruntungnya kita bisa ikut dalam pelayaran ini." ucap seseorang yang memakai topi,ia adalah Gerrit Laurens.

"Benar,sebelumnya aku belum pernah berlayar menuju daerah yang jauh.Bukankah Decken itu teman dekatmu ?" ucap seseorang dengan jenggot dan kumis tebal,ia adalah Herold Issac.

"Ya,kami dulu sering berlayar bersama.Dia juga sudah berpengalaman dalam pelayaran,aku rasa ia memang cocok jadi kapten kapal." ucap seseorang dengan rambut pirang,Koenraad Dwight,teman dekat Decken.

Obrolan mereka terhenti,saat ada yang memberi aba-aba."Semuanya berdiri,ambil posisi,bentuk barisan !" ucap seseorang.Kemudian mereka langsung berdiri,mengatur posisi membentuk barisan.
.
.
.
.
.
"Salam sejahtera semuanya,aku Piter Spechx mewakili VOC.Mengucapkan terimakasih atas keikutsertaan kalian dalam pelayaran ini.Akan aku kenalkan,kapten kapal nanti,ia adalah Ramhout Van der Decken." ucap Pieter.

"Salam kenal semuanya,aku mohon kerja samanya dalam pelayaran nanti." ucap Decken.

"Besok,kalian akan berlayar.Seratus duapuluh lima orang akan tinggal di Nederlandsch-Indie,sementara duapuluh lima orang akan kembali ke Amsterdam membawa muatan.Apa kalian sudah siap berlayar ?" ucap Pieter.

"Siap,meneer !" ucap mereka dengan lantang.

"Baiklah kalian boleh kembali,besok kalian berkumpul lagi ditempat ini." ucap Pieter.

Mereka akhirnya membubarkan diri,untuk mempersiapkan semuanya.

"Koenraad tunggu !" ucap Decken.

"Ya,ada apa ?" jawab Koenraad sambil menoleh.

"Aku mohon bantuan,dengan kemampuanmu dalam hal navigasi, untuk pelayaran nanti.Kau juga salah seorang yang berpengalaman dilaut." ucap Decken.

"Siap kapten,aku akan membantumu nanti.Kau memotong rambut panjangmu ya ?,sekarang terlihat lebih rapi." ucap Koenraad dengan posisi hormat.

"Ya begitulah,sudah lama aku memotongnya.Tidak usah panggil kapten,panggil Decken saja." ucap Decken.

"Ya tapi kau inikan kaptenku sekarang ?" ucap Koenraad menahan tawanya.

"Sudah,aku pergi dulu.Sampai bertemu besok Koenraad." ucap Decken sambil tersenyum.

Sementara Decken pergi menuju perpustakaan di pusat kota,untuk menemui seseorang.
.
.
.
.
.
.
Dia tiba diperpustakaan,kemudian masuk ke dalam.Tampak seseorang dengan jenggot panjang sedang duduk sambil membaca buku.
Pria itu adalah Rikki Roosevelt paman dari Decken,petugas perpustakaan.

"Paman Rikki,apa paman ada waktu sebentar ?.Aku ingin bicara." tanya Decken.

"Tentu saja Decken,duduklah.Sudah selesai ya acara dipelabuhan tadi ?" ucap Rikki sambil menolehkan kepalanya.

"Sudah paman,aku langsung ke sini.Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu,tentang isi buku ini." ucap Decken sambil mengeluarkan buku warna hitam.

"Hmm,buku ini.Apa yang ingin kau tanyakan ?" tanya Rikki.

"Tentang isi buku ini,dituliskan bahwa kalau kita punya keinginan yang sulit diwujudkan.Kita bisa memanggil iblis hitam,untuk mewujudkannya.Apa tulisan ini hanya karangan atau memang benar adanya ?" ucap Decken.

"Buku ini paman dapat dari seorang teman,dia juga pelaut sepertimu.Dulu ia penasaran dengan sosok mahluk tersebut,untuk membuktikan keberadaan mahluk itu.Dia mengucap mantra dalam buku ini,dan sosok itu datang." jawab Rikki sambil membuka buku hitam itu.

"Apa teman paman juga melakukan perjanjian dengan sosok itu ?" tanya Decken.

"Tidak,dia hanya memanggilnya,karena rasa penasarannya.Dia tidak minta apa pun,tapi sosok itu bisa membaca isi pikiran teman paman.Dia ditawarkan untuk membuat kontrak,tapi teman paman menolak.Jika kita membuat kontrak,tapi tidak bisa memberi seratus jiwa.Maka jiwa kita yang jadi gantinya." ucap Rikki dengan nada serius.

"Begitu ya ?,jadi sosok itu memang ada.Apa ada lagi cerita lain paman ?" tanya Decken,dia teringat beberapa hari lalu saat memanggil sosok itu.

"Benar,kenapa kau begitu tertarik dengan isi buku ini Decken ?.Biasanya kau tidak suka cerita seperti ini.Ohh ya dan satu lagi,orang yang melakukan kontrak,namanya akan tertulis dibawah mantra pemanggil itu.Begitu menurut teman paman." ucap Rikki sambil tersenyum dan menutup buku hitam itu.

Degg,Decken kaget dengan cerita pamannya.Tapi ia berusaha tetap tenang.

"Kebetulan aku membaca buku ini kemarin malam, paman.Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku." ucap Decken.

"Begitu ya,sebaiknya kau tidak usah ikut membuktikan seperti teman paman.Bukannya mau menakuti,mahluk itu bisa mempengaruhi kita agar mau melakukan kontrak dengannya." ucap Rikki.

"Baiklah,aku mengerti.Aku pergi dulu paman,terimakasih untuk waktunya." ucap Decken sambil berdiri dan membawa bukunya.

"Baiklah,hati-hati Decken" ucap Rikki.

Decken keluar perpustakaan,"Huh utung saja Paman Rikki tidak membuka bagian tengah buku." gumam Decken.

"Disitu tertulis jelas namaku,mungkin karena perjanjian kemarin.Sial,aku tidak bisa membatalkannya,akan aku hadapi apa pun resikonya." ucap Decken.

Skip
.
.
.
.
.
.
.
Sore hari Decken menuju jembatan di kanal Herengracht untuk bertemu Belinda,sebelum dia berangkat berlayar.

"Belinda,besok aku akan pergi berlayar." ucap Decken.

"Cepat sekali sinyo,rasanya aku ingin besok kau masih disini.Maaf besok aku tidak bisa mengantarmu ke pelabuhan." ucap Belinda dengan raut wajah sedih.

"Tidak apa-apa noni,pekerjaanmu lebih penting.Aku akan kembali Belinda,jangan bersedih." ucap Decken sambil tersenyum

"Sebelum berlayar,temani aku menyusuri kanal ini." ucap Belinda sambil bersender dilengan Decken.

"Maaf bukan maksudku membuatmu bersedih,ini adalah pelayaran terakhirku." ucap Decken sambil mengelus kepala Belinda.

"Berjanjilah ini yang terakhir ? " ucap Belinda sambil menatap Decken.

"Baiklah,aku berjanji ini yang terakhir kalinya.Setelah ini aku akan berhenti." ucap Decken sambil menyentuh wajah Belinda.

Belinda mencubit lengan Decken,sampai ia meringis kesakitan.

"Awww hentikan,yang ini lebih sakit dari biasanya." ucap Decken.

"Biarkan saja,anggap saja itu cubitan perpisahan." ucap Belinda sambil tersenyum.

"Baiklah,ayo kita naik perahu.Sebelum malam." ucap Decken sambil meringis menahan cubitan Belinda.

Mereka menghabiskan sore ini bersama diiringi canda tawa,tenggelamnya matahari diufuk barat menemani kebersamaan mereka hari ini.Beberapa minggu ini mereka selalu berada dikanal ini,untuk menghabiskan waktu berdua.Karena sebentar lagi,mereka akan berpisah sementara.
.
.
.
.
.
.
.
.
Skip

Matahari mulai menyinari kota Amsterdam,diawal Desember 1679.Decken sedang berada dirumahnya,menyantap masakan bibinya.

"Paman Rikki,Bibi Annemie.Aku sudah selesai.Aku pamit pergi dulu." ucap Decken.

"Ya biarkan pamanmu mengantarmu nanti,bibi tidak bisa ikut mengantar." ucap Bibi Annemie.

"Tidak masalah Bibi Annemie,ayo paman kita berangkat." ajak Decken.

"Baiklah tidak ada yang tertinggal kan ?,aku pergi dulu Annemie." ucap Rikki.

"Baik,hati-hati kalian.Decken jaga dirimu dan awak kapalmu." ucap Bibi Annemie.

Mereka berpelukan sebentar,Annemie berat melepas Decken.Dia manganggap Decken seperti anaknya sendiri,setelah orang tua Decken meninggal,mereka merawatnya.Kini Annemie hanya tinggal berdua dengan Rikki,anak perempuan mereka sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.

Sementara itu dipelabuhan,beberapa awak kapal sudah berada di atas Het Vliegend Schip.

"Kapten Van der Decken,sebentar lagi kapal berangkat.Berhati-hatilah dalam pelayaran." ucap Pieter.

"Baik meneer,saya akan melakukan yang terbaik untuk pelayaran kali ini." ucap Decken.

"Sampaikan salamku pada Kapten Joan Rener bila kamu sudah sampai di Batavia sinyo." ucap Henrik sambil menepuk bahu Decken.

"Baik sinyo,pasti akan saya sampaikan.Paman aku berangkat dulu,sampaikan salamku pada Fanny (Anak dari Rikki dan Annemie).Aku belum sempat pamit." ucap Decken.

"Baiklah,akan aku sampaikan.Doa kami menyertaimu Decken." ucap Pamannya.
.
.
.
.
.
.
Semuanya sudah berada dikapal,mereka siap berlayar menuju Nederlandsch-Indie.

"Semuanya beri penghormatan !" ucap Henrik,tampak semua mengangkat tangan untuk memberi hormat.

Begitu juga Decken dan seluruh awak kapal Het Vliegend Schip memberi hormat.

"Selamat berlayar prajurit !" ucap Pieter.

"Siap meneer !" kata mereka serempak.

Kemudian kapal ini terus melaju ke depan,meninggalkan kota Amsterdam,dengan kecepatan penuh.
Sampai tidak terlihat lagi dari pandangan mata.

Bocah Redoks
2017-01-16 15:22:42
sayangnya decken sudah membuat kontrak. gak bisa d batalkan lagi
Ludfy N
2017-01-06 00:12:35
Slam perpisahan yg tdk trlalu mnyedhkan!
botol bekas
2017-01-02 02:53:30
loh, bukunya kok ga diambil pamannya?
ThE LaSt EnD
2017-01-01 21:59:17
sepertinya orang yg memanggil iblis itu sbelumnya, Selamat.
FZ Bullet
2017-01-01 17:17:13
Menarik. Aku suka cerita seperti ini. Nice story, next...
Rudy Wowor
2017-01-01 11:11:59
Membuat kontrak dengan iblis. Menarik.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook