VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
The Flying Dutchman Chapter 2: Perjanjian Dengan Iblis

2016-12-30 - Ghost Rider
48 views | 7 komentar | nilai: 10 (2 user)

~Perjanjian Dengan Iblis~
.
.
.
.
.
.
.
.
Decken sampai disebuah restoran yang terkenal dikota Amsterdam,walaupun tidak begitu besar.Tapi restoran ini punya masakan yang enak,serta pegawainya yang semua perempuan,jadi daya tarik sendiri.Restoran ini bernama De Vrouw Wigburg (Wanita Muda),rata-rata pegawai restoran adalah wanita berusia muda.



Decken sedang menikmati makanannya,dia gelisah.Karena belum bertemu dengan wanita pujaan hatinya.

Kemudian ada seseorang yang menepuk bahunya,Decken berbalik dan tersenyum.Dia lah wanita yang ditunggu sedari tadi,wanita itu bernama Belinda Wilma.Pelayan restoran yang cantik,dengan rambut kemerahan panjang terurai,bola mata warna biru,bibir tipis dan senyum manisnya.

Setiap pengunjung tidak bisa melepas pandangannya pada Belinda,dia jadi primadona direstoran ini.

Dan pria beruntung yang berhasil mendekatinya adalah Van der Decken,yang juga merupakan kekasih Belinda.

"Hallo sinyo ?,apa kamu sudah lama menunggu ?" tanya Belinda.

"Tidak noni (panggilan untuk wanita belanda),aku baru saja sampai.Duduklah disini." kata Decken sambil tersenyum.

"Baiklah,nikmati makananmu." ucap Belinda sambil duduk disebelah Decken.

"Jadi,bagaimana nanti sore ada waktu untuk bertemu ?.Ada hal penting yang ingin aku katakan." tanya Decken.

"Tentu saja,hal apa itu ?.Kenapa sinyo tidak mengatakannya disini ?" kata Belinda.

"Tidak bisa noni,lebih baik kusimpan untuk nanti sore saja.Kita nanti akan pergi ke kanal Herengracht." ucap Decken sambil tersenyum.

"Sinyo membuatku penasaran saja." ucap Belinda sambil mencubit lengan Decken.

"Awww hentikan Belinda,itu sakit." kata Decken sambil meringis.

Sementara Belinda hanya tertawa melihat Decken yang kesakitan,lalu datanglah Henzie atau biasa dipanggil Bibi Henzie.Usianya sudah 40 tahun lebih,tapi dia masih terlihat seperti wanita umur 30.Dia terlihat masih sehat,kulitnya terlihat masih kencang dan segar.

Pemilik restoran ini,orangnya baik dan ramah kepada pegawai serta pengunjung restorannya.

"Wahh nanti sore ada yang akan menghabiskan waktu berdua." kata Henzie sambil tersenyum.

"Ahh Bibi Henzie,tidak juga." kata Belinda,wajahnya terlihat merah.

"Aku dengar,tadi kalian akan pergi ke kanal Herengracht ?" tanya Henzie yang ikut duduk bersama mereka.

"Benar sekali Bibi Henzie,itu tempat yang indah.Saya ingin mengajak Belinda ke sana." kata Decken.

"Benar itu tempat yang bagus,apalagi ketika menjelang sore hari sinyo." kata Bibi Henzie sambil tersenyum.

"Bibi sudah sering kesana ?,kalau aku baru dua kali ke sana." kata Belinda.

"Ya bisa dibilang begitu noni.Suasananya begitu tenang dan romantis." kata Henzie kembali tersenyum.

"Jadi apakah Bibi Henzie akan ikut bersama kami nanti ?" tanya Decken.

"Tentu saja tidak sinyo,saya tidak ingin mengganggu kencan kalian." ucap Henzie sambil tersenyum.

Mereka kembali melanjutkan obrolan pagi ini,bersama Bibi Henzie.Kadang mereka juga tertawa mendengar candaan dari Bibi Henzie.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu malam hari di Batavia,kereta kuda yang membawa Kapten Joan Rener.Baru saja tiba dirumah Gubernur Jenderal Rijckloff Van Goens.

"Jadi ini rumah Meneer Rijkcloff ?" tanya Joan.

"Benar sekali sinyo,mari saya antar ke dalam." ajak orang itu.

Mereka turun dari kereta kuda dan berjalan menuju rumah tersebut,tampak halamannya begitu luas.

"Bangunan di Batavia mengingatkanku dengan rumah." ucap Joan sambil tersenyum.

"Disini memang dibangun seperti itu,jadi terkesan seperti sedang berada dirumah sendiri." ucap utusan itu.

Terlihat Rijckloff muncul dari dalam rumah,dan langsung menyalami Joan yang berada didepan terasnya.

"Selamat datang Kapten Joan Rener." ucap Rijckloff sambil tersenyum dan bersalaman dengan Joan.

"Terimakasih meneer,suatu kehormatan bisa bertemu anda." ucap Joan.

"Mari kita bicara didalam sinyo,Rudolf kamu boleh kembali.Nanti setelah ini,kamu bersiap mengantar Kapten Joan kembali." ucap Rijckloff ke utusan tadi.

"Baik meneer,saya pergi dulu." ucap Rudolf.
Rudolf pun pergi meninggalkan rumah tersebut,sementara Rijckloff masuk ke dalam rumah bersama Joan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sore hari dikanal Herengracht pusat kota Amsterdam,terlihat dua orang sedang nenyusuri kanal yang membelah kota ini.Karena banyaknya kanal dikota ini,Amsterdam juga mendapatkan julukan 'Venesia dari Utara'.

Matahari yang mulai tenggelam,dan semburat jingga diufuk barat.Menambah keindahan sore ini,Decken dan Belinda menikmati perjalanan dari atas perahu.Tampak bangunan besar berada disisi kiri dan kanan kanal Herengracht,menambah keindahan tempat ini.

Setelah puas menyusuri kanal,mereka berjalan menyusuri jalan pinggiran kanal menuju jembatan kecil diatas kanal Herengracht.
Mereka berdiri bersebelahan menghadap ke barat,ke arah matahari yang akan tenggelam.

"Belinda ada hal penting yang ingin aku katakan.Beberapa minggu lagi,aku akan pergi berlayar menuju Nederlandsch-Indie." kata Decken.

"Berlayar sampai berapa lama ?.Bukankah sinyo berjanji untuk berhenti berlayar,kemudian akan menikahiku." ucap Belinda sambil mengerutkan dahinya.

"Mungkin sampai setahun ke depan,aku tidak akan kembali ke Amsterdam.Tapi saat aku ingin berhenti,Meneer Pieter menunjukku sebagai kapten kapal." kata Decken.

"Satu tahun ?,itu sangat lama sinyo.Aku pasti merindukanmu,kenapa kamu menerima tawaran itu ?" tanya Belinda,kesedihan tergambar diwajah cantiknya.

"Aku tidak bisa menolak,ini pelayaran pertamaku sebagai kapten.Biasanya aku hanya menjadi awak kapal,ini kesempatan pertama dan terakhirku.Setelah pelayaran ini selesai,aku akan berhenti dan berjanji akan menikahimu." kata Decken.

Belinda begitu berat melepas orang yang dicintainya pergi,tapi ia tak bisa menghalanginya.Belinda bersender dibahu Decken,dan mengeluarkan bunga tulip warna merah dari tasnya.

"Kalau begitu sinyo,bawalah bunga tulip ini bersamamu.Bunga ini simbol kekuatan cinta kita." ucap Belinda sambil tersenyum.

"Baiklah noni,aku berjanji untuk kembali.Setelah itu kita bisa hidup bersama,jangan kamu bersedih lagi noni." kata Decken sambil mengelus kepala Belinda.

Mereka menikmati sore ini dikanal Herengracht,kanal ini menjadi saksi bisu,atas janji yang telah terucap.
SKIP
.
.
.
.
.
.
Setelah mengantar Belinda pulang,malamnya Decken pergi ke tempat galangan kapal.Untuk melihat kapal Het Vliegend Schip,yang sedang diperbaiki untuk pelayaran nanti.

"Jadi itu kapal Het Vliegend Schip yang terkenal,bagus dan cukup besar juga." kata Decken sambil berjalan menyusuri bangunan ini.

"Paman,paman.Aku Van der Decken,datang untuk melihat kapal." kata Decken.

"Ya aku disini sinyo." ucap seseorang,ia adalah Gotthard Narve bertugas membuat dan memperbaiki kapal milik VOC.

"Paman Gotthard,aku ingin melihat bagian kapal ini ?,apa boleh ?" tanya Decken.

"Tentu saja Decken,kau yang akan pergi ke Nederlandsch-Indie ya ?.Maaf aku tidak bisa menemanimu melihat kapal,aku lelah dan ingin melanjutkan tidurku." kata Gotthard sambil menguap.

"Baiklah paman,selamat beristirahat.Maaf mengganggu." kata Decken.
.
.
.
.
.
.
Decken pergi menuju kapal disebelahnya dengan menggunakan lilin sebagai penerangan,setelahh melihat beberapa bagian kapal.Ia duduk digeladak kapal,dan mengeluarkan sebuah buku berwarna hitam bertuliskan ZWART DUIVEL (Iblis Hitam).Buku untuk memanggil iblis,yang didapat Decken dari pamannya.

Decken ingin mencoba memanggilnya,karena ia kurang percaya dengan isi buku ini.Dia membuka buku,tepat dihalaman tengah buku,tertulis mantra pemanggil iblis.Decken mengucapkan mantra itu "Iblis hitam datang temui aku,berikan aku satu permintaan dan akan aku beri kau seratus jiwa".


Sudah lima kali Decken membacanya sesuai petunjuk buku,tapi tidak terjadi apa-apa.

"Buku ini sepertinya membohongiku,tidak terjadi sesuatu disini." ucap Decken.

Tapi tak lama setelah itu,angin berhembus kencang.Lilin yang dibawanya hampir mati,ia menutupi lilin dengan tangan agar apinya tidak mati.Dia melihat sekeliling,angin masih kencang.Saat ia melihat ke depan ada sosok mahluk hitam,bertanduk dua,sorot matanya merah,serta menatap tajam ke arahnya.

"Hay manusia,kau minta apa ?" tanya mahluk itu sambil tersenyum mengerikan,angin kencang tadi mulai menghilang.

"Si...siapa kau ?" kata Decken gemetaran.

"Aku adalah mahluk yang kau panggil,sudah seratus tahun tidak ada manusia yang memanggilku.Gehihahaha." ucapnya sambil tertawa.

"Jadi kau ini iblis hitam ?,aku tidak punya permintaan.Aku hanya mengetes mantra buku ini." kata Decken sedikit merinding.

"Benarkah begitu ?,aku tahu isi pikiranmu manusia,akan aku wujudkan satu keinginanmu.Tapi kau harus memberi seratus jiwa manusia sebagai gantinya,gehihahaha." ucap mahluk itu.

Deg,Decken terkejut dengan ucapan mahluk itu.Sebenarnya ia ingin kapalnya melaju lebih cepat lagi,tapi itu mustahil dilakukan dengan bantuan dari Paman Gotthard.Walaupun kapal ini sudah lumayan cepat,tapi kecepatannya belum cukup untuk menyingkat waktu perjalanannya.Tapi dengan iblis didepannya,dia bisa membuat kapal ini lebih cepat lagi.

Agar ia bisa sampai tujuan,dan kembali ke Amsterdam untuk menepati janjinya dengan Belinda.Decken sendiri juga tidak bisa menunggu selama itu,untuk bertemu Belinda.



Akhirnya dia memutuskan meminta kekuatan iblis itu.

"Kalau kau memang bisa,beri kekuatan kapal ini.Agar jadi kapal tercepat didunia,bagaimana ?" tanya Decken agak gemetar.

"Gehihahaha,itu mudah.Akhirnya kau mengatakannya juga,tapi apa kau sanggup memberiku seratus jiwa manusia ?" tanya Iblis.

"Akan aku berikan,setelah sampai kota tujuanku.Bagaimana ?" ucap Decken.Bibirnya bergetar,rasa takut menghampirinya.

"Siapa namamu ?,lihat lah akan aku beri kekuatan pada kapal ini." tanya Iblis sambil menempelkan tangannya ke lantai kapal.

Dari tangannya keluar cahaya redup kekuningan,dan mulai menyebar menyelimuti kapal.


"Namaku Ramhout Van der Decken,cahaya apa itu ?" ucap Decken sedikit gemetar.

"Inilah kekuatanku,cahaya ini akan melapisi kapalmu.Membuatnya lebih cepat dari kapal lain.Cahaya ini tidak bisa dilihat mata biasa,hanya kau yang mampu melihatnya." ucap Iblis,terlihat cahaya redup melapisi seluruh bagian kapal ini.

Decken hanya terdiam melihat semua itu,sebenarnya dia hanya ingin membuktikan tulisan buku itu.Tapi dia tergoda untuk membuat perjanjian,dan dia tidak bisa mambatalkannya,kontrak sudah dibuat.

"Ramhout Van der Decken akan ku ingat nama ini,aku sudah penuhi permintaanmu.Gehihahaha,aku akan kembali saat tujuanmu tercapai." Angin kencang kembali datang disekeliling kapal,kemudian iblis itu menghilang.


"Seratus jiwa Van der Decken,seratus jiwa.Gehihahaha." suara meyeramkan diiringi tawa menggelegar kembali terdengar,membuat Decken takut.

Tepat dibawah tulisan mantra pemanggil tadi,tertulis nama Ramhout Van der Decken.

Buku yang terbuka,tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.Decken yang terkejut dan takut,lalu pergi meninggalkan kapal itu,untuk pulang ke rumah.

Bocah Redoks
2017-01-16 15:14:11
kekuatan dari rasa penasaran. mengerikan
MiKaZuKi 92 LoLLiPoP
2017-01-07 14:16:43
Belinda Wilma.Pelayan restoran yang cantik,dengan rambut kemerahan panjang terurai,bola mata warna biru,bibir tipis dan senyum manis, gigi berlapis, serta berkumis.
Ludfy N
2017-01-05 23:59:32
Iblis hnya mw manfaatkn dia aj!
Zunuya Rajaf
2016-12-31 19:48:06
perjanjian dgn iblis akn brakhr kmatian.
Dalreba
2016-12-31 18:27:52
Ini karangan atau copas?
botol bekas
2016-12-31 03:58:57
nah, buku itu dipake jg ga oleh pamannya?
Shark
2016-12-30 22:59:16
Lanjut ...
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook