VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Another Stories : Taste of Bittersweet 1

2016-12-27 - Red Choco
29 views | 4 komentar | nilai: 10 (1 user)

Arc. 1 : When an Angel Falls
.

.

.

When an Angel Falls I

.

.

.

Arga sebenarnya cukup yakin jika seorang malaikat tak dianugrahi jantung berdetak selayaknya manusia.

Lalu perasaan apa itu tadi? Seakan-akan seluruh cahayanya terserap habis dan ia hanya tinggal kekosongan semata. Kosong, hampa, tapi memilukan sekali.

Sesuatu menyentak dadanya sedemikian keras hingga ia bertanya-tanya seperti itukah rasanya jantung manusia yang sedang berdebar?

Namun, di saat itu intelejensinya pupus seperti butiran pasir tertiup angin. Ketika gadis itu terperangkap dalam indera penglihatannya, masih sama seperti ketika ia memutuskan untuk kembali ke Naungan. Namun dengan keadaan yang jauh -jauh- lebih menyedihkan.

Karena seorang bocah manusia berambut tembaga gelap itu memang tidur meringkuk dengan posisi sama seperti ketika Arga meninggalkannya, namun kini merah menodai kulit sepucat kertas miliknya, merembes di kasur usang tempatnya berbaring, membasahi sebagian pakaian yg dikenakannya.

Arga kehilangan kata-kata. Hingga ia luput menyadari bahwa ada sosok lain di ruangan yang tak lebih lebar dari seonggok gubuk reyot itu.

''Jadi kau, Penjaganya.'' sepasang iris kelam setajam obsidian memaku lurus padanya. ''Heh.''

''Siapa.... '' Arga tertegun tak mampu menyelesaikan kalimatnya ketika sepasang sayap hitam pekat berkilau layaknya pantulan kaca dalam gelap, mengibaskan bias sinar rembulan di permukaan bulu-bulunya yang lebih halus dari sutera.

''Masih berani bertanya, Pecundang?'' nada sedingin es mengandung cemooh. ''Kau yang gagal dalam tugasmu, tak layak disebut Penjaga. Apalagi Malaikat.''

Sebilah pedang sewarna arang mengkilap menunjuk ketajaman asahannya. Tertuju lurus menyentuh kening rapuh sang manusia.

''Dia, tak lagi berada dalam Penjagaanmu.''

Pedang itu terayun dan Arga merasa gelap menenggelamkannya.

.

.

Arga tidak berpikir. Tidak. Tentu saja. Ia berani bersumpah bahwa tubuhnya (seandainya ia bisa menyebutnya begitu) bergerak sendiri tanpa perintah pusat pemikirannya. Jika tidak begitu, bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal seperti ini?

Bagaimana mungkin ia menahan Sabit Kematian seorang Malaikat Kematian?! Demi anak anjing berkepala tiga yang menjaga gerbang neraka!

Arga menggenggam bilah tajam senjata suci itu seperti menggenggam galah. Ia tak terluka, tentu. Sabit Kematian disebut 'Sabit Kematian' karena benda itu membawa kematian. Dengan kata lain, Sabit Kematian tak berpengaruh terhadap malaikat karena malaikat tak terpengaruh oleh kematian.

Lagipula, kenapa senjata suci disebut Sabit Kematian padahal bentuk mereka jelas-jelas bukanlah Sabit? Senjata yang ia genggam ini memiliki bilah panjang, lurus ,sewarna arang. Jelas, dalam bahasa manusia disebut pedang. Atau katana. Atau sword. Jadi kenapa para Malaikat Kematian menyebutnya Sabit? Bukankah sabit itu yang bentuknya melengkung dan untuk memotong rumput?

Diam-diam, Arga mencemooh betapa tidak kreatifnya para pendahulu dalam memberi nama.

''lepaskan.''

Intonasi datar itu sedingin gletser. Arga merasa tengkuknya meremang ketika obsidian beku itu tertuju lurus padanya. Ia merutuk dalam kepalanya. Bagaimana mungkin ia melupakan masalah pokok yang jelas-jelas jauh, JAUH, lebih besar daripada memikirkan nama konyol senjata suci seorang Malaikat Kematian yang sedang digenggamnya saat ini? Ia melepas genggaman pada senjata Sang Pemutus di depannya. Diam-diam menelan ludah.

Apa ia sudah bilang bahwa ada kabar angin tentang hubungan para Malaikat Penjaga dan Malaikat Pemutus yang tidak terlalu 'harmonis'? Belum? Oh, Arga baru saja ingin membenarkan kabar angin itu secara sepihak. Malaikat di depannya keliatannya tidak terlalu ramah.

Sang Pemutus masih memandangnya dengan tatapan menyelidik sementara Arga mengalihkan pandangannya salah tingkah. Dengan canggung menatap sang manusia yang nyawanya hampir terputus yang menjadi asal muasal keadaan awkward saat ini.

Oh iya! Ini semua karena manusia itu!

Gadis itu masih meringkuk tak bergerak. Hampir terlihat tanpa napas.

'Dia belum mati.' Arga mengerutkan kening ketika perasaan lega tiba-tiba mengalir dalam dirinya. 'Gadis itu belum mati.'

''Kau adalah Penjaga gagal. Atas dasar apa pecundang sepertimu menghentikan ayunan senjata suciku?''

Iya. Atas dasar apa? Arga juga ingin tahu.

Bukankah jika ia biarkan saja, maka pekerjaan membosankan ini akan berakhir? Mungkin dengan setahun dua tahun omelan Sam padanya. Tapi bagaimanapun juga, seorang Pemula sepertinya pasti akan mendapat permakluman kan?

Jadi, kenapa ia menghentikannya? Dan kenapa... Ia merasa lega?

''Karena aku adalah seorang Penjaga.'' Arga mengangkat wajahnya, menatap lurus obsidian gelap di depannya. ''Seorang Penjaga bersumpah untuk menjaga Jiwa yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan taruhan segalanya.''

Ya. Karna Arga adalah seorang Penjaga.

Begitu, kan?

.

.

.

#Tbc

.

.

Pojok author~
Oke, sip. Dua chapter dalam semalem :3 baik kan gw~ /GA/

Yeps, thanks for reading!

Rudy Wowor
2016-12-28 08:02:57
"JAUH" apakah emang disengaja nulisnya gitu?
LaZiEsT SiLeNt DiZzY
2016-12-28 01:26:43
judul yg mirip. . sisi lain dari malaikat penjaga. mempunyai sisi manusia.
Mutia 4Ra
2016-12-27 23:40:42
moga lnjutnnya cpat
Sunrise
2016-12-27 23:12:29
Tulis non-stop dari bagian pertama?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook