VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Pembalasan Dendam

2016-12-30 - Sakata Hana
51 views | 9 komentar | nilai: 8 (1 user)

Pembalasan Dendam

"Hei, apa yang coba kau lakukan?" lelaki berusia tiga puluhan berdiri kepayahan. Tubuhnya perih oleh luka dan sayatan. Sasaki, begitu nama marganya. Teroris yang sudah banyak merepotkan intelijen negara.

"Tentu saja ... membalaskan dendamku, semua yang telah kau lakukan ... harus kau bayar dengan nyawamu!" Pemuda yang baru lulus SMA, salah satu andalan militer negara. Meski kondisinya sama parahnya, pendar di mata pemuda itu tidak sirna. Dia biasa dipanggil dengan kode nama 'Gin'.

"Apa kau membawa bom bersamamu?" Gin melontar tanya, tangan kanan terangkat mengacungkan senjata.

"Kau pikir aku akan dengan mudah menjawabnya?" Sasaki menjawab, pistolnya siap sedia.

Keduanya saling tatap dalam diam, seolah menghitung dalam hati kapan peluru akan ditembakkan. Sama-sama berpikir bagian tubuh mana yang jika tertembus timah panas dapat mengakhiri pertarungan.

Hujan turun dengan derasnya di luar. Gedung tua tanpa penerangan yang kini menjadi lokasi pertarungan mereka tak lagi utuh. Ratusan lubang baru di beberapa bagian dinding menjadi bukti seberapa sengitnya kedua orang itu beradu.

Dimulai dari 60 menit lalu, dimana Gin yang menyamar sebagai penduduk biasa duduk di teras gedung tersebut, bersikap seolah sedang berteduh dari hujan.

Lalu Sasaki yang memang bermarkas di ruang bawah tanah gedung datang tanpa curiga pada eksistensi Gin.

Dor! Tembakan pertama dimulai oleh Gin. Sasaki yang sedang membelakanginya memiringkan kepala, peluru tidak jadi bersarang di tengkoraknya.

"Seperti yang kuduga, tidak mungkin membunuh teroris terkuat di negara ini hanya dengan satu tembakan," komentar pemuda itu.

Gin hanya tersenyum tipis saat muncul puluhan orang berseragam anti peluru menghadangnya. Menyimpan pistol, Gin beralih mencabut pedang di pinggangnya.

30 menit, Gin perlu waktu selama itu untuk menghabisi para keroco yang menghalangi langkahnya. Sesuai pemberitahuan dari sang teroris di internet, bahwa dia akan meledakkan Jepang pada jam sekian, dan jam sekian itu tidak sampai satu jam dari sekarang.

"Apa-apaan militer negara ini? Mengutus anak sekolah sepertimu untuk menghadapiku. Apa mereka terlalu takut?" Itulah komentar Sasaki saat Gin berhasil menyusulnya ke ruang bawah tanah.

"Apa-apaan anak buahmu itu? Menghadapi 'anak sekolah' sepertiku saja tidak mampu." Gin membalas kalimat Sasaki, memamerkan pedangnya yang berlumuran darah.

Dua orang itu kemudian menggila dalam 20 menit berikutnya. Bom-bom asap dibanting sebagai pengalih perhatian, aroma mesiu pekat memenuhi ruang. Kilatan pedang dan tembakan bertubi-tubi saling bergantian. Ceceran darah membasahi lantai dingin.

Ketika 3 peluru beruntun bersarang di lambung Gin, yang dibalasnya dengan menebas tangan kanan Sasaki lalu dia jatuh terduduk.

10 menit kemudian mereka habiskan untuk menahan rasa sakit. Keduanya tersandar tak berdaya di dinding-dinding yang saling berhadapan. Gin menyumbat darah yang terus mengalir dari perut dengan telapak tangan, dan Sasaki sendiri meringis melihat potongan tangannya tergeletak di lantai dengan lengan atas masih mengucurkan cairan merah.

Dan kembali ke masa sekarang, dimana Gin dan Sasaki saling menodongkan pistol tanpa ada aba-aba kapan bunyi tembakan akan mengangkasa.

"Hujan ... seperti 10 tahun yang lalu ya?" Sasaki menyeringai. Gin menghela napas, tidak membiarkan konsentrasinya kacau hanya dengan kalimat itu, kalimat yang membawanya kembali ke suatu sore ketika dia baru kelas 4 SD.

***
"Hei, sudah hampir malam, ayo akhiri permainan kita," Sasaki masihlah seorang teman bermain bagi bocah 10 tahun itu.

"Baik, sampai jumpa besok!" Gin mengangguk lalu melambaikan tangannya.

"Gin, sebelumnya maukah kau berjanji padaku?"

"Berjanji apa?"

"Jadilah seperti tokoh utama, bagaimanapun dunia memperlakukannya, seorang tokoh utama harus selalu kuat."

Gin mengerjabkan matanya bingung, tapi kemudian dia tersenyum dan mereka saling menautkan jari kelingking.

Keesokan harinya, dibawah kelamnya malam dan guyuran hujan, Gin menyaksikan pembantaian warga desanya.

"Gin," Sasaki menghampiri bocah malang yang menatap kosong pada serakan organ tubuh di jalanan. "Jika kau menjadi tokoh utama, maka aku adalah super villainnya,"

Gin kecil menengadah, memberi tatapan terluka pada orang yang sudah dianggapnya seperti saudara. Kemudian Sasaki berbalik pergi, meninggalkannya sendirian di antara bau anyir mayat yang tercium di setiap jengkal tanah desa itu.

***
"Kau tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Etnis kalian dianggap sampah oleh pemerintah dan kami dipaksa melakukan pembersihan. Tapi ironisnya, sekarang mereka malah mengandalkan keping terakhir sisa-sisa pembersihan itu untuk menyelamatkan negara." Sasaki tertawa kecil.

"Aku tahu, mereka bukan mengandalkanku, tapi mengorbankanku." Gin ikut tersenyum miris. "Jika aku gagal, helikopter mereka akan menembakkan semacam laser untuk menghabisi kita berdua sekaligus dan mengubur selamanya kita dari sejarah."

Dor! Sasaki menembakkan peluru terakhirnya yang ada di pistol. "Lalu kalau kau sudah tahu kenapa masih saja membahayakan nyawamu untuk pemerintahan korup seperti mereka?!" Emosinya memuncak.

Ting! Gin menjadikan pedangnya sebagai tameng, peluru itu melenting.

"Penduduk negeri ini ... bukan cuma orang-orang brengsek, masih ada rakyat biasa yang tak tahu menahu tentang kebusukan pemimpinnya."

Hening, kesunyian tercipta di antara mereka. "Kenapa kau tidak segera menembakku? Lakukan pembalasan dendammu." Sasaki berujar datar.

"Aku sudah tidak punya peluru lagi di pistolku." Gin mengaku, "Sama seperti aku tak punya dendam lagi padamu." Hei, sekarang ini mereka berdua sedang sekarat bukan?

"Gin, kau tahu alasanku ingin menghancurkan negara ini?" pemuda di hadapannya tidak menjawab, hanya menatap sayu dengan lelah. "Untuk membalaskan dendamku yang terpaksa harus membutakan nurani dengan membunuh keluarga temanku yang kusayangi. Gin, mereka menyandera adik perempuanku dan mengancam akan membunuhnya jika aku menolak. Yuuko adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki."

"Aah," Gin mendesah, "Aku mengerti, situasi yang sulit."

"Serahkan remot pemicu bom yang akan kau ledakkan 5 menit lagi. Helikopter sudah bersiap di atas sana," pinta Gin.

"Hei, pernah dengar antagonis yang di tengah cerita tiba-tiba berpihak pada protagonis utama?" cetus Sasaki. "Ayo bekerja sama menumpas musuh kita yang sebenarnya, lagipula sebentar lagi kita akan mati."

Gin tanpa ragu menganggukkan kepala. Pelurunya mungkin sudah habis namun dia masih punya senjata lain di balik seragamnya. Sasaki menghempaskan remot bom yang dari tadi dia sembunyikan dan beralih dengan peledak lain, peledak dengan mekanisme kerja berbeda namun tak kalah dahsyatnya.

5 menit berlanjut dengan kerja sama antara kriminal paling dicari dan tentara terbaik Jepang, membajak helikopter kepolisian dan langsung mengambil alih stasiun televisi nasional. Mengumumkan kepada seluruh media segala rahasia busuk negara. Tentang pembersihan suatu marga sepuluh tahun lalu dengan dalih menuduh mereka sebagai pemberontak, tentang intimidasi dan sebagainya.

"Cukup sampai disini!" sepasukan tentara dengan senjata lengkap menghujani Sasaki dan Gin dengan tembakan. Keduanya terjatuh, merasakan dinginnya lantai yang berubah hangat dengan genangan darah. Entah siapa yang pahlawan dan di antara mereka. Gin tersenyum, dia mungkin akan mati tapi seluruhnya sudah terbongkar, bagaimanapun kelanjutannya dia sudah tak peduli.

Sasaki sendiri merasa begitu lega. Dia lelah menanggung rasa bersalah selama ini. Dibayangi tatapan kosong Gin setiap memejamkan mata, kini adiknya sudah dilindungi lelaki lain, dia tak punya beban lagi.

Selesai, semuanya sudah selesai. Begitu juga dengan cerita ini yang berakhir sampai disini.


Eiichiro Maruo
2017-01-21 22:01:36
Aku bakalan puas baca cerita ini jika lebih panjang
Bocah Redoks
2017-01-15 20:13:37
seperti gambaran keadaan negara kita saat ini. di mana org org terbaik hanya menjadi bidak
Syieirlysta
2017-01-02 09:23:55
Bagus ceritanya... #maaf komennya gak memuaskan
Ghost Rider
2016-12-31 21:58:43
dendam bikin buta hati dan pikiran
Grim Reaper
2016-12-31 15:53:42
Ikut baca
Zunuya Rajaf
2016-12-30 18:09:53
kebenaran yg trungkap stlah skian lama trsimpan dendam tman lama. tapi sgala sdah trlambat krena ajal memanggil mreka. stidaknya rasa brsalah itu tlah hilang..
Rudy Wowor
2016-12-30 11:47:45
Kirain bomnya bakal meledak?
Cloud Xiicorss
2016-12-30 10:56:58
Gk ada lnjutanya kah
Aerilyn Shilaexs
2016-12-30 10:27:19
bagusnya pake adegan bukan cuma narasi, cerita ini bakal lebih panjang.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook