VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Like Halaman Baru KOPBI, Official Komik One Piece Bahasa Indonesia, selain itu palsu :D
Trigger - Shoot 4 : Calm in Thunder

2016-12-27 - Fanny Hikari
39 views | 6 komentar | nilai: 9 (1 user)

Genre : Action - Tragedy

Summary : Atas nama dendam masa lalu, seorang anak sebatang kara menggenggam pelatuk kebencian untuk melanjutkan hidup. Ketika kenyataan tersingkap di depan matanya, masihkah ia mempertahankan alasan yang sama untuk tetap berpijak bumi?

.

.

Degh!

Alex mengerutkan kening. Darahnya berdesir seirama jantung yang memompa lebih kuat. Fokusnya memusat. Ia bisa merasakan timah panas di balik selongsong peluru membidik jantung.

Degh! Degh!

Sensasi dingin di tengkuknya bukan hal yang nyaman. Alex tak merasa takut atau merasa apapun. Sebaliknya, pikirannya setenang danau tanpa riak. Hingga terasa sedikit menakutkan, bahkan bagi dirinya sendiri.

Duabelas orang yang berdiri di depannya adalah orang-orang pilihan Sam. Penembak jitu yang telah membasuh tangan dengan jiwa maupun darah orang lain. Duabelas orang yang akan menyarangkan peluru di tubuhnya.

Wajarkah jika Alex masih bisa merasa setenang ini?

Suara gesekan jari menyentuh pelatuk. Telapak tangan yang mengerat menggenggam gagang senjata api. Gemeretak geraham. Gesekan sol sepatu dengan lantai. Berat senapan yang terangkat menegang. Tarikan telunjuk pada pelatuk. Lalu....

Dor!

Degh!

Peluru itu melesat menyaingi kecepatan suara. Lurus menyasar jantung. Alex terdiam. Terpaku. Hidupnya mungkin kurang dari sedetik lagi.

Hidupnya kurang dari sedetik lagi.

Ia merasa gamang. Pikirannya berkabut namun terasa jernih disaat bersamaan. Peluru yang terlontar merambat seperti adegan slow motion yang biasa di putar di movie action. Alex bisa melihatnya dengan jelas. Hempasan udara maupun desisan tajam timah panas.

Degh! Degh! DEGH!

Jantungnya berdebar sedemikian keras hingga Alex merasa mungkin jantungnya akan pecah sebelum peluru itu mengenainya. Adrenalinnya terpacu. Seluruh syarafnya berdenyut kuat di balik tiap lapisan daging. Gerakannya terhapus sadar. Terkendali insting, Alex tak merasa tubuhnya miliknya lagi.

Kakinya menghentak berputar. Mengelak melindungi jantung. Sepersekian detik peluru itu menyerempet sisi lengan pakaiannya. Mengoyak fabrik itu dengan goresan kentara. Alex mengangkat Dessert Eaglenya setara mata. Menembak satu pembangkang tepat di kepala.

Dor!

Satu tubuh jatuh dengan kepala berlubang.

Alex hanya melirik sekilas dengan sorot dingin serupa paku es. Ia tak berhenti disana. Moncong senapannya memiring. Menyisir dua bawahannya yang tak tunduk. Tertegun. Mata Alex menajam. Sensasi kabut di pikirannya tak jua hilang. Emosinya meletup hingga taraf gunung api siap memuntahkan lahar, namun gesturnya setenang angin sepoi musim semi.

Dor! Dor!

Dua peluru bersarang di masing-masing jantung yang tak beruntung. Dua tubuh roboh tak lagi bergerak. Alex menatapnya dengan sorot tanpa nyawa.

Pandangannya jatuh. Dessert Eagle di genggamannya baru ia kenal tak lebih dari duabelas jam yang lalu. Bukankah ia sudah menyerah? Alex mengira dirinya sudah menyerah.

Seharusnya ia memang sudah menyerah.

Lalu kenapa ia mengangkat senjatanya?

Kenapa ia mengelak ketika peluru membidik jantungnya?

Alex tidak mengerti.

Bocah limabelas tahun itu mengangkat pandangannya. Menatap satu per satu wajah-wajah yang ingin membunuhnya.

Kenapa ia belum menyerah?

Tatapannya terseret kedepan. Rambut pirang lepek oleh darah. Seorang anak seusianya. Tersungkur tak lebih lima meter dari tempatnya berdiri.

Zouki.

Tak akan ada lagi Zouki.

Mata biru sebening kaca. Maupun senyumnya yang sebenderang cahaya. Tak akan ada lagi.

Alex merasa goyah, namun kakinya terpaku. Ia merasa gamang. Merasa dirinya antara ada dan tiada. Pandangannya memaku ujung sol sepatu terpoles darah.

Apa yang membuatnya masih mempertahankan hidupnya?

.

.

.

TBC

Aerilyn Shilaexs
2016-12-30 22:06:58
hm, belum baca cerita sebelumnya.
Gangster V
2016-12-30 05:26:02
Tinggal 9 orang lagi ya
Rudy Wowor
2016-12-28 07:46:11
Antara ada dan tiada kayak lagu aja. Gamang itu apa?
LaZiEsT SiLeNt DiZzY
2016-12-28 01:12:00
bahasa tulis yang menarik. sibuk apa grangan lama tak rilis. Alex belum mati.
Mutia 4Ra
2016-12-27 23:56:03
trmksih sdah lnjutkn crtnya.
Snow Blue
2016-12-27 17:30:30
Lama nggak dilanjut,, btw aku suka penggambaran ceritanya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook