VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Mayat

2016-08-05 - ThE LaSt EnD
588 views | 46 komentar | nilai: 9.37 (19 user)

Gemercik air mengalir memmbasahi dua ujung tubuh kaki dan kepala. Bau wangi semerbak meresap menyelimuti seluruh angota raga. Tapi tubuh itu tak melakukannya sendiri melainkan beberapa tangan dari manusia yang terdekat, memandikan sosok tubuh itu untuk yang terakhir kali.

"Sekarang lihatlah!"

Kau terbujur kaku dibungkus kain kafan diatas dipan, sementara kereta roda manusia siap mengantar kerumah masa depan.

"Liriklah!"

Upacara sakral telah digelar. Beberapa orang berdiri menghadapmu seperti sebuah pesan salam selamat tinggal sebelum pemberangkatanmu. Doa ataupun mantra, kau mungkin tak menyadarinya.

"Tataplah!"

Tatapan puluhan pasang mata antara penuh kebencian dan keibaan menyambut keberangkatanmu menuju tempat tinggal barumu.

Senyuman hati menghiasi mereka yang telah kau berikan empedu dalam kenangannya. Sedangkan orang-orang dekatmu mengisakkan tetesan air mata yang mana telah kau berikan madu dalam kehidupannya.

"Tapi apakah kau bisa melihat?"

Keindahan segala yang dialam, karya seni yang diciptakan, orang-orang disekitarmu dan segala kehidupan yang mengelilingimu tak lagi nampak pada pengelihatanmu karena cahaya tak bisa lagi memantul dalam bola matamu.

"Dengarkanlah!"

Suara alunan doa sekaligus suara orang-orang yang membicarakanmu antara menggunjing dan memuji.

"Tapi apakah kau bisa mendengar?"

Kemerduaan alunan nada, pita suara-suara yang bergetar dari manusia, omongan-omongan itu, kebisingan dan kesunyian tak dapat lagi kau dengarkan karena gendang telingamu tak lagi bergetar.

"Hiruplah!"

Bau kewangian sekaligus kebusukan tubuhmu yang bercampur dengan aroma disekitarmu yang merupakan dampak hasil karyamu sendiri.

"Tapi apakah kau bisa menghirup aroma?"

Kewangian, aliran udara, kesedapan sebuah hembusan, kebusukan suatu sikap dan segala aroma yang telah tercipta tak dapat lagi kau menghirupnya karena indra penciumanmu tak mampu lagi bekerja.

"Sentuhlah!"

Kehangatan pelukan salam perpishan, antara kelembutan uluran tangan manusia dan belaian tangan penyiksa yang kini semakin menjauh dan menjauh.

"Tapi apakah kau bisa merasakan sentuhan?"

Kenyamanan, kelembutan, kesejukan, kepedihn dan segala rasa suasana yang telah ada, tak lagi kau nikmati karena kulitmu telah mati rasa.

"Cicipilah!"

Kemanisan, kepahitan, kenikmatan saat kau memasukkan sesuatu kedalam mulut antara keharaman dan kehalalan asal usul dimana kau peroleh.

"Tapi apakah kau bisa mencicipi sebuah rasa?"

"Asal muasal sesuatu yang kau dapat, kelezatan makan, kemanisan minuman dan kepahitan suatu cairan tak dapat lagi kau mencicipi karena lidah dan mulutmu saja tak mau terbuka.

"Renungkanlah!"

Segala perbuatan baik dan buruk, kepalsuan dan kebenaran, merendahkan dan memuji suatu kaum yang kini semakin rumit dan buntu menghantui pikiranmu.

"Tapi apakah kau masih berfikir?"

Kebaikan, keburukan perjalanan kehidupan, penjelasan dan pengaruh disekitar hidupmu, tak dapat lagi kau renungkan karena otak dan jalan nalurimu telah beku.

"Rasakanlah!"

Kemelut dalam diri, kegundahan yang menyelimuti, kesenangan dan kebencian yang kini terus menyiksa dan membelenggu dalam hati.

"Tapi apakah hatimu masih percaya?"

Kenyataan, kefanaan, kepalsuan, kebaikan dan kehancuran tak dapat lagi kau bedakan dan kau cerna karena hati nuranimu telah sirna dan binasa.

"Apa yang dapat kau lakukan?"

Ragamu diam, semua indramu telah meninggalkanmu dan jiwamu terbang menembus alam baru.

"Apa yang kau perlukan?"

Tak ada yang kau bawa dan kau butuhkan kecuali beberapa kain putih yang menutupi ragamu. Beberapa tali dari kain yang sama mengikat ujung kepalamu, tubuhmu dan ujung kakimu.

"Lihatlah pula!"

Suara sakral menggema mengiringi perjalananmu menuju istana gelap peristirahatanmu. Suara merdu yang beriringan antara mengutukmu dan mendoakanmu.

"Apa kau ingin kembali?"

Kehidupan dan kemewahan dalam dunia fana tempatmu sebelumnya telah mengusirmu, yang mana merupakan tempat dan perihal yang sangat mustahil untukmu kembali. Harta benda yang dengan jerih payah kau kumpulkan kini ibarat sampah busuk yang akan diperebutkan orang-orang yang kau tingalkan.

"Masihkah berharap akan duniamu?"

Kau akan segera sampai ditempat tujuan dimana langkah-langkah akan menghentikanmu dan meninggalkan tubuhmu sendiri dalam sebuah rumah gelap tertutup sunyi. Ragamu akan terhimpit tanah sempit sepanjang tubuhmu. Tempat dimana bumi akan menelanmu dan melenyapkanmu.

"Kau akan kesepian, tapi kau tak sendirian."

Cacing tanah tak terbilang seakan menyambut kedatanganmu sebagai persembahan istimewa menu terlezat mereka. Hingga dari masa ke masa kulit dan dagingmu semakin membusuk, lenyap sedikit demi sedikit ditelan teman-teman kecilmu, menghilang sebagian demi sebagian dan yang akan tersisa hanyalah tulang belulang.

"Dimana kebanggaanmu?"

Keelokan rupa? bahkan tubuhmu saja sudah tak berbentuk.
Gemerlap harta? bahkan tubuhmu saja sudah tak pantas memakainya.
Setatus sosial? bahkan hal itu sudah tak berguna karena orang lain akan mengantikannya.
Keluarga? Kerabat? Teman dekat? Bahkan mereka tak sudi berbaring dekat menemani di tempatmu berada.

"Tapi tunggu! kenapa kau berteriak!? bukankah semua indramu tak lagi merasakan apapun?"

Teriakan yang amat sangat keras keluar dari mulutmu. Melengking menjerit memutuskan pita suara lehermu. Teriakan rasa sakit seperti ada sesuatu yang menyayat dan meremukkan tubuhmu.

Rupanya makhluk tak kasat mata yang tak bisa dinalar akal fikiran manusia biasa telah merobek-robek dan menyiksa ragamu.

Hantaman berkali-kali yang membuatmu hancur lebur ketika suara amukan halilintar memberi tanya dan kau tak mampu menjawabnya.

Suara menggelegar yang menyiksamu, akan kau dengar berkali-kali dengan ribuan tanya yang tak pernah bisa kau mengerti. Jika memang mulutmu tak bisa terbuka untuk menjawabnya, maka kesakitan dan penyiksaan itu tak akan pernah berhenti.

Waktu akan memperlihatkan nasibmu, tapi entah berapa lama lagi hari dimana kau akan dibangkitkan kembali. Mungkin sebagian seperti dirimu akan merasakan suatu hal yang amat singkat. Tapi banyak dari mereka akan merasakan siksa berjuta-juta tahun lamanya.

"Apa kau menyesal?"

Ucapan dan perasaan yang terpuruk dalam perjalanan akhir yang akan sia-sia untuk dikeluhkan.

SEKIAN.


Gouenji Shuuya
2017-02-27 07:40:56
Udah pernah baca dulu
Bocah Redoks
2017-02-22 22:22:28
sia sia untuk d keluhkan hanya berarti sebuah penyesalan
ThE LaSt EnD
2017-02-22 22:09:49
TIGABELAS Bocah Redoks
Shiratsuki Shira
2016-12-20 12:32:45
Iseng2 buka trending cerita berjudul "mayat" kukira bakalan berisi hal yang seram, eh ternyata renungan, tapi tak apalah setidaknya betul spekulasi kuyang satunya, isinya melebihi ekspetasi-ku, tapi r
Danifu Dantsu
2016-11-20 20:41:37
njir, kentang nih. nanggung amat
Ahmadi D Killer
2016-11-09 15:32:40
bgs
chichay
2016-11-01 16:18:56
semngka.(semngat kaka)
chichay
2016-11-01 06:07:45
bgus senpai renungannya.semangka *^_^*
ThE LaSt EnD
2016-10-27 07:57:12
hmm, bisa beritahu apa alasannya memberi nilai 1 ?
Newbie Tamvan
2016-10-23 09:29:25
kyak puisi
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook