VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Psyco.Logic

2016-02-01 - China Musume
125 views | 11 komentar

"Kuro.. Lewat sini!!" teriak seorang pemuda yang berlari terburu-buru.

"Aku mengerti..." susul pemuda bernama Kuro, "Naka, Chiisa tertinggal!!"

"Kita tidak sempat lagi untuk kembali!!!" teriak pemuda pertama bernama Naka.

Kuro terhenti dan menengok ke belakang melihat seorang gadis bernama Chiisa terjatuh dengan beberapa monster mengerikan mulai menyeret kakinya.

"Tidaakk!!! Lepaskan akuu!!!!" teriak Chiisa, "Naka!!! Kuro!!! Tolong aku!!!"

"Chiisa!!!" teriak Kuro yang gemetaran saat melihat temannya mulai dicabik dan digigiti oleh monster-monster berlumut.

"Maafkan kami Chiisa.." gumam Naka yang menarik tangan Kuro yang diam membatu.

Mereka berdua akhirnya berhasil bersembunyi di dalam sebuah ruangan tak berpintu dengan sebuah lorong kecil dan lubang besar pada dinding.

"Kita akan aman untuk sementara di sini.." ucap Naka.

"Apa yang kau lakukan?!!!" Kuro menarik baju Naka sambil menangis, "Chiisa... Kita membiarkan Chiisa dimakan monster-monster sialan itu!!! Kita sama saja membunuhnya!!!"

"Apa kau bodoh?! Kita tidak punya pilihan lain.. Kita tidak bisa membunuh monster itu, kita bertiga akan mati!!!" bentak Naka dan membuat Kuro terdiam.

Dahulu, saat abad 21 dimulai. Orang-orang menganggap di masa depan akan muncul berbagai teknologi-teknologi canggih. Memang benar di masa depan, yaitu saat ini, di tahun 2044 berbagai macam teknologi berkembang bagaikan teknologi-teknologi di dalam film-film. Akan tetapi, kemajuan ini hanya sementara karena peradaban umat manusia berada dalam puncak kepunahannya.

Tepatnya di awal tahun 2044, krisis moneter melanda negara-negara di berbagai belahan bumi akibat tumpahnya perpecahan yang ditimbulkan di abad 21 yang masih terus berlanjut hingga kini. Perang terus berlanjut hingga negara lain turut berperang dengan negara yang lainnya lagi. Mempertaruhkan harta yang muncul 28 tahun yang lalu, Logic. Awalnya muncul dan terlihat seperti matahari kecil di siang hari yang kita lihat dari bumi dan berwarna emas, muncul di 6 benua Bumi dan masuk ke dalam tanah hingga menimbulkan lubang-lubang yang sangat dalam dan tak seorangpun yang berhasil menemukan harta bernama Logic itu.

Setahun setelah kemunculan Logic, para ilmuwan berhasil menemukan rahasia Logic berdasarkan penemuan mereka di luar angkasa, di Bulan, muncul sebuah tugu beraksara yang menyebutkan Logic adalah obat keabadian dan orang yang mempersatukan 6 Logic akan memiliki kekuatan setara dewa.

Awalnya semua orang menganggap itu hanyalah lelucon, tetapi para ilmuwan berhasil menemukan pecahan kecil dari Logic dan menggunakannya pada seekor kucing yang telah mati dan alhasil, kucing itu hidup hingga tahun 2044 ini. Dan sejak itulah peperangan terus berlanjut.

Akibat krisis dari perang untuk memperebutkan Logic yang tertanam di setiap benua, orang-orang menjadi kehilangan pekerjaan mereka dan kebanyakan dari mereka seperti pejabat-pejabat melakukan bunuh diri dan tak banyak yang mengalami gangguan kejiwaan.

Sebuah penyakit baru dan aneh bernama Syndrome Inhumane muncul bersamaan dengan munculnya lumut-lumut parasit yang menempel pada tubuh orang-orang yang memiliki Syndrome Inhumane hingga membuat wujud mereka seperti monster berlumut dan menyerupai hewan. Mereka liar, tak berakal dan tidak memiliki sifat kemanusiaan lagi. Insting mereka hanya memangsa manusia, hewan, membunuh.

"Kenapa ini semua harus terjadi di dunia???!!!" teriak Kuro.

"GRADAK!!" tiba-tiba beberapa monster telah berada di dekat pintu masuk tempat persembunyian mereka.

"Kuro, ayo cepat.." Naka mulai memasuki sebuah lorong sempit di dekat mereka dan Kuro langsung mengikutinya.

Belum jauh Kuro merangkak di dalam lorong itu, salah satu monster telah memegang salah satu kaki Kuro.

"Ah.. tidak..." Kuro terkejut saat kakinya mulai ditarik.

"Kuro!!!" Naka menarik tangan Kuro.

"Khh!!! Naka.. Lepaskan.." ucap Kuro, "Tetaplah hidup..." Lanjut Kuro yang langsung terseret keluar dari lorong itu, "Cepat pergi, bodoh!!!!" teriak Kuro.

Naka yang mendengar perkataan Kuro langsung berbalik sambil menangis dan pergi menelusuri lorong itu dan Kuro kini berhadapan dengan beberapa monster.

"Aku tidak boleh mati di sini.." pikir Kuro yang langsung mengambil sebuah kayu dan mengayunkannya ke arah monster-monster itu.

"Aku akan menghancurkan kalian!!!" ucap Kuro.

"Oh ya?" tiba-tiba dari pintu terlihat seorang gadis berambut biru sambil memegang pistol di kedua tangannya, "Kau tidak bisa menghancurkan mereka, manusia.." lanjut gadis itu sambil menembaki monster-monster itu dengan kedua pistol di kedua tangannya.

"Lapor, seluruh daerah J sudah bersih.." lanjut gadis itu sambil memegang earhooks di telinga kanannya. (earhooks = semacam alat di telinga untuk berkomunikasi seperti earphone/headset)

"Apa? Daerah K juga?? Ya ampun.. kalian benar-benar menjengkelkan..." ucap gadis itu lagi.

"Em.. Anu.. Terima kasih.." ucap Kuro.

Gadis itu memperhatikan Kuro.

"Huh.. Manusia ya.. Tadi aku lihat temanmu memasuki lorong itu kan?" tanya gadis itu pada Kuro, "Kita harus cepat mengejarnya.."

Kuro dan gadis itu langsung mengejar Naka melalui jalan lain di samping lorong.

"Apa yang akan terjadi pada Naka???!!" tanya Kuro yang khawatir.

"Lorong ini mengarah ke daerah dengan kode K, di sana masih belum aku bersihkan.. Dan kemungkinan ada banyak monster yang telah menanti kedatangannya.." jawab gadis misterius itu.

"Menanti??" Kuro mulai bingung.

"Monster-monster ini seperti manusia dengan insting binatang.. Yang mereka tahu hanya makan dan keserakahan atas makanan-makanan itu.. Mereka tidak hanya asal memakan manusia yang masih belum terinfeksi Syndrome Inhumane, tapi mereka berburu.. Dan lebih tepatnya mereka memburu manusia.." jelas gadis itu, "Lorong ini.. Pasti sudah sering manusia pakai untuk menuju daerah yang lebih aman.. Kau lihat, lorong itu bersih kan? Berarti sudah berapa banyak orang yang melewatinya? Monster-monster itu pasti akan menunggu manusia lain muncul.."

"Gadis ini.. Dia tahu banyak..." pikir Kuro yang mengikuti gadis itu dan begitu mereka keluar dari pintu keluar di sebelah tembusan lorong itu mereka melihat Naka telah menjadi mayat dan monster-monster itu mulai mendekat ke arah Kuro dan gadis itu.

"Naka..." pikir Kuro yang shock melihat sahabatnya mati dengan kondisi yang mengenaskan.

"Manusia selalu merepotkan.." gumam gadis itu dan mulai menembaki monster-monster itu hingga hancur.

"Lapor.. Daerah K-5 sudah bersih.." ucap gadis itu sambil memegangi earhooksnya lagi, "Aku menemukan satu orang yang masih hidup dan belum terinfeksi, yah, mungkin sebentar lagi dia juga akan kubunuh karena aku melihat bibit syndrome di dalam otaknya.."

"A-apa??" pikir Kuro yang tidak sengaja mendengar perkataan gadis itu.

“Kau.. Sebenarnya siapa?” tanya Kuro pada gadis misterus itu, “Dari tadi kau mengucapkan kata manusia, memangnya kau bukan manusia??”

“Bukan..” jawab gadis itu singkat, “Aku akan mengambil Logic yang tertanam di bumi ini dan membawanya kembali ke Pluto..”

“Logic?? Pluto??” tanya Kuro yang masih bingung.

“Logic itu harta yang sangat berharga untuk kami..” jawab gadis itu.

“Tunggu!! Tadi katamu Pluto?? Bukannya Pluto itu dulu planet ke sembilan di Tata Surya lalu diganti dengan planet lain??” tanya Kuro.

“Benar.. Planet terdingin dan tergelap.. Tidak ada yang tahu bahwa di balik Pluto yang tidak tekena cahaya mentari, ada sebuah peradaban, Suku Nox.. Karena gelap dan tidak terjangkau cahaya, Logic yang menjadi pelita peradaban kami.. Tapi karena Pluto terlalu jauh dari Matahari, Logic kehilangan gravitasinya dan terbawa orbit hingga terpecah menjadi enam bagian dan menghantam Bumi..” jelas gadis itu.

“Lalu kalau Logic berhasil kembali ke Pluto, apakah semua penyakit Syndrome Inhumane akan hilang juga??” tanya Kuro.

“Jadi kau menganggap semua penyakit ini karena Logic???” gadis itu terlihat marah, “Jika semua ini karena Logic, kenapa di peradabanku tidak pernah menemukan penyakit seperti ini???”

“Ma.. Maaf, bukan itu maksudku..” ucap Kuro, “Aku hanya ingin semua ini berakhir!! Mungkin planet kalian hanya kehilangan cahaya.. Tapi kami.. Kehilangan orang-orang yang berarti untuk kami!! Orang tua, teman.. Semuanya..”

Gadis itu terdiam, “Namaku Latoresia Spem.. Keturunan Suku Nox dari Pluto.. Kau boleh memanggilku Lisia..” ucap gadis yang terlihat sebaya dengan Kuro itu, “Padahal aku melihat bibit Syndrome Inhumane dalam kepalamu tapi kau sama sekali tidak berubah menjadi monster itu..”

“Aku tidak peduli kalau aku akan jadi seperti monster-monster itu atau tidak, tapi.. Tolong hentikan aku jika aku akan berubah menjadi seperti mereka..” ucap Kuro, “Dan namaku Kuro.. Aku 16 tahun dan sepertinya kita seumuran..”

“Hah? Seumuran?? Pffftt... Yang benar saja.. Ahahaha...” gadis yang akrab dipanggil Lisia itu tertawa geli, “Butuh waktu 100 tahun lagi untuk bisa seumuran denganku yang sekarang ini...”

“Apa?? Jadi...” pikir Kuro yang kaget, “Memang berapa umurmu??” tanya Kuro.

“Umurku 116 tahun... Ahahaha...” jawab Lisia.

“Apaa??!!” Kuro tak percaya dengan jawaban Lisia, karena Lisia terlihat seperti gadis seusianya dan bahkan terlihat lebih muda dari Kuro.

“Suku Nox bisa hidup mencapai 900 tahun.. Itu semua juga efek dari Logic yang membuat kami seperti makhluk abadi..” lanjut Lisia.

“Lalu kenapa kau tiba-tiba berbicara baik-baik padaku?” tanya Kuro yang mulai curiga pada Lisia.

“Tidak ada.. Aku hanya berpikir untuk membantumu..” jawab Lisia sambil memalingkan wajahnya dari Kuro, “Kau ingin penyakit yang mewabah di planetmu ini hilang kan..”

“Iya!!” ucap Kuro dengan cepat dan mata agak berbinar, “Beritahu aku caranya..”

“Kita harus membuat Logic kembali ke Pluto..” jawab Lisia sambil tersenyum.

“Oh.. Jadi kau hanya ingin memanfaatkan aku agar Logic dapat kembali ke tempatmu?” tanya Kuro yang merasa dibohongi, “Jika kau ingin meminta tolong padaku jangan berbicara seolah-olah kau ingin membantuku..”

“B-bukan itu maksudku..” lanjut Lisia, namun Kuro terlanjur kesal dan pergi.

“Lisia.. Daerah K-45 masih belum kau bersihkan..” ucap sebuah suara yang muncul di earhooks Lisia.

“Ah.. Baiklah.. Tapi setelah satu ini, aku ingin berbicara padamu, Profesor Lucio..” ucap Lisia.

Lisia segera menuju sebuah lokasi yang diberi kode K-45 oleh sebuah organisasi Suku Nox yang datang ke Bumi dalam rangka mengambil kembali Logic milik mereka. Organisasi Suku Nox itu terdiri dari 3 orang yaitu Lisia, Profesor Lucio dan kakak laki-laki Lisia, Lanta Spem. Hanya dengan membawa sebuah jet khusus buatan Suku Nox dari Pluto mereka bertiga berhasil mendarat di Bumi meskipun manusia-manusia di Bumi menentang mereka.

“Profesor Lucio, aku tidak tahu maksudmu, tapi kenapa kita harus membasmi semua monster-monster ini?? Kenapa kita tidak langsung mengambil Logic lalu pulang??” tanya Lanta yang sedang menebas-nebas monster sambil berbicara pada Profesor Lucio melalui earhooks.

“Lanta, kita melihat makhluk hidup di planet ini sedang terkena musibah.. bukankah sebaiknya kalau kita membantu mereka dulu? Kita kan berasal dari Tata Surya yang sama..” jawab Profesor Lucio.

“Kau berkata seperti itu, tapi pada kenyataannya mereka menghapus keberadaan planet kita saat abad 21 yang lalu!!” bentak Lanta yang kesal sambil terus membunuh monster.

“Terkadang ada sisi yang tidak dapat dilihat manusia maupun Suku Nox.. Karena sesuatu menutupi cahaya, begitupun kita tidak melihat Matahari karena kita berada di balik Pluto.. Sama halnya dengan manusia yang tidak bisa melihat kebenaran karena sesuatu menghalangi mereka..” lanjut Profesor Lucio.

“Dasar orang tua...” pikir Lanta yang semakin kesal, “Daerah F sudah bersih..” ucap Lanta.

“Baiklah.. Lanta, Lisia, kembalilah ke pesawat..” ucap Profesor Lucio yang menyambungkan pesan itu ke Lanta dan Lisia.

Lanta dan Lisia segera kembali ke pesawat yang tersembunyi dan tak dapat dilihat oleh mata manusia maupun monster-monster Syndrome itu.

“Aku telah melihat kalian berusaha setiap hari dan membantu menyelamatkan manusia yang masih hidup..” ucap Profesor Lucio, “Dan sekarang.. Tujuan kita berubah menjadi membawa Logic secepatnya pergi dari Bumi..”

“Hah? Memangnya kenapa Profesor??” tanya Lisia yang bingung.

“Beberapa hari ini aku meneliti kejadian-kejadian kronologis awal Logic muncul di bumi hingga saat ini.. Dan semua kekacauan ini.. Semua berasal dari Logic..” jawab Profesor Lucio.

“Tidak mungkin.. Lalu kenapa kita baik-baik saja di Pluto??” tanya Lisia lagi.

“Itu karena manusia tidak sama dengan kita, Suku Nox.. Manusia memiliki psikologi yang berbeda dengan kita.. Mereka memiliki emosi yang lebih hidup.. Dan kehadiran Logic, mempengaruhi kejiwaan mereka..” jawab Profesor Lucio, “Logic mengkonsumsi jiwa manusia dan saat jiwa manusia itu habis, maka manusia itu akan kehilangan akal dan logika hingga muncullah Syndrome Inhumane yang berarti “sindrome tak berprikemanusiaan”..”

“Lalu bagaimana cara kita membawa Logic?? Mereka terkubur sangat dalam di dekat kerak Bumi..” ucap Lanta.

“Bagian bawah pesawat kita ini telah dilapisi magnet yang biasa digunakan untuk menahan Logic di Pluto agar tidak berpindah, bahkan magnet ini 1.000 kali lebih kuat dibanding magnet penahan yang sebelumnya dan mulai hari ini magnet ini telah berhasil diaktifkan..” jelas Profesor Lucio.

“Kita akan memulai semuanya besok..” lanjut Profesor Lucio.

“Baik..” jawab Lanta dan Lisia.

Sementara itu, Kuro bersembunyi di saluran air bawah tanah sambil menyalakan api unggun kecil untuk menghangatkannya.

“Aku ini egois.. Seperti anak kecil saja..” pikir Kuro yang teringat akan perkataannya pada Lisia, “Oh.. Jadi kau hanya ingin memanfaatkan aku agar Logic dapat kembali ke tempatmu?”, “Jika kau ingin meminta tolong padaku jangan berbicara seolah-olah kau ingin membantuku..”

“Aah... Padahal aku sudah dia tolong!!!” gumam Kuro yang menyesal, “Mungkin besok aku harus menuju ke tempat Logic, aku harus menemukan cara agar aku bisa membantunya mengembalikan Logic..”

Keesokan harinya, Kuro segera menuju ke sebuah lubang besar yang berada di benua Asia, tepatnya di Jepang. Lokasi lubang itu kebetulan tak begitu jauh dari tempat persembunyian Kuro dan Kuro tercenggang begitu melihat lubang itu begitu besar dan mungkin sama besarnya dengan ukuran kota Tokyo.

“Ini.. Terlalu besar...” pikir Kuro, “Tapi, Logic pasti ada di dalam itu..”

“Hei, bocah, tempat ini dilindungi pemerintah, kau tidak bisa mendekat begitu saja.. Cepat pergi dari sini!!” ucap tentara penjaga lubang Logic itu.

“Ah.. Baiklah.. Kebetulan aku tersesat...” jawab Kuro yang terpaksa berbohong.

“ZWUUNGG!!!!” sebuah pesawat yang tidak dikenal dan bukan termasuk pesawat tempur Jepang tiba-tiba melintas di atas Kuro dan tentara itu.

“Penyusup!!!!” ucap tentara itu setelah melihat pesawat yang barusan melintas dan langsung menekan tombol alarm pertanda adanya penyusup.

Dari dalam tanah muncul tank-tank yang selama ini bersembunyi dalam tanah dan mulai menembaki pesawat itu.

“Profesor, kita diserang..” ucap Lanta yang ternyata pilot pesawat itu, “Apa boleh aku menyerang mereka juga?? Aku udah capek menghindar terus..”

“Tenang sedikit...” ucap Profesor Lucio sambil memegang sebuah alat pengeras suara.

“Wahai manusia Bumi.. Kami adalah Suku Nox dari Pluto.. Kami datang ke Bumi untuk mengambil kembali Logic karena Logic adalah milik kami..” ucap Profesor Lucio.

“Heh? Pluto? Apa mereka alien?” tanya tentara yang tadi menekan alarm, “Lelucon mereka lucu juga.. Merebut Logic dengan cara menipu kami seperti itu.. Seperti sampah...”

Mendengar perkataan tentara itu, Kuro menjadi panas.

“Mereka bukan penipu!!!” bentak Kuro, “Dibanding kalian yang lebih memilih menjaga harta yang tidak berguna seperti ini dibanding menjaga rakyat yang diserang monster, kalianlah sampah sejati!!!” Kuro semakin terbakar emosi.

“Apa katamu, bocah??” tentara itu merasa kesal mendengar ucapan Kuro dan mengarahkan senapannya ke arah Kuro.

“Aku suka kata-katamu..” ucap seorang gadis dengan suara yang telah Kuro kenal, Lisia. Lisia menembak senapan tentara itu hingga terpental ke dalam lubang Logic.

“Lisia..” gumam Kuro.

“Aku salah satu Suku Nox dari Pluto.. Salam kenal...” ucap Lisia pada tentara itu hingga membuat tentara itu ketakutan dan lari terbirit-birit.

“Kita bertemu lagi.. Dan, apa yang dilakukan anak di bawah umur sepertimu di tempat berbahaya seperti ini??” tanya Lisia dengan nada menggoda Kuro.

“Ah, itu... Aku hanya kebetulan ingin melihat tempat ini saja...” jawab Kuro.

“Oh ya.. Padahal aku sering mengamati tempat ini dan sering melihatmu ke tempat ini tanpa kedua temanmu...” ucap Lisia. Raut wajah Kuro langsung berubah.

“Ah.. Maaf.. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung soal teman-temanmu..” lanjut Lisia.

“Aku datang ke tempat ini untuk membantumu mendapatkan Logic..” ucap Kuro.

“Eh??” Lisia agak kaget.

“Itu.. Jika Logic menghilang dari Bumi, semua penyakit ini akan hilang...” lanjut Lisia.

“Benarkah??” tanya Kuro.

“Iya..” jawab Lisia sambil tersenyum.

Pesawat yang dikemudikan Lanta telah berada di atas lubang besar itu dan siap menarik Logic. Namun sebuah pesawat lain yang jauh lebih besar dari pesawat Suku Nox tiba-tiba muncul dan telah berada di atas pesawat Lanta.

“Kita akan mendapatkan Logic..” gumam seseorang yang berada di dalam pesawat yang sangat besar itu.

“Mereka siapa??” tanya Lisia.

Dari pesawat besar itu tiba-tiba muncul sebuah suara, “Kami sudah lama memperhatikan kalian, Suku Nox yang datang ke Bumi untuk mengambil Logic.. Dan sekarang kami akan merebut Logic milik kalian dengan menggunakan pesawat kalian...”

“Tidak akan kubiarkan..” Lisia langsung melopat tinggi hampir mendekati pesawat besar itu dan menembaki pesawat besar itu. Suku Nox memiliki kemampuan mental dan fisik yang jauh lebih kuat dari manusia, jadi tak heran jika Lisia dapat melompat setinggi itu.

“Seandainya kalau aku bisa membantu Lisia meskipun hanya sedikit..” batin Kuro, “Aku hanya manusia biasa.. Tapi jika dalam otakku terdapat benih Syndrome Inhumane, seharusnya aku memiliki kekuatan monster-monster itu.. Kekuatan untuk mengepakkan tangan seperti elang, kekuatan untuk berlari secepat macan, kekuatan bertarung sekuat beruang..”

“Aku akan membantu Lisia..” gumam Kuro yang bersiap dan akhirnya Kuro melompat hingga membekas di tanah.

Kuro terus mendekati pesawat itu lalu menendangnya dari jauh.

“DGUARR!!!!” sayap kiri pesawat itu hancur hanya karena terkena angin yang ditimbulkan oleh tendangan kaki Kuro.

“Kuro??” Lisia tak percaya dengan serangan Kuro dan Lisia terkejut saat melihat di kaki Kuro terlihat lumut-lumut mulai tumbuh sedikit.

“Kuro!!! Jangan gunakan lagi kekuatanmu!!!” teriak Lisia yang mendarat di atas pesawatnya.

Kuro turut mendarat di atas pesawat Lisia dan terkejut setelah melihat kakinya mulai berlumut.

“Jika kau mengandalkan kekuatan monster itu, kau bisa berubah menjadi monster sungguhan..” ucap Lisia lagi.

“Aku kan sudah bilang.. Jika saat itu tiba, kau harus menghentikanku..” jawab Kuro, “Aku juga sudah tidak memiliki siapapun lagi, orang tua dan teman-temanku, kerabatku, semua sudah dibunuh monster-monster itu.. Jadi jika mengembalikan Logic ke asalnya adalah cara yang tepat untuk menghilangkan monster-monster itu, aku akan membantumu..”

Pesawat Lisia mulai bereaksi dan mulai berguncang. Magnet pada bagian bawah pesawat itu mulai menarik sesuatu.

“Lisia, pastikan orang-orang Bumi itu tidak menggagalkan rencana kita..” ucap Profesor Lucio melalui earhooks Lisia.

Sebuah lubang di pesawat di atas Lisia dan Kuro terbuka.

“Apa itu?” tanya Kuro yang heran. Kuro dan Lisia langsung tersedot ke dalamnya.

“Uwaaaa!!!!!” teriak Kuro dan Lisia dan begitu sadar mereka berada di dalam ruangan gelap.

“Dimana ini?” tanya Lisia.

“Selamat datang, Suku Nox dan... Monster...” ucap seseorang yang muncul dari bayang-bayang ruangan itu.

“Kenapa kau membawa kami ke sini?? Dan aku bukan monster!!” bantah Kuro.

“Aku hanya ingin mengajak kalian bernegosiasi..” ucap orang bekacamata hitam dan memakai jas hitam itu.

“Bernegosiasi??” Lisia semakin curiga pada orang itu.

“Penyebab kemunculan monster itu bukan karena Logic..” ucap orang itu, “Semuanya karena lumut parasit buatanku yang kusebarkan ke setiap otak manusia.. Lumut itu akan tubuh dipermukaan tubuh manusia dan mengambil alih otaknya jika manusia itu terkena Syndrome Inhumane..”

“Kau!!!” Kuro mulai marah.

“Tenang dulu..” Lisia menahan Kuro yang hampir mendekati orang itu.

“Dan aku memiliki penawarnya.. Nama penawar itu Psyco..” dari belakang orang itu muncul sebuah tabung berisi bola berwarna perak dan di sebelahnya terdapat tabung yang berisi monster berlumut itu.

Sebuah pipa kecil mulai tersambung antara tabung yang satu dengan yang satunya dan dari tabung berisi bola perak itu terlihat sebuah uap menuju tabung berisi monster berlumut dan begitu uap itu sampai di tabung monster itu, monster itu berubah menjadi manusia.

“Bagaimana, nona?” tanya orang itu.

“Manusia itu memang menjijikkan ya..” ucap Lisia, “Saling menghancurkan sesama manusia seperti itu, demi kepentingan dirinya sendiri.. Aku tidak akan menukarkan Logic untuk makhluk hina seperti kaian..”

“Aku mengerti perasaanmu, Lisia..” ucap Kuro, “Aku sendiri yang akan merebut obat penawar itu..”

“Kedengarannya seru kalau kita mengambilnya tanpa bernegoisasi...” ucap Lisia.

“Tu-tunggu... Aku memasang sebuah bom di tabung berisi Psyco itu.. Jika obat itu hancur...” ucap orang itu.

“Ternyata dia licik juga..” pikir Kuro.

“Tidak apa-apa.. Tidak perlu kau ledakkan, aku akan menhancurkan obat itu sendirian..” ucap Lisia sambil mengarahkan pistolnya ke arah tabung berisi Psyco.

“Lisia?!! Apa yang kau lakukan!!!” Kuro panik saat Lisia hendak menembak Psico begitupun dengan pemilik Psyco itu.

“BAMM!!!!” Lisia menembak benda berwarna hitam yang menempel di bagian bawah tabung itu.

“Dengan ini, kunyatakan bom itu telah hancur...” ucap Lisia.

“Brakk!!” tiba-tiba Kuro terjatuh dan sebuah jarum menancap di bahunya.

“Hahaha... Bom itu hanya pengalih, dalam jarum itu terdapat zat yang mempercepat pertumbuhan bibit monster itu...” ucap orang itu.

“Kuro!!! Bertahanlah!!!” ucap Lisia, namun Kuro langsung mendorong Lisia.

“Tembak aku...” ucap Kuro.

“Tidak...” jawab Lisia yang hampir menangis.

“Kau pernah mengatakannya kan.. Kalau kau akan membunuhku...” ucap Kuro lagi dan sekujur tubuhnya dipenuhi lumut.

Kuro bangkit dan kini ia telah sepenuhnya menjadi monster. Lisia mengarahkan pistolnya ke arah Kuro tapi dia tak dapat menembaknya.

“Kenapa aku tidak bisa menembaknya??” batin Lisia yang mulai berkeringat dingin.

“Hahaha... Bagus!!! Hancurkan Suku Nox itu!!” ucap orang itu.

Monster Kuro yang berjalan mendekati Lisia berbalik arah menjadi mendekati orang berkacamata hitam itu.

“Hei... Jangan mendekat!! J-janganmendekaatt!!!” teriak orang itu yang ketakutan.

Monster Kuro langsung mencakar orang itu.

“Gyaaa!!! Sakiiitt!!!!” rintih orang itu.

“Hentikan Kuro!!!” Lisia menembak lantai di bawah monster Kuro namun monster itu tidak menghiraukannya dan menggigit dan mencabik orang itu.

“Hentikan...” Lisia menembak punggung monster itu, “Padahal aku sudah menantikan waktu ini.. Untuk bisa berbicara denganmu...” batin Lisia yang menembak kedua kaki monster Kuro.

“Setiap kali aku bertugas mengamati lubang Logic, aku selalu melihatnya sendirian berdiri di pinggir lubang itu..” batin Lisia sambil mengingat saat-saat ia melihat Kuro.

“GRRRR!!!!” setelah monster Kuro mencabik orang itu menjadi potongan daging-daging, monster itu berbalik meskipun kedua kakinya telah ditembak dengan peluru khusus.

“Aku.. Sudah berjanji akan menghentikanmu... Kuro...” ucap Lisia sambil menangis dan menembaki monster Kuro.

Salah satu peluru Lisia meleset dan membuat tabung Psyco retak dan bocor hingga uap itu keluar dan mengenai monster Kuro yang telah menerima banyak tembakan dari Lisia.

“Kuro..” gumam Lisia saat melihat Kuro kembali menjadi manusia dan berlumuran darah lalu terjatuh, “Maafkan aku...” ucap Lisia.

“Terima kasih...” ucap Kuro yang ternyata masih hidup.

“Kuro...” Lisia langsung menghampiri Kuro.

“Jika kau berhasil mendapatkan Logic kembali.. Maukah kau melakukan hal ini untukku..” ucap Kuro dengan tatapan sayu.

“Aku akan melakukan apa saja.. Bertahanlah Kuro...” Lisia mulai menangis.

“Aku ingin kau menggunakan Psyco untuk membuat manusia yang terinfeksi Syndrome Inhumane dan lumut ini kembali menjadi manusia..” lanjut Kuro dengan suara yang semakin samar, “Aku senang bisa mengenalmu Lisia, bisakah aku mati dengan tenang tanpa melihat ada yang menangisiku..?”

Lisia segera menghapus air matanya dan berusaha menahan tangisannya.

“Terima kasih...” ucap Kuro yang menghembuskan nafas terakhirnya.

“Lisia.. Cepat kembali.. Kita sudah mendapatkan satu pecahan Logic...” ucap Profesor Lucio melalui earhooks Lisia.

“Aku segera kembali, profesor..” ucap Lisia dengan suara yang masih kaku akibat habis menangis.

“Apa kau baik-baik saja? Kelihatannya suaramu aneh..” ucap Profesor Lucio.

“Aku baik-baik saja...” jawab Lisia yang meninggalkan Kuro lalu mengambil tabung berisi Psyco lalu pergi.

“Aku akan memenuhi permintaanmu, Kuro..” batin Lisia yang berdiri di atas pesawatnya lalu menembaki pesawat besar tempat mayat Kuro berada hingga jatuh di dekat lubang Logic.

“Kita akan ke lima benua yang lain untuk mendapatkan pecahan yang lainnya...” ucap Profesor Lucio.

Hari itu, Suku Nox berhasil menyatukan Logic meskipun di beberapa benua terjadi perlawanan. Dan Lisia menepati janjinya pada Kuro dengan menggunakan Psyco untuk melenyapkan monster-monster yang muncul di seluruh dunia, mengubah monster-monster itu kembali menjadi manusia dan menghentikan peperangan.

10 tahun kemudian.

“Lihat, pahlawan dari Suku Nox datang ke Bumi...” ucap orang-orang yang mulai berkumpul melihat pesawat Suku Nox melintas di angkasa mengarah ke bekas lubang Logic di Asia, di Jepang.

Di bekas lubang Logic itu terlihat bangkai pesawat besar yang dipenuhi tumbuhan-tumbuhan merambat dan terlihat sebuah tugu kecil bertuliskan “Makam Pahlawan Tak Dikenal”.

“Aku datang lagi.. Di tanggal yang sama seperti 10 tahun lalu.. Kuro..” ucap seorang perempuan berambut biru dari Suku Nox sambil meletakkan bunga di depan tugu kecil itu.

< align=’center’>[[ END ]]</div>

Takashi Draylus
2018-01-13 18:06:05
Aku belum bisa bikin oneshot sepanjang ini
Alien Queen
2017-02-25 18:15:31
Kukira kuro yang akan mati, eh ternyata malah naka.
Emerald Queen
2016-02-13 22:30:47
Kerenn..
Sena Lightspeed
2016-02-11 21:21:05
Keren.. Hidup Kuro! Tapi mati di akhir
Vor Deour
2016-02-04 20:47:43
Psycho
Chi Kimochi
2016-02-04 02:33:33
kurang sedih xd
Bikinan Mamah Papah
2016-02-03 05:58:33
Panjang,.
A wahyu
2016-02-02 20:17:33
Oneshoot yang bagus, sayang sekali ya
Arion
2016-02-02 16:09:47
Itu yg huruf2 jepang itu typo kah??
Rrrrr
2016-02-02 11:39:54
OSnya panjang banget... Ahahhaaha
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook