VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
What Story Do You Want?

2015-10-01 - China Musume
135 views | 11 komentar | nilai: 10 (1 user)

Mungkin kalian pernah mendengar dari orang lain atau mungkin teman kalian atau keluarga kalian yang mengatakan kalau hidup itu seperti drama dan kita adalah pemerannya, sedangkan Dia, Sang Pencipta adalah sutradaranya yang mengatur skenario cerita kita..

Tapi... Pernahkah kalian berpikir, bertanya-tanya." Cerita apa yang sedang kalian mainkan?" " Apakah peran kalian dalam cerita?" mungkin kita tak pernah memikirkannya bahkan tak sedikit pun meliriknya.. Yang kita lakukan hanya membaca cerita.

Mungkin itu hanya pepatah kuno.. Tapi memiliki makna yang dalam walaupun terlihat sederhana.



Aku Meisa, aku sangat tertarik dengan pepatah ini. Tapi aku tidak memiliki harapan. Aku hanya seorang gadis biasa dari keluarga yang biasa dengan hidup yang biasa yang selalu menjalani hari-hariku dengan biasa.. Meski pun begitu aku nyaman dengan 'zona'ku ini.

Terlihat seorang gadis dengan memakai seragam sekolahnya mulai keluar dari pintu rumahnya dan bergegas menuju sekolahnya yang tak jauh dari kompleks pe rumahannya.

Pagi ini pun aku berangkat sekolah dengan biasa seperti biasanya dan sampai di sekolah, masuk ke kelas, duduk di bangkuku seperti biasa juga. Kelas ribut seperti biasa, namun suasana yang biasa-biasa itu terasa janggal ketika seorang pemuda asing berambut pirang memasuki kelas dan duduk di bangku kosong di belakangku.

Dia melewatiku dengan memasang senyum kecil yang lembut dan hangat padaku, aku hanya diam dan mengangguk. Dan tepat saat pemuda itu duduk di bangkunya, guru wali kelasku datang dan memasuki kelas dengan tampang 'killer'nya.

"Kuroku, cepat kau perkenalkan dirimu.." ucap Yuri-sensei.

Pemuda yang duduk di belakangku langsung berdiri dan mulai memperkenalkan dirinya.

"Namaku Kuroku, aku blasteran Jepang-Jerman, jadi jangan kira kalau aku mengecat rambutku... Hahaha.. Dan aku.. Ingin membuat ceritaku..." ucap pemuda itu sambil bercanda.

Entah kenapa, perkataannya selalu terbayang di benakku. Jam-jam pelajaran berlalu dengan cepat dan kini telah waktunya pulang sekolah. Aku pun segera bergegas pulang ke rumah.

"Meisa.. Kamu Meisa kan?" pemuda itu memanggilku dan aku hanya menjawab singkat, " Iya, aku Meisa.."

"Ah, untunglah, ternyata aku masih ingat.." ucapnya.

Aku bertanya-tanya dalam hati apa maksud." Ternyata aku masih ingat." dalam ucapannya. Namun aku menghiraukannya karena aku tidak mengenalnya. Akan tetapi, pemuda itu mengikuti aku dan aku sangat kesal jika ada orang yang mengikutiku.

"Bisakah kau berhenti mengikutiku?!!" aku spontan berbalik dan membentaknya. Tetapi pemuda itu hanya berhenti dan menatap terkejut ke arahku dan betapa bodohnya aku telah membentak orang yang sedang memakai earphone.

"Aku tidak mengikutimu.." ucapnya sambil tersenyum lagi padaku, dia melepas earphonenya dan berjalan ke arah rumahku yang berada tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Aku pun menyusulnya.
Dari luar aku mendengar ibu dan ayahku tampak senang menyambutnya, " Siapa pemuda itu sebenarnya?" sebuah peranyaan singkat yang terus terbayang di pikiranku. Aku segera membuka pintu rumah dan di dekat pemuda itu terlihat sebuah koper besar.

"Selamat datang, Mei-chan, Kuroku-kun mulai saat ini akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu.." ucap ibuku yang menarik koper besar itu.

"A-aku bisa sendiri.." pemuda yang bernama Kuroku itu langsung mencegat ibuku dan membawa koper itu, " Cukup beritahu aku di mana kamarnya saja..."

"Kamu benar-benar anak yang baik, Kuroku-kun.. Mei-chan, cepat antar Kuroku-kun ke kamar yang di samping kamarmu.." ucap ibu.

Aku langsung mengambil kertas dan pena dari tasku lalu aku mulai menulis sesuatu.
"Ini.." aku memberikan kertas itu pada pemuda asing yang tiba-tiba tinggal di rumahku.

"Apa ini???" pemuda itu tampak kebingungan.

"Itu peta untuk ke kamar di samping kamarku, kau cukup naik tangga ke lantai 2 lalu belok ke kiri dan kau akan menemukan kamarmu.." ucapku singkat.

"Mei-chan!" ibu tampak kesal padaku, tapi aku tidak peduli. Aku langsung duduk di sofa lalu menonton acara TV kesukaanku seperti biasa tanpa menganti seragamu seperti biasa. Begitu tayangan acara TV kesukaanku habis, seperti biasa aku masuk ke kamarku, dan aku sangat terkejut saat melihat pemuda itu terbaring dan tidur di ranjangku.

Aku mendekatinya dan aku melihat dia sedang memeluk sebuah buku yang tertelungkup. Aku memandangi wajahnya yang memang bisa dibilang tampan. Dan aku tersadar akan sesuatu, sebuah ingatan yang samar-samar muncul dalam anganku. Ingatanku saat bersama bocah berambut pirang itu.

"Meisa-chan.." terdengar suara lembutnya menyebut namaku. Lalu matanya yang sayu mulai perlahan terbuka. Aku diam dan tak dapat berkata-kata saat matanya dengan lembut menatapku.

"Apa yang kau lakukan di kamarku, Meisa-chan??" tanya Kuroku. Pertanyaannya membagunkanku dari diamku.

"Ini kamarku!!" bentakku dengan wajah yang agak memerah.

"Ah, begitu ya?? Maaf..." jawab pemuda itu dengan tersenyum dan tiba-tiba tatapannya seperti sedang menerawang ke dalam mataku.." Kau sudah besar ya, Meisa-chan.. Dan sekarang kau sudah lupa denganku.." ucap Kuroku.

Perkataanya barusan serasa menancap dalam hatiku.

"Tapi tak apa-apa.." lanjutnya, " Seseorang akan mudah melupakan sesuatu saat bertemu dengan sesuatu yang baru yang lebih penting di dalam hidupnya. Dan aku tahu kau sudah menemukan sesuatu yang lebih penting itu, Meisa-chan.." pemuda berambut pirang itu langsung keluar dari kamarku.

"Sesuatu yang lebih penting?" pikirku, " Jangan bercanda.. Aku tidak memiliki hal seperti itu.."

Malam pun tiba, dan pemuda itu datang ke kamarku lagi.

"Kamu itu laki-laki!! Kamu gak boleh di dalam kamar perempuan malam-malam begini!!" bentakku padanya sekali lagi.

"Lho, kenapa? Dulu kan kamu juga suka banget masuk ke kamarku walaupun aku larang.." ucap Kuroku.
"Hee?? Yang benar???" aku pun terkejut.

"Meisa-chan.. Kau masih suka pada pepatah 'Hidup itu seperti drama'?" tanya Kuroku dengan suara lembut. Aku dengan bersemangat dan spontan aku langsung mengangguk dengan semangat dan mendekatinya.

"Hihi.. Sudah kuduga.. Apa kamu tahu rahasia di balik pepatah itu?" tanya Kuroku degan nada nakal.

"Apa? Apa? Beritahu aku, Kuro-kunn!!" ucapku dengan semangat dan... Kami berdua terdiam sejenak, entah kenapa aku merasa akrab dengan Kuroku dengan memanggilnya 'Kuro-kun'.

"Cerita itu pasti memiliki ending kan?" tanyanya, dan aku hanya mengangguk.

"Happy ending, akhir yang bahagia, dan sad ending, akhir yang menyedihkan.." lanjutnya.

"Apa kau berpikir kalau semua ending diatur oleh setiap pengarang cerita itu sendiri?" tanyanya lagi, dan sekali lagi aku mengangguk.

"Meisa-chan.. Hidup bukan drama.. Dalam cerita, kita tidak bisa memilih akhir kita, tapi dalam hidup, kamu harus menentukan akhirmu sendiri.."

Aku terdiam.." Kamu ingin ending seperti apa Meisa-chan?" tanya Kuroku sambil memegang pipiku.

"Aku.. Tidak mungkin memiliki ending yang bahagia.." ucapku, " Dan aku tidak akan pernah bahagia jika kau terus berada di dekatku!!"

Kami berdua terdiam, dan wajah pemuda itu terlihat kaget, namun, dia tersenyum kecil.

"Aku mengerti.." ucapnya, " Maaf karena telah hadir dalam hidupmu yang sekarang Meisa-chan, kau yang harus menentukan ceritamu sediri.. Jadi, cerita apa yang kamu mau?" tanya pemuda itu sambil keluar dari kamarku.

"Dia telah menghancurkan pepatah itu.." pikirku yang masih terdiam di tempatku, " Tapi aku telah menghancurkan perasaannya.."

Keesokan harinya, sebuah koper besar telahberdiri di depan pintu rumahku. Dan terlihat pemuda pirang itu memakai pakaian musim dingin. Dalam hati aku bertanya-tanya." Ini kan masih musim semi, kenapa dia memakai baju seperti itu??"

"Meisa-chan, terima kasih karena telah mengijinkanku untuk tinggal beberapa hari di rumahmu.. Ayah dan ibumu sudah pergi sejak pagi tadi, jadi aku titip salam untuk mereka.." ucap Kuroku.

"K-kau mau kemana??" tanyaku spontan.

"Aku harus kembali ke Jerman, kemarin-kemarin aku terpaksa ke Jepang karena rumahku di Jerman kebakaran, dan semalam ayahku menelpon kalau dia sudah menemukan apartemen.." jawab Kuroku.

"Begitu ya.." lanjutku dengan nada yang tiba-tiba pelan.

"Selamat tinggal, Meisa-chan, kuharap kau senang sekarang.." tangan pemuda itu yang lebar memegang kepalaku yang tertunduk sekilas dan mulai melangkah keluar dari rumah sambil menarik koper besarnya ke sebuah taksi yang telah menantinya di luar gerbang.
Aku meghiraukan kepergiannya, aku tidak ingin melihat kepergiannya, aku tidak ingin melambaikan tanganku padanya, aku tidak ingin mengucapkan kata-kata terakhirku padanya. Hatiku terasa berat, dan perlahan mulai sesak, dan lama-kelamaan semakin sesak dan tak tertahankan.

Tanpa sadar air mataku yang hangat menetes. Makin lama semakin deras hingga aku menjerit dalam ruangan itu.
Aku tak ingin menghiraukan kepergiannya, aku tidak ingin melihat kepergiannya karena aku tidak ingin melihat dia pergi, aku tidak ingin melambaikan tanganku karena aku ida ingin mengatakan selamat tinggal padanya, aku ingin mengatakan kata-kata terakhirku kalau aku mulai meyukainya.

Dan tiba-tiba di benakku muncul kata-katanya, " ... Kau yang harus menentukan ceritamu sediri.. Jadi, cerita apa yang kamu mau?"

Aku harus menentukan ceritaku, aku ingin ceritaku, aku ingin endingku. Tanpa sadar kakiku terus melangkah keluar, dan langkahku semakin cepat hingga aku terus berlari. Di sepanjang jalan itu ingatanku akan dia terus menerus kembali. Ingatan tentang dia, teman masa kecilku, dia yang adalah cinta pertamaku.

Aku terjatuh, saat aku tiba di bandara hanya dengan berlari. Nafasku tak karuan, pandanganku buram dan kepalaku bagaikan dipanggang dalam api neraka. Seseorang datang dan memberikan sebotol minuman mineral padaku. Aku langsung mengucapkan terima kasih dan meminum air pembariannya.

"Kenapa kau ke sini?" tanya orang itu dengan suara yang kukenal. Dan saat aku mendongak melihat wajah orang itu, aku mulai menangis. Orang itu langsung mendekap dan memelukku.

"Jangan menangis di sini.. Meisa-chan..." bisiknya.

"Jangan pergi.." balasku dengan napas yang semakin terenggah-enggah, " Aku tidak mau kau pergi lagi.. Kuro-kun..."

"Cerita apa yang kau mau, Meisa-chan?" tanya pemuda itu dengan suara lembutnya.

"Aku mau ceritaku... Ceritaku sendiri.. Endingku sendiri.. Dan aku ingin melihat cerita semua orang.. Supaya aku bisa melihat kebahagiaan dan kesedihan orang lain.." jawabku sambil terisak.

"Meski pun begitu kau juga harus tetap pada skenario yang Dia berikan.. Pepatah itu tidak salah.. Saat kau berbuat hal-hal yang jahat dan tidak baik, saat itu kau telah melenceng dari skenario ceritamu.. Tuhan tidak pernah memberikan sad ending pada setiap kehidupan, tapi ending ceritamu bisa jadi sad ending jika kamu tidak berjalan sesuai skenariomu.." ucap Kuroku, " Aku tidak akan pergi, karena aku juga mau ceritaku... Selamat datang, Meisa-chan.."

"Itu seharusnya kata-kataku!! Selamat datang Kuro-kun.."

"Haha... Iya.. Aku kembali, Meisa-chan.."
< align='center'>[[E N D]]</div>

Terima kasih telah membaca What Story Do You Want? Dan saya harap pembaca dapat mencerna isi cerita gaje saya yang kesekian banyaknya. Dan saya berharap bisa membagi pemikiran-pemikiran positif yang pada pembaca.
Masa depanmu adalah ceritamu, kau yang harus membuatnya dan mintalah skenariomu pada Sang Pencipta. Itulah pemikiran gak jelas dari penulis.. <(") semoga menghibur dan salam gaje!! :3

Takashi Draylus
2018-01-13 18:20:58
AUAH LAPAR!
Author Of Pain
2017-06-15 09:31:28
Cerita hidup dan endingnya ya? Aku belum menentukannya.
Night Eve
2017-05-28 15:55:28
Hmm menentukan takdir kita sendiri ya. . .
Alien Queen
2017-02-02 11:15:46
Aku belum memikirkan seperti apa cerita hidupku yang akan kubuat.
Chiba Michiko
2016-01-13 12:43:24
keren.
Pembaca Level Dewa
2015-10-16 19:02:04
keren ceritanya
Eicchi
2015-10-10 19:54:55
Woahh~ Keren. salam kenal, saya pemula biasa, yang tidak biasa ngasih komentar, dan belum ter biasa baca oneshot. LOL
anonim247
2015-10-02 01:08:29
widih :v
A wahyu
2015-10-01 12:02:57
Ide cerita yang menarik....
Whiti Intheforest
2015-09-30 23:17:35
keren
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook