VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Reminiscence Zea

2015-05-02 - China Musume
292 views | 31 komentar | nilai: 9.33 (3 user)

Di suatu pagi yang cerah di salah satu bagian dari planet Zea, yaitu Green Zea, pulau tempat manusia hidup dengan damai, sebuah tragedi telah menanti dibalik cerahnya mentari hari itu.

"Hoi!! Valerie!! Bangun!!" terlihat seorang pemuda sedang mengguncang-guncang bahu seorang gadis bernama Valerie.

"Apa-apaan sih?!" gadis itu segera terbangun dan melihat pemuda yang membangunkannya, "ke.. kenapa kau ada di kamarkuu??!!! Marvin bodoh!!!" Valerie langsung menendang wajah pemuda bernama Marvin itu.

"Ugght!!" pemuda itu pun mimisan setelah menerima tendangan Valerie, "Ma-maafkan akuu!!" ucap Marvin sambil membungkuk di hadapan Valerie.

"Tidak.. maafkan aku.." jawab Valerie penuh penyesalan, "Apakah ingatanmu sudah kembali, Marvin?"

"B-belum.. aku masih belum bisa mengingat apapun.." ucap Marvin menunduk.

"Iya ya.. pasti sangat sulit mengingat kembali semua tentangnya.." pikir Valerie dalam hati, "aku dan pamanku menemukannya terdampar di pantai di belakang rumahku lima hari yang lalu... pemuda yang aneh, kulitnya pucat seperti orang sakit, aku merasa ada sesuatu yang aneh dari dalam dirinya.. tapi entah apa itu.."

"Valerie, apa kau lupa kalau kita harus ke ladang??" tanya Marvin.

"Ah! Iya, aku lupa.. hehe..." Valerie mulai bangkit, "Ayo kita ke ladang!!" mereka pun pergi ke ladang bersama-sama.

Sesampainya di ladang, terlihat lelaki separuh baya sedang memanen gandum.

"Pamaan!! Paman Keene!!" Valerie memanggil orang itu dari kejauhan dan lelaki itu membalasnya dengan tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Valerie dan Marvin yang berada di belakang Valerie.

"Haah..." lelaki itu menghela napas, "ini adalah musim terbaik di Green Zea, lihat anak-anak, kita panen besar hari ini.." ucap Paman Keene yang menunjukkan hasil panennya pada Valerie dan Marvin.

"Yay!!" Valerie melompat kegirangan, "kau lihat itu, Marvin, kita panen be-" Valerie berhenti berbicara setelah melihat Marvin, "Marvin, kau kenapa??"

Mavin memegang kepalanya dengan kuat dan terlihat sangat kesakitan, Valerie dan Paman Keene khawatir dan bertanya-tanya dalam hati "apa yang terjadi pada Marvin? "

"Hei, Marvin, kau baik-baik saja??" tanya Paman Keene yang memegang pundak Marvin.

"Marvin??" gumam Valerie.

"A-aku.. harus membawanya kembali..." gumam Marvin yang masih memegang erat kepalanya "Reminiscence..." Marvin tiba-tiba jatuh pingsan.

"Marvin?!!" teriak Valerie dan Paman Keene bersamaan.

Pagi telah menjelang siang, Marvin mulai tersadar.

"Aku... ada di mana?" tanya Marvin.

"Marvin... akhirnya kau sadar..." Valerie langsung memeluknya dan terisak.

"M-Marvin? siapa? dan kau siapa?"

"Dasar bodoh!! apa kau melupakanku begitu saja?!!" Valerie kesal dan menampar Marvin dengan sekuat tenaga.

"Ukkhh!!" Marvin terjatuh dari ranjangnya, "sepertinya aku ingat.. maaf telah merepotkanmu selama ini... dan namaku Mavis, Mavis Leinhorn.." jawabnya.

"Mavis?" tanya Valerie dalam hati, "begitu ya.. ingatannya telah kembali..." pikirnya.

"Kita harus pergi dari tempat ini secepatnya!" ucap Mavis, "cepat kemasi barang-barangmu, kita tidak boleh berada di sini lebih lama lagi.."

"Apa maksudmu?!" "kau mau mengusirku dari tempat tinggalku sendiri??!!!"

"Bu-bukan itu maksudku..." Mavis agak ketakutan, "tapi aku seperti melihat sesuatu yang buruk akan menimpa tempat ini dalam mimpiku barusan... kita harus pergi..."

"Bagaimana kau bisa tau? Memangnya kau bisa meihat masa depan??" tanya Valerie kebingungan.

Tiba-tiba terjadi gempa yang sangat dahsyat dan gelombang air laut berubah menjadi ombak yang sangat besar. Penduduk sekitar pantai menjadi panik dan tak sedikit yang mati tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa yang sama sekali belum pernah terjadi di desa itu.

"Tsunami?" pikir Valerie yang melihat ombak yang sangat tinggi dari jendela kamar Mavis, "kau benar... ayo kita pergi dan membantu orang-orang.." ucap Valerie.

"Iya.." Mavis segera beranjak dari tempat tidurnya dan pergi keluar bersama Valerie. Mereka berusaha menertibkan penduduk yang kepanikan. Setelah para penduduk selesai dievakuasi mereka segera mencari Paman Keene yang sama sekali tidak terlihat di kerumunan penduduk yang mengungsi.

"Valerie kita tidak sempat lagi.. ombak itu hampir tiba di bibir pantai.." Mavis melihat Valerie sedang membantu Paman Keene yang terimpa reruntuhan bangunan yang besar.

"Mavis... bantu aku... cepat!!" teriak Valerie yang menarik tangan Paman Keene.

"Pergilah Valerie, Marvin.. tinggalkan paman di sini... kalian harus tetap hidup..."

"Tidaak!!" teriak Valerie yang masih berusaha mengeluarkan tubuh Paman Keene dari runtuhan tersebut.

"Valerie!!" teriak Mavis yang langsung menarik tangan Valerie. Akan tetapi tsunami itu menerjang desa itu dengan kuat. Mavis dan Valerie tak sempat menyelamatkan diri dan terhanyut.

"Uhuk..uhuk..." Mavis terbangun, "ini... di mana lagi??!" seru Mavis yang terkejut saat mengetahui dirinya berada di pantai yang tak dikenalinya, "ukh.. sudah berapa hari aku tak sadarkan diri??" pikirnya, "di mana Valerie??!"

Mavis memandang sekelilingnya dan melihat Valerie tergeletak tak jauh darinya.

"Valerie!!!" Mavis segera menghampirinya dan mengguncangnya. Valerie masih belum sadar. "hei hei.. gak mungkin aku harus memberi napas buatan pada gadis ini.." pikir Mavis dengan wajah yang agak memerah, "tapi kalau tidak, Valerie mungkin tidak akan bangun..." Mavis segera mendekatkan wajahnya ke Valerie untuk memberikan napas buatan.

"Kau gila yaa??!!" Valerie tiba-tiba terbangun dan terkejut dan spontan menendang perut Mavis.

"Ma-maafkan akuu..!!" teriak Mavis yang terpental ke dalam hutan di dekat pantai itu.

"Hei! Jangan tinggalkan aku sendirian di sini!!" teriak Valerie yang menyusul Mavis ke dalam hutan itu, "orang itu ke mana sih.. tiba-tiba terbang memasuki hutan ini sendirian..." gumam Valerie yang masih tidak sadar akan apa yang terjadi.

"Bruakk!!" suara Mavis yang terjatuh dari ketinggian, "ukh! Kenapa aku selalu sial seperti ini sih kalau bersama gadis itu..." gumam Mavis.

"Srekk..srekk!!" dari semak-semak di dekat Mavis muncul seseorang wanita berjubah hitam dan bertopi hitam seperti penyihir.

"Wah wah... tumben sekali ada manusia di tempat seperti ini..." ucap wanita itu yang mengangkat topinya, "hum... sepertinya kau bukan manusia biasa... " wanita itu mengamati Mavis dan begitu pun Mavis mengamati wanita itu.

"Kau penyihir??" tanya Mavis, "kau hantu??" tanya wanita itu bersamaan dengan pertanyaan Mavis.

"Tentu saja aku bakan hantu!!" bentak Mavis.

"Akhirnya ketemu..." Valerie muncul dari semak-semak yang lain. Mereka bertiga saling bertatap-tatapan.

"Hei Eva, apa kau sudah menemukan bahan makanan?" tanya pemuda lain yang muncul di belakang wanita yang bernama Eva itu.

"Kalian siapa??!!" tanya Valerie dan pemuda itu bersamaan. Dan akhirnya mereka berempat berbincang-bincang sebentar.

"Namaku Mavis Leinhorn..." ucap Mavis yang memperkenalkan dirinya, "dan ini Valerie.." ucap Mavis sambil menunjuk Valerie. "salam kenal.." ucap Valerie.

"Hoo.. jadi kalian di sini untuk bulan madu?" tanya Eva.

"Bukaan!!!" bantah Mavis dan Valerie bersamaan.

"Hahaha... bercanda..." ucap Eva yang tertawa geli, "Aku Eva, dan ini kakak laki-lakiku, Fritz... " Fritz langsung memalingkan wajahnya dari Mavis dan Valerie, "kakakku agak pemalu dan pendiam, jadi tolong maklumi ya... " bisik Eva ke Mavis dan Valerie.

"Be-begitu ya... " jawab Mavis, "apa kalian tau tempat apa ini?"

"Kalian saat ini berada di timur Blue Zea, tempat tingal para penyihir sepeti kami.. apa tujuan kalian ke tempat ini? " jawab dan tanya Fritz.

"Kami tehanyut dari Green Zea akibat tsunami yang menerjang desa kami... " jawab Valerie.

"Aku sedang mencari Reminscence.. " ucap Mavis.

"Kau sedang mencari Reminiscence?? " tanya Eva yang agak terkejut.

"Kenapa? Ada apa? Apa kalian mengetahui sesuatu tentang Reminiscence??" tanya Mavis dengan semangat

"Kebetulan kami sedang mencarinya juga.." jawab Fritz, "tapi tak seorang pun yang mengetahui wujud Reminiscence.. bahkan penciptanya tak diketahui.. ada beberapa rumor yang mengatakan Reminiscence berbentuk bola kristal, ada juga yang mengatakan Reminiscence itu batu yang dikutuk..." lanjut Fritz, "dan katanya, orang yang mendapatkannya akan mendapatkan kekuatan Zea, dewa pelindung planet ini..."

"Tunggu dulu... Kenapa kalian ingin mencarinya? Apa hanya untuk mendapat kekuatan dewa?" tanya Valerie yang tak mengerti tentang apa yang sedang mereka bicarakan.

"Kami membutuhkan Reminiscence untuk mengembalikan desa kami yang hancur akibat serangan organisasi gelap..." jawab Eva. Mendengar perkataan Eva, raut wajah Mavis berubah menjadi agak marah.

"Organisasi gelap DOZ, Dark Organization of Zea..." gumam Mavis, "mereka telah mengambil alih Red Zea dan kerajaanku..." ucap Mavis yang mengepalkan tangannya dengan kuat, "ayahku yang merupakan raja di Red Zea telah dibunuh oleh pemimpin DOZ, yaitu Delmor... Sedangkan ibuku ditawan di Vampire Hell, penjara yang merupakan neraka bagi kaum vampire..."

"Bukankah Red Zea itu tempat tinggal ras vampire?" tanya Eva, "jangan-jangan kau..."

"Mavis... berarti kau vampire ya?" tanya Valerie.

"Iya..." jawab Mavis sambil menunduk.

Di planet Zea, ras vampire yang hidup di Red Zea, adalah ras yang paling dibenci oleh ras lainnya karena kesombongan dan kesadisannya karena suka menindas ketiga ras yang hidup di bagian Zea yang lainnya. Mereka berempat terdiam.

"Kurasa kau berbeda dari vampire lain yang pernah kutemui..." ucap Fritz yang memecah keheningan, "dari buku tentang Reminiscence yang pernah kubaca, Reminiscence berada di Vampire Hell yang kau katakan itu.. Dan untuk membangkitkannya dibutuhkan tumbal seorang vampire perempuan.."

Mavis terkejut. "Berarti ibuku...??!" tanya Mavis.

"Menurutku ibumu masih hidup, karena selain mengorbankan tumbal, untuk membangkitkannya diperlukan kenangan yang kuat.. dan tidak sembarang kenangan yang dikorbankan..." jawab Fritz.

"Begitu ya..." gumam Mavis yang agak lega, "aku akan pergi lagi ke Vampire Hell..." ucapnya.

"Lagi?" tanya Eva, "memangnya kau pernah ke sana?"

"Pernah... Saat itu aku pergi ke sana untuk menyelamatkan ibuku... lalu seingatku, aku ditangkap oleh penjaga Vampire Hell dan dibuang ke laut... Begitu sadar, aku berada di Green Zea, tempat manusia hidup dan mengalami amnesia..." jawab Mavis yang bangkit berdiri.

"Ooh... Jadi itu penyebab kau amnesia, Mavis?" tanya Valerie.

"Iya... Aku akan ke sana dan mendapatkan Reminiscence, lalu aku akan memberantas DOZ beserta pemimpinnya..." ucap Mavis yang mulai melangkah pergi.

"Tunggu Mavis..." Valerie langsung memegang tangan Mavis, "aku ikut... aku juga ingin mendapatkan Reminiscence, aku ingin desaku kembali dan Paman Keene hidup lagi..."

"Kalau begitu apa kami berdua boleh ikut?" tanya Fritz.

"Kakak? Yang benar saja?" tanya Eva pada Fritz.

"Kami juga membutuhkan Reminiscence, tujuan kita sama kan?" lanjut Fritz yang mengabaikan pertanyaan Eva.

"Baiklah.. Ayo kita pergi bersama-sama..." ucap Mavis yang mulai bersemangat lagi, "kalau pergi beramai-ramai mungkin akan lebih menyenangkan..." lanjut Mavis, "tujuan kita sekarang Diamond Strip..."

"Diamond Strip??" tanya Valerie yang melepas tangan Mavis yang dipegangnya.

"Diamond Strip adalah daerah yang berbentuk permata yang menghubungkan empat bagian Zea.." jelas Fritz.

"Kakak aneh.." gumam Eva, "biasanya pendiam tiba-tiba banyak bicara seperti itu.." ketusnya.

"Untuk melewati Diamond Strip kita harus ke timur ke Green Zea, lalu ke Yellow Zea tempat peri hidup, lalu ke Red Zea..." ucap Mavis sambil menggambar jalur yang akan dilalui di tanah dengan menggunakan telunjuknya.

"Kenapa tidak langsung ke barat dan ke Red Zea?" tanya Eva.

"Kurasa tidak mungkin kita langsung ke Red Zea..." jawab Fritz, "beberapa hari yang lalu aku mendengar kalau jalur Diamond Strip antara Blue Zea dan Red Zea terputus dan penuh prajurit organisasi gelap..."

"Green Zea..." gumam Valerie dengan suara pelan, "kira-kira keadaan desa sekarang seperti apa ya... Bagaimana dengan Paman Keene...?" pikir Valerie.

"Ayo kita ke Green Zea..." Mavis menarik tangan Valerie, "mohon kerjasamanya ya, Fritz, Eva, kuharap kita semua bisa akur..."

Mereka berempat pun segera melanjutkan perjalanan ke Green Zea dengan mengikuti jalur Diamond Strip, jalur yang merupakan jalan tercepat yang menghubungkan keempat wilayah Zea dan sekaligus jalan yang paling berbahaya karena banyak penjahat yang bersarang di sepanjang jalur itu. Fritz dan Eva memberikan tumpangan sapu terbangnya pada Mavis dan Valerie untuk menyeberangi Diamond Strip Blue Zea-Green Zea. Setibanya di kota besar di Green Zea, mereka segera menuju Diamond Strip selanjutnya.

Hari telah berganti malam, mereka beristirahat di dalam goa yang mereka temukan di dekat kota besar itu.

Sambil beristirahat di dalam goa, mereka memakan hasil buruan mereka di hutan dekat goa itu. Setelah makan mereka segera tidur, akan tetapi Mavis bangun dan keluar. Valerie yang menyadarinya segera menyusul Mavis.

"Mavis.." Valerie memanggil Mavis yang berbaring di rerumputan di depan goa sambil memandang bintang di langit. Mavis agak terkejut saat Valerie memanggilnya.

"Bintangnya indah.." ucap Mavis tersenyum, "kenapa kau bangun, Valerie?"

"aku tidak bisa tidur... sejak dari Blue Zea aku selalu bermimpi aneh..." jawab Valerie yang duduk di sebelah Mavis berbaring, "kau sendiri sedang apa di sini?"

"Aku sedang bingung.." jawab Mavis, "untuk mendapatkan Reminiscence, aku harus mengorbankan vampire perempuan... tapi aku tidak mau.. itu sama saja dengan membunuh kan?"

"Apa benar kau itu vampire?" tanya Valerie yang memperhatikan Mavis dengan serius.

"I-iya.. aku vampire berdarah murni..." jawab Mavis yang gugup dan wajahnya mulai memerah.

"Apa kau menghisap darah?" Valerie bertanya lagi.

"Aku hanya sekali menghisap darah, yaitu saat aku baru lahir..." jawab Mavis yang masih gugup, "tapi sebentar lagi aku berumur tujuh belas, jadi aku harus menghisap darah lagi agar aku tidak mati..." lanjutnya.

"Apa kau mau mencoba darahku?" tanya Valerie dengan wajah tersipu.

"Maaf, aku tidak bisa..." jawab Mavis, "aku harus meminum darah vampire agar umurku memanjang, kalau aku meminum darah manusia umurku hanya memanjang sedikit dan membuatku selalu haus darah..."

"Oh... aku mengerti..." ucap Valerie yang ikut berbaring di rumput. Tanpa sadar mereka tertidur di luar goa. Fajar pun tiba. Mereka bangun dan melanjutkan perjalanan.

"Sepertinya kita butuh kuda dan senjata.." ucap Fritz, "di sekitar sini aku punya seorang kenalan, dia pembuat senjata yang hebat dan terkenal.."

"Hmm..." gumam Mavis, "aku tidak punya uang..."

"Aku juga..." ucap Valerie.

"Tenang saja... Kami juga tidak punya uang kok..." ucap Eva dengan semangat sambil menepuk punggung Valerie dan Mavis.

"Sebagai gantinya... mungkin kita harus bekerja selama sepuluh tahun untuk membayarnya..." lanjut Fritz dengan lesu.

"Lebih baik tidak usah!!" teriak Mavis dan Valerie bersamaan dengan wajah kesal.

Saat mereka berjalan, mereka bertemu pemuda asing yang menghadang mereka.

"Siapa kau?!" tanya Valerie.

Pemuda itu menghilang dan tiba di depan Mavis dalam sekejap.

"Tidak salah lagi.." ucapnya, "akhirnya aku menemukanmu..." pemuda itu langsung menembus perut Mavis dengan tangannya.

"Mavis?!" teriak Valerie.

"Hei, siapa kau??!" Fritz menyerang pemuda asing itu dengan pedang petirnya. Namun, pemuda itu lincah mengindari setiap tebasan pedang Fritz.

"Maaf telah mengganggu perjalanan kalian..." ucap pemuda asing itu dengan nada mengejek dan menghilang dalam sekejap.

Sementara itu Mavis tergeletak dan tak sadarkan diri. Darah terus mengalir dari lukanya.

"Bagaimana ini...?" tanya Eva yang kebingungan, "sihir penyembuhanku tidak bereaksi pada luka ini... dan seharusnya vampire punya kemampuan untuk memulihkan diri dengan cepat kan?!"

"Lebih baik kita bawa dia ke rumah kenalanku di dekat sini.." ucap Fritz yang langsung menggendong Mavis di punggungnya, "aku tidak akan membiarkan teman seperjalananku mati begitu saja..."

Valerie yang khawatir mulai menangis haru mendengar perkataan Fritz. Mereka tiba di rumah kenalan Fritz. Seorang pemuda yang seumuran dengan Mavis membuka pintu rumah itu.

"Umm.. Apa Cain Damon ada?" tanya Fritz pada pemuda itu.

"Ada..." jawab pemuda itu dengan senyum yang ramah, "aku Cain Damon..."

"Rupanya kau sudah besar ya Cain..." ucap Fritz, "dulu kau sangat kecil.."

"Maaf..." jawab Cain, "Kau siapa?"

Mereka terdiam sejenak. Beberapa saat kemudian di ruang tamu rumah Cain.

"Ooh... Jadi kau Fritz!! Lama tidak berjumpa..." ucap Cain yang menyajikan teh untuk mereka, "jadi ada keperluan apa? Aku akan sangat senang jika bisa membantu kalian.. dan ngomong-ngomong pemuda itu harus segera diobati.. sepertinya terdapat racun dari lukanya.."

"Apa kau bisa menyembuhkannya??" tanya Valerie.

"Aku tidak bisa, tapi temanku di Yellow Zea dapat menyembuhkan penyakit apapun..." jawab Cain, "kita harus segera mengantarnya ke temanku, kalau tidak dalam waktu sehari atau mungkin semalam dia akan mati..."

"Tapi Diamond Strip ke Yellow Zea masih jauh..." ucap Eva.

"Tidak masalah.." balas Cain, "aku akan mengantar kalian dengan jet bertenaga cahaya buatanku... hanya dengan menyerap cahaya, jet buatanku akan meluncur secepat kecepatan cahaya.."

"Yang benar??" tanya Valerie dengan girang.

"Iya..." jawab Cain, "cepat bawa pemuda ini dan ikuti aku.. aku meletakkannya di belakang rumahku..."

Mereka mengikuti Cain dan terkagum-kagum melihat jet buatan Cain. Mereka memasuki jet itu. Cain segera mengaktifkan mesin jet itu dan mulai menyerap cahaya. Jet itu langsung meluncur dengan sangat cepat seperti kecepatan cahaya. Cain dengan lihai mengendalikan kemudi jet ke arah rumah temannya. Mereka pun mendarat di Yellow Zea tanpa gangguan sedikitpun.

Cain langsung membawa Mavis ke rumah temannya yang seorang peri.

"Gwen! Gwen!! Ini aku Cain, aku sangat butuh bantuanmu!!" teriak Cain di depan pintu rumah yang berbentuk jamur raksasa. Seorang gadis pendek berambut pirang dan bergelombang membukakan pintu dan mempersilahkan Cain dan Mavis masuk. Sedangkan Valerie, Fritz, dan Eva menunggu di dalam jet milik Cain.

"Kenapa orang ini bisa terkena racun mematikan ini?!" ucap gadis tadi yang bernama Gwen, "dan lagi dengan luka separah ini, anak ini masih hidup??!!" lanjut Gwen yang semakin terkejut. Gwen segera meracik obat herbal untuk menawar racun yang terdapat di luka Mavis. Setelah beberapa jam, Gwen selesai mengobati luka Mavis. Dan luka Mavis menghilang tak berbekas. Tak lama kemudian Mavis tersadar.

"Akhirnya kau sadar juga.." ucap Cain.

"Kalian siapa..?" tanya Mavis yang belum mengenal Cain dan Gwen.

"Tenang saja... aku teman Fritz.." jawab Cain, "sepertinya kau sudah baik-baik saja.. aku akan membawamu ke tempat teman-temanmu.." lanjut Cain, "Gwen terima kasih banyak atar bantuanmu..." ucap Cain dengan senyum manisnya pada Gwen.

"Sama-sama..." ucap Gwen, "aku memang senang menolong orang yang sakit kok... Kalian hati-hati di jalan ya..."

Cain membawa Mavis ke dalam jetnya. Valerie yang sangat khawatir menjadi lega melihat Mavis telah sembuh total.

"Kalian mau ke mana? Biar sekalian kuantarkan..." ucap Cain.

"Apa kau bisa mengantar kami ke Vampire Hell di Red Zea??" tanya Mavis.

"Tentu saja bisa! Kalian jangan remehkan kecepatan dan ketepatan jet superku ini.." jawab Cain dengan semangat. Cain segera menghidupkan mesin jetnya dan jet itu meluncur dengan cepat sekali. Jet milik Cain menjadi sulit dikendalikan akibat berlebihan menyerap cahaya di Yellow Zea. Sesampainya di Vampire Hell di Red Zea, jet milik Cain oleng dan menabrak Vampire Hell yang berupa kastil. Mavis terlempar keluar dari jet itu dan segera memasuki Vampire Hell untuk mencari Reminiscence dan ibunya. Akibat jet yang menabrak tempat itu, penjagaan di sana menjadi longgar.

"Sepertinya ibu ada di dalam sana.." gumam Mavis yang melihat sebuah sel. Mavis menjadi sangat sedih bercampur marah saat melihat ibunya duduk diam tak bernyawa lagi di dalam sel itu.

"Ternyata kau berhasil sembuh ya... aku sangat terkesan..." ucap pemuda yang pernah menusuk perut Mavis yang muncul dibelakangnya, "aku Delmor, orang yang membunuh kedua orangtua mu..." Mavis semakin marah dan tak kuasa menahan tangisnya.

"Ukh.." tiba-tiba seseorang menusuk Delmor dengan pedang dari belakang.

"Valerie??" Mavis terkejut melihat perbuatan Valerie yang menusuk Delmor.

"Kumohon... hentikan kak.." ucap Valerie pada Delmor.

"Jadi benar kau itu Valerie ya?" tanya Delmor yang kesakitan, "padahal kupikir aku sudah melenyapkanmu... ukh..!!"

"Valerie.. apa maksudnya ini??" tanya Mavis yang kebingungan.

"Aku adalah adik orang ini.." ucap Valerie dengan nada sedih, "aku juga amnesia sepertimu, Mavis... saat itu aku berontak dari kakak dan dibuang ke laut.. aku.. baru ingat sekarang kalau aku vampire sepertimu..." Valerie mencabut pedang yang menusuk Delmor, "aku akan membalas dendam ayah dan ibu yang telah kau bunuh, kak..." Valerie menyiram racun mematikan yang sama pada luka Mavis pada Delmor.

"Va..lerie... sialan...kau..." ucap Delmor yang terbaring lemah di tanah.

"Kau ingin Reminiscence kan?" tanya Valerie pada Mavis, "aku akan mengantarmu... aku tau tempatnya..." Valerie menarik tangan Mavis menuju ruang bawah tanah, tempat Reminiscence berada. Mavis melihat sebuah altar pengorbanan di ruangan itu.

"Aku tidak punya tumbalnya..." ucap Mavis, "lagipula Delmor sudah tidak ada.. lebih baik tidak usah..."

"Mavis kau harus melakukannya.." Valerie memohon pada Mavis, "aku ingin Paman Keene hidup lagi dan aku ingin semua kekacauan yang kakakku buat kembali seperti semula... kumohon..." Valerie segera berlari ke altar pengorbanan.

"Valerie tunggu!!!" teriak Mavis.

"Dewa pelindung Zea, kumohon berikanlah Reminiscence pada Mavis... aku akan mengorbankan kenangan dan diriku sendiri..." pinta Valerie sambil menangis. Sebuah cahaya kecil muncul di atas altar dan semakin membesar hingga memenuhi ruangan itu. Tubuh Valerie tiba-tiba bercahaya dan perlahan menjadi serpihan cahaya.

"Valerie!!" Mavis segera memeluk Valerie, "jangan pergi... jangan pergi!!" Mavis terus memeluk erat Valerie.

"Aku harus pergi demi dirimu dan planet ini.." ucap Valerie, "aku mencintaimu Mavis, aku ingin bersamamu tapi kau pasti akan membenciku karena Delmor..."

"Kau tidak seperti Delmor, Valerie, aku tidak mungkin membencimu... aku juga mencintaimu jadi jangan pergi!!!" ucap Mavis sambil menangis.

"Selamat tinggal.. Mavis.. mintalah sesuatu yang penting seperti yang kukatakan tadi pada Dewa Zea..." Valerie telah berubah menjadi serpihan cahaya dan menghilang, cahaya di ruangan itu pun meredup.

"JANGAN PERGI VALERIE!!!!" Teriak Mavis yang membuat ruangan itu menggema. Cahaya redup itu kembali bercahaya dengan terang dan lebih terang lagi.

Dari balik cahaya yang menyilaukan mata Mavis muncul seseorang yang disayanginya itu.

"Dasar bodoh..." ucap orang itu, "kau harus meminta sesuatu yang lebih penting dari aku..." lanjut Valerie yang kembali lagi dan menangis haru.

"Kau yang bodoh.." sambung Mavis, "jangan lakukan lagi hal yang bodoh itu..." Mavis memeluk Valerie lagi.

"Manusia...?" terdengar suara menggema di ruangan itu, "bukan... vampire... kalian para vampire... aku terkesan pada kenangan dan perasaan kalian berdua... Akulah Zea, dewa pencipta Reminiscence dan pelindung planet ini... aku kagum pada kalian... oleh karena itu kuserahkan Reminiscence padamu Mavis... Gunakan kekuatanku untuk melindungi planet yang kucintai ini... Kau dapat meminta apapun pada Reminiscence..." suara itu pun hilang dan di atas altar muncul sebuah batu bulat berwarna putih.

"Inikah Reminiscence?" pikir Mavis yang mengambil batu itu, "aku ingin kerusakan di Zea kembali menjadi semula..." ucapnya. Batu itu pun bercahaya dan seluruh tempat di penjuru Zea yang rusak kembali pulih, "dan aku ingin Paman Keene...hidup lagi..." pinta Mavis. Mereka berdua menunggu beberapa lama tetapi Reminiscence tidak bereaksi.

"Iya ya... Reminiscence kan hanya untuk kebaikan Zea..." ucap Valerie yang agak kecewa dan sedih, "ayo pulang, Mavis..." Valerie dan Mavis berbalik menuju pintu ruangan untuk kembali ke tempat Fritz, Eva dan Cain di luar. Sebelum mereka melangkah keluar ruangan itu, di belakang mereka muncul cahaya terang. Saat Valerie dan Mavis menengok ke belakang, mereka melihat sosok Paman Keene yang mereka rindukan. Valerie segera berlari ke arah Paman Keene dan memeluknya sambil menangis haru. Kemudian Mavis menggunakan Reminiscence untuk membuat perdamaian di planet Zea. Zea kembali damai dan Mavis memutuskan untuk berpetualang bersama Valerie.
Reminiscence Zea.. (end)

Takashi Draylus
2018-01-06 20:52:16
apa nya yg bagus?? , plot-twist nya gk seru, konflik nya kurang, beberapa bagian terasa gak jelas dan biasa!!
Aerosmith
2017-06-19 00:34:52
Mantap..
Dwi Fitri
2017-06-15 04:42:20
Panjang..
Zen Kureno
2017-05-12 11:59:22
Akhirnya bagian 1 reminiscence zea telah kubaca.
Alien Queen
2017-01-26 10:13:38
Cerita tentang planet lain. Wah jika diingat ingat, jadi keingat anime owari no seraph.
Gouenji Shuuya
2017-01-02 04:30:06
Hmm.. layak juara satu
Alvian Huda
2016-06-30 09:58:52
panjang ceritanya
Lord Athem
2016-05-22 03:34:18
18. Ceritanya keren mbk Fuyu. . . Hehehe
Rita En
2016-05-13 13:12:36
Waw, ceritanya keren senpai. Seru!!!
NicoRock
2016-01-17 10:12:54
Zea aku ingin oneshotku peringkat 1 di tahun ini
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook