VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Next World Chapter 20

2017-11-12 - Adam Beneath Us > The Next World
37 views | 4 komentar | nilai: 10 (1 user)

Hari minggu, tepatnya hampir 3 hari aku menikmati liburanku sejenak dari segala urusan membasmi makhluk mati diluar sana. Bibi baik hati mengajakku berlibur bersama Juno. Kebetulan, bibi juga agak jenuh dengan pekerjaannya, dan butuh sesuatu agar pikirannya kembali fresh.

Kami bertiga, kami berlibur di sebuah komplek perdesaan yang sejuk dan asri di tenggara Houngarious, hampir berjarak berapa ratus meter dari temboknya.

Kami telah memesan sebuah villa untuk menginap. Tepatnya villa no.13 yang berada dipuncak. Kami sampai dengan selamat, dan Juno menghentikan mobil tepat dihalaman.

Akhirnya sampai juga, aku sedikit lega dan semangat. Tepat beberapa detik berselang Juno membuka pintu mobil dan turun, sementara bibi memintaku membawa barang bersama Juno selagi dia mengecek seisi villa itu.

Aku dan Juno mengangkut barang.

"Hey, apa kau merasa senang disana?" Juno menanyaiku.

"Disana?" ulangku. Memandangnya dengan alis terangkat.

"The Saviours." jelas Juno sembari menatapku. "Apa kau senang ditempat itu?"

Aku menerbitkan seutas senyum. "Ya. Aku senang."

"Kudengar Jason juga salah satu dari mereka."

"Itu benar." jawabku. "Memang kenapa?"

"Aku akan menghajarnya."

Kami berdua masuk kedalam villa.

"Ada urusan apa kau dengan Jason, huh?" tanyaku penasaran.

"Aku sudah mendengarnya. Kudengar kau sudah tidak bersamanya lagi." Juno memandangku. Aku terdiam cukup lama, aku tak bisa menahan tawaku.

"Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk padamu?" tanyanya lagi tanpa mempedulikan tawaku.

"Dia mengatakan sesuatu yang wajar dikatakan seorang kekasih yang ingin putus hubungan. Tak perlu dipikirkan. Aku sudah tak apa-apa."

"Apa kau dekat dengan seseorang disana?"

"Liza. Tolong cek kamar kalian dilantai 2. Bibi akan menyiapkan makan malam!" suara Bibi dari lantai 2 bergema cukup keras.

"Iya, bibi!" balasku. Kutolehkan wajah sekali lagi pada Juno. "Daripada memikirkan siapa yang dekat denganku. Lebih baik kau pikirkan saja caramu mendekati si Mary itu, Juno."

Juno langsung melotot dengan wajah bersemu. "Sudah kubilang aku tidak dekat dengannya!"

.

.

.

"Juno?"

Aku membuka pintu kamar cowok itu tanpa mengetuk. Kulihat dia sedang mengobrak-abrik sesuatu didepan televisi. Aku sangat yakin dia sedang memasang portable gamenya.

"Sedang apa?" tanyaku perlahan mendekat.

"Pasang konsol." jawabnya singkat. Ia sepertinya sangat sibuk. "Ada perlu apa?"


The Next World Chapter 20 - The Whisperer
Penulis : Adam Beneath Us

"Ibumu tanya jam berapa Mary datang?" tanyaku sembari duduk menyaksikan.

"Kurasa sebentar lagi."

"Kau tak mau menyambutnya di pintu, hm?" godaku.

"Tidak. Aku tak ingin dia menganggapku macam-macam."

Aku tersenyum. "Kau sudah dewasa ya, Juno. Sekarang kau hampir punya pacar, keadaan kita jadi terbalik begini."

Juno tersenyum pula. "Heh. Salahmu sendiri terlalu banyak pacar."

"Hei!" sentakku.

"Itu kenyataannya, kan?"

Aku tersenyum getir.

"Rasanya sangat sulit menutup pintu untuk seseorang. Dimanapun, dan kapanpun itu, selalu saja ada yang mencoba memasukinya."

"Kau sedang curhat, Liz?"

Aku hanya tersenyum.

TIT!

Ponselku berdering. Sebuah panggilan masuk dijam-jam segini...

...dari Jared?

Aku langsung mengangkatnya dengan antusias. Baru kali ini si Jared ini menelponku.

"Ya, Jared?"

"Snowy." yah, ternyata memang suara Jared. Aku sedang tidak berhalusinasi.

"Tumben sekali kau menelponku. Setan apa yang merasukimu, hah?" ucapku tertawa. Juno memandangku, aku langsung pasang muka datar lagi agar dia tak curiga.

"Omong-omong, kau sudah bebas dari hukuman?" tanyaku sepelan mungkin agar tak menarik perhatian.

"Dari siapa, Liz--"

"Sstt!" desisku mendelik tajam pada Juno.

"Kau bersama seseorang?" tanya Jared

"Ya." jawabku. "Jadi, ada apa menelponku?"

"Aku mempertimbangkan saranmu sebelumnya, Snowy. Kau memang benar, aku butuh sesuatu untuk menjernihkan kepala."

"Ya, itu ide yang bagus, Jared. Lakukan apa yang kusarankan!"

"Pertanyaannya, aku tak tahu harus apa."

"Pergi ke bar dan mabuk-mabukan." candaku.

"Kau tahu aku takkan melakukannya."

"Haha, aku tahu, aku tahu." kataku. "Jadi, masalahmu adalah, kau tak punya rencana untuk menjernihkan kepalamu. Yah, itu masalah yang berat."

"Ada ide?"

"Begini, apa kau punya tempat favorit? Semacam tempat nongkrong atau apalah itu?"

"Kurasa punya."

"Nah pergilah kesana."

"Aku tak bisa."

Aku mengernyitkan alisku. "Karena?"

"Kubilang aku butuh sesuatu untuk menjernihkan kepalaku. Aku tak ingin pergi ke tempat dimana pikiranku bisa lebih kacau lagi."

Oh, aku ingat, tempat favoritnya Jared, adalah tempat nongkrong favoritnya bersama Daniel.

"Maaf." tukasku.

"Kau ada dirumah sekarang?" tanyanya.

"Tidak. Aku sedang menginap di villa bersama keluargaku." jawabku.

"Villa, kau bilang?"

"Ah, benar juga." aku melotot. "Datang saja kesini, Jared. Aku yakin ini adalah tempat yang bisa membuat pikiranmu fresh dan jernih dari masalah. Disini sangat nyaman!"

"Kompleks Villa di Houngarious. Kurasa cuma ada satu, bukan?"

"Ya!"

"Aku pernah ketempat itu." ucapnya tiba-tiba, aku sedikit kaget. "Villa nomor berapa yang kalian tempati?"

"13."

"Di puncak bukit itu?"

Eh, dia beneran tahu?!

"Bilang pada bibimu, aku izin ingin ikut. Bisa kan?"

"Bisa sih, tapi--"

"Aku akan berkemas."

TIT! panggilan diputus. Aku lumpuh ditempat.

Hei, Jared beneran datang. Apa dia bersungguh-sungguh, hah? Sial, aku panik, kulihat Juno hanya duduk diam memandangiku dengan aneh.

.

.

.

.

--Sudut Pandang Jason--

Hutan di wilayah tenggara Houngarious. Ini adalah tempatku dan seluruh pasukanku berada. Kami, total 5 orang, sedang beristirahat dan mengelilingi kobaran api unggun yang kami buat.

Sejak Pak Braddock menugasi kami untuk misi kali ini, kami berlima sama sekali belum pulang. Itu artinya, sudah 4 hari aku, Hazard, Rhodes, Simon dan Gary berada dihutan ini. Berada jauh dari markas utama.

"Kurasa Reeves hanya berdelusi soal Fript yang dapat berbicara itu." Hazard berucap sembari menjulurkan telapak tangannya pada api unggun. Badannya gemetar, aku yakin dia kedinginan. "Aku akan menghajar Reeves setelah pulang."

"Jangan bicara sembarangan begitu. Braddock saja mempercayai perkataan Reeves. Artinya pak kumis itu tahu sesuatu perihal 'Fript yang berbicara' ini." sahut Rhodes.

"Tak ada yang mencurigakan dari tempat ini. Bukan begitu? Sudah 4 hari kita berkeliling seperti orang bodoh disini. Jika besok kita tak menemukan apapun lagi, aku akan pulang. Aku tak peduli kalau Braddock itu membunuhku." Hazard emosi, aku paham yang ia rasakan itu.

Simon dan Gary hanya duduk diam memperhatikan kobaran api.

"Kita harus bersabar." ucapku.

Hazard menatapku tajam. "Itu yang kulakukan selama 4 hari ini, Kapten. Kesabaranku ada batasnya."

"Percayalah, bukan cuma kau yang kehabisan kesabaran, Hazard. Patuhi saja perintah Kapten!" Simon membentak.

Hazard lagi-lagi meledak-ledak. "Jangan mengguruiku, brengsek!"

"Simon benar, Hazard. Tak perlu emosional begitu!" lerai Gary.

"Kau pikir kau ini pintar hah?"

"Meski aku bodoh. Tapi aku masih dua kali lebih pintar darimu."

"Brengsek!!"

"GRAARR!!...."

Fuh, beberapa ekor Fript datang. Nampaknya aku harus berterimakasih karna berkat merekalah pertengkaran ini akhirnya berakhir.

Lantas aku berdiri dan mengambil katana.

"Formasi B. Lakukan." perintahku.

"Baik!"

Kami menghabisi beberapa Fript itu dengan katana kami. Hingga tak ada satupun yang tersisa.

"Yang ini juga jenis biasa." Rhodes berucap sembari mengecek tubuh salah satu Fript. Aku memperhatikan salah satunya sembari menyarungkan katanaku kepunggung.

"Ya kan? Yang kita lakukan disini itu sia-sia. Sebaiknya kita pulang!" Hazard berseru. "Aku kedinginan saat ini, tahu!"

"GRAAARR!!"

"Nampaknya kita kedatangan tamu lagi." ucapku. Aku bisa dengar Hazard mendecih.

"GRAAARR!!!"

Total kulihat 7 ekor Fript datang pada kami. Beberapa dari mereka, entah mengapa bergelagat cukup aneh. Aku tak tahu kenapa, tapi firasatku cukup buruk soal ini.

"Waspadalah." pesanku.

"Hah? Itu cuma Fript normal, Kapt. Tak perlu seserius itu!" Hazard tak mengindahkan ucapanku. Dia malah langsung menyerang mereka seorang diri.

JRASHH!!

JRASSHH!!!

JRASSHH!!

JRASSHH!!!

Hazard menghabisi 4 dari mereka, menyisakan 3 ekor yang perlahan mendekat kearahnya.

Saat itu, Hazard menenteng katananya dengan santai di bahu, selagi 3 ekor Fript menghampirinya dari belakang.

"Ada apa?" Hazard memandang kami berempat. "Tak ada yang mau bergabung dipesta? Hm?"

Kami terdiam disana. Memperhatikan tingkah sombong Hazard selagi bisa.

"Huh. Dasar penakut! Lihatlah aku!"

Hazard berbalik kearah Fript-fript itu, mengangkat katananya tinggi.

"Rasakan kalian keparat!!"

ZRASSHH!!

"!!!"

Aku terpaku syok.

"HAZARD!!"

Hazard ditebas lehernya oleh salah satu dari mereka, menggunakan belati yang sangat besar.

Kami langsung bersiap-siap, sementara Hazard tersungkur. Bersimbahkan banyak darah, ia tersiksa dengan rasa sakitnya.

"Aaaarrghh..."

Ketiga Fript itu mengenggam belati raksasa. Berdiri menghadap kami.

"Jadi merekalah yang dimaksud." gumamku. Tanganku bergemetar hebat.

"THE WHISPERER..."

Tbc~~


Bersambung ke The Next World Chapter 21

Alien Queen
2017-12-14 10:09:29
Wow, fript nya bersenjata.
Bocah Redoks
2017-11-13 18:00:48
Akhirnya hati Jared tersentuh jg.
Yukki Amatsu
2017-11-13 17:05:10
Akhirnya yang ditunggu-tunggu...
Sqouts Shadows
2017-11-12 11:16:40
Sepertinya si jared semangat sekali kalo bertemu snowy.. ditunggu chapter berikutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook