VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Next World Chapter 19

2017-11-04 - Adam Beneath Us > The Next World
37 views | 5 komentar | nilai: 10 (1 user)

Aku bangun di ruang kesehatan perempuan. Lagi.

Aku langsung memegangi kepalaku yang nyut-nyutan. Rasanya sangat sakit dipukul oleh laki-laki. Pukulan Jared begitu keras, aku langsung pingsan waktu itu. Tak kusangka Jared bisa sekasar ini padaku.

"Snow..." ah, rupanya Thomas sedang duduk disamping ranjangku, hampir membuat jantungku copot karna kaget.

"Thomas, kau selamat juga?" tanyaku senang.

"Aku bersembunyi sampai pagi di kebun itu." jawabnya, "Begitu aku kembali. Berita tentang Jared langsung jadi headline di seluruh the Saviours. Haha."

The Next World Chapter 19 - Homecoming
Penulis : Adam Beneath Us

"Begitulah..." sambungku, "Jared sedang kerasukan setan, mungkin. Saat ini berbahaya jika dekat-dekat dengan dia."

"Wajar saja, dia dan Daniel sudah berteman sejak mereka belum jadi anggota the Saviours. Aku paham mengapa dia semarah itu. Tapi aku tak menyangka dia juga memukulmu..." Thomas mengambil sebuah minuman botol dan memberikannya padaku.

"Kudengar Mark merampas helm milik Daniel, apa itu benar?"

"Menurut Jared sih begitu." jawabku.

Maggie datang membawa bingkisan. Dahinya masih terluka.

"Liza, kau sudah bangun?" dia menghampiri kami.

"Wow, kayaknya itu enak, Maggie, bolehkah aku minta satu?" Thomas berdiri dan Maggie lansung menyembunyikan bingkisan buah-buahan itu di punggungnya.

"Ini untuk Liza, tahu..."

"Cuma satu aja!"

"Gak boleh!"

"Hei..." potongku dan mereka. berdua langsung terdiam.

Aku duduk ditepi ranjang, kemudian berdiri dilantai. Maggie membantuku berdiri tegak.

"Antarkan aku ketempat Jared..."

...

Aku diantar Thomas dan Maggie ke ruang bawah tanah menggunakan lift. Selama hampir 3 bulan aku berada disini, aku bahkan baru tahu ada ruangan yang tersembunyi dibawah tanah markas the Saviours. Ruangan itu gelap jadi kami membutuhkan cahaya penerangan dari lilin.

Ada banyak sarang laba-laba. Aku benci sarang laba-laba. Astaga, sudah berapa lama tempat ini tak dibersihkan? Menjijikan sekali.

"Biasanya tempat ini digunakan sebagai hukuman bagi prajurit yang melanggar peraturan. Misalnya berkelahi dengan sesama prajurit." Thomas memberitahuku.

Kami berhenti didepan sel yang kebetulan hanya 6 meter jauhnya dari lift. Terlihat seseorang duduk bersender ditembok dengan ekspresinya yang sangat dingin, Jared.

"Seperti Jared ini..." sambung Thomas, "Kau nyaman disini, teman?"

Thomas tertawa, Maggie langsung mendelik dan dia langsung diam.

Aku menghampiri Jared perlahan. Jongkok didepan jeruji besi mencoba menyamakan tinggiku dengannya yang sedang duduk. Jared menatapku kalem. Seperti tak ada yang pernah terjadi pada kami sebelumnya.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku.

"Aku yang harusnya bertanya, kau baik-baik saja? Kau tidak menangis, kan?"

Syukurlah dia masih Jared yang menyebalkan.

"Ya. Aku baik-baik saja, aku merasa sesuatu bergejolak didalam diriku setelah seseorang yang bodoh menghajar wajahku beberapa saat yang lalu. Timbul niatku untuk membalas si bodoh itu nanti." ucapku menyindir

"Hm..." responnya malah tak sesuai harapan.

Sial, ini karna aku yang tak pintar memancing emosi seseorang atau karna Jared yang pribadinya cuek? Abu-abu. Yang jelas aku terlahir sebagai cewek baik-baik. Ehem.

"Jared, aku membawa apel untukmu..." Maggie menyerahkan sebuah apel melalui celah jeruji, Jared tak menatapnya sama sekali, "Hei? Terimalah. Aku memaafkanmu soal pintu itu, kok..."

Jared cuma diam.

"Jared?" panggilku.

Jared menerima apel itu tanpa memandang Maggie,

"Terima kasih..."

Maggie tersenyum padanya, "Kau harus memperhatikan makanmu.."

Maggie begitu perhatian pada Jared. Sekilas aku pikir Jared benar-benar lelaki yang keterlaluan. Terlepas dia tak ragu memukul wanita sepertiku dan Maggie.

"Hn..."

Tunggu. Kurasa aku tahu kenapa Jared tak mau melihat Maggie. Ah, sudahlah. Aku melempar pandang kepada Thomas tapi dia hanya mengendikan bahu.

"Sampai kapan kau akan dikurung disini?" Thomas bertanya memecah hening.

"2 hari mungkin..." dia menjawab, "Jangan rindu padaku..."

Sial, sudah cuek, pedenya keterlaluan.

"Yah, mungkin kau yang akan rindu padaku. Aku akan pulang ke rumah selama 2 minggu." ucapku.

Dia langsung menatapku dengan wajah kaget, tapi dia membuang muka lagi dengan wajah yang kembali seperti semula. Datar sedatar triplek.

"Oh..."

"Oi, aku serius.." ucapku.

"Aku tau, semua orang juga sama..." Jared bangkit, "Kau sudah menemui Cid?"

"Memangnya kenapa?" tanyaku.

"Dia bilang sesuatu soal obat penawar..."

Haah, lagi-lagi obat penawar. Dari kalimatnya sih menjanjikan tapi pada kenyataannya itu pasti omong kosong. Sudah hampir sebulan Cid melakukan penelitian tapi hasilnya itu-itu aja. Aku jadi kurang yakin tentang rahasia darahku.

"Sudah dulu ya? Kami pulang dulu!" aku perlahan berdiri.

"Snowy." Jared memanggilku.

"Ya?"

"Maaf karna memukulmu. Aku hanya tak ingin kau terlibat. Kau tak tahu betapa menjengkelkannya Kolonel Blitz, bukan?"

Aku tersenyum. "Ya, aku tahu kalau itu tujuanmu."

Dia membalas senyumku dengan seringai tipis.

"Tetap saja, memukul wanita itu tindakan yang tidak terhormat lho, Jared. Harusnya kau malu." kata Thomas pada Jared.

"Enyahlah." sahut Jared. Haha, sepertinya Jared dan Thomas cukup 'akrab'.

"Kau tak menyesal?" Thomas memancing lagi.

"Aku sudah minta maaf." Jared menjawab.

"Kau pikir Snow memaafkanmu?"

Aku tertawa, mana mungkin Jared sepeka itu pada perempuan. "Sudahlah, Thomas. Aku tidak apa-apa kok."

"Lain kali jika Jared macam-macam, panggil saja aku, okay? Akan kuhajar dia untukmu." ucapnya.

"Ya. Panggil saja dia. Jika dia memang bisa menghentikanku."

"Kurang ajar kau, Jared!"

"Satu hal lagi." ucapku, melerai perdebatan tak penting ini. Jared menoleh. "Kau berhutang yogurt padaku. Yang dingin, okay?"

"Yogurt beku, huh? Seleramu memang aneh." Jared memandangku heran.

"Ha. Katakan itu pada Maggie. Aku jadi suka yogurt beku gara-gara Maggie, tahu."

"..."

Huh, tak ada respon. Aku jadi penasaran sendiri kenapa mendadak Jared jadi 'beku' jika nama Maggie disebut, padahal Maggie juga ada disini. Ngomong-omong soal Maggie, dia juga seakan memikirkan hal yang sama denganku, terlihat dari ekspresi sedihnya. Ada apa dengan dia?

Kami segera meninggalkan sel bawah tanah itu. Kuharap Jared sudah agak sembuh dari gangguan jiwa yang menyerangnya beberapa hari belakangan. Kami berdiri didepan menunggu liftnya datang. Begitu terbuka, Jason dan beberapa temannya keluar dari lift itu.

"Halo." Jason menyapa kami bertiga ramah.

Kami menjawab dengan canggung. Namun, Jason dan temannya sudah terlanjur melewati kami.

Jason disini, kuharap Jared baik-baik saja.

...

Aku memutuskan pulang ke Houngarious keesokan harinya, aku memang diperbolehkan pulang lebih awal dari jadwal karna Pak Braddock terkesan dengan pencapaianku waktu Apoca-Day, dia memberiku keistimewaan karna itu.

Sekarang disinilah aku, memakai jaket kulit bewarna gelap hasil rampasan dari pusat perbelanjaan yang ditinggalkan di Distrik Red. Sial, kalau dilihat-lihat, benda ini memang sangat fit di badanku. Aku mengagumi tubuhku sendiri dikaca spion selama beberapa detik sebelum Thomas membuyarkan lamunanku.

"Jangan kebanyakan gaya..."

Aku berdecak, "Iya deh, iya deh..."

"Ingat ya, aku cuma meminjamkan motorku ini, jika kau melukainya sedikit saja, tanggung sendiri akibatnya..." kata Thomas.

"Memang apa yang akan kau lakukan jika aku melakukannya?" pancingku.

"Aku akan menyeretmu jadi makanan Fript..."

"Jahatnya..."

Aku pun lantas naik ke atas motor besar yang terparkir disampingku. Aku langsung memakai helm. Lusa besok harusnya seluruh perwira kelas B diliburkan dan diperbolehkan pulang, tapi Thomas bilang dia harus lembur bekerja untuk membimbing Perwira Kelas C dan D yang untuk sementara akan mengambil tugas dari para Kelas B. Akibatnya, dia tak boleh pulang dan harus menunggu libur 3 bulan berikutnya, itu termasuk Jason juga. Yah, begitulah resiko jadi prajurit hebat.

Ngomong-omong soal Jason. Aku baru dengar pagi tadi bahwa ia dan pasukan khusus sedang dalam penyelidikan terhadap The Whisperers, kelompok Fript yang telah menganggu upaya The Saviours untuk menangkap Crimson beberapa hari lalu. Kuharap penyelidikan itu lancar, dan tak perlu ada lagi korban jiwa. Mengingat, yah, waktu itu, salah satu The Whisperers yang kuhadapi hampir membuat nyawaku melayang. Aku merasa bahwa suatu saat kelompok ini akan membawa marabahaya pada keberlangsungan koloni manusia.

"Sampaikan salamku pada Maggie dan Jared.." ucapku sembari memasangkan helm sekaligus masker dan kacamata hitam.

"Tentu saja.." jawabnya sambil tersenyum, "Hati-hatilah, cepat pulang karna aku akan rindu padamu..."

Wajahku panas karna tersipu..

Hari ini memang sedikit aneh, entah kenapa tiba-tiba anak laki-laki bersikap sangat manis padaku. Termasuk Thomas ini, aku tak tahu ada apa dengan mereka.

Aku langsung menyalakan mesin dan menggeber-geber motor gede ini. Beberapa detik setelah itu, aku langsung tancap gas meninggalkan Thomas, meninggalkan markas the Savioursku tercinta selama 2 minggu ke depan.

Bye, bye the Saviours! Bye-bye teman-teman! Bye-bye haters nomor satuku, Sophia!

Selama setengah jam menempuh perjalanan. Aku akhirnya sampai di Houngarious dengan penuh gaya. Motor gede, jaket kulit, kacamata hitam, masker, sepatu boot, huhuhu, bagian mana yang kurang keren dari diriku ini coba?

Ah, sial, yang kurang cuma ukuran dadaku. Dalam hati aku berharap punya ukuran dada setidaknya seukuran Maggie. Punyaku masih tipis, malahan orang sering mengejekku datar. Aku akan senang jika punya yang lebih besar. Tuhan, Kau dengar permintaanku ini, kan?

Aku sampai dihalaman depan rumah Bibi Beth. Melepas helm dan mengurai rambut dengan penuh gaya sembari dipandangi dengan kagum oleh orang-orang yang lewat.

Entah mereka kagum padaku atau kagum pada motor yang kutunggangi.

Aku berlari kecil menuju beranda setelah memarkir motor. Ketika tanganku hendak mengetuk pintunya, pintunya terlanjur dibuka dari dalam.

Bibi Beth ada didepanku saat ini. Dia melotot seakan melihat hantu.

"Surprise?" ucapku ragu, karna kurasa dia malah ketakutan bukannya terkejut.

"Liza, ini kau?"

"Ya, bibi, ini aku!" ucapku.

Bibi memelukku dengan sangat erat. Aku hampir kehabisan nafas saking eratnya, tapi tetap saja pelukan hangatnya kubalas. Siapa sih yang tak mau menikmati pelukan dari seseorang yang sangat disayangi?

"Selamat datang...." bisiknya padaku.

Aku makin mempererat pelukanku, "Aku pulang..."

Kulihat Juno keluar dari kamarnya dengan wajah yang kusut. Kami lalu melepas pelukan.

"Bu, makan apa pagi ini?" Juno sepertinya tak menyadari ada aku disini.

"Juno, sapa dulu tamu kita..." Bibi Beth tersenyum penuh arti kepada Juno yang langsung menghampiri meja makan, aku tertawa kecil.

"Selamat pagi, nyonya.." Juno langsung duduk di meja makan tanpa menoleh kearah kami.

"Selamat pagi juga Juno-ku tersayang..." ucapku selembut mungkin bermaksud menggodanya.

Benar saja, dalam kecepatan 3000km/jam, wajahnya berputar cepat menghadap kami. Aku merentangkan tangan dan bibi tertawa melihat ekspresi terkejut Juno.

"Liza?!"

"Haai!" ucapku.

Juno langsung berlari dan menerjangku. Memelukku sangat kencang melebihi pelukan Bibi hingga aku melayang 20cm diatas lantai.

"Aku merindukanmu, idiot!" kudengar suara serak Juno berdesir dileherku, "Kau memang bukan keluarga kami, tapi ketahuilah, kemanapun kau pergi, sejauh apapun itu, kami akan selalu jadi yang terdepan untuk menyambutmu kembali..."

Aku bersumpah, itu adalah kalimat paling menyentuh yang pernah kudengar dari mulut kotor Juno.

Aku menititkkan air mata tanpa sadar. Kubenamkan wajahku di dadanya dan kupeluk lebih erat punggungnya. Dia juga melakukan hal yang sama. Hingga air mataku merembes lebih banyak.

"Terima kasih...."

.

.

.

.

.

.

Tak ada tempat seindah tempat dimana seseorang menganggapmu keluarga...


Bersambung ke The Next World Chapter 20

Alien Queen
2017-11-24 17:23:45
Aku merasa aku kelewat baca, soalnya agak beda dengan yang terakhir. Atau mungkin aku lupa.
Bocah Redoks
2017-11-05 15:21:29
D rindukan juga rupanya
Hiatus
2017-11-05 03:42:45
Next ajalah
Sqouts Shadows
2017-11-04 19:12:48
Ditunggu chapter berikutnya
Yukki Amatsu
2017-11-04 18:07:45
Tak ada tempat seindah keluarga ya ? aku udah lupa rasanya eh ?! gak jadi....
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook