VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Pemuja Rahasia Chapter 5

2017-01-06 - Jack El Jacqueline > Pemuja Rahasia
53 views | 5 komentar

"Kenapa? Bapak takut?" sindirku sinis dengan satu alis terangkat, meremehkan.

Shinta udah menatap khawatir sambil tersenyu ngeri. Aku nyantai aja. Guru ini yang mulai duluan.

"Pak Soleh sebenernya ada apa...? Ini waktu upacara pak, " tutur Ibu Kepsek cemas dari jarak yang cukup jauh, tapi aku bisa liat rambut coklat burgundy-nya yang di sanggul modern dan dia juga terlihat bijaksana.

Soleo Javanicus itu melihat kebelakang untuk menjawab Ibu Kepsek. "Ada pemberontak masuk sekolah ini, Bu. Lihat! Cara mereka berpakaian tidak sesuai dengan peraturan sekolah, tindikan di mana-mana, hidung, alis, lidah, telinga....!" serunya, sambil menunjuk aku dan Shinta terang-terangan. Shinta dan aku saling toleh.

"Di pusar juga ada kok, " celetukku lantang memberitahu kemudian bersiul.

Dia menoleh dengan mata nyaris keluar, da.....

"Diam!" balasnya jengkel, ngebuatku tersenyum. "Dasi panjang-pendek, kaos kaki dan sepatu tidak hitam, rambut mencolok seperti rambut jagung, yang satu memakai rok di atas lutut, lalu keduanya tidak memasukki seragam, jarak lipatan ruffles rok mereka pun terlalu dekat.

"Sampai jarak ruffles juga di tentuin?" Shinta bertanya polos, sambil memperlihatkan mimik lugunya. Dia menggaruk-garuk dagu, nggak habis pikir.

Guru itu melirik sinis ke Shinta, lama.

"Sa....sa...saya tau, ka...kalau saya harus di...diam." Shinta gelagapan dan menunduk seketika.

Aku menahan geli yang menggelitik di perutku. Ahkirnya, ada juga yang Shinta takuti, pikirku sambil mengamati dia yang sepertinya menelan ludah berkali-kali.

Guru itu kembali memberitau Bu Kepsek. "Datang terlambat seperti penyusup, selalu membantah, mobil dan supir dibiarkan maduk kehalaman sekolah, sungguh tidak mencerminkan tingkah laku seorang murid, Bu" jelasnya lantang dengan tujuan mempermalukan kami.

"Oh God, Sani! Aku nggak nyangka, belum sehari aja kita udah ngebuat masalah di sini" Shinta berbisik sambil mendelik, berisyarat.

"Belum sepuluh menih kita disini lebih tepatnya" jelasku. Shinta menatap jengkel padaku.

"Boleh saya melihat wajah kedua anak itu?" tanya Ibu Kepsek.

Anak-anak di belakangku mulai komentar lagi. Katanya kamu bisa di black list langsung atau di DO / Droprize.

Guru itu mundur beberapa langkah hingga aku dan Shinta mengapitnya. Dia meletakkan tangannya di punggung kami, lalu mendorong kami kasar beberapa langkah kedepan. "Silahkan Bu" jawab guru tengik itu.

Aku dan Shinta diam tak bergeming sambil menunduk.

"kalian tuli ya?!" sindir Salep itu.

Aku dan Shinta pun maju beberapa langkah kedepan dengan malas.

"Lho...Shinta, Sani...?"

Solius langsung berseru, " Apa ibu mengenal mereka?? Lebih baik kita langsung memabggil orang tua mereka, Bu" saran si Solech kumis itu.

Audry, Feny dan Rizky yang berjarak lima meter dari Bu Kepsek jadi bingung. Tapi mereka nggak tau dari mana Bu Kepsek tau nama dua anak baru itu.

" Asik juga, baru masuk orang tuanya langsung dipanggil" Rizky tersenyum sinis penuh kepuasan, masih dengan pose sebelumnya, tangan terlipat di dada dan mata di balik kaca mata yang menatap tajam kearah Sani dan Shinta.

" Iya ya. Tapi kasian banget, " timpal Audry memandang iba kedua anak baru yang tampak murung di kejauhan.

" Kenapa harus kasian, itu emang udah konsekuensinya yang pas kan?" sambung Rizky. "perasaan kasian itu nggak baik kalai di pelihara terlalu berlebihan..... Nggak percaya? Liat aja kalau penjahat yang di jatuhi hukuman mati terpaksa harus di tunda / dibatalkan hanya main perasaan. Itu tindakan bodoh. Negara bisa cacat hukum, " Rizky menerangkan dengan sinar mata yang menyiratkan keverdasannya. Teman-temanya terlihat takut dengan sifatnya.

"Tetep aja gue kasian, " Audry menunjukkan ekspresi sedih. Ia berpikir heran, kok sahabatnya yang satu ini nggak berperasaan banget sih.

"Huh, tapi hukum nggak bisa diinterpretasikan dengan perasaan, ngerti ?" Rizky melotot menjelaskan.

Hmmm.... Feny hendak menggumamkan sesuatu "Gi...gimana kalau penjahat tadi adalah keluarga lo? Apa lo tega?" Feny nyeletuk sambil melirik takut-takut ke Rizky.

Rizky mengangkat sebelah alisnya dan memandang remeh ke Feny. "Gue? Hhh....keluarga gue nggak sebodoh itu, mau melakukan tindakan kriminal......tapi kalaupun iya mereka terlibat hal seperti itu, ya itu emang udah kobsekuensi yang harus mereka jalani. Buat apa kasian yang berlebihan, nggak relevan banget, " Rizky menjelaskan dengan angkuh sambil tersenyum masam ke arah Feny dan Audry, yang hanya menghela nafas seolah putus asa bersamaan setelah bertukar pandang, lesu.

Pemuja Rahasia Chapter 5 - Nenek
Penulis : Jack El Jacqueline

Bu Devi yang juga Kepala Sekolah tertawa sambil membungkam mulutnya. Beliau menuruni panggung di tengah lapangan, lalu melangkah kearah kami. Aku dan Shinta mengernyitkan dahi bareng.

"Pak Soleh, Pak Soleh! Bagaimana saya tidak mengenal mereka?" ujar Bu Devi diiringi senyuman hangat ala matahari pagi. "Shinta, Sani, masih inget nggak?" tanyanya dengan pandangan penuh arti.

Kami berpikir cukup lama. Suara lembut yang terdengar tegas, rambut coklat burhundy yang kelam, sosok yang tegap dan tegar, wajah yanh bercahaya dan nggak pernah tampak tua, senyuman bijak namun sedikit sinis itu.....mengingatkan kami pada seseorang.

"Nenek?!!" tebak kami spontan nggak percaya. Aku mangap, sedangkan Shinta membungkam mulutnya. Seperti ada yang meledak didadanya. Shinta langsung heboh sendiri.

Nenek mengangguk dan membuka lebar kedua lenganna. "Sini, peluk Nenek! Nenek kangen banget sama kalian, " pintanya, seolah kami belum pernah bertemu. Ouh, ini adegan yang cukup mengharukan, pikirku malas.

"Kyaaa....Neneeek!!" seru Shinta sambil berlari girang untuk memeluk Nenek. Aku masih diam. Seluruh warga sekolah yang menyakaikan adegan melongo dan menganga, ketika tau kami adalah cucu Kepala Sekolah. Aku nggak nyangka nenekku masih secantik ini. Dengan kaca mata berbingkai tipis dan polesan make up yang soft, membuat ia tampak muda dan kharismatik.

"A....ap? Bu Kepala Sekolah?? Mereka..., " tutur si kumis gelagapan menatapku.

Nenek masih tertawa. "Mereka ini cucu kembar saya, yang sudah delapan tahun tinggal di Amerika. Maaf kalau mereka membuat keributan dan menghambat upacara...., ya kan Shinta, Sani? Kalian sudah tinggi-tinggi dan cantik-cantik sekali, Nenek bangga!" Nenek berjalan bersama Shinta mendekatiku.

Bersambung ke Pemuja Rahasia Chapter 6

Downcrazy
2017-01-31 09:14:34
Kesal ane ama rizky, mw ane potong 10 tu org
David Bluezskynschky
2017-01-28 12:36:13
Sebenarnya tindakan pak soleh udah benar, itu baru guru keren
Timnas Indonesia
2017-01-06 21:09:15
Malu tuh pak soleh
Ludfy N
2017-01-06 15:41:43
Rasain si soleh haha.. Nggk tw gmana nasibnya nanti
Rudy Wowor
2017-01-06 14:51:29
Intinya Hukum itu gendakannya orang-orang besar.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook