VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Dark Assassins Chapter 6

2016-12-14 - ThE LaSt EnD > Dark Assassins
435 views | 15 komentar | nilai: 9.17 (6 user)

Dua mata pisau terlempar dari sarungnya. Mengarah kepada Yodai dengan cepatnya.

"Tinngg.. tinngg..!!"

"Matilah Kau orang tua.!!"

"Baaammm..!!!"

Sebuah ledakan terjadi lagi malam itu.

Kepulan asap mengumpal dari bangunan tempat mereka bertarung. Tanda kerusakan cukup parah pada atap bangunan itu. Lubang
cukup besar memperlihatkan dasar lantai dengan tumpukan puing-puing bangunan yang hancur.

Orang yang melempar senjata peledak itupun menghampiri reruntuhan itu dari atas atap. Memastikan tentang keberadaan korbannya.

"Oe, oi.., yang tadi sangat berbahaya, lhow.."

Ucap suara yang tak asing tiba-tiba terdengar ditelinga. Orang itu terkejut dibuatnya. Mengerutkan dahi seorah bertanya, bagaimana bisa lawannya lolos dari serangannya.

"Untung saja bangunan itu tak ada orang didalamnya, karena serangan tadi mematikan, lhow.."

Suara itu lagi
kembali terdengar dan ternyata suara yang berasal dari Yodai, sudah terdengar dekat dibelakang orang itu.

"Whuss..!!"

"Sraattss..!!"

Tebasan sangat cepat dari belakang yang tak mampu lagi dihindari orang itu. Membuatnya terdiam mematung kaku.

Sedetik kemudian terlihat Yodai menyarungkan pedangnya, lalu ia membalikkan tubuh dan melangkahkan kaki pergi dari tempat itu.
Terlihat orang dibelakang Yodai terbelah dari ujung kepala sampai bawah menjadi dua.

"Ahh., aku jadi tambah lapar., mungkin karena ini pedangku tak mau membunuhnya dengan cepat. Eh,, bukankah tanganku yang melakukannya? ha ha.." ucap Yodai menghilang dalam kegelapan malam.





Dark Assassins Chapter 6 - Green Blood
Penulis : ThE LaSt EnD

.

.

.

Zito kini telah sampai pada sebuah tempat yang mana semua orang jika melihatnya pasti akan tahu dimana tempat itu berada. Sebuah tempat gelap dimana tempat peristirahatan terakhir manusia., Makam.





"Tak kusangka aku kembali di tempat ini, mungkin seharusnya memang begitu."

Terlihat Zito melangkah menuju salah satu makam yang dibangun seperti rumah kecil. Sesampainya disana ia membongkar sebuah peti mayat. Sekilas tampak sosok tengkorak yang sudah lama berbaring ditempat itu., tapi Zito ternyata mengambil sesuatu dibawah sosok itu, sebuah kain hitam membungkusnya. Zito membuka benda itu dan terlihat sebuah senjata mata tombak dengan rantai yang terurai.

"Mungkin ini yang harus aku lakukan, sebelum mereka bertindak lebih jauh dan semakin kacau." ucap Zito dengan tatapan tajam sambil menglingkarkan senjata itu pada tubuhnya.

"Maaf Tuan tengkorak., aku mengambil titipanku., terima kasih telah menjaganya. Eh, kenapa aku berbicara dengannya? bukankah dia sudah tiada?" uacapnya lagi bersamaan dengan mengembalikan posisi peti seperti semula.

"Aku pergi dulu, Tuan., semakin cepat bertindak, semakin cepat selesai, bukan?" ucapnya lagi kemudian melangkahkah kaki
pergi menhilang dari tempat itu.

.

.

.

.

Kesisi Lizzaura yang kini sudah bersama Kusan dan Ozil. Sebuah mobil khusus pengangkut terparkir didekat mereka.

"Maaf, jika membuatmu lama menunggu" ucap Kuzan.

"Itu tak penting., yang lebih penting kalian bisa
urus mayat ini." Ucap Lizza sambil melirik mayat musuhnya.

"Anda memang hebat, Nona., bisa membunuh salah satu dari mereka." ucap Ozil sambil melihat mayat tanpa kepala, "Apa Anda terluka? biar saya obati nanti."

"Tidak perlu., lagian yang membunuhnya bukan aku." jawab Lizza.

"Eh., lalu siapa yang melakukannya?" ucap Kuzan kemudian.

"Itu tak perlu dibahas." ucap Lizza dengan nada datarnya, "Sekarang masukkan mayat itu ke dalam kendaraan., dan jangan lupa kendaraanku juga".

"Lagi-lagi sifatnya itu..., tapi dia selalu terlihat cantik." batin Ozil sambil memegang mayat itu untuk memasukkannya kedalam kendaraan bersama Kuzan.

"Eh, apa ini? ini terlihat aneh ?"
Batin Ozil ketika mengangkat mayat itu. Terlihat darah merah yang bercampur dengan warna hijau mengenai kulit pada tangannya.

"Senior, bukankah darah ini sedikit aneh?" ucap Ozil sambil menatap darah mayat itu.

"Itu?" ucap Kuzan sedikit mengerutkan dahi untuk berfikir, "Seharusnya manusia memiliki darah berwarna merah, tapi apa yang terjadi dengan tubuh ini?"

"Ternyata Kalian tahu juga tentang itu., tapi lebih baik simpan rasa penasaran itu untuk nanti., karena lebih baik kita cepat membawanya." ucap Lizza menyarankan.

"Baiklah kalo begitu." jawab Ozil.

.

.

"Semuanya sudah beres, Lizza." ucap Kuzan beberapa saat setelah memasukkan mayat itu beserta motor milik Lizza.

"Kita akan tahu tentang darah mayat ini setelah kita membawanya
ke markas dengan segera." ucap Lizza, "Semoga saja Kim bisa menjelaskan hal ini."

Merekapun meningalkan tempat itu.

.

.

.

Malam semakin larut. Kesunyian semakin menghayutkan tanpa surut. Tampak disebuah hutan seorang berlari melompat dari dahan pohon ke pohon lainnya, Zito. Sepertinya kepekatan malam tak membuatnya tampak lelah untuk beristirahat memejamkan mata.

"Sebenarnya aku tak yakin jika orang itu mau bicara., tapi tak ada salahnya untuk dicoba." batin Zito disela perjalanannya menuju sebuah tempat dihutan itu.

"Sepertinya sudah sampai.." batin Zito yang kini berdiri diatas puncak sebuah pohon bambu. Terlihat tak jauh dari jangkauan pandangan matanya sebuah gubuk bambu bercahaya lentera. Kemudian Zito melompat kebawah dan berjalan mendekati gubuk itu.

"Cuz.. cuz.. cuz..!!"

Puluhan bambu runcing yang panjang tiba-tiba melesat kearahnya.

"Ternyata dia ingin menyambutku ya.,!"

"Srats.. srats.."

Zito dengan sigap dan cepat memotong puluhan bambu itu menjadi potongan kecil
dengan katana yang ia bawa. Tapi tak sampai disitu, puluhan bambu lain datang menyerangnya dari atas tubuhnya.

"Srast.. srast"

Zito dengan lincah menghindari serangan itu dengan merubah posisi terus menerus dan sesekali menebas bambu-bambu itu. Membuat puluhan bambu itu berjatuhan ke tanah menjadi ratusan potongan kecil.

"Apa sudah selesai?" ucap Zito setelah beberapa saat tak terjadi serangan lagi.

"Cuz.. cuz.. cuz..!!"

Tak tanggung-tanggung lagi, kali ini seraang puluhan bambu melesat kearah Zito kembali dari empat arah mata angin dan dari atas tubuhnya.

"Menarik." ucap Zito sambil bersiap dengan sebuah jurus.

"Whuss..!!

"Srats.. srats.. srast..!!"

Zito memutar tubuhnya membuat gerakan putaran 360 drajat dengan katananya. Terlihat sebuah gerakan yang seakan menciptakan kubah pelindung melingkar menutupi
seluruh tubuhnya., dan membuat Puluhan bambu itu terpotong seperti sebelumnya.

"Chusz.!!"

Sebuah bambu panjang namun berukuran lebih besar kini melesat dari arah depan Zito. Tapi dengan sekali tebasan bambu itu terbelah menjadi dua. Namun tampaknya hal itu hanya sebuah pengalithan semata, tak terduga seorang dengan cepat menebas dari belakang tubuhnya.

"Whuus..!"

"Ctiinngg...!!"

Zito menahan serangan seseorang yang tiba-tiba muncul dari belakang tubuhnya dengan memposisikan katananya dibelakang punggung.

"Sambutanmu sangat meriah, Kakek." ucap zito disela menahan serangan itu.

"Hmm., Aku tak punya seorang istri." ucap orang itu.

"Eh..?" batin Zito sedikit binggung.

Orang itu lalu kembali menyerang Zito dengan
menebasnya secara cepat dari samping kanan tubuh Zito. Tapi Zito yang memunggungi orang itu melompat kedepan untuk menghindarinya.

"Rupanya Kakek ingin menguji kemampuanku ya?" ucap zito sambil memegang erat katananya.

"Aku tak punya anak." jawab orang itu yang membuat Zito bingung kembali.

Dan bersamaan dengan jawaban orang itu, tiga buah bambu bermata pisau melesat kearah Zito, diikuti orang itu berlari kearahnya menyerang dengan cepat.

"Cepat sekali.!" batin Zito.

"Whuss..!!"

"Cting.. ctiing...!"

Zito mampu menangkis bambu mata pisau itu. tapi..

"Matilah Kau bocah.!!"

"Jreebb..!"

"Sial.., aku terkecoh." ucap Zito setelah terkena tusukan keris orang itu yang tiba-tiba sudah berada dibelakang tubuhnya.

Darahpun mengalir dari sela lukanya.


Bersambung ke Dark Assassins Chapter 7

Zen Kureno
2017-05-12 18:31:17
Sebuah ujian yang dilakukan oleh orang tua pikun ya.
Jibakute
2017-04-08 17:38:45
ini kok malah mirip ninja, bukan assassin
Dwi Fitri
2017-03-16 17:56:06
keren actionnya saya suka,, saya suka,,
Bocah Redoks
2017-03-05 10:18:06
keris ? berarti dia bukan kakek yodai
Leon Lockhart
2017-01-14 21:16:15
Ku kira darah biru
Grim Rieper
2016-12-16 18:45:08
Lanjutnya kapan nie !
Rin Nohara
2016-12-15 18:26:17
wah Zito ketusuk #mantapjiwa
Newbie Karbitan
2016-12-14 17:01:46
麻 年 他 平 Apa yg menyerang Zito itu Yodai?
Grim Rieper
2016-12-14 12:52:06
Pakai keris, bkanya keris cuma ada di indonsia ?
chichay
2016-12-14 10:56:03
d tunggu slalu klnjtnny
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook