VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Mainkan Game KampungMaifam
Dark Assassins Chapter 3

2016-12-09 - Zunuya Rajaf > Dark Assassins
301 views | 14 komentar | nilai: 9.75 (8 user)

Setelah memberi perlajaran kepada ketiga pria itu., wanita itu melanjutkan langkahnya mencari seseorang di sebuah tempat diujung gang itu. Ketika sampai ditempat, terlihat beberapa pasang mata dengan tatapan terkesan takut. Tak satupun dari merek berani menyapanya., mungkin karena kejadian di gang tadi.

Wanita itu akhirnya berdiri di depan pintu masuk sebuah rumah susun berlantai delapan yang menjadi tujuannya. Tiap lantai mempunyai enam ruangan dengan pintu yang saling berhadapan. Ditengah rumah itu ada sebuah tangga sebagai jalan naik dan turun orang-orang yang tinggal disana. Ia pun menaiki tangga dan mencari nomor rumah yang dituju.

.

.

.

Disisi Zito, tampak ia masih melanjutkan aktifitas memasaknya.

"Ah.., gara-gara pertunjukan tadi masakanku belum matang. Tapi tak masalah sebenarnya.,
wanita tadi cukup menghibur."

"Eh., tunggu, diakan menuju tempat ini? jangan-jangan dia? ah., mungkin bukan."

"Ah.., Aku jadi lupa garam dapurku habis., sebaiknya aku keluar sebentar."

.

.

.

Wanita itu terus berjalan menaiki tangga itu. Sepertinya tempat yang ia cari berada dilantai atas. Ketika ia sampai dilantai tujuh, dia berpapasan dengan seorang.



"Permisi, apa kau kenal orang yang bernama Zito? ku dengar dia tinggal di rumah nomor 48., apa itu benar?"

"Deg..!"

Sebuah kejutan jangtung terlintas sesaat pada orang itu, Zito. "ternyata wanita ini mencariku?" batinnya.

"Eh, orang itu? Iya benar., tapi sepertinya dia tadi keluar., jika boleh tahu, Nona ini siapa?" ucap Zito.


Dark Assassins Chapter 3 - Sifat Dingin
Penulis : Zunuya Rajaf

"Terima kasih atas informasinya." ucap wanita itu datar sambil berlalu.

"Eh.., dingin sekali tanggapannya., ah, biarkan saja." batin Zito lalu ia pun pergi dari tempat itu.

Setelah Zito selesai belanja di toko dekat rumah susun itu, ia kembali ke rumahnya. Sesampainya di lantai 8, ia melihat perempuan tadi menunggu disamping sebuah pintu, sambil berdiri menyandarkan punggungnya di dinding.

"Kau Nona yang tadi, bukan? apa kau sudah bertemu dengannya?"

"Belum." jawab wanita itu.

"Sepertinya dia akan segera kembali." ucap Zito sambil brjalan menghapiri pintu di dekat wanita itu. Lalu ia mengeluarkan sebuah kunci untuk membukanya.

"Jadi Kau.!?" ucap wanita itu dengan raut muka terkejut.

"Silahkan masuk Nona, aku akan menyiapkan makan malam." ucap Zito datar.

"Dia mempermainkan ku., beraninya dia."batin wanita itu kesal. "Akan ku beri dia pengertian."

"Tunggu..! apa kau yang bernama Zito?"

"Ya." jawab Zito singkat.

"Whuss.!"

Sebuah pukulan tangan kanan cukup cepat mengarah ke kepala Zito, tapi sepertinya Zito yang mempunyai reflek yang hebat mampu menghindarinya.

Melihat pukulan tak mengenai sasaran, wanita itu lalu mengayunkan tangan kirinya untuk kembali memukul.

"Whuss.!"

Tapi pukulan itu ditangkis oleh Zito dengan tangan kanannya.

"Tenaganya lumayan kuat, meski untuk ukuran seorang wanita." batin Zito.

"Whuss..!"

Sebuah tendangan cepat keatas kembali melayang ke tubuh Zito., namun Zito menghindarinya dengan
menggeser tubuhnya kesamping.

Karena gerakan itu bungkusan yang ia bawa terjatuh.

"Tunggu Nona! kenapa kau menyerangku?" ucap Zito
sambil terus menghindari dan menangkis serangan wanita itu. walau sebenarnya ia tahu alasannya.

"Jika kau ingin tahu, maka terimalah seranganku." jawab wanita itu., terlihat tatapan
tajam dingin pada ke dua matanya. tanda ia melepaskan kekesalannya.

"Ternyata pria ini bukan orang biasa." batin wanita itu sambil terus melayangkan pukulan dan tendangan meski hanya kehampaan yang dia dapat."siapa dia sebenarnya?"

"Jika begini terus, dia akan curiga. Sebaiknya aku akhiri saja." batin Zito.

"Buukk.!"

Hantaman kaki cukup cepat tepat mengenai perut seorang pria. Menggesernya beberapa kaki kebelang dari tempatnya. Tendangan yang tak cukup berarti bagi pria tersebut., tapi ia berakting kesakitan dengan disertakan ucapan kebohongannya.

"Tunggu..! sudah cukup, aku menyerah." sambil memegang perutnya Zito berkata. Tampak ia merasa kesakitan walau hanya kepalsuan.

"Plaakkk.!"

"Itu baru cukup." ucap wanita itu setelah memberikan tamparan cukup keras pada pipi Zito.

"Kenapa kau malah menamparku?"

"Itu untuk seorang pria yang berani mempermainkanku." ucap wanita itu.

"Mempermainkan? apa maksudmu?"

"Plaakkk..!"

"Kenapa kau masih menamparku?"



"Itu karena kau berani berdusta dan melawanku."

"Bukankah tadi kau bilang sudah cukup?"

"Plakk..!"

"Dan itu untuk Kau yang sudah berani mengambil barangku."

"Kau menyebalkan., apa maksudmu?" ucap Zito sambil menatap tajam wanita itu.

"Apa katamu?" balas wanita itu sambil bersiap melakukan tamparan lagi., namun kali ini Zito menangkap tangan wanita itu.

"Hentikan! sudah cukup. Setidaknya kau lebih sopan dan ramah ketika bertemu orang yang baru kau kenal. Bukankah tadi saat melihatku pertama kali kau tidak menayakan siapa diriku? dan ketika aku bertanya tentang siapa dirimu, kau malah berlalu dengan sifatmu yang dingin. Jadi bagaimana bisa aku bertanya tentang apa tujuanmu? Haruskah aku menjelaskan siapa diriku dan apa yang akan aku lakukan begitu saja padamu? sifat dinginmu mencerminkan keangkuhan yang selalu berkeinginan untuk diangung-agungkan dimanapun kau berdiri., tapi tak semua orang harus memandangmu seperti itu, bukan? Kau harus ingat dimana dirimu."

"Jangan menceramahiku!."

Nada suara tingi ucapan wanita itu disertakan tendangan kemarahan ketubuh Zito. Tapi Zito mampu menghindarinya dengan bergerak kebelakang.

"Sudahlah sebaiknya lupakan saja., maaf jika aku bersalah." ucap Zito lagi sambil menundukkan kepalanya."tapi jikau Kau tak terima dengan perkataanku., Kau bisa menghajarku."

"Eh.."

Wanita itu sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi Zito yang kini terlihat lebih datar dan tenang seperti melupakan kejadian beberapa detik lalu. Ucapan keseriusan dan kejujuran tampak keluar dari mulut pria itu.

"Baiklah, kita lupakan kejadian tadi., tapi bukan berarti aku memaafkanmu sepenuhnya." ucap wanita itu.

"Itu terserah padamu." ucap Zito sambil mengambil bungkusan belanja yang terjatuh tadi.

"Sudah cukup aku membuang waktu disini, ada hal yang ingin kutanyakan., apa Kau benar mengambil buku catatan hitamku? cepat kembalikan!"

"Ow, buku itu milikmu? jadi karena itu kau mencariku? tapi kau seperti menuduhku mencurinya saja. Aku hanya menemukan buku itu."

"Jangan banyak bicara dan bertanya., berikan
buku itu.!"

"Tunggu! dari mana kau tahu tempat tinggalku dan kenapa kau seperti yakin bahwa aku yang membawa buku itu?"

"Itu bukan urusanmu., dan lagi, jangan bilang Kau membaca buku itu." ucap wanita itu lagi.

"Rasa penasaranku membut tanganku membukanya."

"Lancang.!" ucap wanita itu lagi sambil bergerak menyerang zito dengan tendangannya.

"Seperti dugaanku., kau menyebalkan." Ucap Zito lirih yang tiba-tiba sudah berpindah tempat dibelakang wanita itu.

"Hnn, sejak kapan dia berpindah dengan cepat dibelakangku?" batin wanita itu. "Apa katamu?" ucap wanita itu membentak.

"Ah, bukan apa-apa."

"Jangan menguji kesabaran ku, sebaiknya kau cepat memberikan buku itu, atau Kau akan kuhajar lagi." tatapan tajam wanita itu muncul lagi.

"Hmm.. baiklah, tak ada gunanya kita bertarung hanya karena sebuah buku. Ambillah.!" ucap Zito sambil memberikan sebuah buku yang tersimpan dalam sakunya dengan mengulurkan tangannya.

Wanita itu masih tampak berfikir
tentang siapa sebenarnya orang didepannya itu. Raut muka kekesalan masih membekas dalam wajahnya. Namun kemampuan misterius pria itu membuatnya mengurungkan niatnya. Bukan karena takut akan kekalahan jika menyerangnya,
melainkan karena sifat kecerobohan yang tak ingin menguasainya. Selain itu, apa yang dikatakan pria itu ada benarnya.

"Semoga saja pria ini tak
memahami tentang informasi buku itu." batin wanita itu. "Apa kau merusaknya?" ucap wanita itu sambil menerima buku itu.

"Seharusnya kau berterimakasih bukannya menuduh hal negatif lainnya." ucap Zito sambil berjalan masuk ke pintu rumahnya.

"Sebaiknya Kau tetap waspada diluar sana."

"Semoga kita bertemu lagi." Ucap Zito sambil menutup pintu itu.

"Eh, apa maksud perkataannya? dia seperti mengetahui sesuatu. Apa dia salah satu dari mereka?" batin wanita itu sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

"Jika bertemu lagi aku akan menghajarmu."

batin wanita itu lagi.


Bersambung ke Dark Assassins Chapter 4

Leon Lockhart
2017-01-05 22:10:32
Tipe wanita yang kusukai '-')
Daulay
2016-12-23 16:00:33
Seorang pria sejati,,,,ya
Yusei Fudo
2016-12-14 13:08:01
Plakk! Triple kill
Zena Leomosta Kun
2016-12-10 07:14:42
no coment.
Badrul Huda
2016-12-09 20:49:26
mungkin zito menggunakan kamui sehingga bisa pindah dengan cepat....
Aerilyn Chan Kawai
2016-12-09 14:42:49
cerita ini ada powernya?
Young G Raigha
2016-12-09 13:05:45
Aku sekarang mulai mengerti, mungkin keluarga atau ortunya atau punya ikatan hubungan dengan Zito dibunuh oleh kelompok itu yang menyebabkan Zito ingin menghancurkanya... Bla... Bla... Panjang jelasny
Rudy Wowor
2016-12-09 13:05:14
Semakin menarik sepertinya ceritamu ini Rajaf.
Newbie Karbitan
2016-12-09 13:00:54
Zito siapakah dia sebenarnya?
Grim Reaper
2016-12-09 11:26:15
di tunggu lanjutanya !
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook