VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
13 Devil Chapter 57

2017-11-08 - Newbie Karbitan > 13 Devil
111 views | 8 komentar | nilai: 10 (4 user)

Racun Nomor 4 membuat tubuh Pedro melemah dan lumpuh. Namun itu bukan akhir bagi Pedro, bagaimana pun dia abadi.

Tidak peduli seberapa mengerikannya racun Nomor 4. Dengan tubuh abadi yg dimiliki Pedro. Semua racun tersebut dapat dinetralkan.

Jika itu racun biasa, dalam sekajap akan langsung dinetralakan. Berbeda dengan racun Nomor 4, butuh waktu untuk menetralkannya.

Sesaat Ular-ular Racun milik Nomor 4 hendak menyerang Pedro. Dari belakang Daniel muncul dengan Pedang Kegelapan miliknya. Pedang tersebut telah diselimuti oleh kegelapan.

"Cih... Mengganggu saja, matilah!!!"

Ular-ular racun tersebut mengubah target mereka. Dengan cepat ular-ular itu meliuk-liuk di udara dengan cepat.

Daniel memegang erat pedangnya, kemudian mengayunkannya dengan cepat.

Serangan Nomor 4 tidak ada apa-apanya dihadapan Daniel. Dengan mudah dia melenyapkan ular-ular racun tersebut. Daniel semakin mendekat dengan Nomor 4.

Sesaat jarak Daniel semakin mendekat. Nomor 4 mengeluarkan asap beracun dari tubuhnya. Daniel langsung sigap menjauh dari Nomor 4. Dia tidak bisa mendekatinya.

Viola yg kondisinya telah pulih kembali. Menembakan sihir elemen petir. Nomor 4 melompat menghindari sihir yg ditembakan Viola.

Tidak sampai disitu, Isla juga menembakan tombak-tombak cahaya. Dia tahu kelemahan Iblis adalah cahaya. Meski tombak cahaya Isla tidak dapat membunuhnya. Setidaknya itu dapat melukai Nomor 4.

"Kalau hanya ini saja kemampuan kalian, jangan harap bisa mengalahkanku."

Angin berhembus kencang malam itu. Sepertinya akan turun hujan. Suara gemuruh menggema di langit.

Pedro perlahan bangun kembali, namun dia masih belum berdiri. Racun di tubuhnya telah dinetralkan sepenuhnya.

Perlahan gerimis membasahi tubuh Pedro. Ia tersenyum senang saat hujan turun. Entah apa yg dipikirkan Pedro.

"Hujan... Hehehhe..."

Nomor 4 juga tampak senang sat hujan mulai turun perlahan. Ia kemudian melayang keatas.

"Akan kuperlihatkan kekuatan dari Iblis Legendaris sesungguhnya. Dengan ini kuharap kalian akan mengerti jarak antara kekuatan kalian denganku."

Tubuh Nomor 4 perlahan melayang keatas. Ditengah derasnya hujan dia bersiap melakukan sesuatu.

"Apa yg ingin dia lakukan?"

Rachel mempunyai firasat buruk. Ia sudah tahu kekuatan para Iblis, jadi dia bisa menebak apa yg akan terjadi.

"Kita harus menjauh dari sini... Cepat cari tempat perlindungan!!"

Begitu juga dengan Viola, dia merasa akan terjadi sesuatu yg mengerikan.
Ia lalu bergegas berlari.

"Daniel, cepat lari dari sini!!"

Daniel segera lari menjauh dari sana. Sementara Nelson menghampiri Pedro yg sudah pulih dari racun.

"Kau tidak apa-apa, Pedro?"

"Tak masalah..."

"Sudah kuduga, racun itu tidak mungkin dapat membunuhmu, lagipula kau itu abadi."

"Kau benar, meski begitu racun milik Nomor 4 sedikit sulit untuk dinetralkan. Sekarang aku tidak apa-apa, sebaiknya kau menjauh dari sini."

Nelson langsung menjauh dari sana.

Miquela dan Scarlet yg berada sangat jauh dari sana juga tampak khawatir.

"Sebaiknya kita menjauh dari sini secepatnya..."

"Kau benar, ini sangat berbahaya..."

Scarlet dan Miquela kemudian menaiki Angel dan segera menjauh dari sana.

Nomor 4 terus melayang keatas dan tubuhnya mengeluarkan racun dalam jumlah banyak. Racun Nomor 4
bercampur dengan air hujan. Siapapun yg mengenai air hujan tersebut sudah pasti tidak akan selamat.

Pedro hanya dia ditempat tanpa melakukan apapun. Dia sama sekali tidak takut bahkan hanya bersikap santai disaat seperti itu.

Isla membuat tempat berlindung dari kristal. Mereka berlindung disana dari air hujan terkontaminasi dengan racun.

Pedro juga membuat tempat berlindung dari es.

"Nomor 4, seharusnya kau tahu, jika situasi ini justru menguntungkanku."

.

.

.

13 Devil Chapter 57 - Dragon Demon Poison
Penulis : Newbie Karbitan

.

.

.

Kota terdekat yg juga di guyur hujan, meraskan dampak dari hujan racun tersebut. Pepohonan dan tanaman layu seketika. Rumah-rumah pun menjadi meleleh hingga menimbulkan kepanikan. Suara jeritan menggema diseluruh kota.

"Hahaha... Inilah akibatnya jika kalian meremehkanku. Jika aku mengeluarkan seluruh kekuatanku, aku bisa saja membunuh semua makhluk di planet ini."

"Apa yg dilakukan Pedro? Kenapa dia hanya diam saja? Jika begini terus orang-orang yg tak bersalah akan menjadi korban."

"Dia sebenarnya tidak peduli dengan nyawa orang lain. Bahkan jika planet ini hancur akibat pertarungannya, dia tidak akan peduli."

Mendengar itu, Isla cukup kaget. Meski Pedro telah berubah, sisi jahatnya dalam dirinya masih tersisa.

Viola lanjut menjelaskan.

"Bahkan para Iblis tidak akan segan membunuh siapapun yg mengganggu pertarungan mereka. Pengecualian Pedro dan Dewi. Mereka berdua sedikit lebih baik dan tidak sebrutal Iblis lain."

Memang Pedro tidak terlalu peduli dengan nyawa orang lain. Bahkan dia tidak segan-segan menghancurkan planet seperti saat menghadapi Nomor 3.

Pedro hanya diam dan belum bertindak apapun. Dia sengaja membiarkan Nomor 4.

"Ini... Hujan racun, berbahaya sekali."

"Ini masih belum seberapa. Dia masih belum mengeluarkan seluruh kemampuannya."

Rachel tahu kemampuan masing-masing Iblis. Betapa mengerikannya kekuatan mereka, bahkan Dewa sekali pun akan takut pada mereka.

"Kita tidak punya sedikit pun kesempatan untuk menggunakan senjata suci."

"Apa tidak ada cara lain selain menggunakan senjata suci untuk mengalahkannya?" tanya Daniel.

"Kelemahan Iblis adalah cahaya. Kurasa kita bisa membunuhnya jika menggunakan tombak cahaya." jawab Isla.

"Memang seberapa hebat sihirmu. Aku ragu meski kau menggunakan sihir atribut cahaya itu tidak akan mampu membunuhnya. Kemungkinan kau hanya dapat melukainya."

Perkataan Viola benar adanya. Dengan sihir biasa tidak akan cukup untuk membunuh Nomor 4. Bahkan kekuatan cahaya setingkat Malaikat saja belum tentu dapat membunuhnya. Kecuali jika itu Malaikat tingkat atas.

Pedro yg berada dibawah perlindungan esnya hanya menatap keatas dengan santai.

"Kau mau pamer kekuatan ya?"

Sementara Nomor 4 yg tengah melayang di langit dengan tubuhnya yg terus menerus mengeluarkan racun. Dia tertawa keras sambil berkata.

"Sekarang kalian sadar telah berhadapan dengan siapa. Nomor 7!!! Apa kau hanya diam saja... Bukankah kau ingin membunuhku?"

Pedro yg sedari tadi diam kemudian mengangkat tangan kanannya. Seketika aura dingin berhembus kencang. Air hujan dalam sekejap dibekukan Pedro.

Butiran air hujan berubah menjadi butiran es sekecil kerikil.

"Pedro membekukan air hujannya."

"Kenapa tidak dari tadi dia melakukannya..." kesal Isla

Pedro selalu bersantai-santai dalam setiap pertarungan. Dia selalu meremehkan musuhnya meski dia seorang Iblis legendaris. Walau pada kenyataannya Pedro memang kuat, hanya saja dia akan mengerahkan seluruh kemampuannya disaat-saat terakhir.

Nomor 4 tidak terlalu terkejut, dia sudah memprediksi hal ini. Dia menunggu Pedro bergerak.

"Sebenarnya kau serius atau tidak bertarung denganku? Jika kau main-main aku akan..."

Belum selesai Nomor 4 bicara. Pedro sudah melesat cepat dan dalam sekejap sudah berada di depannya.

Bahkan Nomor 4 tidak menduga Pedro menyerangnya secara mendadak. Ia tidak sempat menghindar lagi.

Pedro mengayunkan tombak esnya secara horizontal dan membelah tubuh Nomor 4 menjadi dua.

"Sialan kau!!!"

Meski tubuhnya terbelah, Nomor 4 masih bisa melesatkan puluhan ular beracun dari tangannya.

Pedro dengan santai menari-nari di udara menghindari puluhan ular beracun.

Tubuh Nomor 4 kembali menyatu. Ia lalu mengeluarkan asap beracun dari tubuhnya dalam skala besar.

Boomm!!!

Ekspresi Pedro masih tenang. Ia sama sekali tidak takut dengan racun Nomor 4 yg mematikan. Karena bagaimana pun Nomor 4 tidak memiliki cara untuk membunuh Pedro.

Pedro kemudian tersenyum seraya mengangkat tangannya.

Angin dingin berhembus dengan kencang dan melenyapkan asap beracun Nomor 4.

Tidak memberi sedikit pun kesempatan pada Nomor 4. Pedro langsung melesat cepat dan menghantamnya dengan satu pukulan. Seketika tubuh Nomor 4 membeku dan jatuh ke tanah.

Beberapa saat sebelum tubuhnya jatuh ke tanah. Nomor 4 dapat melepaskan diri dari es yg membekukannya.

Pedro langsung bereaksi dan langsung menyerang Nomor 4 dengan salah satu jurusnya.

"Tornado Es : Hukuman Neraka!!!"

Sebuah tornado es yg sangat besar tercipta.

"Disini sangat berbahaya... Sebaiknya kita menjauh dari sini."

Rachel menyarankan mereka untuk segera menjauh. Dia tahu jika bahwa pertarungan telah memanas.

"Kita sudah tidak dapat berpatisipasi dalam pertarungan ini. Kita harus menjauh dari tempat ini."

"Rachel benar, pertarungan mereka telah mencapai puncaknya. Manusia biasa seperti kita hanya akan membuang nyawa jika ikut dalan pertarungan ini. Biarkan Pedro yg mengurus iblis mesum itu."

Viola yg biasanya sombong tidak berani ikut berpatisipasi dalam pertarungan ini. Level pertarungan ini sudah jauh dari level kemampuan manusia biasa.

Mereka lalu bergegas lari sejauh mungkin dari lokasi pertarungan.

Tornado Es Pedro mengamuk dan mencabik-cabik tubuh Nomor 4. Jika manusia biasa tubuhnya pasti akan terpotong menjadi ratusan potong.

"Jangan kau pikir dengan ini bisa mengalahkanku... Nomor 7, kau sudah meremehkanku."

Boomm!!!

Tornado Es Pedro langsung lenyap seketika. Pedro langsung menjauh dari sana.

"Dragon Demon Poison!!!"

Seeokor Naga yg sangat besar berwarna Ungu pekat dengan mata berwarna merah terang muncul. Salah satu kemampuan menakutkan dari Nomor 4. Jika Naga ini sudah muncul, artinya Nomor 4 benar-benar berniat ingin menghancurkan Pedro.

Dari jauh Rachel dan lainnya terbelalak melihat seekor Naga yg sangat besar.

Tubuh Rachel dan Viola gemetar. Mereka tahu kalau ini adalah adalah jurus andalan Nomor 4 yg paling mengerikan.

"Naga!!!"

"Besar sekali..."

"Mengerikan..."

Daniel, Isla, dan Nelson baru pertama kali melihat Naga ini begitu terkejut.

"Aku tidak menyangka dia akan melakukan ini..."

"Sepertinya dia akan mengamuk. Kita harus menjauh dari sini, jika tidak kita akan mati.."

Rachel dan Viola yg mengetahui tentang kemampuan Nomor 4 begitu ketakutan.

Sama halnya dengan mereka berdua. Miquela dan Scarlet yg berada sangat jauh dari mereka dapat melihat Naga yg begitu besar itu. Tubuh mereka berdua menegang.

"Sudah kuduga akan seperti ini jadinya..."

"Bagaimana dengan Rachel dan Viola. Jika mereka tidak segera menjauh mereka akan mati."

Nomor 4 berdiri diatas Naga dan tertawa keras.

"Hahaha... Aku sudah lama tidak bersemangat seperti ini. Kau memang sungguh menarik, Nomor 7. Aku lebih suka melawanmu daripada melawan Nomor 8 atau Nomor 11."

"Sayangnya aku tidak terlalu suka bertarung denganmu."

Pedro langsung menjawabnya dengan dingin.

Nomor 4 menatapnya dengan tajam.

"Nomor 7, akan kubuat kau menyesal karena sudah membuatku marah."

Pedro sama sekali tidak gentar. Ia mengangkat kedua tangannya. Kemudian ia menciptakan badai salju berskala besar.

"!!!!"

Nomor 4 begitu kaget dengan badai salju yg dibuat Pedro.

Ratusan bola salju ditembakan Pedro.

Mulut Naga tersebut terbuka lalu menembakan racun-racun secara beruntun dan melelehkan bola-bola salju dalam sekejap.

"Seranganmu percuma saja..."

"Eternal Ice Disaster!!!"

Pedro memperlihatkan salah satu kemampuan terkuatnya. Dalam sekejap ia membekukan segalanya sampai radius 2000 KM.

Naga besar tersebut membeku bersamaan dengan Nomor 4.

Rachel dan lainnya juga ikut membeku akibat jurus Pedro tersebut.

Sementara Miquela dan Scarlet juga hampir membeku. Andai saja Scarlet tidak membuat penghalang api, maka mereka juga akan ikut membeku.

"Hampir saja..." Miquela menghela nafasnya.

"Oh tidak... Rachel dan Viola!!!" Scarlet bergegas lalu bergegas kembali.

Pedro sebenarnya sudah menahan diri. Jika dia menggunakan kekuatan penuh, dia bisa saja membekukan seluruh planet ini. Bahkan kekuatan api Scarlet tidak akan cukup untuk melindungi dirinya.

Dampak dari kekuatan Pedro tersebut. Beberapa kota terdekat membeku.

Scarlet bergegas kembali lalu melihat Rachel dan yg lainnya membeku. Ia kemudian melompat turun dari Angel.

Dengan kekuatannya, Scarlet dapat mencairkan es yg membekukan mereka.

"Hampir saja aku mati..." Nelson langsung berlutut di tanah.

"Dia terlalu berlebihan..." Daniel masih mengigil kedinginan meski es yg membekukannya sudah mencair.

"Apa Pedro sudah berhasil mengalahkan Nomor 4?" Isla berbalik ke belakang.

"Tidak... Tuan 4 tidak semudah itu dikalahkan."

Benar saja perkatan Rachel. Naga yg telah dibekukan Pedro dengan mudah menghancurkan es yg menyelimuti tubuhnya.

"Hahaha... Kau pikir bisa membekukan Nagaku ini. Sekarang apa yg akan kau lakukan? Keluarkan semua kemampuanmu..."

Pedro lalu melesatkan ribuan tombak es.

Naga tersebut lalu mengeluarkan asap beracun dari mulutnya dan dapam sekejap ribuan tombak es Pedro meleleh.

"Percuma saja, serangan apapun tidak akan padaku..."

Pedro menjauh sesegera mungkin. Dia sama sekali tidak bisa mendekati Nomor 4.

Nomor 4 berdiri dengan sombong dan tertawa meremehkan Pedro.

"Hanya segini saja kah kemampuanmu? Jika begini bagaimana kau bisa membunuhku."

Pedro hanya diam menatap dingin Nomor 4.

"Kali ini akan ku perlihatkan kekuatan dari Nagaku. Kau tidak akan bisa mengalahkan Nagaku ini."

Pedro lalu tertawa kecil.

"Dibandingkan Nomor 1, Naga kecilmu ini tidak ada apa-apanya. Jangan terlalu sombong dulu, aku bisa saja melenyapkan Naga kecil ini dengan mudah."

"Kau..." Nomor 4 menjadi kesal.

"Aku akan membungkam mulutmu!!!"

"Justru sebaliknya, aku yg akan membungkam mulutmu..."

Pedro lalu menciptakan puluhan tonardo Es.

"Percuma saja..."

Dengan sekali ayunan dari ekornya, Naga tersebut dapat melenyapkan tornado es Pedro.

Satu per satu tornado es Pedro lenyap dengan mudah.

Nomor 4 tertawa dengan sombong. Ia merasa sudah diatas angin.

Naga itu membuka mulutnya kemudian muncullah ratusan naga kecil menyerang Pedro.

Pedro kemudian menciptakan pedang es yg begitu besar. Panjang pedang tersebut mencapat 15 meter.

Dengan sekali ayunan, pedang tersebut langsung melenyapkan naga-naga kecil tersebut.

"Aku akan mengakhiri pertarungan ini dengan cepat..."

* * * * * * * *

Dalam memperingati satu tahun 13 Devil. Pada tanggal 22 November nanti, Insya Allah aku akan merilis 10 chapter langsung.

Semoga saja tidak ada halangan.

.

.

.

Bersambung ke 13 Devil Chapter 58

Alien Queen
2017-12-07 13:52:54
Itu juga niat aku pas ceritaku udah genap 1 tahun, sayangnya saat itu vt error. Jadi batal deh.
Yukki Amatsu
2017-11-26 21:05:24
Naga vs naga
BeeZero
2017-11-23 15:11:50
makin seru
Hiatus
2017-11-09 18:22:45
Wow lanjut ibrahim
Shadexz fahrhezi
2017-11-09 11:02:09
Bnyak hiatus lama beud
Sqouts Shadows
2017-11-08 15:49:35
Ditunggu chapter berikutnya
Bocah Redoks
2017-11-08 15:17:27
Ukh. Lama banget update nya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook