VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
The Elemental : Dark Word Phantom Chapter 22

2017-11-01 - ZENA LEO MONSTA X > The Elemental : Dark Word Phantom
55 views | 3 komentar | nilai: 9.8 (5 user)

The Elemental : Dark World

Phantom Chapter 22

"Whoaa bukankah kau
gadis yang oppainya luar biasa itu." ucap Zena yang menunjuk kearah wanita yang berada diluar sel.

"Apa kau mengenalnya Zena?" tanya Safirna.

"Yahaha, dia wanita baik berdada bagus." jawab Zena.

"Bisa tidak kau tak membahas hal itu lagi." bentak wanita itu yang ternyata Faura.

"Ah maaf-maaf, jadi opp, eh maksudku Faura. Apa yang kau lakukan disini?"

"Ekhem." Safirna berdehem.

"Oh sebelum itu, kenalkan temanku, Safirna, dia cup b."

Trank..

Dalam sekejap mata Zena telah menempel di dinding tempat itu.

Kedua wanita itu bersalaman sambil tersenyum.

"Safirna Suaveoulus. Itu namaku."

"Namamu bagus, aku Faura Elistixia."

"Hmm namamu juga bagus. Lalu kenapa kamu ada disini?"

"Oh itu, aku bekerja disini, sebagai pengawas para budak yang dipenjara disini."

"Yah, kebetulan sekali, kau ternyata kerja disini." Zena menarik dirinya melepaskan diri dari dinding.

"Sebaiknya kau jangan bicara." Safirna mengancam Zena.

"Baiklah, aku tidur saja."

"Lalu kenapa kalian berdua ada disini?" tanya Faura.

"Kami ditangkap oleh para prajurit phantom dan berakhir di tempat ini."

"Zena, apa kau membuat seorang gadis manis seperti Safirna bertarung?"

"Aku tidak diperbolehkan bicara." sahut Zena.

"Itu kau barusan ngomong woy?"

"Hah, lupakan semuanya. Yang penting, apa kau bisa membebaskan kami dari tempat ini?" tanya Zena yang bangun dari tidurannya.

"Maaf, tapi tugasku hanya memantau para budak saja. Tapi jika kau ingin melarikan diri, kau bisa bergabung dengan para budak yang merencanakan untuk lari dari sini." dari kejauhan, terdengar ada suara langkah kaki mendekat.

"Sepertinya waktuku disini sudah habis, aku akan memberitahukan orang-orang itu jika kalian tertarik bergabung. Dah."

Faura pun berjalan pergi.

"Bagaimana Zena?"

"Kita lakukan, itu lebih baik daripada diam saja bukan?"

"Hmm."

"Dan yang pertama harus kita lakukan adalah makan."

"Ta..tapi barang-barang kita kan tidak ada, mereka mengambilnya bukan."

"Ya, tapi. Ada orang yang bisa membantu."

"Lapor, dua tawanan elemental masih ada ditempatnya. Saya sarankan mereka dipekerjakan di blok utara." dari kejauhan, suara Faura terdengar tengah melapor pada seseorang.

"Benar juga, blok utara paling lamban, jika ada dua orang berkekuatan besar, kemungkinan akan mengejar blok lain. Baiklah, kerja bagus. Aku akan melaporkannya pada ketua."

Ditempat Zena dan Safirna.

"Woy, aku tahu kau disana, kalau mau membantuku. Cepat beri kami makanan.!" bentak Zena, tak lama aura hitam keluar dari atap tempat tersebut dan muncullah Arlan.

"Tcih, kukira kau tak butuh bantuanku. Hah sebenarnya aku malas membantu Elemental payah seperti kalian. Kalau bukan karena kakak, aku tak mau me.."

"Sudahlah jangan banyak bicara, kami sangat lapar." sela Zena yang berteriak.

"Kau sangat menyebalkan, baiklah tunggu aku 5 menit." Arlan pun pergi.

The Elemental : Dark Word Phantom Chapter 22 - Blok Utara 1
Penulis : ZENA LEO MONSTA X

Beberapa waktu berlalu, Safirna dan Zena digiring menuju blok utara oleh seorang sipir bersenjatakan pedang dari aura kegelapan Phantom.

"Hah apa-apaan itu, buahnya cuma pisang dan apel. Dia sebenarnya niat ngga sih ma.."

"Ssst.. Zena mending kita jangan bicara," Safirna membekap Zena.

"Oey, apa yang kalian berdua bisikkan hah?" tanya sang sipir dengan nada galak.

"Tidak ada, hanya saja, apa disana ada wanitanya."

"Ada, kenapa memangnya hah?"

"Aku hanya ingin tahu saja, seperti apa bra yang mereka kenakan." ketus Zena, sebenarnya ia mencoba mengalihkan topik. Bisa berbahaya jika orang itu tahu jika Arlan membantu mereka berdua.

Arlan kemungkinan akan langsung ditangkap oleh prajurit Phantom ayahnya, sama halnya seperti kakaknya.

"Apa yang kau katakan hah? Mereka tak memakai benda seperti itu, sudah beruntung mereka diberikan pakaian, daripada bugil."

"Whoaa itu bagus, Safirna sebaiknya kau lepaskan ju.."

"Jika kau bicara lagi, aku akan menjamin kematianmu Zena." sela Safirna yang kesal.

"A-aku hanya bercanda ko,"

"Kau pasti serius, cih dasar mesum."

"Hei, sudah kubilang. Aku tidak mesum, hanya saja kondisi dan keadaan plus authornya yang membuat aku seolah jadi pria mesum."

"Hei kalian berdua, kita sudah sampai diblok utara. Berikan tangan kalian." terlihat kedua tangan mereka diborgol, hal tersebut membuat mereka berdua tak dapat mengeluarkan kekuatan Elemental mereka.

Terlihat disana adalah ruangan bawah tanah yang sangat luas, seperti lapangan sepak bola yang dipenuhi banyak pekerja atau budak.

Borgol dari tangan mereka pun sudah dilepas.

"Apakah mereka berdua elemental itu?" tanya seorang pria yang datang, sepertinya dia juga sipir.

"Begitulah, sisanya kuserahkan padamu."

"Ya, serahkan padaku."

"Dan kalian berdua, apa yang kalian tunggu!? Cepat kerja sana!" bentak pria itu.

"Baik" ucap keduanya yang panik. Segera mungkin Safirna dan Zena bekerja, mereka menggunakan kemampuan elemental mereka.

Bruk..

Seorang wanita tiba-tiba jatuh.

"A-aku haus." lirihnya.

"Apa yang kau lakukan? cepat kembali bekerja.!" seorang sipir wanita hendak mencambuk wanita tersebut namun.

"Hentikan." seorang wanita berambut merah sebahu menahannya dengan memegang erat tali cambuk tersebut.

"Apa yang kau.."

"Aku akan menggantikan posisinya, aku akan bekerja duakali lipat." tatapan wanita itu membuat sipir tersebut bergetar.

"Cih, awas saja sampai lalai." sipir wanita tersebut pun pergi setelah wanita itu melepas cambuknya.

"Apa kau baik-baik saja, ini minumlah." wanita itu memberikan sebotol minuman yang ia sembunyikan dibalik pakaiannya.

Zena dan Safirna sekilas melihat hal itu.

"Gadis itu sangat baik yah." gumam Safirna.

"Kau benar, roknya pendek dan paha mulusnya keliatan." jawab Zena yang ngawur.

"Apa yang kalian lihat ha? Cepat kerja."

Ctar..

Cambuk pun di ayunkan kearah mereka, namun tak kena. Hal itu hanya gertakan saja.

"Baik." ucap keduanya.

"Kalau begitu aku akan serius. Electric Shock punch."

Blar..

Seketika dinding tanah pun hancur dan tercipta cekukan pada tempat Zena meninju. Hal itu membuat perhatian semua orang tertuju padanya.

"A-apa yang?" para sipir pun terkejut hingga melotot.

Gadis berambut merah itupun sama, perhatiannya tertuju kearah Zena.

"Bukankah, tadi itu petir." gumamnya.

"Zena, kau bisa melakukan pukulan sekuat itu." ucap Safirna.

"Eh? Ko bisa yah? Aku juga tak menyangka akan sekuat ini pukulanku, sungguh aku tak tahu loh."

"Apa kau sudah bisa mengendalikan kekuatanmu?"

"Entahlah, yang jelas aku dapat berlatih keras disini, ayo lakukan sesuai rancana." Zena melompat mundur dan mengambil ancang-ancang dan kemudian ia mengamuk.

Dinding-dinding batu dan tanah ia hancurkan, serangannya membabi buta.

"Uwaa."

"Mundur.."

"Dia gila.."

Semua budak dan sipir pun menjauh dari amukan Zena hingga sekitar 30 menit, ia terkapar kehabisan tenaga. Namun

"Semuanya beres, kalian tinggal membersihkan bebatuan disini." Zena mengacungkan jempolnya.

Sebelumnya, saat Zena dan Safirna makan.

"Jadi kenapa kau tak membawa kita kabur saja?" tanya Zena pada Arlan.

"Itu tidak mungkin, diseluruh kota dan semua tempat yang telah kujelajahi terdapat Phantom pengintai, hanya didalam penjara ini saja tak ada Phantom pengintai."

"Begitu ya."

"Ya, dan didalam sana juga ada, jadi sebaiknya kalian jangan mencoba kabur atau melakukan hal yang aneh. Patuhi saja perintah sipir,"

"Haa kenapa?"

"Kakak ingin kalian membantu seorang Elemental yang ada di penjara ini untuk membebaskan semua budak. Jadi kalian harus membuat rencana yang matang. Oh dan hal yang pertama kalian harus lakukan adalah mencari elemental tersebut."

"Lalu bagaimana cara kami menemukan elemental tersebut?" tanya Safirna.

"Tentu saja dengan merasakan hawa keberadaannya. Seperti halnya diriku, aku dapat merasakan keberadaan phantom dan elemental."

"Soal itu, aku belum bisa melakukannya."

"Apa? Cih, baiklah, hal mencari keberadaan elemental itu biar serahkan saja padaku. Kita akan membuat rencana. Dan sebelum aku muncul, kalian jangan melakukan hal mencurigakan apalagi hal mesum. Patuhilah para sipir agar Phantom pengintai tak curiga."

"Baiklah-baiklah, lalu apa rencanamu? Bukankah kita tak punya banyak waktu?" tanya Zena yang penuh pisang dimulutnya.

"Baik, ini dia rencananya. Seperti yang dikatakan tadi, kalian akan dipekerjakan di blok utara. Sebelum kita ke rencana, akan kujelaskan tentang penjara bawah tanah ini dan blok utara."

"Penjara ini dibagi menjadi 5 blok, utara-selatan-barat-timur-tengah. Blok utara, selatan, barat, timur bertugas memperluas dan menggali. Sementara blok tengah bertugas mengolah."

"Apa boleh aku bertanya satu hal?" tanya Safirna.

"Silahkan."

"Kita kerja apa disini? Dan tempat apa ini?"

"Ini adalah tambang, kita bekerja menggali tambang. Blok selatan menggali batu bara, blok timur menggali timah, blok barat menggali minyak dan blok utara menggali emas."

"Jadi, seluas apa tempat ini?" tanya Zena.

"Entahlah, mungkin sekitar 1-2 km. Aku tak tahu pasti."



Name : Zena Leomosta.

Family : Human

Power : Elemental Thunder

Ark : Elextra

Bersambung ke The Elemental : Dark Word Phantom Chapter 23

Tatsuya
2017-12-18 11:41:28
kapan ni cerita rilis lagi
Alien Queen
2017-11-22 20:48:00
Gambar zena kaya gitu, nggak keliatan mesum. Malah keliatan cool.
Sqouts Shadows
2017-11-01 19:49:10
Ditunggu chapter berikutnya
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook