VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 102

2018-01-05 - Alien Queen > Alien Attack : World War
81 views | 15 komentar | nilai: 10 (10 user)

Alien Attack : World War Chapter 102


Alien Attack : World War Chapter 102 - Taman
Penulis : Alien Queen

"Aku tak akan pernah melakukannya lagi, lagipula tadi itu hanya kecelakaan." bantah Sheila. Ia dan Hexari memegangi Kepala yang sepertinya sakit dan pusing.

"Hump.." Altheria pun mengalihkan pandangannya karna kesal.

"Te-tenanglah, tadi itu memang kecelakan, tidak disengaja." tambah Hexari.

"Aku tetap tak rela hal itu terjadi. Emm Ngomong-ngomong apa berita itu benar, tentang teman-temanmu itu?" tanya Altheria, ia ingin tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Sheila dan tim nya beberapa waktu yang lalu.

"Sebenarnya ituuu" Sheila pun menceritakan kejadiannya pada waktu ia di peperangan waktu itu. Beberapa waktu kemudian.

"Jadi berita itu benar?" tanya Altheria, Sheila menceritakan apa yang ia alami pasca perang waktu itu.

"Lalu kenapa tak segera melakukan misi penyelamatan untuk mereka? Bagaimana jika mereka langsung dibunuh.! " Hexari berbicara dengan nada naik, ia bahkan sampai berdiri.

"Jangan bicara padaku, aku tak tahu hal itu. Yang memutuskan semuanya adalah Tuan Jendral, jadi tanyakan saja saja padanya." ketus Sheila. Hexari tak berbicara, ia pun kembali mengingat kemarin ia bermimpi didatangi sahabat aliennya dan memberitahukan beberapa informasi.

"Sebenarnya Aku tahu dimana lokasinya." pikir Hexari.

"A-ada hal yang ingin kutanyakan pada Jendral kejam itu, tapi ah aku punya banyak tugas." gumam Hexari. Hening untuk sesaat hingga.

"Oh iya, Ngomong-ngomong kau mau jalan-jalan? Bukankah sangat membosankan berada ditempat ini? Agosti dan Dale juga menanyakan keadaanmu, kita temui saja mereka." Sheila mencairkan suasana dan mengganti topik pembicaraan.

"Baiklah, ayo. Sayang kamu juga harus ikut."

"Kenapa?"

"Untuk menggendongku."

"Menggendong? Bukannya kau bisa jalan sendiri?"

"Kau kan penyebab aku jadi terluka, jadi bertanggung jawablah. Bagaimanapun dan apapun alasannya, kau adalah pelaku kejadian kemarin." tegas Altheria.

"Dasar, jadi berita itu benar yah. Kenapa kau tak marah padanya? Arora." Sheila melirik kearah Altheria.

"Untuk apa? Aku tak perlu menyalahkan semua yang terjadi padaku. Itu semua bukan murni kesalahannya."

"Sudahlah ayo naik." Hexari telah memunggungi Altheria.

"Baiklah." Altheria terlihat senang dan langsung naik ke punggung Hexari.

"Terserah kau menganggapku apa atau kau selalu menyalahkanku. Lagipula dimata semua orang tindakanku selalu salah." Hexari berdiri.

"Makanya.."

"Sudah lah jangan dibahas, kita mau pergi kemana?" Hexari menyela.

"Cih jangan bicara padaku." Sheila ketus.

"Ketaman." Altheria menjawab. Sheila berjalan mendahului.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau tak kesusahan bernapas? Disini udaranya tipis. Kau juga membawa beban, tapi kau terlihat biasa saja." Sheila bertanya pada Hexari.

"Soalnya Hexari ku itu kuat." Altheria menjawab.

"Padahal kau sendiri yang bilang agar aku tak berbicara padamu." Hexari menjawab.

"Yasudah diamlah dan lupakan pertanyaanku tadi.!" Sheila membentak dan berjalan lebih cepat.

"Ada apa dengannya sih, dia mudah sekali marah. Apa dia sedang.."

"Jangan berpikiran aneh." Altheria agak membentak.

"A-aku tidak berpikiran aneh ko. Oh iya, apa kau ikut misi waktu itu?"

"Tidak, soalnya Tuan Jendral tak mengizinkanku, dan aku dibuat pingsan olehnya. Cih, pria itu sangat galak pada wanita."

"Sepertinya Jendral menyeramkan itu sangat tegas ya."

"Begitulah. Oh iya, kita ambil jalan lain saja, aku tak nyaman diperhatikan orang saat keadaan seperti ini."

"Hm.."

Setelah sampai.

Disana ada banyak orang yang sedang melakukan aktivitas mereka.

"Itu mereka." Sheila menunjuk kearah Altheria dan Hexari yang baru saja datang. Terlihat dua orang pria bersamanya.

"Kaau?"

"Orang itu." Hexari menurunkan Altheria dan

"Kau bego, kau pikir apa yang kau lakukan hah? Seenak jidatmu memotong pipa-pipa itu.!" Agosti memegang kerah jaket Hexari dan berteriak dihadapan wajahnya.

"Untung saja tak ada yang mati gara-gara perbutanmu." Dale menambahkan.

"Ma-maafkan aku, soalnya.."

"Enak saja bilang maaf, kau itu mencelakai banyak orang tahu.!"

"Ya, aku mengerti. Aku sudah dapat hukumannya dari kejadian itu ko, jadi aku sudah menebus kesalahanku kan.!"

"Cih." Agosti melepaskan cengkramannya.

"Oh iya, katanya kamu mengendarai Skyboard yah? Apa itu benar?" Altheria bertanya, ia duduk diatas bangku.

"Paling itu hanya bualan, sudah kubilang dia itu hanya bisa mengacau saja." Dale duduk di samping Altheria.

"Dale.!"

"Apa? Bukankah itu kenyataannya? Kau juga kena imbasnya akibat perbuatannya bukan?"

"Lebih baik kau jangan menghinanya dihadapanku.!" Altheria terlihat marah.

"Jadi apa rumor itu benar?" Agosti bertanya pada Hexari.

"I-iya. Aku memang mengendarainya, kenapa memang?"

"Ini kejadian langka, setahuku Soldier tak memiliki cukup banyak energi untuk mengendarai Skyboard."

"Ya. Sebenarnya aku juga langsung lemas setelah mengendarai Skyboard itu, sepertinya benda itu menguras energi ku."

"Begitulah, sistem kerja Skyboard sama seperti senjata kita. Yaitu menyerap energi penggunanya. Dalam sistem Skyboard, energi pengguna digunakan sebagai bahan bakar agar dapat melaju. Hanya saja, benda itu hanya digunakan oleh Warrior, Guardian dan Knight saja. Karena ketiganya memiliki energi yang cukup untuk bertarung dan menjadi bahan bakar."

"Lalu bagaimana dengan para Army dan Soldier disini? Bagaimana cara mereka bertarung?"

"Army dan Soldier tak terbang, mereka bertarung di pulau langit dibawah sana. Mereka bertugas melindungi kota langit itu."

"Begitu ya, eh. Ja-jadi aku juga ha.."

"Benar, jadi apa yang kau lakukan disini hah? Tugasmu ada dibawah sana! Apa harus kulempar kau kebawah.!" Agosti berteriak pada Hexari.

"Se-serem banget wajahmu,"

"Begini. Aku belum bebas dari hukuman Jendral menyeramkan itu, dan aku juga belum dapat perintah, hanya saja aku harus latihan. Itu saja."

"Hoo. Begitu yah. Yasudah. Kuharap hukuman dari Tuan Jendral membuat mu lebih baik."

..

Taman ini seperti layaknya taman di permukaan. Hanya saja beberapa bagian jalan terbuat dari logam. Dan pemandangan disini lebih indah. Dan udaranya tipis, juga disini dingin banget. Padahal matahari sudah terbit.

Hexari dan Altheria duduk berdampingan.

"Aku merasa ada hal yang aneh, ada hal yang kulupakan, emm... Apa yah. Aku merasa ada yang kurang dariku." Hexari mengingat- ngingat sesuatu yang ia lupakan.

"Ada apa sayang?" Altheria merasa aneh dengan Hexari.

"Aku merasa aku melupakan sesuatu, emm pedang.. Oh iya pedangku.. Heee aku lupa membawa pedangku.. Hiltzailea.."

Karna tadi Hexari menggendong Altheria, ia lupa membawa pedang Hiltzailea yang tadi ia simpan diatas meja, tadi ia langsung saja berjongkok dan menggendong Altheria. Dengan cepat Hexari berlari meninggalkan tempat.

"Aneh.? Dia pergi gitu saja."

"Gyaah gara-gara aku menggendongnya, aku jadi lupa membawa Hiltzailea, lagipula dimana aku membawa Hiltzailea sedangkan pedang itu bisa melukai Altheria."

Hexari berlari cepat,
Ia belok kanan kiri menyusuri lorong tempat itu, terlihat memang tempat itu sepi, pagi hari, entah orang-orang belum bangun tidur, sedang sarapan atau sedang berolahraga.

Yang jelas disana tak ada siapapun. Hexari sampai di ruangan tempat dimana Altheria dirawat dan saat ia masuk.

"Apaaaaa? Pedangnya hilang!"
Hexari mata membulat, karena di dalam ruangan itu pedang Hiltzailea tak ada ditempatnya.

"Tidaak.." Hexari menggaruk garuk kepalanya panik,

"Aku harus segera mencarinya." ia pun segera megobrak abrik tempat itu.

"Dimana.. Dimana kau.. Hiltzailea.. Yang benar saja, kemana perginya pedang itu. Apa Hiltzailea berjalan pergi, tapi mana ada pedang bisa jalan. Ah sial, kalau dicuri orang lain sudah jelas tidak mungkin. Hiltzailea tak bisa dipegang orang lain."

Tempat itu pun jadi jadi berantakan karna perbuatan Hexari. Saat Hexari sibuk membuat berantakan tempat itu, tiba-tiba saja

Tak..

"Oey apa yang kau lakukan bodoh? Kenapa kau mengobrak abrik ruangan ini." seorang pria paruh baya yang menjitak kepala Hexari dan membentaknya.

"Aduh.. Aduh.. Kenapa kau memukulku sih, dan siapa kau ini tiba-tiba saja datang dan memukulku.?" Hexari melirik kearah pria tersebut

"Dan anda siapa yah? Ko aku tak tahu kapan anda datang?" karena terlalu sibuk mencari Hiltzailea, Hexari tak sadar jika ada orang yang datang.

"Kau lupa padaku? Aku adalah orang yang menilai teknik bertarungmu waktu di Angkatan Laut." jawab pria itu yang ternyata dia adalah Adder, seorang warrior yang pertama kali melawan Hexari di Angkatan Laut, pada waktu tes pertama dilakukan.

"Oh iya aku ingat, anda adalah paman Warrior yang waktu itu bukan. Aku ingat anda, aku bukan karakter utama yang bodoh dan idiot ko."

"Kukira kau akan lupa padaku,ngomong-ngomong apa yang sedang kau lakukan hingga membuat tempat ini berantakan.?"

"Aku mencari sesuatu. paman apa kau melihat pedangku disekitar sini?" tanya Hexari.

"Jadi kau membuat tempat ini berantakan hanya karna mencari sebuah pedang? Hah ada-ada saja." bentak Adder.

"Iya. Soalnya pedang itu sangat istimewa bagiku."

"Apa istimewa nya pedang? Lalu bagaimana ciri-ciri pedang itu?"

"Pedangnya berwarna putih keemasan dan dilengkapi dengan logam bercahaya biru muda. Ukurannya sepanjang sekitar 2 meter."

"Mana ada logam bercahaya?"

"Tentu saja ada, makanya pedangku istimewa paman."

"Hmm dilihat dari ciri-cirinya, Apa pedangmu seperti yang ada diatas sana?" tanya Adder sambil menunjuk keatas. Ia mengusap-usap dagunya mode berpikir.

"Uwaaaa... Hiltzailea kenapa kau ada disana.!" teriak Hexari histeris.

"Bagaimana bisa pedang itu bisa sampai disana."

Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 103

Alien Queen
2018-01-12 17:25:03
wahyu uyhaw , maaf. Vt nya rada eror, balas komentar juga nggak bisa.
wahyu
2018-01-12 03:32:49
Cantik udah 70 nih kapan update lagi...
Bocah Redoks
2018-01-05 22:21:10
Kirain d umpetin sama om warrior
Zen Kureno
2018-01-05 13:25:22
Apa pedangnya diatas langit " kamar??? Eeee, kok apa warrior itu berasal dari laut atau udara
Takashi Draylus
2018-01-05 12:47:57
pedang yg bercahaya, apa bisa terbang??
wahyu
2018-01-05 11:22:33
Nunggu 70+ lg nih.... Tuk update ceritax
Irwan Syah
2018-01-05 10:29:23
seru... lanjut
Sqouts Shadows
2018-01-05 10:19:17
Ditunggu chapter berikutnya
Muhammad Faisal
2018-01-05 09:42:20
Lanjutkan.
Romusa 13
2018-01-05 09:33:55
mantap,, apakah pedang'y terbang?
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook