VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 93

2017-10-07 - Alien Queen > Alien Attack : World War
110 views | 11 komentar | nilai: 10 (8 user)

Alien Attack : World War Chapter 93


Alien Attack : World War Chapter 93 - Gas Erregaiak
Penulis : Alien Queen

"Aneh, kenapa pedangku jadi bertambah panas yah, bahkan air pun langsung mendidih." pikir Hexari.

"Sepertinya suhu panasnya sudah turun," tambahnya, ia berjalan mengikuti seseorang.

"Mereka benar-benar tak berpengaruh dengan udara tipis." Hexari memperhatikan sekitar, terlihat orang-orang yang ada disana melakukan aktivitas layaknya di permukaan. Tibalah ia didepan sebuah pintu.

"Ini adalah ruangan Tuan Jendral."

"Terimakasih." pria tersebut pun pergi.

Tok... Tok... Tok...

Hexari pun lansung masuk, seperti biasa ia tak menunggu sahutan dari dalam, mengetuk pintu saja sudah cukup baginya.

"Ternyata benar." pikir Jendral Erthogrul, Hexari masih seenaknya meskipun ia tahu Jendral yang satu ini sangat menakutkan.

"Duduklah."

Hexari pun menurunkan pedangnya dan duduk pada sebuah sofa diruangan tersebut, ruangan yang terlihat tak seperti ruang kerja, ruangan tersebut seperti ruang santai.

"Kita langsung saja. Ekhemm.. Ditempat ini Ada beberapa peraturan yang tak boleh kau langgar, karna konsekuensinya akan berat. Sebelum kujelaskan dengan rinci, apa ada hal yang ingin kau tanyakan?" tanya Jendral Erthogrul pada Hexari dengan serius.

"Ya, kenapa disini udaranya sedikit,? kukira hanya ada di luar saja, tapi didalam ruangan pun sama saja."
Hexari terlihat ia sudah mulai menyesuaikan pernapasannya.

"Angkatan Udara memang seperti ini, hal ini dilakukan sebagai latihan, udara tipis membantu melatih paru-paru, prajurit disini dominan melakukan penerbangan tanpa pesawat."

"Baiklah, aku mengerti."

"Ada pertanyaan lain?"

"Ya, benda yang mirip skateboard itu apa namanya? Benda itu terlihat melayang." tanya Hexari yang sepertinya penasaran dengan apa yang ia lihat tadi.

"Benda itu dinamakan Skyboard, kendaraan ringan bagi Angkatan Udara, kau dapat memakai benda itu dalam perang. Selengkapnya kau dapat membacanya di dalam file Angkatan Udara."

"Baiklah, tak ada hal yang ingin saya tanyakan lagi." Hexari terlihat begitu formal dan sopan.

"Baiklah, pertama-tama a..."

Brak..

Ucapan Jendral Erthogrul terhenti ketika tiba-tiba saja pintu pun terbuka dengan paksa

"Tuan Jendral, aku dengar Hexari akan datang kesini. Apa benar itu? Kapan dia kemari?" teriak Arora yang seenaknya masuk keruangan itu.

"Aku ada disini." Hexari cuek tanpa berbalik, ia hanya mengangkat tangan kanannya.

"He... Hexariiii.. Kyaaa.." dengan cepat Arora memeluk Hexari hingga kursi yang Hexari duduki terjungkal.

"Uwaa apa-apaan kau ini? Bahagia juga enggak seperti ini kan, menyingkirlah."

Namun Arora tak mendengarkan, kelakuannya tak seperti wanita yang sedang sakit.

"Anak ini selalu seperti itu." keluh Jendral Erthogrul, ia pun beranjak dari duduknya berjalan kearah Arora dan Hexari.

"Hey ayolah ini bukan waktunya kita peluk-pelukan." pria itu berusaha melepaskan diri dari Arora.

"Arora Kazarina." Jendral Erthogrul telah berada dihadapan mereka berdua.

"Ga..gawat, aura membunuh ini terlihat sangat kuat." panik Arora yang melirik kearah Jendralnya.

Beberapa detik kemudian.

"Aku sangat pusing, sepertinya aku mengalami geger otak ringan, serasanya tengkorak kepalaku pecah." gumam Arora yang tergeletak diatas sofa sambil memegangi kepalanya.

"Benar-benar menyeramkan, dia tidak pandang gender." pikir Hexari.

"Kau tahu, kau terlalu kasar pada wanita. Jika kau seperti itu, kau tidak akan pernah menikah sampai mati." Arora bangkit dan duduk, meskipun keadaannya kini tak terlihat baik, tapi dia masih sanggup banyak bicara.

"Sudahlah Arora, kami sedang membahas hal penting." Hexari mencoba menghentikan Arora.

"Anda terlalu kejam pada bawahanmu, bisa...." Hexari langsung membekap mulut Arora saat aura membunuh kembali muncul pada diri Jendral Erthogrul, padahal pria tinggi itu tengah duduk menyilangkan tangannya didada dan memejamkan matanya.

"Baiklah, aku mulai kembali. Seperti yang tadi sudah kukatakan, kau akan berlatih menjadi seorang Soldier Angkatan Udara, kau akan dimulai dari awal."

"Siap."

"Sepertinya aku akan punya banyak waktu denganmu sayang." setelah bekapannya dibuka, Arora malah duduk dipangkuan Hexari.

"Apa kepalamu sudah baikan?"

"Tenang saja, aku ini kuat ko. Lagipula ini tidak sekeras seperti biasanya." Arora memang terlihat sudah tak merasa sakit dan pusing dikepalanya.

"Jadi... Dihajar Jendral sudah menjadi keseharianmu?"

"Hehehe.."

"Sepertinya dia lebih merepotkan dariku." pikir Hexari memandang Arora yang kini menempel padanya.

"Bisa kulanjutkan.?" tegas Jendral Erthogrul.

"Si..silahkan."

"Orang ini, dari nada bicaranya saja telah membuat jantungku berdegup ketakutan." pikir Hexari, Arora mengalungkan kedua lengannya dileher Hexari.

"Semua itu direncanakan oleh Tuan Presiden, saat kami rapat waktu itu. Kami sempat membahas tentang dirimu, beliau mengatakan kau harus mendapat pelajaran dari semua tempat. Tapi." Jendral Erthogrul menggantungkan ucapannya.

"Hei, kau tahu, disini udaranya sedikit, dan parfummu membuat napasku sesak, jangan terlalu menempel padaku." bisik Hexari, namun sepertinya Arora tak mendengarkan.

"tapi apa?" Arora meminta penjelasan lebih, ia sama sekali tak memperdulikan Hexari yang kesulitan bernapas.

"Tapi semua itu hanya formalitas, setelah Zenitya menyadari ada hal yang tak beres dengan tubuhmu, Kami berdua menyimpulkan bahwa Guimor merencanakan sesuatu."

"Jendral bodoh itu, apa yang dia rencanakan?" gumam Hexari.

"Rencananya adalah, membuat dirimu menjadi kuat melampaui para Warrior, kau memiliki kelebihan menguasai sesuatu hal dalam waktu singkat."

"Eng, sepertinya aku tak bisa menyembunyikan apapun lagi." pikir Hexari.

"Waaah, dengar itu sayang, kau bisa menjadi yang terkuat melampaui para Warrior, suamiku gitu loh."

"Sejak kapan aku menjadi suamimu?" pikir Hexari.

"Tapi aku tak yakin bisa melampaui para Warrior, aku menyadari sesuatu setelah aku tadi berhadapan dengan wanita monster itu, menurut perhitunganku. Warrior yang masuk peringkat 5 besar sangat menyeramkan, tak mungkin aku dapat berada di jajaran mereka, selain itu. Ranking 1. Dia terlalu misterius,"

"Kau benar sekali, tapi pelatihanmu harus tetap dilakukan, rencana Guimor bukan hanya ambisi semata, dia takut terhadap sesuatu yang disembunyikan oleh para Alien, alasan mereka menculik banyak manusia, mereka menyembunyikan sesuatu yang sangat mengerikan."

"Jadi maksud anda, intinya aku dilatih keras untuk menghabisi sesuatu tersebut.?" tanya Hexari.

"Yah, aku yakin tanpa diminta pun kau pasti menyetujuinya, selain dirimu. Para Warrior pun harus segera mengasah kemampuan mereka, kita tak tahu berapa banyak alien kuat yang mampu membunuh prajurit dengan mudahnya."

"Benar juga, baiklah. Aku akan berusaha dengan baik, aku akan melakukan yang terbaik."

"Tenang saja sayang, aku pasti akan selalu ada disampingmu, aku tak akan membiarkan dirimu terluka." Arora akhirnya melepaskan dirinya.

"Hmm, aku percaya a..." sebelum Hexari menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba alarm berbunyi.

"Ada apa ini?" gumam Arora. Jendral Erthogrul segera mengambil laptopnya dan membukanya, seseorang langsung menghubunginya.

"Tuan, radar kami mendeteksi bahwa terdapat puluhan ekor alien yang tidak diketahui jenisnya menyusup ke markas. Tepatnya sudah berada dalam pesawat." ucap suara wanita di layar.

"Aku akan segera kesana, berikan pengumuman pada semua prajurit agar segera bersiap.!"

"Baik tuan."

"Waaah ada alien menyusup, Sayang kita juga harus beraksi, dan bu.."

"Tunggu dulu, kau lebih baik diam di ruang perawatan. Dan Hexari pextragon Kita tunda dahulu percakapan ini, segeralah bersiap- siaplah menghadapi penyurup." Jendral Erthogrul tegas.

"Siap."

"Ta-tapi aku ingin bersama Hexari." ucap Arora memelas. Jendral Erthogrul memasang tatapan tajam hingga membuat Arora menunduk ketakutan.

"Ikuti aku." Jendral Erthogrul beranjak dan berjalan pergi dari tempat itu.

"A-aku pergi dahulu, dah." Hexari langsung meninggalkan Arora yang cemberut.

"Yang benar saja, mana mau aku kembali ke tempat bau obat itu." gumam Arora yang sepertinya mempunyai rencana.

. . . .

Scene beralih ke ruang utama ruang control, Jendral Erthogrul memasuki ruangan. Dengan langkah cepat ia dalam waktu singkat telah tiba disana.

"Berikan laporan tentang apa yang terjadi." tegas Jendral Erthogrul singkat yang duduk di kursinya.

"Tiba-tiba saja radar menangkap keberadaan alien di dalam markas."

"Tuan, alien terdeteksi berada di gudang dekat mesin."

"Mereka terlihat melakukan sesuatu,"

"Apa? Kenapa tiba-tiba alien terdeteksi dalam kapal, bukankah kita punya radar yang dapat mendeteksi kedatangan mereka." pria tinggi dan kekar itu bergumam sendiri.

"Segera perintahkan para prajurit yang ada untuk menghabisi para alien yang menyusup, peringatkan juga mereka agar berhati-hati dengan tabung berisi gas dan mesin."

"Baik.." setelah diumumkan tentang penyusupan Alien, beberapa prajurit pun bergegas.

Ditempat Hexari, ia berlari menyusuri lorong mengikuti Arora.

"Cepat sekali dia pulih." gumam Hexari yang memperhatikan bekas tembak di punggung Arora.

"Apakah masih jauh?" tanya Hexari pada Arora.

"Tidak terlalu." jawab Arora dengan sedikit tersenyum, ia terlihat memegang tangan kanan Hexari erat.

"Andaikan saja aku tak kehilangan jejak dan mengetahui ruangan kontrol itu diamana, aku malas mengikutinya, lagipula kenapa Jendral itu sangat cepat jalannya." pikir Hexari, ternyata ia ketinggalan Jendral Erthogrul dan Arora bermaksud mengantarnya keruang kontrol, ya itulah yang dikatakan Arora sebelumnya.

"Apa kau sudah baikan, kurasa sebaiknya kau beristirahat."
Hexari menyarankan pada wanita yang ada di depannya.

"Tidak mau, lagipula jika aku ada didekatmu, aku merasa jauh lebih kuat." Arora langsung menolak.

"Hm terserahlah, tapi kemungkinan Jendral tinggi itu akan memarahimu."

"Hal itu sudah biasa ko." Arora mengeluarkan sekilas senyuman.

"Eh.."

"Sepertinya Arora sering membuat masalah, dia sepertinya wanita yang merepotkan, tapi aku masih tak mengerti kenapa dia menyukaiku." pikir Hexari.

Di tempat yang di diperkirakan tempat alien memasuki markas. Terlihat alien berbentuk manusia namun dengan kepala, tangan dan kaki berbentuk binatang dan makhluk itu memiliki ekor. Mereka menggendong sebuah tabung berukuran lumayan.

Seekor alien keluar dari lubang yang cukup besar dan memasuki ruangan yang terdapat beberapa tabung raksasa.

"Aku sudah menunggu kalian, alien sialan." seorang pria sedang duduk diatas pipa sambil memegang pedang biasa. Dialah Dale, Ia pun melompat turun dan mengayunkan pedangnya dan

Srat..

Alien itu menangkis dengan tangannya namun tangan kanan nya berhasil terpotong.

"Lumayan, tapi kau bukan tandingan seorang Warrior, jadi belajarlah untuk menghindar dari serangan musuh kuat." Dale pun memutar tubuhnya dan menendang perut alien itu hingga membuat makhluk itu terpental jauh.

"Cih terlalu lemah."

Namun alien lain datang dan hendak menyerang nya dari belakang. Tetapi..

Ting...

Seorang pria menangkis serangan tersebut, dialah Agosti. Ia langsung menendang alien tersebut.

"Wuuh mengejutkan sekali."

"Seperti biasa, kau selalu lebih cepat dariku." Agosti membelakangi Dale.

"Kau yang selalu terlambat." mereka berdua saling membelakangi.

"Ahaha maaf, aku masih lelah karna misi itu. Sebenarnya aku ingin beristirahat lebih lama." balas Agosti. Dale pun melompat dan menebas alien di depan nya, tak lama datang beberapa prajurit, termasuk Hexari dan Arora.

Terlihat sekitar 10 orang prajurit datang ketempat itu, mereka semua langsung bersiaga.

"Semuanya hati-hati, jangan sampai kalian menembak makhluk itu, mereka membawa benda aneh yang kemungkinan bisa meledak." peringat Agosti.

"Jika tembakan kalian meleset maka kalian akan meledakan tabung gas raksasa disana." terlihat disekeliling banyak tabung gas raksasa yang terdapat banyak pipa, tabung raksasa tersebut menyimpan sumber bahan bakar dan energi pesawat raksasa tersebut.

"Baiklah." Vavian mengambil pedang yang kemudian mengeluarkan cahaya ditangannya dan berlari menuju alien yang keluar dari sebuah lubang.

"Kau bilang akan mengantarku ke ruang kontrol tapi malah membawaku ketempat ini." gumam Hexari sweatdrop.

"Lupakan ruang kontrol, sekarang Ayo kita beraksi sayang."

"Bukannya kita salah jalan yah? Atau mungkin kau sengaja membawaku kemari?"

"Ahaha entahlah, yang jelas kita tak dapat berdiam diri saja ketika ada musuh di hadapan kita bukan?"

"Ya, tapi kamu kan tak membawa senjata apapun."

"Tenang saja, jangan pikirkan hal itu. Nah sekarang ki.." ditengah perbincangan mereka, tiba-tiba sekitar 7 ekor alien langsung muncul dan menyerang.

Ting..

"Jangan sampai alien itu menghancurkan tabung." teriak Agosti yang menangkis serangan.

"Terlalu banyak musuh yang menyusup. Arora ayo kita bantu mereka." ajak Hexari dengan pedang yang sudah terhunus.

"Baiklah, Darling. Ini yang kutunggu-tunggu" balas Arora sambil tersenyum, ia pun berlari maju.

"Da-da-ddarling? Apaan tuh." tanya Hexari menyusul Arora.

Diatas terlihat Eria sedang duduk diatas sebuah pipa yang ukurannya cukup besar.

"Hah aku sangat malas melawan makhluk menjijikan itu, tapi mau bagaimana lagi, sepertinya kebanyakan yang lainnya mengurusi tempat lain." dengan cepat ia pun melompat turun, ia masuk ke lubang besar yang dibuat oleh alien. Terlihat benda yang di gendong oleh para alien itu berada di lorong tersebut, sekitar 10 buah terdapat disana.

"Apa-apaan benda ini.?" gumam Eria. Terlihat di depan terlihat 3 ekor alien yang berlari menjauh.

"Kalian tidak bisa lari dariku, khii." gumam Eria menyeringai.

Ditempat Hexari, terlihat disana terjadi pertempuran melawan para alien penyusup, namun pedang mereka semua tak dapat membunuh para alien itu.

"Senior, percuma saja, senjata kami tidak mempan." ujar Vavian.

Ting..

"Itu Benar, kulit mereka sangat keras." ujar yang lain yang menangkis serangan alien didepannya dengan pedang.

"Kalian bodoh ya, gunakan obat kalian makanya." bentak Agosti.

Srat...

Ia pun menebas seekor alien dihadapannya dan berhasil membelahnya menjadi dua bagian.

"Benar juga yah."

"Cepatlah bodoh, mereka menyerang lagi."

"Sepertinya kamu memang sudah sehat." ucap Hexari pada Arora, mereka saling memunggungi.

"Seperti itulah,"

"Benda itu.... Gawat." gumam Hexari yang sepertinya melihat sesuatu. Ia dengan cepat menebas alien yang menjadi musuhnya.

"Ada apa Hexari?"

Srat...

Alien pun terbelah secara Horizontal. Dengan cepat Hexari berlari kearah tabung gas dan melompat keatas, ia pun segera menebas pipa yang menyalurkan gas. Ia tak mendengarkan ucapan Arora.

"Orang itu.. Apa yang akan dia lakukan.!" kaget Dale. Tidak hanya satu pipa, Hexari menebas sekitar 5 buah pipa dan Gas pun keluar dengan cepat.

"Apa yang kau lakukan sialan.!" teriaknya, Hexari tak menghiraukan.

Di ruang kontrol.

"Tuan, di lokasi lain telah ditangani dengan baik oleh prajurit lain."

"Tuan, pipa gas bahan bakar bocor, sepertinya ada beberapa pipa yang rusak."

Jendral Erthogrul pun melihat melalui kamera dimana terjadi pertarungan ditempat Hexari berada, Jendral Erthogrul melihat Hexari menebas pipa dan Arora yang bertarung.

"Anak itu. Apa yang dia lakukan, lalu Arora juga. Kenapa dia ada disana? Bukankah aku sudah memerintahkannya untuk kembali keruangannya. Cih. Mereka berdua membuatku ingin marah saja."

Bersambung

Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 94

ZENA LEO MONSTA X
2017-11-19 14:17:43
Di next aja
BeeZero
2017-11-16 13:34:44
memang begitulah hexari !!
Shadexz fahrhezi
2017-10-10 09:22:21
Mntapz. Gas tu sumber si alien hnya hexari yg tau
Jack El Jacqueline
2017-10-08 14:19:21
jangan terlalu lama Vir
Sqouts Shadows
2017-10-07 19:34:32
Ditunggu chapter berikutnya
Hiatus
2017-10-07 17:53:00
Oh yeah baby hexari berulah lg oh baby
Bocah Redoks
2017-10-07 17:14:46
Jadi ingat pas hexari pertama kali d al
Rudy Wowor
2017-10-07 15:14:29
lagi-lagi Hexari melakukan tindakan yang membuatnya dihukum.
Grim Rieper
2017-10-07 15:03:22
tiba2 rilis tanpa pmberitaun
Zen Kureno
2017-10-07 14:44:45
Moga dipercepat rilis aku gak tahan mau ngeliat hukuman Hexari selanjutnya . Sepertinya Hexari terjebak didalam sebuah percintaan yang kompleks
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook