VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 89

2017-09-20 - Alien Queen > Alien Attack : World War
96 views | 6 komentar | nilai: 9.88 (8 user)

Alien Attack : World War Chapter 89


Alien Attack : World War Chapter 89 - Mingarri Nazkagarria
Penulis : Alien Queen

Angkatan Udara

Sheila menangis, ia benar-benar menyesali dirinya.

"Sudahlah, hormati pengorbanan Lemy untukmu," ucap Laura.

"Hm," angguk Sheila.

"Kami juga bersalah karna meninggalkan mereka." ucap Chester menunduk.

"Aku bahkan tak ingat apapun, aku benar-benar payah." lanjut Iliya.

"Mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi. Kita tunggu saja keputusan tuan Jendral." ucap Agosti, disana juga ada Dale.

"Kenapa bisa seperti itu? Kenapa bisa kalian gagal? Bukankah ada Warrior yang menjadi ketua kalian?" tanya Dale.

"Hmm, ini juga merupakan kesalahan kami berdua." ucap Laura.

"Kami membagi tim menjadi dua dimana aku dan Laura jadi satu tim dan yang lainnya bergabung." tambah Agosti.

"Bodoh, kenapa kalian malah membagi dua tim seperti itu? Warrior dibutuhkan untuk keadaan tak memungkinkan untuk Knight dan Guardian.!" bentak Dale.

"Sudahlah, jangan perburuk keadaan." ucap Adder yang datang. Semuanya menunduk hormat

"Kedua bawahanku pun tertangkap, jika boleh aku ingin ikut pergi menyelamatkan mereka."

"Lalu bagaimana bisa hal ini terjadi?" tanya Adder.

"So-soal itu,awalnya kami terbang menuju sebuah pesawat yang dikawal banyak alien terbang." ucap Sheila.

"Dilihat dari penampilannya yang dikawal, hal itu terlihat seolah para manusia berada disana. Dalam pesawat tersebut." tambah Iliya.

"Namun setelah kami bertarung habis-habisan, kenyataan pahit kami dapatkan, salah satu dari kami membuka radar pelacak dan yang ditemukan, hanya kami manusia yang ada dalam kapal tersebut. Tak ada tanda keberadaan warga kota." tambah Chester.

"Jadi hal itu hanya pengalihan saja.!" ucap Dale.

"Saat kami didalam, Keil dan aku sedang menghadapi alien gurita, dan disana hal menyeramkan terjadi, muncul seekor alien dengan bentuk tubuh seperti manusia dan di pinggangnya banyak tumbuh tentakel." ucap Sheila.

"Makhluk itu sangat kuat, ia menumbangkan Aruki dalam 1 serangan, namun ada hal yang tak kami duga. Makhluk itu berbicara bahasa manusia." tambah Sheila, ya yang ia maksud adalah Erquolis, alien tersebut yang berasal dari bangsa Lepharta.

"APA??"
kaget Dale dan Adder.

"Kami juga menghadapi monster gurita dan melawan makhluk yang sama seperti yang dikatakan Sheila, mereka mengaku dari bangsa Lepharta." ucap Laura.

"Awalnya aku juga tak menyangka ada alien dapat berbicara bahasa manusia, tapi aku menghadapinya langsung." tambah Agosti.

"Tak kusangka makhluk itu yang menjadi sumber kekalahan kita." lanjut Agosti.

"Tempat senior juga sama ternyata." pikir Chester.

"Setelah itu, Aku dan Chester melompat turun setelah Keil berteriak." ucap Iliya.

"Setelah kami jatuh, ada alien yang menangkap kami, namun seorang pria berambut merah menyelamatkan nyawa kami." tambah Chester.

"Semuanya tumbang satu persatu, hingga waktu itu tersisa hanya aku dan Lemy, ia meninjukku dan menghempaskanku keluar untuk menolongku, namun makhluk itu mengejar. Dan entah apa yang terjadi, aku tak sadarkan diri setelah itu. Saat aku siuman, aku berjumpa Chester dan Iliya juga pria penyelamat itu." ucap Sheila

***

Agosti, Laura dan Dale berjalan berdampingan.

"Bagaimana dengan Arora?" tanya Agosti, ya saat ia berangkat, terakhir kali ia melihat Arora tumbang dengan satu serangan mematikan Jendral Erthogrul.

"Dia sudah baikan, lukanya terlihat mulai sembuh, dia bahkan sudah dapat berjalan-jalan." jawab Dale.

"Baguslah, oh iya. Ngomong-ngomong apa yang terjadi padamu saat kau ditarik tentakel itu?" tanya Agosti pada Laura.

"Saat itu, emmm.."

Flashback..

"AGOSTIII.."

"LAURAAA..!!!" Mereka berdua pun terpisah, disisi Laura.

"Cih, apa-apaan ini, masa ada gurita didalam kapal, lagipula sebesar apa makhluk ini jika tentakelnya sebesar ini." gumam Laura yang masih tertarik, ia mencoba melepaskan diri, namun cengkraman tentakel itu sangat kuat hingga sampailah kepada pemilik si tentakel.

"Besar banget.." gumam Laura, ia tak dapat menggerakan tubuhnya sedikitpun.

Makhluk itu membuka mulutnya sangat lebar bersiap menyantap Laura, gigi-gigi besar dan tajam nya terlihat mengerikan.

"Gawat.." gumam Laura yang panik.

"Aku akan dimakan." tambahnya.

Tentakel itu memasukkan Laura pada mulut besar tersebut.

"Kyaa..!!!"

Laura langsung masuk kedalam mulut gurita raksasa itu.

Didalam

"Ih disini sangat bau dan menjijikan, ayolah aku tak akan mendapat bayaran karna berada disini." gumam Laura, disana gelap tak terlihat apapun.

"Cairan kental dan lengket ini sangat menjijikan dan apa ini aku dikelilingi daging lembek, benar-benar menjijikan. Gawat. Aku merasa udara disini menipis." Laura berusaha menggerakkan tubuhnya.

"Cukup sudah, aku tak tahan berada di tempat ini..!" teriaknya dan.

Diluar.

Dum.. Dum.. Dum..

Kepala gurita tersebut muncul tonjolan-tonjolan karna diserang dari dalam.

"Rrrrrrrr..." Makhluk itu berteriak kesakitan dan

DUAR...

kepalanya pun hancur berkeping-keping terlihat Laura melompat keluar.

"Ahh menjijikan, tubuhku sangat basah karna cairan kental ini, andaikan para prajurit mengetahui aku seperti ini, aku akan kehilangan ketenaranku. Aku harus mandi.. Aku harus mandi.." Laura segera berlari pergi dari tempat itu, ia pergi entah kemana hingga ia sampai di sebuah tempat.

Tempat dimana terdapat sebuah tabung besar berisi air.

"Air? Tapi jika terdapat dalam benda seperti ini biasanya bukan air biasa. Tapi terserah ah, aku ngga tahan dengan cairan ini." Laura segera meninju tabung kaca tersebut dan

Crash..

Kaca pun pecah, air didalamnya keluar membasahi tubuh Laura.

"Asin, i-ini air laut." gumamnya, ia pun segera pergi

"Untuk apa alien menyimpan air laut?" pikirnya.

Hingga beberapa alien langsung menghadangnya.

"Baiklah, kali ini aku akan serius."

Disanalah Laura menghajar para alien yang ada hingga ia sampai di ruang kontrol dan sudah tahu apa yang terjadi berikutnya.

Flashback end.

Scene beralih ke tempat Hexari.

"Apa ada hal yang ingin kau tanyakan lagi?" tanya Hexari.

"Apa alat itu masih berfungsi?"

"Tidak, setelah aku menghubungi kalian. Benda ini langsung rusak."

"Hmm, kalau begitu, tak ada hal yang perlu dibicarakan lagi." ucap Jendral Zenitya.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi dahulu."Hexari mengambil pedangnya dan segera beranjak.

"Oh iya, kau akan segera berangkat ke Angkatan Udara, jadi bersiap-siaplah."

"Kapan aku berangkat? Apa tak terlalu cepat?"

"Entahlah, aku belum memastikan, tapi bisa dibilang memang terlalu cepat, di Angkatan Udara kau akan mendapat pelatihan lebih baik dan lebih keras, sebaiknya persiapkan dirimu."

"Hmm, terimakasih atas bantuannya selama ini, maafkan saya karna terkadang tak sopan dan bertindak kasar juga seenaknya." Hexari menunduk memberi hormat.

"Hahaha sudahlah, aku tak peduli, lagipula memang hal itulah sifatmu, aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. " Jendral Zenitya pun bangkit dan berjalan kearah Hexari. Hexari mengangkat wajahnya.

"Tapi kau harus perbaiki sikapmu, Jendral Angkatan Udara bisa sangat kejam padamu, ingat hal itu." bisik Jendral Zenitya disamping kanan Hexari, ia pun melangkahkan kakinya pergi.

Scene beralih ke tempat Violin.

"Lagi-lagi kau ditempat ini gara-gara memaksakan tubuhmu." ucap Altra yang terlihat bersandar di dinding sambil memakan roti.

"Hmm.." Violin hanya tersenyum menanggapi hal itu.

"Hentikan senyuman so imut itu, aku menghawatirkanmu. Kau pikir apa yang kau lakukan, bagaimana jika hal itu hingga merenggut nyawamu, lagipula Widowmaker itu bukan senjata yang se..."

"Aku hanya melakukan apa yang kubisa, aku tak ingin seperti diriku yang dulu. Violin yang tak dapat melakukan apapun,Violin yang selalu dilindungi teman-temanku, Violin yang selalu payah dan tak dapat berbuat sesuatu." potong Violin terlihat sedih, Altra berjalan kearah Violin dan duduk disamping ranjangnya. Altra memegang tangan kanan Violin dengan kedua tangannya.

"Kau adalah wanita yang kuat, semuanya mengakui itu, dengar. Jangan pernah melakukan hal yang bodoh lagi, berjanjilah padaku jangan pernah melukai dirimu, lakukan sesuatu hal yang sesuai batas kemampuanmu. Jangan sampai kamu masuk tempat ini lagi."

"Hmm." Violin mengangguk.

"Ngomong-ngomong, kemarin aku berhasil menciumnya loh. Dari raut wajahnya, kurasa itu yang pertama, hal itu ciuman pertamanya." ucap Altra.

"Wah benarkah? Kurasa hubungan kalian akan semakin dekat." ucap Violin kembali ceria, ia memang mendukung Altra.

"Hm, mungkin aku harus menjenguknya sekarang."

"Bhuft.. Kalian pegangan tangan, apa kalian memulai hubungan sangat dekat dengan itu." ucap Hexari yang berjongkok didepan ranjang, tepatnya diarah kaki Violin berada, entah sejak kapan ia ada disana.

"Hubungan apa maksudmu hah?" bentak keduanya.

"Kompak sekali kalian," ucap Hexari yang berdiri, terlihat Altra melepaskan genggamannya.

Bersambung..

Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 90

Kleiss Effortles
2017-11-21 15:37:05
Hexari salah paham tuh
Bocah Redoks
2017-09-23 23:26:47
Sisi kemanusiaan tampak oleh penderitaan
Zen Kureno
2017-09-21 14:11:49
Altar apa mungkin dia suka dengan Violin
Sqouts Shadows
2017-09-21 10:21:47
Ditunggu chapter berikutnya
Hiatus
2017-09-21 02:35:36
Oh yeah baby hexari merusak momen oh baby
Alien Queen
2017-09-16 14:54:43
Alien Attack : World War Chapter 89 2017-09-04 ready
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook