VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 88

2017-09-18 - Alien Queen > Alien Attack : World War
103 views | 6 komentar | nilai: 10 (10 user)

Alien Attack : World War Chapter 88

Alien Attack : World War Chapter 88 - Information II
Penulis : Alien Queen

"Yaah tapi aku sudah tak peduli lagi dengan hal itu, asal tujuanku tercapai, jadi senjata hidup pun tak jadi masalah." tambahnya.

"Sepertinya Jendral wanita menghadapi banyak kesulitan dan penderitaan, aku dapat melihat semua kepedihannya saat ini. Dia benar-benar terlihat seperti layaknya gadis normal." pikir Hexari yang memandang lawan bicaranya tersebut.

Hening sesaat diruangan tersebut.

"Aku tak akan bertanya tentang apa yang kalian jalani dan lakukan untuk menjadi sangat kuat seperti itu, tapi apakah para Warrior juga sama seperti kalian para Jendral?" tanya Hexari memastikan, pasalnya para Warrior juga memiliki kekuatan yang luar biasa apabila mereka dalam mode serius, atau keadaan antara hidup dan mati.

"Mengingat mereka juga memiliki kemampuan yang sangat hebat, meskipun aku belum pernah melihatnya secara langsung sih." tambahnya.

"Benar, untuk menjadi seperti ini, mereka rela membuang semuanya. Bahkan rela menjadi manusia aneh dan menjalani kehidupan tak normal." balas Jendral Zenitya yang memandang keluar jendela.

"19 orang manusia menjalani sebuah latihan dan berbagai percobaan untuk dijadikan senjata hidup. Salah satu hal yang mereka buang adalah nama mereka"

"Apa? Apa maksudnya?"

"19 Warrior, mereka semua rela meninggalkan keluarga mereka dan menghilangkan namanya dari daftar keluarga."

"Maksudmu, mereka diklaim telah mati? Begitu?" Hexari terlonjak kaget.

"Bisa dibilang seperti itu, maka dari itu sebagian besar para Warrior mengganti namanya."

"Untuk apa mereka memalsukan kematian mereka? Bukankah para keluarga mereka akan senang apabila anak atau saudaranya menjadi pahlawan?"

"Tentu saja, tapi apa semua orang akan menerima kenyataan bahwa pahlawan mereka bukanlah manusia normal lagi? Apa mereka akan menerima bahwa para Warrior memiliki kemapuan diluar batas normal?"

Hexari tak dapat menjawabnya, ia hanya duduk menunduk.

"Selain itu, pelatihan yang dilakukan untuk menjadi seperti itu bukanlah pelatihan yang mudah, setiap pelatihan dan tes yang dilakukan, hidup mereka selalu dalam bahaya. Dari 100 orang peserta, yang hidup hanya 20 orang saja."

"A-apa?" Hexari terbelalak kaget.

"D-dua puluh orang?"

"Ya, Aerilyn Shilaexs salah satunya. Dahulu kami memang ingin membuat pasukan manusia sekuat para Warrior, namun terlalu banyak manusia yang harus mati sia-sia. Selain itu, Ranking 1 hanya membuat 23 senjata saja."

"Cih, ternyata banyak hal yang tak kuketahui. Ternyata para Warrior mengorbankan segalanya demi membinasakan para Alien, entah sesakit apa luka yang diberikan para Alien pada mereka." gumam Hexari.

"Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan. Lagipula semuanya sudah terjadi, yang kami inginkan yaitu pengorbanan kami semua tak sia-sia."

"A-aku." Hexari mengangkat wajahnya.

"Aku memang tak sekuat Warrior, tapi di Angkatan Udara nanti, aku akan berlatih dengan sungguh-sungguh. Kupastikan pengorbanan kalian tak akan sia-sia."

Terselip senyum tipis pada sudut bibir gadis itu.

"Pria ini memiliki sesuatu hal yang tak dimiliki orang lain, apa hal itu yang membuatku tertarik padanya yah?" pikir Jendral Zenitya yang sekilas melirik kearah Hexari.

"Tak terasa yah, meskipun belum sampai 1 bulan kau berada disini, tapi kau terlihat berbeda dari saat pertama kali kau datang." Jendral Zenitya berjalan kearah kursinya dan duduk.

"Aku tak merasa berubah sedikitpun, aku yang dulu masih sama seperti aku yang sekarang."

"Oh iya, ada hal yang ingin ku informasikan padamu." Hexari teringat sesuatu.

"Apa itu? Apa sesuatu yang penting?"

"Penting atau tidaknya, aku tak tahu pasti. Tapi sebelum itu, apa diantara para Jendral dan Warrior pernah menghadapi Jendral Alien?"

"Entahlah, tapi seingatku, aku dan semua prajurit Angkatan Darat belum pernah berhadapan dengan Jendral Alien. Yang ku tahu, hanya Tuan Hailey saja yang pernah berhadapan dengan Alien sekelas Jendral."

"Tuan Hailey?" pikir Hexari.

"Memangnya ada apa? Kenapa kau bertanya hal itu?"

"Apa kau tahu? Ada alien yang dapat berbicara bahasa manusia? Saat operasi penyelamatan, ada alien berarmor merah. Alien itu memiliki energi panas yang besar sehingga dia dapat mengendalikan api. Alien itu berbicara denganku menggunakan bahasa manusia."

"Armor merah dan energi panas? Kau tahu, alien itu adalah Jendral alien." Jendral Zenitya menegaskan ucapannya.

"Ya, aku tahu. Karna saat pertarungan menuju akhir, muncul alien pria yang menyebut alien armor merah itu Jendral."

"Lalu
bagaimana caranya kau dapat lolos dari kedua Jendral Alien itu?"

"Saat itu aku dalam keadaan sekarat, tentu saja alien sekelas Jendral bukanlah tandinganku, namun saat itu aku ditolong oleh alien cantik, keadaan kami jadi se..."

"Tunggu dulu, apa maksudmu alien cantik?" sela Jendral Zenitya yang sepertinya penasaran.

"Dia cantik, sangat cantik. Emmm jika di gambarkan mungkin dia itu seperti Aerilyn, ya mirip Aerilyn, tapi tubuhnya lebih tinggi dan lebih dewasa sepertimu. Dia memiliki rambut pirang sepertimu juga." Hexari menjelaskan ciri-ciri Ruinsvlora.

"Bukan itu maksuduk, tapi apa alien itu seperti manusia?"

"Hm, bahkan lebih sempurna dari manusia, apalagi mereka dapat menghilangkan gravitasi disekitar tubuh mereka."

"Mereka?"

"Ya, aku tak menceritakannya pada siapapun. Bahwa aku berteman dengan Alien, alien itu dari bangsa Arya, bentuk mereka 100% seperti manusia. Dan gadis cantik itu juga dari bangsa Arya."

"Kau berteman dengan Alien?"

"Ya, itu dahulu, sekitar 2 tahun yang lalu. Yah pokoknya seperti itu."

"Baiklah, kembali ke pembahasan. Apa kau yakin para Jendral Alien itu berbahasa manusia?"

"Ya, selain itu. Dari radar mereka terdeteksi berada di tingkat Gigan, namun alien wanita berarmor merah terlihat akan berubah dan bahkan sepertinya levelnya naik."

"Apa? Apa radar milikmu tak rusak?"

"Tidak, sepertinya tidak. Aku menyimpannya di saku celanaku, dan sepertinya radar menganalisis otomatis."

"Ya, itu juga salah satu fungsi radar, selain mendeteksi keberadaan alien, benda itu juga dapat mengidentifikasi level alien dan keterangannya secara otomatis. Maka dari itu pada setiap pertarungan atau peperangan kita pasti mendapat data baru dari para Alien yang dihadapi."

"Jadi, apa kita bisa mendapat data dari alien yang kuhadapi? Dari kedua jendral itu?"

"Bukan dua, tapi tiga Jendral alien."

"Apa?"

"Warrior Angkatan Laut menghadapi salah satu Jendral alien. Dengan ini kita mendapat data dari tiga Jendral Alien. Kita akan menganalisa lagi tentang para Jendral Alien dan bagaimana caranya mereka berbicara bahasa manusia."

"Hmm, hanya itu saja yang ingin ku informasikan."

Angkatan Udara.

Sebuah ruangan dimana disana terdapat beberapa orang yang sedang berbicara.

"Aku tak menyangka misi ini akan menjadi seperti ini." gumam Adder.

"Andaikan aku ikut turun, setidaknya tak akan ada korban."

"Jangan salahkan anda, semua ini karna mereka berdua yang payah." tegas Dale menunjuk Laura dan Agosti, kedua orang itu pun tak dapat membantah.

Terlihat Sheila masih menangis sesegukan.

"Aku juga tak menyangka akan terjadi seperti ini." gumam Agosti.

Angkatan Darat

Ruang Perawatan.

Terlihat Vestaka dan Neves berada diruangan yang sama.

"Kau masih hidup?" tanya Neves, sepertinya mereka tersadar.

"Begitulah, entah kenapa setelah pulang aku tiba-tiba tak sadarkan diri." jawab Vestaka.

"Sudah jelas bukan, itu karna efek samping dari obat yang kau gunakan, lagipula kucing lava itu sangat kuat, aku sampai linu-linu karna serangan makhluk itu." balas Neves.

"Lalu bagaimana denganmu?" tambahnya, namun lawan bicaranya tak menanggapi.

"Oey jawab aku, kau dengar tidak?"

"Ya, aku hanya memikirkan ketua."

"Kau masih memikirkan tubuh indahnya hah?!" bentak Neves.

"Bukan itu,!" balas Vestaka yang balik membentak.

"Hanya saja, dia memuntahkan darah lumayan banyak waktu itu. Kurasa luka tubuh bagian dalamnya sangat parah, padahal dia tak mendapat banyak serangan dari kucing lava itu."

"Benar juga, aku harap dia baik-baik saja, keadaannya sangat parah." Neves kembali teringat saa Yubel tiba-tiba pingsan.

Ia yang waktu itu menjadi bantalan wanita tersebut, selang 1 menit, helikopter datang dan segera memberi pertolongan pada Yubel, tangan dan paha Neves berlumuran darah karna muntahan dari Yubel.

"Tapi aku yakin, dia bakal baik-baik saja. Karna dia adalah Warrior yang kuat."

"Ya, ngomong-ngomong, kita masih punya urusan dengan seseorang."

"Ya, kau benar."

"HEXARIII..!!!" teriak mereka serempak, mereka hendak bangkit dari ranjang namun.

"Tak bisa bergerak" Vestaka murung.

"Tubuhku linu-linu." balas Neves.

. Sepertinya mereka ingin membuat perhitungan pada Hexari, namun keadaan tubuh mereka tak mendukung, meskipun tak ada luka yang berarti, tapi efek samping penggunaan obat membuat tubuh mereka harus diistirahatkan beberapa waktu.

Efek samping penggunaan obat tak berdampak besar pada beberapa prajurit, seperti halnya Altra yang tetap sehat.

"Awas saja, aku akan mencincang pria menyebalkan itu." geram Neves.

"Sisakan beberapa bagian untuk ku cincang juga." balas Vestaka.

Ruangan Jendral

"Ada apa Hexari?" tanya Jendral Zenitya.

"Entahlah, perasaanku tidak enak, aku merasakan aura membunuh yang sangat kuat di suatu tempat."

"Lalu kenapa kedua telingamu memerah?"

"Sepertinya ada orang yang sedang membicarakan tentang diriku, ini sangat panas." Hexari memegang kedua telinganya yang panas seolah telah dijewer sangat kuat.

Bersambung


Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 89

Blackpearl Kwon Yuri
2017-12-13 16:56:45
Tubuh indahnya
Kleiss Effortles
2017-11-21 15:32:50
telinga merah ada yang lagi ngegosipin
Bocah Redoks
2017-09-18 23:46:06
Tinggal masalah waktu sampai semua pria merasa iri
Zen Kureno
2017-09-18 19:25:21
tegang diawal langsung dicairkan disaat ending ini cerita
Hiatus
2017-09-18 14:38:39
Oh yeah baby setelah ini pasti makin seru oh baby tetep pantengin terus kisah hexari oh baby
Alien Queen
2017-09-16 14:49:48
Alien Attack : World War Chapter 88 is ready.
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook