VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 85

2017-09-05 - Alien Queen > Alien Attack : World War
103 views | 5 komentar | nilai: 9.91 (11 user)

Alien Attack : World War Chapter 85


Alien Attack : World War Chapter 85 - Hiru Emakume
Penulis : Alien Queen

"Kuatkan dirimu, aku sudah mengatakannya sejak dahulu kan." ucap Aerilyn datar pada Karui

Flashback.

2 tahun yang lalu sebelum Warrior, Knight dan Guardian dibentuk. Status prajurit hanya Army dan Soldier, dimana kepangkatan masih terdapat mayor, letnan, brigadir, kolonel dan sebagainya.

Sebuah kota yang porak poranda diman disana terdapat beberapa alien binatang berlalu lalang mencari manusia, ya disana terlihat meskipun bangunan-bangunan runtuh dan terbakar namun tak ada satupun manusia ataupun mayat manusia terlihat.

Ditempat lain, seorang wanita sedang berlari dikejar seekor alien binatang.

"Apa-apaan semua ini, semuanya terjadi terlalu cepat." teriak wanita itu yang ternyata adalah Aronia. Ia memakai celana sangat pendek dan kaos dalam.

Saat ia melirik kebelakang mencoba melihat jarak antar dirinya dan alien yang menyerangnya, tiba-tiba..

Bruk..

Ia menabrak sesuatu dan terjatuh.

"Owsh.." saat ia melihat kearah sesuatu yang ia tabrak, ia terkejut luar biasa karna yang ia tabrak adalah alien bentuk manusia dengan senjata ditangannya.

"Gawat."

Saat makhluk itu menodongkan senjatanya tiba-tiba.

"Haaa.." seorang pria menghantam kepalanya dari arah kanan hingga kepala makhluk itu terlepas dari kepalanya.

"He-hebat" gumam Aronia.

Brak...!

Terdengar juga sebuah hantaman keras dibelakangnya, saat Aronia melirik kebelakang, terlihat seorang wanita berjaket tebal dengan rambut pirangnya tengah menghancurkan tubuh seekor alien binatang yang mengejarnya hanya dengan sebuah pukulan saja.

"Menjijikan." ucapnya datar, ialah Aerilyn.

"Kau tidak apa-apa?" tanya pria itu, singkatnya Aronia pergi bersama pria bergelar mayor dan Aerilyn yang statusnya masih Army, terlihat jelas dari celana panjang yang ia kenakan bahwa ia berasal dari Angkatan Darat.

Saat mereka berjalan menuju tempat kendaraan prajurit berada, tiba-tiba terdengar suara teriakan.

saat mereka bertiga menuju kearah sumber suara, terlihat seorang wanita yang kaki kanannya terjepit reruntuhan sedang dikepung 4 ekor alien.

Tantpa ragu Aronia berlari menuju wanita itu, sigap Mayor tersebut menyusul dan Aerilyn mengambil sebuah potongan reruntuhan lumayan besar dan melemparkannya kearah salah satu alien, lalu ia menyusul.

Mayor pria tersebut sigap melompat dan menghajar alien lain.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Aronia, segera ia berusaha membebaskan wanita itu.

Aronia sekuat tenaga mengangkat reruntuhan yang menjepit kaki gadis tersebut, namun tanpa mereka duga seekor alien membuka mulutnya siap melahap Aronia, tiba-tiba..

Buag...

Sebuah tendangan indah menghantam wajah makhluk tersebut, tendangan kuat yang dilancarkan Aerilyn membuat makhluk itu terhempas jauh.

"Cih," Aerilyn langsung membantu mengangkat reruntuhan dan dengan sangat mudahnya ia melemparkan reruntuhan tersebut.

"Te-terimakasih banyak." ucap wanita itu.

"Kamu bisa bangun, ayo kubantu." ucap Aronia yang mengangkat tubuh wanita itu dan memapahnya.

"Siapa namamu?"

"Ka-karui." jawabnya lemah.

"Kita sekarang aman, mereka berdua adalah .."

"Apa kau baik-baik saja." potong mayor yang sepertinya sudah selesai dengan pekerjaannya.

"Ya, ha-hanya saja kakiku." jawab Karui.

"Tenang saja, aku akan membantumu." ucap Aronia.

"Terimakasih banyak."

Mayor itu pun menghubungi seseorang.

"Yah, aku paham."

Setelah menutup panggilan ia pun berjalan pergi.

"Semua Truk telah pergi lebih dulu, tapi kita punya sebuah jeep. Aku menginformasikan jika sudah tak ada lagi orang-orang yang tersisa." ucapnya, Aerilyn tak menjawab apapun, ia mengekor dibelakang.

Singkatnya jeep yang mereka naiki telah melaju menjauh dari kota.

dimobil Jeep tersebut terdapat sekitar 6 orang termasuk Karui dan Aronia.

Jeep melaju menyusuri hutan yang lebat, pepohonan menjulang tinggi. Yah jalan terbuat dari tanah dilalui Jeep tersebut, hening hanya itu yang terjadi, tak terdapat percakapan sedikitpun.

Aronia dan Karui saling memeluk satu sama lain, mereka terlihat masih trauma.

"Tegarlah, jika kau dendam pada mereka maka jadilah kuat dan habisi mereka." ucap Aerilyn yang menopang dagu dan mengarahkan pandangannya kearah pohon-pohon besar tersebut.

"Ta-tapi bagaimana bisa? Aku hanya pelajar ya.."

"Jangan lembek, buang sifat lemahmu, ini dunia yang lebih kejam dari hari kemarin, jika kau lemah ya mati saja sana." ucap Aerilyn memotong ucapan Aronia.

Keadaan kembali hening, hanya deru angin dan mesin yang terdengar. Hingga..

"Kyaa.."

Teriakan beberapa orang membuyarkan keheningan, terlihat tak jauh di depan sebuah truk terguling dengan beberapa orang telah tewas dan hanya tersisa sekitar 4 orang, 1 diantara mereka adalah wanita.

Jeep pun segera berhenti dan sigap sang mayor dan seorang pria melompat.

Maju menyerang para alien, tak mau kalah Aerilyn pun ikut turun.

"Kalian berdua diam disini." ucap pria yang mengemudi, terlihat ia mengambil sebuah senjata.

Sekitar 15 ekor alien binatang mengepung, namun kedua prajurit dan mayor tersebut tak gentar, ketiganya dengan berani melawan semuanya dengan tangan kosong. (senjata tak mempan terhadap para alien.)

Hingga terlihat seorang wanita yang terpojok, punggungnya terlihat menyandar ke mobil truk yang terguling, terlihat seekor alien berada dihadapannya, ia terlihat samgat panik dan menangis.

"Tolong.." pekiknya. Melihat hal itu, Aronia sigap turun dan berlari, yah ternyata gadis ini memiliki keberanian yang besar.

"Hei tunggu, kau mau kemana."

"Aronia." teriak Karui.

Aronia tiba dihadapan wanita itu dan mengangkat sebuah dahan pohon yang dapat ia angkat, ia mengayunkannya berulang kali, meskipun tak ada satupun serangannya yang kena.

"Pergilah, jangan sentuh kami.!" teriak Aronia terus mengayunkan dahan kayu tersebut hingga.

Grap.. Craks..

Alien tersebut menangkapnya dengan mulutnya dan menggigit batang dahan kayu tersebut.

"Gawat.."

Namun tiba-tiba.

Jbuak...

Aerilyn jatuh dari atas dan menghancurkan kepala alien tersebut. Rambut pirangnya terurai indah.

"Me-mengagumkan."

"Aku akui kau punya keberanian, kerja bagus. Siapa namamu?" tanya Aerilyn datar.

"A-Aronia."

"Jadilah prajurit dan aku akan memandumu." ucap Aerilyn dengan nada datarnya, ia pun pergi.

"Kamu bisa berdiri?" tanya Aronia pada wanita dibelakangnya.

"Yah, terimakasih banyak." ucap wanita itu yang ternyata adalah Karina.

Jeep pun telah sampai di markas pusat Angkatan Darat.

Terlihat beberapa orang sedang menurunkan bahan makanan an disana pun terdapat Neves dan Altra dengan gelagat mereka, siapapun tahu kalau mereka berdua bermusuhan.

"Disana kalian bisa mendapat makanan, dan kau. Sebaiknya obati kakimu." ucap Aerilyn menunjuk tempat dimana seorang gadis manis berambut hitam panjang dengan pita ungu menghias kepalanya sedang membagikan makanan, dialah Violin. Aerilyn pun menunjuk Karui, lalu ia pergi.

"Nona itu sangat kuat dan mengagumkan." gumam Aronia.

"Tapi kurasa Aronia akan mengikuti jejaknya." ucap Karui.

"Ya, kamu punya keberanian besar menghadapi alien."

"Ti-tidak juga, hanya saja aku selalu yakin jika aku dapat menghadapi apapun jika nona itu ada didekatku."

1 hari berlalu, kesedihan dan keterpurukan masih melanda.

Disebuah meja
dekat dinding, ketiga wanita itu berada.

"Apa? Ja-jadi orang tuaku meninggal?" ucap Karina dengan nada tinggi, pada seorang prajurit pria yang memberitahukan informasi.

"Ya, kejadian kemarin hanya anda saja yang selamat."

"Ti-tidak."

Aerilyn pun datang membawa setengah roti isi yang mungkin telah ia makan sebagian.

"Ti-tidak mungkin, kalau begitu untuk apa aku selamat. Untuk apa aku kemari, jika semuanya mati maka aku juga tak ingin hidup."

Bruk..

Tiba-tiba saja Aerilyn menekan Karina dan membuang sisa roti tersebut.

"Khakh.." Terlihat karui bahkan sampai tertekan dinding.

"Jika kau ingin mati.."

Brak..

Tinju kuat Aerilyn menghantam dinding tepat disebelah kiri kepala Karina. Bahkan dinding itu retak.

"Aku akan senang hati membantumu," Karina memejamkan matanya ketakutan. Aerilyn melepaskan cengkraman tangan kanannya

"Cih, dunia ini memang kejam. Tegarlah, dunia ini memang kejam, siapapun dapat mati setiap waktu. Tak ada waktu untuk menangisi dan meratapi mereka yang telah tiada. Yang kau harus lakukan membuang sifat lemah mu dan jadilah kuat. Lalu balas perbuatan mereka." Aerilyn pun berbalik, terlihat Karina terjatuh.

"Dasar sampah, jika kalian seperti itu maka jangan mengharap punya kehidupan." Aerilyn pun pergi.

Tak jauh dari sana, terlihat Violin, Altra dan Vardex makan dalam 1 meja.

"Gadis cantik itu bukankah katanya prajurit wanita terkuat itu." ucap Altra sambil makan, memakan makanan milik Violin tepatnya.

"Entahlah." jawab Vardex singkat.

"Hmm, dialah wanita yang membantuku waktu itu." jawab Violin.

"Nona itu benar, tak ada waktu untuk meratapi mereka yang telah tiada, lagipula mereka tak akan hidup lagi."

"Karui, Karina. Sepertinya aku akan mendaftar menjadi prajurit." ucap Aronia.

"Apa?"

"Apa kamu yakin?"

"Ya, lagipula aku sudah tak punya keluarga, begitu juga dengan kalian bukan. Aku ingin jadi kuat seperti nona cantik berambut pirang itu. Yah lagipula jika kita menjadi prajurit maka kehidupan kita seluruhnya akan ditanggung pemerintah."

"Kamu benar, aku juga mau." seru Karui.

"Kata-katanya memang pedas, tapi itu memang fakta. Sepertinya aku mulai menyukai nona cantik itu, aku juga akan ikut." ujar Karina. Disanalah perasaan kekaguman ketiga wanita ini pada Aerilyn mulai tumbuh.

"Hei, jangan menghabiskan makananku.!" ucap Violin dengan nada naik pada Altra.

"Hahaha, maaf, aku tak menyadarinya."

"-_-, aku rasa memakan makanan orang adalah penyakit mu."

Flashback end.

"Aku tahu betapa menyakitkannya kehilangan orang yang berharga itu. Aku tahu perasaanmu saat ini." Aerilyn mendekap gadis itu, bagaimanapun ia juga merasa sedih kehilangan salah satu rekan yang menurutnya menyebalkan itu.

Aerilyn mengelus kepala wanita yang menjadi juniornya tersebut, dan hal itu memang dapat menenangkannya.

"Hari ini kau boleh menangis, tumpahkan semua kesedihanmu. Tapi esok hari, kau harus bangkit, berusahalah untuk menjadi lebih kuat lagi." tambahnya.

"Sebenarnya untuk apa aku melakukan ini, aku terlalu banyak bicara." pikir Aerilyn.

"Hmm.."

"Hari ini beristirahatlah, setelah pemakaman. Kita akan berlatih keras."

"Baiklah."

Bersambung.

Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 86

Kleiss Effortles
2017-11-21 15:22:31
Kesimpulan, ternyata hobi altra suka makan makanan orang
Bocah Redoks
2017-09-05 20:30:45
Judul nya makin aneh aja
Zen Kureno
2017-09-05 18:39:23
Ini tentang masa lalu ya, dan aku numpang nanya LAGI, siapa ya pemeran utamanya. Kalau Hexari kenapa dia jarang timbul apa mungkin pemeran utamanya Aerilyn.
Hiatus
2017-09-05 16:45:58
Panjang jg flesbekx oh baby
Alien Queen
2017-09-04 17:09:43
Hastag Alien Queen . Nggak ada kerjaan, tag sendiri
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook