VersiTeks.com
Selain membaca versi teks anime dan manga, di sini kalian juga bisa membaca dan mengirim cerita karangan kalian sendiri, baik itu yang berupa cerita berseri, cerpen (oneshot), atau fanfiction.
login · register · kirim cerita · setting · kuis · chat game
home · versi teks · cerita karangan · oneshot · fanfiction · jadwal rilis


NEW!!! Sekarang kamu bisa melakukan register tanpa perlu melakukan proses validasi Facebook!!!

Silakan login atau register jika belum memiliki akun untuk menikmati berbagai fitur khusus di situs ini serta akses tanpa iklan-iklan yang mengganggu.
Pengguna Telegram? Coba game Kampung Maifam
Alien Attack : World War Chapter 82

2017-08-22 - Alien Queen > Alien Attack : World War
97 views | 7 komentar | nilai: 9.8 (10 user)

Alien Attack : World War Chapter 82


Alien Attack : World War Chapter 82 - Movreiak Lose
Penulis : Alien Queen

"Rasakan.."

Sleb..

Mata kuning menyala itu mengeluarkan cairan kuning menyala, mungkin itu darah.

"Groarrr.."

"Masih belum" Neves mencabut pedangnya dan akan menusuk mata lainnya, namun kaki depan kanan makhluk itu langsung mencakar Neves, Neves kembali terhempas. Meskipun tak mendapat luka berarti, namun ayunan kaki makhluk tersebut sangat kuat.

"Cih." Neves meludahkan sedikit darah, terlihat ia menghancurkan dinding pasca terhempas. Movreiak mendarat diatas potongan pilar, terlihat Yubel sedang berdiri diatas bongkahan tanah yang ada disekeliling lava tersebut.

Vestaka melompat turun dan langsung menembakkan peluru- peluru dari senjatanya. Movreiak melompat menghindar, namun arah lompatannya salah karna disana Neves menyambutnya dengan sebuah tebasan.

Slash...

Vestaka yang mendarat diatas potongan pilar langsung menembakkan lagi pelurunya dan

Duar.. Duar...

kini peluru yang ia tembakkan tepat mengenai perut bagian bawah makhluk itu.

"Kena juga akhirnya."

"Groarrr.."

Makhluk itupun jatuh
kebawah..

"Jangan senang dulu, makhluk itu belum kalah." ucap Neves.

"Sudah cukup, menyingkirlah kalian berdua.!" teriak Yubel Ujung senjata Yubel telah diarahkan kearah Movreiak yang jatuh. Saat Yubel akan menarik pelatuknya, tiba-tiba makhluk itu menyemburkan lava kearah Yubel.

"Cih, merepotkan, lagi-lagi makhluk itu muntah." Yubel melompat mundur.

Blup..blup..blup..

Lava yang ada dibawah terlihat mengeluarkan gelembun. Movreiak mendarat ditempat Yubel berada sebelumnya.

"Gagal." gumam Vestaka yang ada diatas.

"Bagaimana selanjutnya." pikir Neves yang berada di sebrang Vestaka. Yubel melompat kearah Movreiak, ia mengarahkan senjatanya dan

Ciuw.. Ciuw.. Ciuw..

Movreiak kembali menghindar dan terjun kedalam danau lava. Yubel mendarat keatas cairan lava yang berada di bebatuan, terlihat ia sudah tak mengenakan sepatu, entah sejak kapan. Terlihat kakinya tak terbakar saat mengenai cairan lava itu.

"Makhluk ini sangat menyebalkan, aku sudah hampir mencapai batasku." pikir Yubel, ia memperhatikan seluruh danau lava itu, dimana kira-kira Movreiak akan muncul.

"Cih, jika kau berniat bersembunyi. Itu tidak akan berhasil..!" teriak Yubel, ia kemudian menembak kesembarang arah.

Duar..! Duar..! Duar..!

Cairan lava tersebut meledak-ledak setelah terkena peluru cahaya merah tersebut. Cairan lava menyembur keatas, dan disaat itu pula.

"Groarrrrr.."

Movreiak melompat keatas dan siap menerkam Yubel dengan rahangnya yang telah terbuka.

"Cih.." Saat jarak antar makhluk itu dengan Yubel kurang dari 1 meter tiba-tiba,

"Makan ini.." ucap Yubel menarik pelatuk senjatanya dan

Bziuw... Duar...!

Movreiak terlempar keatas dan meledak.

"Sekarang, Vestaka." ucap Neves melompat menuju kearah ledakan tempat Movreiak berada. Ia mengayunkan pedangnya dan

Srat...

Sebuah tebasan ia lakukan dan mendarat di dinding tempat itu, Movreiak kembali jatuh,

Groarrr..

Makhluk itu mengerang kesakitan, namun kini terlihat kaki depan bagian
kanannya terpotong. Vestaka langsung menembaki Movreiak yang jatuh. Bersamaan dengan hal itu, Yubel melompat dengan kuat keatas hingga membuat batu pijakannya hancur.

"Sekarang rasakan ini sialan..!!" teriak Yubel, Movreiak hendak menyemburkan lava kearah Yubel namun.

Cringg..

Zangggggg......!!!

Senjata Yubel lebih dahulu menembakkan laser merah diselimuti hitam kearah Movreiak dengan bunyi berbeda, laser yang sangat besar dengan daya hancur yang kuat tepat mengenai makhluk itu.

Brak...

Movreiak terlempar keatas menghancurkan atap tempat itu, makhluk itu terus terlempar keudara sekitar 2 km dari permukaan tanah.

Jduar...

Movreiak pun kemudian meledak. Disisi Hexari, ia terhempas kebelakang karna tiba-tiba saja tanah yang berada didekatnya hancur dan muncul seekor makhluk api dan meledak diudara. Tekanan ledakan lumayan besar hingga menciptakan hembusan udara yang kuat.

"Apa-apaan itu, tiba-tiba saja ada makhluk besar meledak." gumam Hexari yang bangkit.

Yubel yang masih melompat keatas mencapai permukaan dan langsung menuju kearahHexari berada.

Bruk..

Mereka pun bertabrakan Disisi Neves.

"Berhasil, kita menghabisi kucing lava itu." ucap Vestaka senang.

"Hmm Sebaiknya kita juga kepermukaan." ucap Neves mengangguk, Vestaka pun mengangguk dan melompat keatas diikuti Neves. Saat mereka tiba dipermukaan, hal mengejutkan mereka lihat, Yubel dan Hexari yang tak memakai baju terlihat sedang berpelukan. Tepatnya Yubel yang memeluk Hexari dari belakang.

"Hei, apa-apaan ini,?" teriak Hexari berusaha melepaskan diri.

"Diam berengsek, jika kau memberontak aku akan membunuhmu." ancam Yubel yang memeluk Hexari dari belakang.

"Agresif sekali dirimu, lepaskan aku.! Lihatlah mereka memperhathkan kita.!"

"Aku bilang diam dasar bego."

"Ta-tapi dadamu itu.."

"Maka dari itu diam sialan, aku tak punya benda lain untuk menutupinya." bentak Yubel keras senjatanya terlihat tergeletak begitu saja, benda tersebut mengeluarkan asap transparan karna hawa panas yang keluar

"Baiklah-baiklah, tapi jangan menepel seperti ini kan? Benda itu membuat punggungku geli."

Tak..

Tinjuan keras tepat mengenai tengah kepala Hexari.

"Sakit.." gumam Hexari yang hendak ambruk, namun Yubel menahannya.

"Gara-gara makhluk sialan itu, pakaian mahalku.. Haaaaaahhh.."

"Kurasa mereka terlalu cepat untuk melakukan itu." gumam Vestaka.

"Apa maksudmu bego, karna mereka berdua tak memakai baju bukan berarti mereka akan melakukan hal mesum kan." bantah Neves.

"Benar juga, ah aku iri pada si pengacau itu, dia menang banyak."

"Ya, tak kusangka si pengacau itu yang pertama kali dipeluk Warrior dalam keadaan setengah telanjang"

"Kalian sedang apa?" tanya Violin dari belakang Yubel dan Hexari, jaraknya tak terlalu jauh. Terlihat Violin dipapah Aulyn.

"Sepertinya mereka akan memulai hubungan lebih dekat lagi, lihat lah mereka tak berpakaian." bisik Aulyn pada Violin, terlihat wanita yang bersama mereka berdua masih mengekor.

"Jangan berpikiran yang aneh-aneh" bentak Hexari.

"Apapun yang kalian pikirkan, hal itu sama sekali
tak terjadi."

"Memangnya apalagi yang akan dilakukan seorang gadis dan pemuda saat mereka tak memakai baju, apalagi adegannya sedang berpelukan seperti itu." ucap Violin.

"I-itu, hah sudahlah jangan dibahas. ! Hei kau." tunjuk Yubel pada wanita dibelakang Aulyn dan Violin.

"Berikan jaket si pengacau itu padaku.!" bentak Yubel yang masih menempel dipunggung Hexari.

"Aku mohon berikan saja, aku tak tahan dengan posisi ini lebih lama lagi." pinta Hexari.

"Ta-tapi aku tak memakai apapun jika melepas jaket ini." ucap wanita itu lemah, ya memang dilihat dari manapun hanya jaket milik Hexari yang melekat di tubuhnya, bahkan pahanya terlihat jelas.

"Gunakan saja jaketku." ucap Aulyn. Ia melepas Violin dan membuka jaketnya kemudian melemparkannya kearah Yubel.

"Terimakasih."Yubel menangkap jaket tersebut kemudian memakainya.

Buak..

Yubel pun menendang Hexari.

"Kejam sekali "lirih Hexari yang terkapar ditanah.

"Kau tidak apa-apa Vio, apa yang terjadi padamu?" tanya Neves yang sudah ada di dekat Violin.

"A-aku baik-baik saja." ujar Violin lemah, ia perlahan berjalan pergi menghindari Neves, namun tubuhnya tak mendukung, ia malah jatuh. Reflek Neves menangkapnya.

"Sampai kapan kau akan terus begini? Bukankah kau sudah memaafkanku? Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menerimaku lagi, setidaknya terima aku sebagai temanmu." lirih Neves, Violin hanya diam tak menanggapi, ia mengalihkan panangannya kearah lain.

"Aku bilang aku sudah memaafkanmu kan, hanya saja aku ingin sendirian dalam waktu lama. Itu saja, aku harap kamu bisa mengerti."

"Hmm, baiklah. Aku mengerti."

"Bagaimana dengan semua warga kota?" tanya Yubel yang telah memakai jaket, dengan tegas. Meskipun terlihat ia sangat kelelahan, ditambah dengan beberapa luka pada tubuhnya.

"Tim bantuan datang, mereka mengurus sisanya." jawab Aulyn.

"Perang sepertinya benar-benar berakhir." gumam Vestaka duduk disamping kanan Hexari yang terkapar terlentang.

"Seperti itulah." jawab Hexari singkat.

"Jujur aku sangat iri padamu, apa yang terjadi tadi, kenapa Ketua bisa memelukmu seperti tadi?" ucap Vestaka dengan nada tinggi.

"Aku malas menceritakannya, yang jelas ia hanya menggunakanku untuk menutupi tubuhnya."

"Enak sekali dirimu."

"Tidak juga, aku baru mengalami banyak masalah."

"Masalah apa hah? Kau enak-enakan bersantai disini sedangkan kami semua bertarung dibawah sana.!" bentak Vestaka.

"Ah, tidak juga, aku disini tadi juga bertarung ko."

"Bertarung? Dengan kondisi tubuhmu masih mulus tanpa terluka? Kau pikir aku akan percaya padamu?"

"Tidak perlu juga." Hexari mengangkat tangan kanannya keatas seolah menggapai sesuatu.

"Uhukh.." tiba-tiba saja Yubel kembali memuntahkan darah dan tersungkur.

"Ketua.!!!" kaget semuanya, Yubel ambruk dan langsung pingsan.

Vestaka dan Hexari melirik kearah Yubel, terlihat Neves, Aulyn dan Violin telah berada di dekat Yubel yang telah ambruk tak sadarkan diri dengan mulut yang dibasahi darahnya, sepertinya ia telah muntah darah. Violin yang telah lemah pun terlihat dapat bergerak lagi karna panik.

Hexari dan Vestaka segera berlari menghampiri.

"Apa yang terjadi padanya?" tanya Vestaka terlihat panik.

"Entahlah, tiba-tiba dia muntah dan pingsan." jawab Aulyn.

"Aku akan membawanya ke tempat pasukan bantuan, sepertinya Yubel terluka parah." Hexari berjalan mendekati tubuh Yubel dan mengangkatnya.

"Diantara kalian, akulah yang paling sehat. Percayakan saja padaku."

"Hmm, Hexari tolonglah." Violin terlihat yakin pada Hexari.

"Pastikan kau sampai."

"Yaa.." Hexari langsung berbalik dan mulai berlari membawa Yubel dipangkuannya, meskipun seorang gadis. Tapi tubuh Yubel memiliki bobot yang lumayan berat hingga Hexari sedikit kesusahan.

"Yang benar saja, dia wanita sangat berat, padahal kondisiku dalam keadaan baik."

Disisi Violin dan yang lainnya.

"Sepertinya ada hal yang kita lupakan." gumam Vestaka.

"Mungkin saj, dan semoga hal itu bukan hal penting." Neves merebahkan diri ditanah.

Bersambung.


Bersambung ke Alien Attack : World War Chapter 83

Blackpearl Kwon Yuri
2017-12-01 13:54:39
Intinya hexari menang banyak dalam perang ini, habis dibakar dapet ciuman dan pelukan 2 cewek berbeda
Kleiss Effortles
2017-11-21 10:29:30
Im comeback
Dwi Fitri
2017-09-24 04:07:12
oh tidak, bagian gini muncul lagi...
Zen Kureno
2017-08-23 16:51:34
Chapter ini sangat UOOOOO
BeeZero
2017-08-23 16:24:54
wduh yubel,,
Bocah Redoks
2017-08-22 20:36:01
Author perlu aqua ?
Hiatus
2017-08-22 15:28:32
Oh yeah baby hexari menang banyak oh baby
Baca Semua Komentar dan Balasan
daftar user · online · daftar penulis
halaman awal · group facebook